
Sudah dua hari ini, Aksa tidak menghubungi Riana. Dihubungi pun susah. Riana lupa jika dirinya diawasi oleh Aksa. Dia malah datang ke rumah sakit tempat Arka dirawat tanpa memberi tahu Aksa sehinga Aksa marah kepadanya. Aksa memang tidak berbicara langsung, tetapi Riana dapat merasakan kemarahan Aksa. Marahnya Aksa itu diam dan dingin.
Pernah sekali sambungan Riana dijawab oleh Aksa. Hati Riana bahagia, sedetik kemudian berubah perih.
"Aku sedang sibuk."
Hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Aksa. Sambungan telepon pun Aksa putuskan secara sepihak. Dada Riana terasa sesak. Apalagi, Aksa tidak pernah menyebut dirinya dengan panggilan 'aku' jika berbicara dengan Riana.
"Maafkan Ri." Hanya kalimat itu yang keluar dari mulutnya.
# flashback on.
Setelah menonton video yang diberikan oleh Arka. Riana terus menangis, hatinya sakit melihat kumpulan video kebersamaannya dengan Arka yang sangat dekat sebelum kedua orang tua Arka mengacaukan semuanya. Keesokan harinya, Riana memutusakan untuk menjenguk Arka tanpa meminta ijin kepada Aksa. Dia juga menemani Arka hingga sore menjelang.
Sebagai seorang teman, Riana merasa sangat sedih melihat wajah pucat Aksa yang terlihat jelas, tetapi senyumannya terus mengembang karena kehadiran Riana di sisinya.
"Makasih, telah datang," ucap Arka dengan suara yang lemah dan mencoba untuk duduk dari posisi tidurannya.
"Aku hanya ingin menghibur temanku yang sedang sakit," sahut Riana seraya tersenyum.
"Kenapa kamu gak bilang?" Arka tahu maksud dari pertanyaan Riana. Apalagi, wajah sendu Riana nampak nyata di depan matanya.
"Aku tidak ingin merepotkan."
Suara itu terdengar sangat pasrah dan juga tulus. Riana menatap lamat mata Arka. Sorot matanya menyimpan kepiluan.
"Jangan pernah mengasihani ku, Riana," ucap Arka.
"Aku tidak akan mengasihanimu. Hanya Aksa yang aku cintai, aku juga tidak ingin berakting untuk mencintaimu karena bukan hanya Aksa yang tersakiti, kamu juga akan lebih tersakiti."
Arka tersenyum kecut. Perkataan Riana sangat menusuk hatinya. Inilah yang namanya sakit tak berdarah.
"Apa aku boleh merealisasikan lagu yang pernah aku bawakan di video yang aku berikan kemarin?"
Hati Riana sangat sakit ketika mendengar lagu yang Arka bawakan dalam video itu. Sangat menyayat hati. Arka meraih ponselnya, memutar lagu pesan terakhir dari Lyodra.
🎶
Aku kan berusaha untuk melupakanmu
Tapi, terimalah permintaan terakhirku
Genggam tanganku sayang
Dekat denganku peluk diriku
__ADS_1
Berdiri tegak di depan aku
Cium keningku tuk yang terakhir
Ku kan menghilang jauh darimu
Tak terlihat sehelai rambut pun
Tapi di mana nanti kau terluka
Cari aku ...
Riana menunduk dalam mendengar lagu tersebut. Arka yang sudah duduk bersandar, menggenggam tangan Riana. Menatap matanya sangat lekat.
"Ini permintaan terakhirku. Aku janji, aku tidak akan mengusik kebahagiaan kamu dengar pria yang sangat kamu cintai."
Arka menangkup wajah Riana, menghapus air mata yang sudah terjatuh di pipi Riana. Bibir Arka mulai menyentuh kening Riana. Mencium kening perempuan yang dia sayangi sangat dalam dan lama.
"Akan aku bawa cinta ini hingga mati," batin Arka sedih.
Mata Arka pun terpejam, sedangkan Riana menitikan air mata. Dia merasa sudah mengkhianati Aksa, di sisi lain dia tidak bisa menolak. Arka adalah teman yang menemaninya ketika dia terluka dan terpuruk karena Aksa. Ketika Arka sakit parah seperti ini, apa dia akan berdiam diri saja?
Sore hari, Riana pulang dari rumah sakit dengan segala rasa yang ada di dada. Dia menghela napas kasar. Tiba di kosan, dia membuka ponsel, tidak ada sama sekali pesan dari Aksa. Riana mencoba menghubungi Aksa, tetapi Aksa tidak menjawabnya. Hingga Riana teringat sesuatu. Semua yang dilakukan Riana pasti akan Aksa ketahui.
# flashback off.
Di sebuah kamar, seorang pria tengah merebahkan tubuhnya dengan berbantalkan kedua lengannya.
"Dia memang sudah lama menderita kanker otak. Itulah alasan kenapa pacarnya terdahulu meninggalkannya. Dokter juga sudah memvonis umurnya tidak akan lama lagi. Hanya sekitar satu sampai satu tahun setengan dia bisa bertahan."
Aksa menghela napas kasar ketika teringat penjelasan dari dokter. Apa yang dia takutkan terjadi, kemarin dia mendapat laporan bahwa Riana menemui Arka. Dia juga dikirimkan sebuah video yang membuat hati Aksa perih. Seperti dikhianati, itulah yang Aksa rasakan.
"Ragu?"
Suara yang keluar dari seseorang yang wajahnya sama seperti dirinya.
"Tidak ada pertemanan yang tulus antara laki-laki dan perempuan," jawabnya, masih betah pada posisi awal.
"Udah di depan mata. Tinggal sedikit lagi. Apa mau menyerah begitu saja?"
Aksa memperlihatkan video yang dia terima dari orang suruhannya kepada Aska.
"Mengenaskan nih cowok nasibnya," ujar Aska, yang masih menonton video itu secara seksama.
"Abang dengar 'kan, kalau Riana cuma cinta sama Abang," terang Aska.
__ADS_1
"Kenapa dia mau menerima itu?" Mata Aksa terpejam dan helaan napas berat terdengar jelas di telinga Aska.
"Permintaan terakhir, Bang. Coba kalau posisi Abang di balik. Si Ziva meminta sesuatu kepada Abang ketika dia divonis penyakit mematikan. Apa Abang tega menolaknya?"
"Lihat pria itu! Udah kaya mayat hidup, pasti Riana gak akan tega lah," ungkap Aska.
Tidak ada jawaban dari Aksa. Cemburu sedang menyelimuti hatinya sekarang. Ponsel Aksa terus berdering, tetapi dia abaikan.
"Kalau gak mau Riana macam-macam, buruan halalin. Gitu aja kok repot!" Aksa membuka matanya dan menatap tajam ke arah adiknya.
"Gak semudah itu!" sungut Aksa.
"Bang, memilih antara pacar dan teman itu sangat sulit. Riana gak mau bilang ke Abang, pasti ada alasannya. Dia takut Abang ngelarangnya. Sedangkan dia merasa berhutang Budi kepada Arka. Dia ingin menemani dan menghibur Arka," tukas Aska.
"Positif thinking lah, Bang," lanjut Aska.
"Posesif boleh, tapi sewajarnya aja. Jangan sampai keposesifan itu menjadi pengekangan," tambah Aska.
Aksa terdiam mendengar ucapan Aska. Kalimat terakhir Aska seperti tamparan keras untuk dirinya.
Kembali ke Jogja, wajah gusar Riana terlihat sangat jelas. Tangannya terus memegang ponselnya. Matanya tertuju pada layar segiempat itu. Berharap Aksa akan menghubunginya. Sampai jam sepuluh malam, tidak ada panggilan ataupun pesan dari Aksa. Riana memilih untuk memejamkan mata.
Keesokan paginya, dia dikejutkan dengan kehadiran keluarganya yang sudah ada di depan kosan. Ada sang ayah, adiknya dan juga tiga keponakannya.
"Kok udah datang?" tanya Riana yang masih merangkul manja sang ayah.
"Iyan dan si triplets terus memaksa." Riana tersenyum bahagia, tetapi Iyan malah menatapnya iba.
"Kakak dan Abang ke mana?"
"Ada pekerjaan yang harus mereka selesaikan." Riana hanya mengangguk dan mengajak main ketiga keponakannya yang sudah masuk TK. Wajah mereka sangat cantik seperti boneka.
Riana terus berfoto ria dengan ketiga keponakannya yang sudah sangat centil dan pandai bergaya. Sudut bibirnya terangkat ketika dia mengirimkan fotonya bersama Aleena, Aleesa dan juga Aleeya kepada Aksa.
Mereka sudah tiba di sini. Apa Abang tidak ingin bertemu mereka juga? Ri sangat berharap Abang datang ke acara wisuda besok. Memberikan kejutan yang tak terlupakan di acara yang sangat penting bagi Ri.
Aksa menghela napas kasar membaca pesan dari Riana. Dia menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya sambil mengurut pangkal hidungnya.
...****************...
Komen atuh lah ...
Makin ke sini makin sepi aja,🤧
Tunjukkan siapa aja kalian? Kalau dikasih konflik aja baru pada nongol. Sedih lah 🤧
__ADS_1