
"Besok kita harus terbang ke Jogja."
"Hah?"
Aska terkejut dengan apa yang dikatakan oleh sang Abang. Seketika wajahnya berubah.
"Ada masalah di perusahaan cabang," jelasnya.
Aska menghela napas kasar. Dia menyandarkan punggungnya di kursi kerja yang biasa dia duduki.
"Apa harus sama gua?"
Pertanyaan yang terdengar sangat malas. Aksa menatap adiknya, hatinya tiba-tiba sakit.
"Lu bawahan gua, lu harus ikut ketika gua perintahkan," tegas Aksa.
"Boleh gak gua jadi bawahan yang ngebangkang untuk masalah ini?"
Kalimat yang sangat lirih yang Aska ucapkan. Kalimat yang terdengar sangat frustasi.
"Kenapa?"
"Gua lagi belajar melupakan, bukan ingin diingatkan." Aska
berucap seraya tersenyum perih.
Kini, Aksalah yang memijat pangkal hidungnya yang terasa pusing. Dalam hal ini dia juga tidak boleh egois. Bekerja memang harus profesional, tapi dalam dia juga harus memberikan toleransi. Bukan membedakan terhadap adiknya. Dia hanya takut adiknya berbuat hal gila lagi. Berada di fase seperti Askara memanglah tidak mudah.
"Gua akan bicarakan sama Daddy."
Aska terus menatap punggung sang kakak yang kini keluar dari ruangannya. Dia akui, Aksa memiliki peranan penting dalam kisah asmaranya. Aksa juga sangat mengerti kesakitan yang tengah dia hadapi.
"Gua janji, Bang. Kalau suatu saat nanti gua menemukan seseorang yang memang ingin gua pinang, restu lu adalah hal yang utama."
***
"Kamu yakin?" tanya sang ayah kepada Aksa.
"Yakin, Dad. Abang akan minta bantuan Fahri," jawabnya dengan penuh keyakinan.
Perusahaan cabang Wiguna Grup di Jogja tengah dilanda masalah yang cukup rumit. Giondra sedikit ragu karena pekerjaan ini akan memakan waktu cukup lama. Bisa tiga sampai tujuh hari, dan Aksa bersikukuh untuk mengajak Riana.
"Daddy akan suruh dokter Gwen memeriksa kandungan Riana, juga menyiapkan pesawat untuk kalian pergi ke sana."
__ADS_1
Helaan napas kasar keluar dari mulut Aksara ketika dia keluar dari ruangan sang ayah. Niatnya, berdua dengan Aska agar ada yang menjaga Riana ketika dia ke perusaahan cabang. Namun, Aska malah menolak dan membuatnya sedikit bingung.
Ketika malam tiba, Riana merebahkan kepalanya di pundak sang suami yang tengah serius dengan pekerjaannya.
"Abang serius mau ajak RI?"
Aksa menoleh ke arah istrinya yang sudah merangkul manja lengannya.
"Kok kamu nanya gitu?" tanya Aksa heran, dia menutup laptopnya. Meletakkannya di atas nakas dan menangkup wajah sang istri tercinta.
"Ri, takut ganggu Abang," sahutnya.
Aksa pun tergelak dan mencium pipi Riana yang sedikit chubby. "Kerja sambil baby moon, Sayang," ucapnya sambil menarik turunkan kedua alisnya. Wajah Riana pun merona karena malu.
Di kehamilan ini, Riana selalu meminta jatah kepada suaminya. Setiap malam sebelum tidur harus berolahraga malam dengan berbagai gaya yang membuat Riana mengejang nikmat. Sebuah keberuntungan juga untuk Aksa. Malah dia sangat senang dan menikmati.
DI dalam kamar, Aska masih terjaga, Dia menatap langit malam yang cerah. Berbeda dengan hatinya yang tengah gelap gulita.
"Sudah dua bulan, tapi nama dan wajahmu masih terukir di hatiku."
Helaan napas kasar mengakhiri monolognya. Aska sudah mematikan akses apapun mengenai Jingga, Dia sudah tidak ingin mengetahuinya lagi. Sudah waktunya untuk bangkit dari rasa sakit.
Dari awal kejadian yang menimpa Jingga juga Bian, Ken dan Juno memaksa Aska untuk mencari tahu. Namun, Aska menolak. Dia tidak ingin menjadi perusak rumah tangga orang.
Dia hanya tidak ingin terluka untuk kedua kalinya, jika pada nyatanya itu memang benar terjadi. Hati Aska pasti akan semakin sakit.
Kedua sahabat Aska pun terpaksa mendukung keputusannya. Sudah dua bulan ini, mereka seperti kehilangan sahabat terbaik mereka. Canda tawa Aska, seketika hilang. Tidak ada pembahasan yang tak penting, semuanya Aska anggap serius. Aska yang mereka kenal kini sudah berubah, itulah yang membuat mereka sedikit sedih.
Pagi hari, Riana dan Aksa hanya membawa baju yang ada di tubuh mereka. Di apartment milik Aksa di Jogja sudah ada baju untuk mereka berdua. Jadi, tidak perlu repot-repot membawa banyak baju.
Pelukan hangat Ayanda berikan kepada sang menantu. Sudah enam bulan ini Ayanda selalu menemani Riana. Kepergiaan Riana untuk beberapa hari ke depan membuat Ayanda merasa kesepian.
"Jaga kesehatan ya, Ri. Vitamin jangan lupa dan jangan telat makan."
Nasihat yang terucap dari bibir Ayanda membuat Riana merasa terharu. Perlakuan ibunda dari suaminya kepada dirinya, sama seperti kepada anak-anaknya. Tidak membedakan sama sekali. Apalagi ketulusan sayang dan cinta yang Ayanda berikan kepada Riana, sangatlah besar.
"Iya, Mom. Nanti, Ri akan sering video call Mommy."
Aksa tersenyum bahagia melihat kedua wanita yang sangat dia sayangi sangat akrab. Dia seperti tengah melihat sang ibu yang tidak tega melepaskan anaknya.
"Abang berangkat, ya," pamit Aksa kepada sang ayah.
Aska sudah berangkat sedari pagi. Dia beralasan akan sarapan bersama Ken dan Juno. Namun, pada nyatanya dia menghentikan mobil di pinggir danau. Dia duduk di sana seorang diri menatap renangnya air danau.
__ADS_1
"Mungkin ... kamu sudah bahagia dengannya," ucap pelan Aska sambil melempar batu kerikil ke dalam danau.
Aska adalah pria yang sulit jatuh cinta. Sekalinya cinta dia akan mati-matian berjuang. Sayang, perjuangannya harus terhenti di tengah jalan. Dia harus mundur ke belakang karena sudah terkalahkan.
Aska menunduk dalam. Tidak pernah dia sefrustasi ini. Hembusan napas berat keluar dari mulutnya.
"Move on, Aska. Move on!" erangannya dalam hati.
****
Di sebuah rumah sederhana, setiap pagi seorang wanita duduk di teras depan rumah dengan tatapan lurus ke depan. Kosong, begitulah tatapannya.
"Makan dulu."
Seorang pria datang menghampiri dengan baju yang sudah rapi. Tangan pria itu hendak menyentuh pundak sang wanita . Namun, tatapan tajam wanita itu berikan.
"Jangan mengotori tubuhku lagi!"
Kalimat sarkas yang keluar dari mulut wanita tersebut. Dia masuk ke dalam rumah dan mengunci diri di dalam kamar.
Pria itu hanya mengembuskan napas kasar. Dua bulan dia seperti dihukum oleh kenyataan. Memiliki istri yang tak bisa disentuh sama sekali. Haruskan dia menceraikannya?
Ponselnya berdering, pria itu segera menjawab.
"Kami butuh makanan untuk makan siang nanti. Kirim ke perusahaan WGN. Berikan menu terbaik. Jika, makanan itu cocok di lidah petinggi kami. Saya pastikan kami akan berlangganan setiap hari kepada rumah makan Anda."
Bagai mendapat rejeki di pagi hari. Pria itu pun tak berhenti mengucapkan syukur kepada sang pencipta. Dua bulan lalu, usahanya sudah gulung tikar karena kesalahannya sendiri yang mencurangi penanam modal. Masih untung, dia tidak dipolisikan. Kini, dia mencoba bangkit. Membuka rumah makan kecil-kecilan dengan satu pekerja yang membantunya..
Dia segera masuk ke dalam rumah dan mengetuk pintu kamar wanita tadi.
"Aku pergi, ya. Doakan aku, semoga masakan rumah makan ku disukai oleh petinggi perusahaan WGN," ucapnya dari luar pintu.
Sama sekali tidak ada jawaban dari wanita yang berada di dalam. Dia malah tak perduli dan masih menutup lurus ke arah pintu kamar.
"Untuk apa doaku? Malah aku berdoa kepada Tuhan agar kamu mendapatkan karma yang setimpal. Karma yang lebih menyakitkan dari apa yang aku rasakan."
...****************...
Komen dong ....
Oh iya, aku mau ngucapin makasih banyak sama kalian yang udah setia baca cerita ini. Sama yang meninggalkan cerita ini karena Bang As dan Jingga dibuat seperti ini pun, aku ucapkan terima kasih.
"Ditinggal pas sedang lelah berjuang." Nasibku sama seperti Bang As.🤧 tapi ya sudahlah. Aku tidak memaksa siapapun untuk menyukai karyaku.
__ADS_1
Tunggu saja ceritanya Bang As. Di sana adalah jawaban dari plot twist yang aku buat di sini. Semoga kalian penasaran dan semakin tak sabar menunggu kisah Bang As.