Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Bubur Gerobakan


__ADS_3

"Sayang."


Aksa terlihat panik ketika melihat wajah istrinya sudah pucat dengan tubuh yang menggigil hebat. Aksa mencoba meletakkan punggung tangannya di kening Riana. Alangkah terkejutnya ketika terasa sangat panas. Dia segera ke tempat penyimpanan P3k dan mencari termometer untuk mengukur suhu tubuh sang istri.


"Kita cek dulu ya, Sayang."


Riana tidak merespon. Dia sungguh terlihat sangat lemah. Suara termometer berbunyi, menandakan pengukuran suhu sudah selesai. Mata Aksa melebar ketika melihat angka tiga puluh sembilan koma sembilan derajat celsius.


"Kita ke rumah sakit."


Baru saja Aksa hendak mengangkat tubuh sang istri, sang ibu masuk ke dalam kamar mereka dan mata Ayanda melebar dengan sempurna.


"Kenapa dengan Riana, Aksara!"


Suara Ayanda memekik cukup keras hingga membuat Gio yang berada di ruang sebelah kamar Aksa masuk ke dalam putranya.


"Astaga!"


Gio segera menghampiri Riana yang sudah ada di dalam gendongan Aksa. "Letakkan!" Gio memerintah putranya.


Gio pernah menjadi seorang dokter dulunya. Dia juga belum lupa cara memeriksa pasien.


"Mom, ambilkan stetoskop di ruang kerja Daddy." Dia masih menyimpan benda bersejarah itu.


Ayanda kembali dengan membawa stetoskop dan Giondra mulai memeriksa menantunya. Wajah cemas Aksa sudah sangat terlihat jelas.


"Gimana, Dad?"


Gio menatap ke arah Aksa. Meminta penjelasan lebih tanpa dia berbicara satu patah katapun.


"Tadi sore nyopot IUD."


Hembusan napas kasar keluar dari mulut Gio. Kini, Gio menatap ke arah sang istri. "Hubungi dokter Gwen."


Aksa terus menggenggam tangan istrinya yang tengah demam tinggi hingga menggigil. Ayah mertua dari Aksa menghubunginya untuk mengantarkan Gavin, tetapi Aksa melarangnya karena takut Gavin tertular demam dari ibunya. Untung saja ayah mertuanya mengerti.


"Mau minum?" Riana menggeleng lemah. Aksa merasa sangat bersalah.


"Maaf."


Hanya kata itu yang keluar dari mulut Aksara dan istrinya hanya membalas dengan seulas senyum.


Satu jam berselang, di mana Aksa tak beranjak walaupun hanya sedetik. Dokter Gwen datang memeriksa tubuh Riana. Dia hanya tersenyum.


"Ini hanya efek lepas IUD. Jadi, jangan khawatir."


Dokter Gwen sudah mempersiapkan obat bagus yang dia bawa khusus. Dia sadar diri siapa Riana. Siapa kedua mertuanya. Jadi, dia tidak ingin memberikan yang biasa.


"Makan dulu, baru diminum obatnya." Senyum dokter Gwen membuat Riana tersenyum lemah. Selepas kepergian dokter Gwen yang diantar oleh kedua orang tua Aksa, Aksa menggenggam tangan Riana dengan sangat erat dan mencium punggung tangan istrinya tersebut.


"Maafkan, Abang."


"Abang gak salah." Riana tersenyum ke arah suaminya.


Salah seorang pelayan mengetuk pintu kamar mereka berdua dan membawakan nampan berisi makanan untuk Riana. Gio dan Ayanda tidak ingin mengganggu anak dan menantunya. Mereka memilih untuk mengambil.Gavin di rumah Rion.


"Makan, ya." Riana menggeleng. Mulutnya sangat pahit. Air putih pun rasanya pahit.


"Sedikit aja, Sayang. Biar bisa minum obat."


Aksa terus membujuk Riana hingga akhirnya sang istri mau makan walaupun hanya satu suap. "Mau minum teh hangat?" Riana menggeleng.


"Bisa tolong ambilkan air hangat dan masukan ke dalam botol kaca?" Riana berbicara dengan nada yang sangat lemah.


"Tentu, Sayang. Tunggu, ya."


Aksa mengecup kening Riana terlebih dahulu sebelum dia pergi ke dapur. Aksa sama sekali tidak meminta bantuan asisten rumah tangga karena dia ingin melakukannya sendiri untuk sang istri .


Hati Aksa sakit ketika melihat Riana meringkuk sambil meringis kecil dengan tangan yang sudah berada di atas perut.


"Perutnya sakit banget?" Riana hanya mengangguk pelan.


Aksara segera menyingkap kaos yang Riana gunakan. Meletakkan botol yang berisi air hangat di atas perut Riana. menggerakkannya ke atas dan ke bawah sepertoi gerakan memijat. Riana yang awalnya meringis kesakitan kini merasa keenakan.


"Kamu tidur, ya." Aksa mengusap lembut rambut Riana. Untuk kedua kalinya dia mencium kening sang istri tercinta.


Benar saja, pijatan dengan botol itu membuat Riana terlelap dengan damainya. Sebelumnya, Aksa sering melihat dahi Riana yang mengkerut walaupun matanya terpejam. Kini sudah tidak lagi. Sepertinya air hangat itu cukup membantu menghilangkan rasa sakit di perutnya.


Aksa tak beranjak dan terus menemani Riana. Ada rasa bersalah yang sangat besar yang kini dia rasakan. Dia tahu Riana tidak akan bermain di belakangnya. Walaupun dia juga tengah kesal karena pria yang di rumah sakit bersama istrinya terus mengirimkan pesan kepada nomor ponselnya. Ya, nomor ponsel Aksalah yang disimpan di ponsel Dion.


Riana juga sudah sangat tahu bagaimana tabiat suaminya.

__ADS_1


Tengah malam, Riana terbangun dan melihat sang suami sedang tidur dengan terus menggenggam tangannya. Aksa duduk dilantai dengan kepala yang dia letakkan di tepian tempat tidur.


"Bang."


Riana terpaksa membangunkan suaminya karena tubuhnya masih sangat lemas. Mata Aksa mengerjap dan dia menatap ke arah istrinya yang sudah tersenyum ke arahnya.


"Ada yang sakit lagi? Kita ke rumah sakit sekarang." Aksa sangat panik, tangan Riana sedikit menarik tangan suaminya hingga Aska terdiam dan menatap lekat ke arah Riana.


"Ri, ingin ke kamar mandi."


Aksa menghela napas lega dan dia segera membopong tubuh Riana. Setelah menurunkannya di dalam kamar mandi, mata Riana melebar ketika di tangan suaminya terdapat cairan merah seperti darah.


"Bang." Riana menunjuk ke arah lengan Aksa. Aksa hanya tersenyum. Lalu, dia menunjuk ke arah belakang Riana. Ternyata PMS Riana sangat banyak hingga darahnya tembus ke mana-mana.


"Abang ambilkan pembaloet dulu, ya."


Aksa membawa pembaloet untuk sang istri. Kemudian, meninggalakan Riana sendiri berganti pakaian juga roti Jepang. Dia melihat ke arah sprei. Cukup banyak bercak darah di sana.


Aksa segera mengganti sprei tersebut dan membawa sprei kotor ke lantai bawah. Menyuruh asisten rumah tangga untuk mencucinya. Sekalian dengan bajunya yang terkena sedikit darah.


Ketika keluar dari kamar mandi, Riana tidak melihat Aksa ada di sana. Namun, bibirnya melengkung dengan sempurna ketika melihat sprei itu sudah berubah warna. Riana berjalan ke arah nakas. Ternyata air minum sudah habis. Dia segera membawa gelas itu ke lantai bawah untuk mengisi air minum.


"Mau ke mana, Sayang?" Mereka bertemu di tangga. Riana yang hendak menuruni anak tangga, dan Aksa yang sudah hampir sampai ke anak tangga yang paling atas.


"Air minum habis."


Aksa meraih gelas itu dan dialah yang turun ke bawah. Riana hanya tersenyum dan dia berjalan menuju kamar sang putra yang berada di samping kamarnya. Ternyata putranya sudah terlelap dengan memeluk boneka beruang besar yang dia dapat dari capit boneka.


"Lagi apa, Sayang?"


Ucapan Aksa mampu membuat Riana kaget, Aksa hanya tertawa dan mengajak Riana masuk ke dalam kamar lagi.


"Empin ingin lihat kamu, tapi semua orang melarang takut Empin ikutan demam." Riana mengangguk.


Aksa meraih ponselnya dan memberikannya kepada Riana. Dahi Riana mengkerut ketika dia membaca isi pesan yang dikirimkan oleh seseorang. Ketika Riana lihat profilnya, ternyata itu adalah foto Dion, teman sekolahnya. Riana mengembalikan ponsel itu kepada Aksa dan kini menatap mata Aksa dengan lekat.


"Ri, tidak akan keluar rumah tanpa seizin Abang." Aksa mengangguk setuju. Selama ini Riana menjelma menjadi istri yang penurut.


"Dia siapa? Sepertinya asing." Aksa mulai mencari tahu dan dia pun sudah berada di samping istrinya.


"Teman sekolah."


"Hanya itu?" sergah Aksa.


"Kan yang dekat cuma Kevin. Abang juga tahu itu 'kan."


Aksa mengangguk dan meraih tangan Riana. Menatapnya dengan penuh cinta. "Maafkan, Abang." Sorot mata Aksa terlihat sangat serius.


"Gak apa-apa. Ri udah kebal, karena suami Ri super posesif." Aksa pun tertawa dan dia mencubit gemas hidung Riana.


"Masih ada yang sakit gak?" Riana menyentuh kepalanya dan Aksa menyuruh Riana berbaring di pangkuannya. Tangan Aksa memijat pelipis Riana dengan sangat lembut, tapi mampu memberikan kenyamanan pada Riana. Masih dalam pengaruh obat, Riana pun terlelap kembali. Aksa hanya tersenyum karena dia bisa memberikan kenyamanan kepada istri tercintanya.


Pagi menjelang, Aksa masih terlelap dengan memeluk tubuh istrinya. Riana tersenyum dan mengusap lembut pipi sang suami. Aksa memang tidak pernah membentak ataupun berbicara kasar kepada Riana. Marahnya Aksa itu diam seperti patung bernapas.


Suara pintu terbuka dengan pelan. Riana menoleh ke arah pintu penghubung dan sudah ada sang putra yang berjalan pelan menuju arahnya.


"Mommy."


Suara Gavin sangat pelan dan dia melangkah dengan sangat hati-hati karena hanya lampu tidur yang menyala.


Gavin mendekat dan senyumnya merekah ketika melihat Riana juga tersenyum ke arahnya.


"Mommy dah tembuh?" Riana segera meletakkan jari telunjuknya ke atas bibir, menandakan bahwa Gavin jangan berisik. Anak itu pun mengangguk mengerti.


Kemudian, anak itu merangkak naik ke atas tempat tidur. Terus merangkak ke arah tengah dan mencoba memisahkan tangan sang ayah yang tengah memeluk tubuh ibunya. Kini, gantian Gavin yang memeluk tubuh Riana.


"Nakal!" Gavin hanya tertawa dan memandang wajah ibunya dengan mata yang nanar.


"Danan tatit. Nanti atu tedih."


Riana memeluk erat tubuh putranya dan mengecup dalam kening Gavin.


Kehadiran Gavin ke dunia ini membawa perubahan yang luar biasa untuk hidupnya juga Aksara. Merasakan kehilangan calon buah hati kedua mereka tak membuat mereka sedih berlarut. Itu semua karena kehadiran Gavin yang terus memberikan kebahagiaan kepada mereka hingga mereka sedikit melupakan rasa sedih itu dan bisa kembali seperti sedia kala lagi.


Aksa mencari-cari tubuh istrinya untuk dia peluk. Namun, tubuh kecil yang dia dapat. Gavin menahan tawa karena sang ayah menepuk-nepuk tubuhnya. Aksa mulai membuka matanya.


"Ba!"


Putranya sudah tertawa puas dan Aksa segera menggelitik perut Gavin hingga putranya itu tertawa sangat keras.


"Ampun, Dad. Ampun!"

__ADS_1


Riana tertawa bahagia melihat anak dan suaminya bercanda seperti itu. Hal sederhana, tetapi mampu membuat Riana bahagia.


Pagi ini, Aksa mandi bersama putranya. Riana yang masih lemas hanya mengangguk pelan. Membiarkan ayah dan anak itu bermain air.


Ketukan pintu terdengar. Riana hanya menyahuti dari dalam dan muncullah ibu mertuanya.


"Gavin ada di sini?" tanyanya. "Tadi Mommy lihat ke kamarnya tidak ada."


"Lagi mandi sama Daddy-nya."


Ayanda hanya ber-oh saja. Dia menghampiri sang menantu dan duduk di tepian tempat tidur.


"Mau sarapan apa?"


Pertanyaan ibu mertua membuat hati Riana terenyuh. Selama tinggal di rumah besar ini dia selalu diperlakukan sangat baik oleh suami serta semua anggotanya keluarga Aksa.


"Ri, ingin bubur ayam aja, Mom. Nanti biar Abang yang beli."


"Bikin aja, ya." Riana menggeleng. Apalagi dia melihat ibu mertuanya itu sudah rapi dengan pakaian formal.


"Gak usah, Mom." Riana tersenyum ke arah Ayanda dan menggenggam erat tangan ibunya sehingga membuat Ayanda mengerutkan dahi. "Makasih, Mom."


"Untuk?" balas sang ibu mertua.


"Untuk kebaikan Mommy selama ini kepada Ri." Mata Riana sudah berkaca-kaca karena Ayanda benar-benar memperlakukannya seperti anak kandungnya sendiri.


"Tidak perlu berterima kasih, Sayang." Ayanda memeluk tubuh Riana. Dia tahu ketika sakit seperti ini, menantunya pasti akan merindukan sosok seorang ibu di sampingnya. Orang yang akan merawatnya dengan sangat tulus. Maka dari itu, Ayanda tidak akan membiarkan menantunya itu merasakan kesepian dan sendirian.


"Kamu adalah putri Mommy. Kamu adalah anggota dari keluarga Wiguna. Jadi, jangan mengucapkan terimakasih atas apa yang seharusnya Mommy lakukan."


Tak terasa bulir bening menetes di pelupuk mata Riana. Dia benar-benar terharu dengan apa yang dikatakan oleh mertuanya ini. Keharuan itu harus berakhir ketika dua pria yang mengenakan bathrobe yang berwarna sama keluar dari kamar mandi.


"Cucu Mimo udah mandi?" Gavin mengangguk dan menghampiri sang nenek.


"Mimo, antal atu te tamal. Pate Badu."


(Mimo, antar aku ke kamar. Pakai baju)


Ayanda mengangguk dengan cepat dan membawa Gavin ke kamar miliknya melalui pintu penghubung. Aksa hanya tersenyum dan segera memakai baju yang dia ambil sendiri dari lemari. Dia tidak membiarkan Riana turun dari tempat tidur.


Dahi Riana mengkerut ketika melihat Aksa memakai pakaian santai. "Gak ngantor?" Aksa menggeleng sambil meletakkan bathrobe yang dia gunakan ke tempatnya.


"Mommy mau ngapain?" Aksa sudah duduk di samping istrinya sambil memeriksa suhu tubuh Riana.


"Cuma nanya mau makan apa?" jawab Riana. Kini, Riana menatap sang suami. "Ri, ingin bubur gerobakan yang ada di depan jalan. Abang bisa beliin 'kan."


"Tentu, Sayang." Riana tersenyum mendengarnya. "Sekalian ajak Empin jalan-jalan pagi ke luar kompleks pakai motor."


Cucu dari Giondra ini sangat riang ketika mengetahui ayahnya akan membawanya menggunakan motor. "Yeay! Nait motol."


Aksa hanya tertawa, sedari kecil Gavin jarang sekali menaiki motor. Hanya beberapa kali itupun dibawa Aska secara sembunyi-sembunyi dari keluarganya.


Seorang pria berpakaian kaos dengan celana pendek Chino menaiki motor matic dengan anak laki-laki berdiri di depan. Semua orang yang melihatnya berdecak kagum. Sungguh definisi bapack-bapack sekali.


Tibanya di tukang bubur yang Riana inginkan. Para ibu-ibu memandang Aksa juga Gavin dengan tatapan penuh kekaguman.


Ada seorang ibu-ibu yang memepet Aksa terus hingga menyenggol lengannya. Ibu itu pun malah tersenyum ke arah Aksa bukan meminta maaf.


"Mas-nya tampan."


Aksa tersenyum kecut begitu juga dengan Gavin yang sedari tadi menarik-narik tangan ayahnya.


"Dendon Daddy."


Aksa pun menggendong tubuh putranya sambil memesan bubur. "Jangan pakai daun bawang dan kacang ya, Pak. Kecapnya banyakin dan kaldunya pisah."


"Daddy, atu mau telul." Aksa mengambilkan sate telur puyuh juga sate kulit untuk teman makan bubur mereka. Tak tanggung-tanggung dua pilih tusuk sate Aksa ambil.


"Pak, yang satu buburnya setengah aja jangan pakai kacang dan daun bawang." Itu untuk Gavin karena anaknya ingin memakan makanan yang sama dengan ibunya.


"Totalnya tujuh puluh ribu."


Aksa segera mengeluarkan uang yang ada di saku celananya. Lembaran merah dengan nominal seratus ribu dia keluarkan.


"Kembaliannya ambil aja." Tukang bubur itu pun terperangah dan mengucapakan banyak terima kasih kepada Aksa.


"Mas-nya, sering-sering ke sini, ya. Buat cuci mata kaum emak-emak yang memiliki suami pas-pasan."


Tukang bubur itu pun melotot ke arah wanita yang berucap seperti iti yang tak lain adalah istrinya.


...****************...

__ADS_1


Kalau bosan skip aja ya ...


__ADS_2