
Baru saja hendak menikmati siang pertama dengan sang istri, peringatan keras sudah dilayangkan oleh kedua suhu dari segala suhu. Apalagi ancaman sang mommy yang membuat Aksa ngilu sendiri.
"Sayang, maaf ya. Nanti malam aja kita lanjutin lagi," sesal Aksa.
Riana tersenyum dan menangkup wajah sendu sang suami. "Mau mandi bareng?"
Sungguh penawaran yang menggiurkan dan membuat mata Aksa membola. Namun, dia ingat pesan sang mommy. Akhirnya, dengan sangat terpaksa Aksa menggeleng. Imannya kuat, tetapi yang di bawah imannya pasti tidak sanggup melihat pemandangan yang indah yang nantinya akan dia jelajahi.
Ada waktu dua jam untuk pengantin baru beristirahat. Aksa benar-benar menjaga imannya agar tak terpengaruh oleh istrinya yang mulai jahil. Selalu menggodanya dengan kata-kata manis dan sentuhan tangannya yang membuat aliran darahnya memanas.
"Sayang, udah dong," keluh Aksa.
Riana malah tertawa terbahak-bahak.
"Bahagia banget liat suaminya menderita," sungut Aksa.
"Cup cup cup. Jangan marah dong Abang Sayang," ucap Riana, sambil meletakkan kepala Aksa di bahunya.
Mata Aksa menangkap sesuatu yang membuat air liurnya menetes.
"Yang, pengen *****," imbuh Aksa manja.
"Gak boleh, masih disegel. Belum boleh dibuka."
Aksa menjatuhkan diri di pangkuan sang istri. Dia lebih milih membenamkan wajahnya di perut Riana. Tangan Riana pun asyik mengusap lembut rambut sang suami.
"Sayang, mau honey moon ke mana?"
"Ri, ingin ke tempat yang sejuk dan makanannya enak-enak," jawab Riana.
Aksa terdiam sejenak, awalnya Aksa ingin mengajak Riana ke luar negeri. Namun, tempat sejuk yang Riana inginkan sepertinya masih di Indonesia.
"Gak mau ke luar negeri?" Riana menggeleng.
"Di dalam negeri juga banyak destinasi wisata yang bagus, Bang."
Mereka malah asyik berbincang dan membahas honey moon. Melupakan apa yang seharusnya mereka lakukan karena sebuah ancaman yang sangat menyeramkan.
__ADS_1
Aksa dan Riana berangkat bersama keluarga besar dari Riana. Sesampainya di sana dia memeluk Keysha dengan sangat erat.
"Gua kalah," ujar Keysha.
Riana pun terkekeh mendengar ucapan Keysha. Sahabat satu-satunya yang dia miliki. Riana dirias secantik mungkin. Hasil akhirnya sangat memukau. Bak putri dari negeri dongeng dengan menggunakan gaun berwarna baby blue.
"So beautiful," puji Keysha.
"Kak Ri, cantik banget. Bagi-bagi dong kecantikannya," ucap Beeya.
Riana hanya tertawa. Namun, yang paling dia benci adalah sepatu hak tinggi. Sungguh kakinya akan terluka jika memakai high heels. Belum lagi acara resepsi yang akan berlangsung dua sampai tiga jam ke depan.
Tiga kurcaci sudah sangat cantik, mereka akan membawa bunga di depan pengantin dan pengiringnya.
"Aunty seperti princess," puji Aleesa.
"Kamu juga sangat cantik," ucapnya pada Aleesa.
Di ruang yang berbeda, para pria sudah sangat tampan mengenakan jas senada antara besan dengan besan, yaitu Rion dan juga Gio. Sedangkan para groomsmen sudah sangat tampan dengan tuxedo yang mereka pakai, siapa lagi jika bukan Askara dan juga Radit. Sungguh ketampanannya sangat luar biasa.
"Ini ya, kalau pengantinnya sama adiknya pakai baju yang sama aja, gua yakin pada keder tamu undangan," oceh Arya.
Acara resepsi pun dimulai. Pengantin wanita dan pengantin pria sudah didampingi Bridesmaids dan juga groomsmen yang luar biasa mempesona.
Aksa tersenyum bahagia ketika melihat istrinya sangat cantik. Riana merangkul lengan Aksa yang nampak gagah dengan balutan jas berwarna baby blue. Senyum terus merekah dari keduanya.
Di kejauhan, Devita tersenyum bahagia. Tidak terlintas untuk merebut suami orang di kepalanya karena itu perbuatan yang sangat hina. Namun, matanya kini tertegun pada sosok kembaran Aksa, yaitu Askara yang sangat tampan dalam balutan tuxedo berwarna abu-abu. Apalagi dia tengah tertawa lepas bersama dua orang yang terlihat sangat dekat dengan Aska.
Tamu undangan terus berdatangan. Sajian menu pun sudah terhidang apik. Menu yang merakyat sampai menu yang sangat mewah tersedia di sana. Banyak tamu undangan yang memuji makanan di resepsi Aksa dan Riana. Belum lagi, pengantin yang terus tersenyum memancarkan aura positif. Mereka terlihat sangat bahagia. Apalagi Aksa yang terus bertanya kepada Riana.
"Lelah gak, Sayang?"
Sangat manis sekali, bukan? Namun, tiga anak tuyul Echa tidak nampak di atas pelaminan. Ternyata mereka sedang memantau para tamu undangan yang baru saja datang menggunakan mobil pick up. Mereka bagai cctv berjalan. Mata mereka sangat tajam. Apalagi Aleesa yang dapat menerawang isi amplop yang tamu undangan itu bawa.
"Isinya cuma uang abu-abu," dengusnya kesal.
Di acara resepsi ini didominasi tamu dari kolega orang tua mereka. Tentunya juga para kolega Aksa.
__ADS_1
"Selamat, Pak," ucap Fahri.
"Belah duren kayaknya," ucap Christian.
Wajah Riana sudah memerah, tetapi Aksa terus merengkuh pinggang sang istri dengan sangat mesra.
Christina dan juga Fahrani mengucapkan selamat kepada Aksa dan Riana. Mereka berbincang sebentar sebelum turun dari pelaminan.
Mata Fahrani dan Askara bertemu, tetapi Fahrani sengaja memutusnya. Christina menatap sendu ke arah Askara. Rasa cinta yang masih ada harus pupus karena sebuah perbedaan keyakinan di antara mereka berdua.
Askara tetaplah Askara, manusia yang tak pernah merasa berbuat dosa. Hanya saja, dia masih menyimpan dendam kepada Fahrani. Wanita menyebalkan yang berbicara kepada semua orang bahwa dia telah menolak Askara. Pada nyatanya, Askara lah yang menolak cinta Fahrani.
Tidak mau ambil pusing, Aska memilih untuk beranjak dari acara resepsi itu. Apalagi dia sudah melihat teman-teman ayahnya sudah banyak sekali. Dia ingin cari aman, tidak menampakkan diri pada siapapun.
Diam di pojokan dengan minuman di tangan itu lebih nyaman. Menikmati kesendirian karena dia adalah seorang jomblowan. Keheningan itu berubah ketika dia mendengar ada suara ribut tak jauh dari tempatnya duduk.
"Makanya kalau jalan tuh pakai mata. Malu aku tuh jalan sama kamu. Ke acara nikahan bos kamu aja gak bisa bersolek."
Askara mengacuhkan dua orang itu. Berniat untuk menoleh pun tidak. Itu bukan urusannya, sudah biasa cek-cok dalam rumah tangga.
"Mas tolong bantu aku," ucap wanita itu lirih.
"Bangun sendiri."
Aska yang mendengar pertengkaran itu hanya menggelengkan kepala. Apalagi dia melihat pria itu malah melenggang meninggalakan istrinya. Ada rasa iba di hatinya. Aska bangkit dari duduknya dan menghampiri wanita yang masih berusaha bangkit. Sepertinya kakinya terkilir.
"Mari Mbak saya bantu."
Tawaran Aska membuat perempuan itu menoleh. Seketika mata mereka terkunci. Bibir Aska terasa kelu dan hatinya berdegup tak karuhan.
"Jigong."
...****************...
Komennya atuh lah ...
Spoiler kisah Aska udah aku berikan ya. Tinggal tunggu terbitnya saja 😁
__ADS_1
Yang bawa kantong kresek ke acara resepsi ntar kena razia si triplets loh. 😂