
Hari sudah sore, Aska harus bergegas pulang karena malam ini ada sahabat dari ayahnya datang. Sebenarnya enggan, tetapi Aska tidak ingin menjadi anak durhaka untuk kesekian kalinya.
"Hanya makan malam saja 'kan," gumamnya.
Aska bergegas keluar dari apartment sang abang. Suara notif pesan sudah terdengar. Namun, Aska abaikan. Dia sudah tahu itu pesan dari siapa.
Tibanya di rumah, Aska melihat Abang dan kakak perempuannya berwajah muram. Dahi Aska mengkerut dan dia ikut bergabung bersama mereka.
"Kenapa?"
Pertanyaan Aska membuat Aksa juga Echa menoleh. Menatap tajam ke arah adiknya.
"Sahabat lu bikin pala gua spanning," oceh Aksa.
"Maksudnya?"
"Abang kamu sok-sokan nahan emosi. Padahal, udah pengen meledak kepalanya," terang Echa.
Aska pun tertawa mendengarkan apa yang dijelaskan oleh Echa. Dia menepuk paha sang Abang dengan mengejek.
"Yang penting duit lu balik 'kan," ucap Aska.
"Besok juga tuh duit habis," sahut Aksa.
"Buat apa?" tanya Echa dan juga Aska.
"Ngelempengin otak gua yang udah kusut pake banget." Aska dan Echa pun tergelak mendengar ucapan Aksa. Terkadang, Aksa bisa melawak juga.
"Lah Kakak kenapa tuh muka ditekuk begitu?" Kini, Aska bertanya kepada Echa.
"Dia lagi seneb sama cewek yang sok kaya. Malah si Kakak punya nazar," papar Aksa.
"Hah? Segitunya Kak?"
"Kalau kalian jadi Kakak, ada yang membentak Mamah di depan kalian. Apa kalian akan diam saja?" Sontak mereka berdua pun menggeleng.
"Adek remes tuh mulut lemesnya," geram Aska.
"Abang gunting congornya," timpal Aksa.
Begitulah kasih sayang mereka bertiga terhadap Ayanda. Tidak ada yang boleh menjelekkan ibunya sama sekali.
"Makanya ... kakak bernazar, kalau ketemu lagi dengan perempuan itu akan kakak siram mukanya pakai air," ucap Echa berapi-api.
"Pakai air keras sekalian, Kak," kelakar Aska.
"Ide bagus," sahut Echa. Mereka bertiga pun tertawa bersama.
"Kenapa masih di sini? Bukannya mandi dan siap-siap," tegur Giondra.
"Sebentar lagi, Dad," sahut Aska.
Baru saja Echa hendak beranjak dari duduknya. Radit datang dengan langkah lebar. Terlihat wajahnya sedikit panik.
"Sayang, kita ke rumah Papih sekarang," ajak Radit.
Bukan hanya Echa yang terkejut, Gio dan kedua adiknya pun sedikit terkejut mendengar ucapan Radit.
"Ada apa, Dit?" tanya Giondra.
"Papih ingin anak-anak dan menantunya kumpul."
Deg.
__ADS_1
Dada Echa berhenti berdetak mendengarnya. Dia menatap Radit dengan tatapan pilu.
"Yuk, Sayang. Kita berangkat," ajak Radit lagi.
"Pah, maaf Echa harus pergi. Sampaikan salam Echa kepada sahabat Papah." Gio pun mengangguk pelan. Sebelum dia pergi, dia menghampiri ibunya yang tengah sibuk menata makanan.
"Mah, Echa ke rumah Papih dulu, ya. Ada hal penting, dan Echa takut Papih kenapa- kenapa," pamitnya.
"Pergilah, Kak. Setelah acara makan malam selesai, Mamah, Papah serta Ayah akan ke rumah Papih." Echa hanya mengangguk.
Aska masih memandang wajahnya di cermin. Helaan napas kasar keluar dari mulutnya. Hari ini banyak sekali kejutan yang dia dapatkan. Dari permintaan sang ayah hingga acara makan malam dadakan.
Ayanda sudah mengetuk pintu kamar Aska karena semua orang sudah berkumpul di ruang tengah. Minus Echa yang pergi ke rumah Addhitama.
"Iya, Mom."
Aska keluar denah menggunakan pakaian semi formal dan membuat Ayanda mengagumi ketampanan putranya tersebut.
"Ya ampun, Dek. Tampan sekali, percis seperti Daddy kamu pas masih muda," terang sang mommy. Aska hanya tersenyum sembari menahan malu.
Anak dan ibu itu turun dari lantai atas. Di sana sudah terlihat Riana yang sangat cantik yang sudah mengenakan dress yang memperlihatkan perutnya yang sedikit membukit. Abangnya pun memakai pakaian yang senada dan tak hentinya memandangi wajah cantik Riana.
"Kenapa? Nyesel gak dapetin Riana," bisik sang ibu.
Aska malah tertawa mendengar ucapan Mommy-nya. Tangannya memeluk erat pinggang sang ibu.
"Riana memang jodoh yang Tuhan berikan kepada Abang. Malah Adek sangat bahagia karena Abang benar-benar menemukan kebahagiaannya."
Memiliki tiga orang anak yang memiliki sikap yang sangat baik adalah anugerah dari Tuhan yang sangat luar biasa. Apalagi ketiga anak Ayanda ini sangat menyayangi keluarganya.
Mereka berlima berbincang hangat, hingga sebuah mesin mobil terdengar dari arah luar. Giondra dan Ayanda sudah saling tatap. Mereka berdua sudah berdiri dan akan menyambut tamu mereka, sedangkan Riana dan Aksa masih asyik bermanja. Apalagi tangan Aksa yang sudah tidak mau diam di atas perut Riana. Pergerakan sang calon anaknya membuatnya betah berlama-lama meletakkan telapak tangannya di atas perut sang istri.
Aksa malah asyik dengan gadget di tangan. Jarinya sudah menari-nari di atas ponsel.
Sebuah pesan yang Aska kirimkan kepada Jingga.
"Selamat."
Balasan yang dikirimkan oleh Jingga. Sontak Aska pun tertawa.
"Kamu terlalu lama menggantung hatiku. Aku bukan jemuran, Jingga."
Tidak ada balasan dari Jingga. Dia malah terkekeh sendiri. Sudah pasti Jingga tengah merajuk. Aska memilih untuk menghubungi Jingga via sambungan telepon. Menjauhi Abah dan juga kakak iparnya yang tengah bermesraan.
"Selamat datang, di gubuk gua," ucap Giondra ketika Eki menghampirinya.
"Rumah sebesar ini lu bilang gubuk," balas Eki seraya berdecak kesal.
Ayanda tersenyum mendengar candaan dua pria yang sudah tidak muda lagi. Kini Eki menatap ke arah wanita yang ada di samping Gio.
"Kamu Ayanda 'kan?" Sebuah anggukan kepala yang menjadi jawaban dari Ayanda.
"Masih awet muda aja," puji Eki.
"Tergantung sama siapa dia bersanding. Upik abu sekalipun jika bersanding dengan seorang yang menyayanginya dengan tulus pasti akan menjadi seorang ratu."
Plak!
Ucapan Giondra seperti menampar keras hati Eki. Dia seakan menyindir Eki dengan sangat halus.
"Mana anaknya, dok," kata Ayanda.
"Dia akan menyusul, masih di jalan. Tahu sendiri kalau dokter itu seperti apa." Eki mencoba membanggakan Melati di depan Ayanda dan juga Gio.
__ADS_1
"Putri dokter Eki seorang dokter juga?" Eki mengangguk dengan penuh kebanggaan.
"Berbeda jauh dong ya dengan putra bungsu saya," balas Ayanda.
"Berbeda gimana? Pasti putra bungsu kamu dan juga Andra sehebat abangnya 'kan."
Ayanda pun tertawa dan menatap ke arah sang suami tercinta.
"Anak terakhir gua hanya sebagai pelayan kafe."
Mata Eki melebar dengan sempurna mendengarnya. Dia tahu Giondra tengah berbohong kepadanya.
"Lebih baik kita masuk," titah Ayanda ketika melihat wajah Eki yang sudah pucat.
Eki mengikuti langkah Giondra dan juga Ayanda. Dia sungguh takjub dengan rumah milik Giondra. Langkah mereka terhenti di ruang tengah.
"Bang," panggil sang ayah.
Aksa yang tengah mengusap lembut perut Riana menoleh, dan memicingkan matanya ketika melihat dokter Eki di sana.
"Kenalin ini dokter Eki, teman Daddy."
Aksa menatap dokter Eki dengan tatapan tak terbaca, sedangkan dokter Eki sudah tersenyum ke arahnya.
"Tanpa Daddy kenalkan pun Abang sudah tahu siapa beliau," ketus Aksa. Gio hanya mengulum senyum. Mulut Aksa memang sangat pedas.
"Dunia ini memang sempit, selalu ketemu dengan orang yang sama," sindir Aksa.
Sama sekali Aksa tidak beranjak dari duduknya. Malah dokter Eki yang merasa sedikit ketakutan karena sedari tadi Aksa hanya terdiam.
"Bang," panggil lembut sang istri.
"Kita sudah tahu beliau 'kan, Sayang. Beliau juga yang terang-terangan ingin menjodohkan Abang dengan anaknya," sewot Aksa.
Gio sedikit tersentak mendengar penuturan sang putra. Kini dia menatap tajam ke arah Eki.
"Bercanda, Ndra. Gua gak tahu kalau anak lu udah punya istri," kilahnya.
"Tetap saja, itu tidak beretika," sungut Aksa.
"Sudah-sudah." Ayanda menengahi Aksa juga dokter Eki. "Oh iya, kenalkan ini menantu saya," ucap Ayanda lagian seraya menatap ke arah Riana.
Riana hanya tersenyum tanpa menjabat tangan dokter Eki. Dia sudah mendapat ultimatum dari sang suami.
"Dia adalah anak dari mantan suami saya," paparnya.
"Hah?" Eki nampak terlihat terkejut sekali. Perempuan yang menjadi menantu Giondra adalah anak dari mantan suami Ayanda. Bagiamana bisa?
"Gua sama Rion sudah menjadi sahabat, malah sekarang menjadi besan," tambah Giondra lagi. Eki hanya dapat menggelengkan kepalanya tak percaya.
"Adek di mana, Bang?" tanya Ayanda yang tidak melihat Aska.
"Lagi telepon di halaman samping," jawab Aksa.
Mereka memilih untuk berbincang santai di ruang tengah sambil menunggu anak Eki dan juga Aska.
"Selamat malam semua." Suara seorang perempuan terdengar menyapa mereka.
Seketika perempuan itu menegang ketika melihat Ayanda. Dia sungguh tidak percaya akan penglihatannya.
"Anak Ayah udah sampai."
...****************...
__ADS_1
Komen dong