
"Apa lu gak punya baju, Juminten?"
Mata Ziva membelalak mendengar suara yang bukan suara suaminya. Apalagi sekarang dia hanya memakai baju jaring ikan yang sangat tipis.
"Pake baju gua, jangan malu-maluin keluarga Wiguna." Aska melempar kaos yang di pegang ke arah wajah Ziva. Kemudian, tanpa rasa bersalah sedikit pun dia melenggang masuk ke dalam kamar mandi.
Tawa keras terdengar dari bilik kamar mandi. Ziva sudah mengerang kesal dengan wajah yang sudah menahan marah.
"Pantes Abang nyebutnya manekin. Rata begitu kayak papan bangunan," ucap Aska yang diiring tawa puas.
Pagi harinya, tamu tak diundang datang lagi. Sekarang dengan wajah yang penuh dengan kemarahan.
"Aku ingin Ziva dan Aksa pindah dari rumah ini," imbuh Sarah.
Semua orang menatap aneh ke arah Sarah. Tidak dengan Aska yang masih santai dengan sarapannya.
"Maksud kamu apa? Ini rumah putraku juga," sergah Gio.
"Putra bungsumu membuat anakku tidak nyaman berada di sini," sungut Sarah.
Gio menatap tajam ke arah Aska, dengan santainya Aska mengedikkan bahu dan melanjutkan sarapan.
"Semalam, dia sudah lancang masuk ke kamar putriku," lanjutnya lagi.
"Bukan lancang, emang aku yang izinin," balas Aksa.
"Denger tuh," sambung Aska.
"Kenapa kamu izinin? Kamu tuh harus sadar bahwa sekarang kamu udah punya istri. Kamu tidak hanya tidur seorang diri," oceh Sarah.
"Lalu? Apa aku akan membiarkan adikku tidak mandi? Maaf, aku bukan orang kejam dan aku lebih sayang adikku," ujar Aksa.
"Kamu tau gak, adikmu ini telah melihat tubuh istri kamu," ujar Sarah.
Tatapan tajam kedua orang tuanya mengarah pada Aska, tetapi tidak dengan Aksa.
"Bukan salah adikku. Memang Ziva saja yang bodoh. Tidak bisa membedakan aku dengan adikku."
Sungguh tajam sekali ucapan Aksa kali ini. Tak tanggung-tanggung, dia mampu berkata seperti itu di hadapan Sarah, ibu kandung Ziva.
"Jaga mulut kamu, Aksa," sentak Sarah.
"Jaga mulut Anda juga, Tante Sarbo'ah," balas Aska yang kini sudah berdiri dan menatap tajam ke arah Sarah.
__ADS_1
"Anda sudah mengganggu ketenangan keluarga kami." Kini, Aska membuka suara.
"Apa Anda kira saya tergoda dengan tubuh putri Anda?" cicit Aska dengan tatapan tajam.
"Tidak ada yang tidak akan tergoda dengan putriku," ucap Sarah percaya diri.
"Hahaha." Tawa Aska menggelegar.
"Percaya diri sekali Anda, Tante Sarbo'ah," ejek Aska.
"Hanya pria bodoh yang akan mau meniduri wanita macam si Juminten itu," ucap Aska sambil menunjuk ke arah Ziva.
"Aska," sentak Sarah.
"Apa bisa dibilang si Juminten itu pintar? Wajah saya dengan Abang saya memang sama, tetapi ada perbedaan dari bola mata kita. Apa si Juminten selain bodoh sudah tidak bisa melihat?" sergah Aska dengan raut tenang.
"Gio, apa anakmu tidak diajarkan sopan santun?" Geram, itulah yang Sarah rasakan. Selalu kalah jika berhadapan dengan Gatthan Asmara Wiguna.
"Beraninya menghinaku serta anakku," lanjutnya lagi dengan berapi-api.
"Menghina?" desis Aska.
"Apa Anda tidak salah berbicara Tante Sarbo'ah yang terhormat." Aksa menjeda ucapannya dengan tatapan tajam yang diarahkan kepada Sarah.
"Justru keluarga saya yang sangat terhina karena telah memiliki menantu seperti si Juminten," imbuh Aska. Tangannya menunjuk ke arah Ziva.
"Kalo kamu ke sini hanya untuk membuat onar. Lebih baik kamu pergi!" usir Gio kepada Sarah dengan penuh kemurkaan.
"Akan lebih baik lagi, jika kamu bawa serta anakmu," tambahnya lagi.
Ziva terhenyak mendengar ucapan Gio. Mertuanya ini irit berbicara, tetapi sekali berbicara sangat menusuk hati dan sanubari.
"Aku sudah muak dengan kalian berdua. Anakmu yang berumah tangga dengan putraku. Seharusnya kamu tidak usah ikut campur dengan rumah tangga mereka." Sorot mata tajam Gio berikan kepada Sarah, dan kini beralih ke arah Ziva. "Dan kamu," tunjuknya ke arah sang menantu.
"Kamu bukan anak kecil lagi. Tidak pantas kamu mengadukan keadaan rumah tangga kamu ke orang tua kamu. Sekarang, yang harus kamu hormati dan patuhi itu suami kamu. SUAMI KAMU." Ucapan yang penuh penekanan yang Gio katakan. Dengan kasar dia mendorong kursi meja makan dan meninggalkan semua orang yang berada di sana.
"Kamu lihat, Ziva. Semuanya karena ulahmu!" tuduh Aksa pada Ziva. Aksa memilih untuk pergi ke kantor.
"Anak dan ibu sama saja," cerca Ayanda dengan tatapan sengitnya.
Di ruang makan kini hanya tersisa tiga orang. Di mana Aska sedang ditatap tajam oleh dua orang wanita.
"Kenapa? Apa kalian kira saya takut terhadap kalian?" ucap Aska dengan seringainya.
__ADS_1
"Dua orang licik akan kalah hanya karena satu orang cerdik." Ucapan Aska membuat Ziva dan Sarah tersentak. Langkah Aska menjauhi mereka yang sedang mematung.
Aksa mengurut pangkal hidungnya yang terasa pusing. Rengekan Ziva semalaman membuat Aksa tidak dapat tidur. Ditambah kedatangan orang tua Ziva membuat kepalanya semakin sakit.
Ketukan pintu membuatnya melepaskan pijatan. Dilihatnya Remon sudah memasuki ruangan Aksa.
"Maaf, Pak Aksa. Pak Gio ingin berbicara dengan Anda."
Benar dugaan Aksa, pasti daddy-nya akan membahas perihal ini.
"Ya, saya akan ke sana."
Jika, di kantor Remon dan Aksa akan berlaku sopan bagai atasan dan bawahan. Bukan sebagai keponakan dan Om. Remon sudah menganggap Aksa seperti keponakannya sendiri.
Tibanya di ruangan sang ayah, Gio sudah duduk di sofa dengan kaki yang menyilang. Satu buah kunci Gio serahkan kepada Aksa.
"Tempati rumah itu," titah Gio.
Mata Aksa hampir lepas dari tempatnya. Dia menatap sang ayah dengan tatapan bingung.
"Daddy pusing karena selalu diteror oleh mertua kamu. Lagi pula, kamu berjanji akan menjadi sepasang suami-istri sungguhan 'kan," terang Gio.
"Tempati rumah itu. Tinggallah bersama istrimu," titahnya.
Aksa hanya diam mendengar keputusan sang ayah. Dia tidak bisa menolak.
"Rumah itu bukan hunian mewah seperti rumah Daddy. Daddy hanya ingin kalian hidup mandiri. Merintis semuanya dari nol." Aksa mengangguk mengerti.
"Lusa, kalian bisa pindah."
Ketika makan malam tiba, Gio membuka suara perihal keputusannya untuk menyuruh Aksa dan Ziva hidup mandiri dalam membina rumah tangga. Ada rasa tidak rela di wajah Ayanda, tetapi ada juga wajah bahagia yang terpancar dari wajah Aska.
Om Remon pintar sekali.
"Dad, rumah ini akan terasa sangat sepi," lirih Ayanda.
"Abang setiap hari akan mampir ke sini. Jengukin Mommy," ucap Aksa.
"Ya udah, kalo begitu Adek mau nyiapin pesta kecil-kecilan untuk kepindahan Abang. Besok malam kita semua kumpul di kafe milik Adek, ya." Senyum melengkung sempurna di wajah Aska. Entah apa yang dia pikirkan.
Keesokan malam, keluarga Gio sudah berada di kafe milik Aska termasuk Sarah serta suaminya. Sambutan hangat Aska berikan kepada mereka. Hidangan lezat sudah Aska siapkan. Mereka menikmati makanan yang tersaji.
"Maaf, saya telat." Suara seseorang memecah keheningan. Berbeda dengan Ziva serta Sarah yang melebarkan bola mata mereka.
__ADS_1
...****************...
Kalo aku Up langsung baca, ya. Jangan ditimbun-timbun. Biar level silvernya naik terus ...