Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Menyesal


__ADS_3

Eki Mandala, seorang pecundang yang hanya mau menikmati tubuh seorang wanita tanpa mau bertanggung jawab atas apa yang telah dia lakukan. Hanya menikahi Jessi secara agama tanpa bertanggung jawab sepenuhnya, dengan alasan restu orang tua.


Bukan hanya Jessi yang menderita, ada seorang anak yang tidak tahu apa-apa harus menanggung dosa kedua orang tuanya. Diabaikan sedari dalam kandungan hingga dia besar. Tak pernah sedikit pun kasih sayang yang diberikan oleh seorang Eki Mandala kepada Jingga Andhira.


Selepas Aska mengantarkan Jingga ke kosan, Jingga termenung dalam kamar sendirian. Wajah sang ayah masih memutari kepalanya. Garis halus yang sudah terlihat di wajah tampannya. Wajah yang tidak berubah dari dulu.


"Andhira," gumamnya seraya tersenyum tipis.


Hati Jingga benar-benar sakit ketika mendengar ayahnya mengucapkan nama tersebut. Tidak ada kebahagiaan sama sekali yang dia rasakan. Malah sebaliknya, lukanya yang telah sembuh harus dirobek paksa dan menyebabkan kesakitan yang luar biasa.


"Hampir dua puluh enam tahun aku tak memiliki ayah, dan sekarang datang seorang pria yang mengaku ayahku. Kenapa kamu datang ketika aku sudah bahagia dengan kesendirian?" erangnya dengan suara yang sangat bergetar.


Jingga menunduk dalam dia terisak. Seorang anak yang sudah diabaikan juga terlantarkan. Malah sampai tidak diakui. Bukankah itu sangat menyakitkan?


Sakit hati sudah pasti Jingga rasakan. Melupakan perbuatan ayahnya itu tidak mungkin. Terlalu banyak luka yang ditorehkan. Terlalu dalam sayatan luka itu di hati Jingga, hingga Jingga tidak tahu rasanya memiliki ayah itu seperti apa? Dia juga sudah lupa caranya berbahagia yang tulus itu seperti apa.


"Ayah ... aku ingin berbakti kepadamu. Namun, aku juga terlanjur sakit hati kepadamu," gumamnya lagi.


"Pintu hatiku sudah aku tutup rapat untuk pria yang sudah menyakiti bundaku. Kalau kamu (ayah) mau bertanggung jawab mungkin bunda masih hidup."


Deraian air mata membasahi wajah Jingga lagi. Inilah bukti betapa banyaknya kesedihan yang Eki berikan kepadanya.


Tangan Jingga sudah meraih foto yang ada di atas nakas samping tempat tidur. Seorang wanita cantik yang sangat mirip dengannya tersenyum.


"Bun, maafkan aku ... biarkan aku menjadi anak durhaka. Aku tidak mau terluka lagi," ucapnya dengan lelehan air mata.


"Dia sudah bahagia dengan hidupnya begitu juga dengan diriku" tambahnya lagi.


Jingga memilih untuk terpejam dan melupakan semua kenangan yang menyakitkan. Biarlah itu hanya menjadi mimpi buruk. Terbangun dengan hari dan mimpi yang baru.


Di siang hari yang tidak terlalu terik, seorang pria sudah duduk manis di restoran. Dia tengah bergelut dengan pikirannya sendiri.


"Maaf, Anda salah orang."


Kalimat itu yang diucapkan oleh seroang perempuan muda yang cantik jelita dan tak lain adalah putri pertamanya. Hati orang tua mana yang tidak sakit mendengr kalimat tersebut. Apalagi dikatakan oleh putrinya sendiri, seperti ditusuk belati panjang, sakit tak tertahankan.


Terputar kelakuan dan sikapnya di masa lalu. Ketika kata sah diucapkan oleh saksi, seharunya dia bertanggung jawab atas wanita yang dia nikahi. Meskipun, nikah secara siri, tetap saja pernikahan itu sah di mata agama.


Hanya di awal-awal pernikahannya saja dia bersikap manis kepada Jessi, wanita yang dia nikahi. Akan tetapi, ketika Jessi sudah tidak bisa memberikan kenikmatan di ranjang, dia memilih pergi secara perlahan.


"Maafkan aku, Jess," lirihnya.


Hanya penyesalan yang bersarang di hatinya sekarang. Anak yang dikandung Jessi dia abaikan dan tak pernah mendapatkan pengakuan. Jangankan digendong, dilihat pun tidak. Dia baru sadar ternyata putrinya tersebut sangat mirip dengan mendiang Jessi, istri sirinya. Wanita yang sudah sangat baik kepadanya.


"Aku ingin menebus dosaku, Jess," ucapnya pelan.


Dia hanya menunduk dalam di sebuah restoran yang sangat private. Dia sedang menunggu seseorang di sana.


"Masih hidup lu!"


Suara seseorang membuat Eki menghentikan rasa sedihnya. Dia pun menoleh dan terlihat seorang Pria yang memakai kemeja berwarna gelap menghampiri meja Eki.


"Kenapa lu?" tanya Arya yang sudah menarik kursi untuk dia duduki. "Tumben banget pengen ketemu gua," tuturnya.


"Anak gua," kata Eki dengan suara bergetar.

__ADS_1


"Kenapa sama si Melati?" Eki menggeleng. Seketika dahi Arya mengkerut.


"Andhira."


Arya malah tertawa mendengar ucapan Eki. Dia menggelengkan kepalanya juga. Dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Sejak kapan lu punya anak namanya Andhira?" ejek Arya.


"Anak lu cuma satu, SATU!" tekan Arya. "Apa lu udah lupa dengan ucapan lu itu?" sergahnya lagi.


"Gua emang bodoh, Ya. Bodoh," sesal Eki.


"Baru sadar ternyata," sungut Arya.


Maslahah Eki sudah Arya ketahui dari sebelum Arya menikah. Dia sangat menyesali perbuatan Eki yang sangat biadab. Hanya ingin mukanya dah, ketika diberi beban dia lepaskan begitu saja.


"Jessi itu orang baik. Jessi yang selalu dukung lu, tetapi apa yang lu lakuin sama Jessi?" hardik Arya. Banyak sedikit atau mengetahui perihal Jessi. Wanita mandiri dan juga baik hati.


Eki hanya membisu dengan kepala yang tertunduk. Arya berucap dengan sangat berapi-api. Dia sahabatnya, pasti dia juga tahu bagaimana kisah cinta Eki dan juga Jessi pada waktu dulu.


"Ketika gua dapat surat undangan dari lu, gua sangat bahagia, tapi pas gua baca siapa namanya, di situ gua sangat kecewa. Benar-benar kecewa," ungkap Arya dengan sorot mata penuh kebencian.


Arya dan Eki adalah sahabat dekat. Apapun akan Eki ceritakan kepada Arya. Namun, setelah Eki menikah dengan wanita pilihan ibunya Arya mulai menutup komunikasi dengan Eki. Dia sangat kecewa dengan sikap Eki. Lebih baik dia pergi dari sahabatnya dari pada eejerjmus pada hal yang tidak benar.


"Lu tahu, gua pernah temuin Jessi tepat di hari pernikahan lu. Satu hal yang Jessi katakan ketika itu. Gak apa-apa, gua ikhlas, Ya."


Eki semakin membeku, dia menatap wajah Arya tanpa ekspresi. Akan tetapi, mata Eki sudah berkaca-kaca.


"Di mana hati lu, Ki? Gua jadi yang cuma dengannya aja kasihan sama Jessi," geram Arya.


Jika, mengingat kejadian itu Arya pasti mengeluarkan sumpah serapahnya untuk Eki. Jessi adalah permata berharga, tapi malah Eki buang begitu saja seperti barang bekas yang sudah tak terpakai.


"Hahaha, mau Nebus dosa," cibir Arya


"Gua sih gak yakin anak lu bisa maafin semua kesalahan lu," ucap Arya. "Apalagi ini udah seperempat abad dia hidup tanpa ayah. Apa semudah itu?" lanjutnya lagi.


Arya bukan menakut-nakuti. Dia hanya berpikir secara realistis. Mana ada anak yang akan dengan mudah memaafkan segala kesalahan ayah dungu seperti Eki. Disakiti oleh ayahnya sendiri, itulah yang diderita anak Jessi.


"Ketika anak kedua lu lahir, ngeliat bini lu yang udah gila itu melahirkan. Apa lu gak keingat sama Jessi ketika melahirkan anak pertama lu? Apa sekelas itu hati lu?" cercanya.


Eki yang menunduk kini menatap ke arah Arya dengan sorot mata yang tidak bisa terbaca. Pertanyaan Arya mampu membawa Eki ke masa lalu.


"Mas, sakit sekali Mas, perutku." Rintihan istri sah Eki ketika dibawa ke rumah sakit karena sudah kontraksi sedari di rumah.


Eki hanya terdiam, dia tengah bergelut dengan pikirannya sendiri. Cucuran keringat mengalir deras di wajah istrinya membuat hati Eki seketika sakit dan perih.


"Apakah kamu seperti ini juga, Jess? Ketika melahirkan anak kita?"


Dia tengah bersama istri sahnya, otak Eki malah memikirkan Jessi. Ketika tiba di rumah sakit, Eki hanya menunggu istrinya di luar. Dia mencoba untuk menghubungi orang rumah menanyakan kondisi Jessi dan juga anaknya yang tinggal di gudang pengap


"Nyonya Jessi sedang menyusui anaknya, Pak."


Jawaban yang membuat Eki sedikit tenang, padahal Jessi tengah bersedih karena berkali-kali anaknya mengalami kejang. Namun, Jessi meminta kepada pekerja di sana untuk tidak memberitahukan kepada Eki. Dia tidak mau Eki semakin gelisah. Biarlah dia mengurus istrinya dengan benar. Cukup dia saja yang disia-siakan.


Ketika Melati lahir ke dunia, tangis Eki pecah. Bukan tangis bahagia yang dia keluarkan, tetapi penyesalan yang mendalam yang dia rasakan. Eki benar-benar melihat secara langsung bagaimana istrinya berjuang untuk melahirkan Melati. Dia teringat akan Jessi, pasti Jessi merasakan sakit yang sama pula. Apalagi, tidak ada Eko di sampingnya ketika dia berjuang di antara hidup dan mati.

__ADS_1


Kembali ke masa sekarang. Eki yang masih menatap Arya hanya bisa berkata, "gua sangat menyesal." Desisan kesal keluar dari mulut Arya.


"Gak ada gunanya sekarang lu menyesal. Jessi udah gak ada, dan anaknya ... mungkin dia sudah bahagia tanpa ayah dongo kayak lu," omel Arya.


"Kadang gua gak habis pikir sama jalan pikiran lu. Lu tahu Jessi gak akur sama keluarganya, tapi lu malah gak mau Nerima anak lu sendiri ketika Jessi udah pergi. Di mana otak lu, Eki?" geram Arya.


"Gak guna lu sekolah tinggi, kalau akhlak lu bobrok begitu," lanjutnya lagi.


Hanya Arya yang mampu memaki-maki Eki. Mulutnya tidak akan berkata manis kepada orang yang memang dia anggap salah. Contohnya Rion, kata mutiara nan menusuk dada selalu dia lontarkan kepada sahabat bloonnya itu.


"Gua ingin peluk anak gua, Ya. Gua ingin meminta maaf," lirih Eki.


"Peluk?" Arya pun tersenyum mengejek.


"Sekarang lu pengen peluk anak lu. Dulu, ketika anak lu ingin dipeluk sa lu ... Kemana aja lu? Masih belum menjadi manusia, iya?" sergah Arya dengan emosi yang terus meletup.


"Ingat ya, Ki. Setipis apapun goresan luka yang sengaja ataupun gak sengaja lu kasih ke anak lu, itu akan terus berbekas. Apalagi, kalau lu emang menggoreskan luka yang sangat dalam. Itu gak akan pernah bisa hilang. Lu harus tahu itu."


Arya ke sini hanya untuk mengumpat dan menceramahi Eki. Sudah puluhan tahun dia memendam rasa sebal dan kesal ini kepada Eki seorang diri. Baru kali ini mereka bisa bertemu berdua dan kesempatan yang bagus untuk Arya memarahinya.


"Selamat bergelut dengan penyesalan. Itu semua memang karena kesalahan yang lu perbuat 'kan."


"Sampah yang menurut lu gak berharga, jika dipungut oleh orang yang tepat akan menjadikan sebuah barang mahal dan langka," tukasnya.


Eki terus bergelut dengan pikirannya sendiri. Keadaan pun mendadak hening, Arya malah bersantai sambil menghubungi istrinya melalui sambungan video call.


Melihat keromantisan Arya dengan sang istri membuat Eki sedikit iri. Tuhan sudah memberikan karma yang sepadan. Ibu dari Melati sudah menjadi gila karena baby blues yang dia alami ketika melahirkan Melati. Sekarang, dia menjadi penghuni rumah sakit jiwa. Itu juga berimbas pada psikis Melati.


Ucapan manis dan manja yang istri Arya katakan membuat hati Eki teriris. Dia teringat akan kata-kata Jessi jika mereka tengah bertelepon. Sangat lembut dan penuh perhatian, berbeda ketika Eki sudah menikah lagi. Hanya bentakan yang Jessi terima dari seorang Eki.


Eki mengeluarkan liontin yang bernamakan J. Andhira. Nama putri pertamanya.


"Maafkan Ayah, Nak. Ijinkan Ayah untuk memeluk tubuhmu. Menebus kesalahan ayah kepada kamu."


"Ayah!"


Panggilan seseorang membuat Eki maupun Arya menoleh. Perempuan cantik yang sudah tersenyum dan berjalan ke arah Eki. Tak segan mencium pipi Eki di depan Arya.


"Kenalin, itu Om Arya. Teman Ayah," ucap Eki kepada Melati.


"Hai, Om," sapa Melati.


Arya hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya pelan. Melati tidak seperti anaknya ataupun anak sahabatnya yang lain. Dia menyapa Arya tanpa mencium tangannya. Tata Kramanya sangat-sangat kurang. Begitulah batin Arya.


"Ayah, kita cari baju untuk malam ini ya," ajak Melati kepada sang ayah.


"Mel, ingin terlihat cantik di depan sahabat Ayah."


Dahi Arya mengkerut ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Melati.


"Sahabat Eki? Siapa?"


"Oh iya, besok malam gua sama Melati mau ke rumah Andra."


...****************...

__ADS_1


Komen dong ...


Jangan bosan kalo aku up banyak hari ini.


__ADS_2