Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Sahabat Sejati


__ADS_3

Radit menjemput Echa di rumah sang mertua dengan hati yang penuh ketakutan. Dia sendiri yang melihat ayahnya kesakitan dan dia sendiri yang membawa tubuh ayahnya ke rumah sakit. Ketika Sampai di sana, keadaan Addhitma sudah semakin drop. Semua alat sudah dipasang di tubuh Addhitma. Hati Radit sudah sangat sakit melihatnya. Pikiran jelek sudah mengitari kepalanya. Jika, hal yang terburuk terjadi. Radit seperti kehilangan seluruh nyawanya.


Radit hanya bisa melihat ayahnya dari arah kaca pintu. Air matanya sedari tadi ingin terjatuh, tetapi masih sanggup dia tahan. Dia tidak boleh terlihat cengeng di depan banyak orang.


Radit di rumah sakit hanya sendiri, kakaknya tengah ke Kalimantan dan Abangnya sedang di Surabaya. Mereka tengah berjuang untuk mendapatkan projek besar. Jadi, tidak mungkin dia mengganggu kedua kakaknya.


"Ya Tuhan ... selamatkan Papih."


Hanya kalimat itu yang bisa Radit pinta kepada Tuhan. Kali ini dia tidak ingin menjadi manusia serakah. Dia hanya minta kesembuhan sang ayah.


Ingin rasanya Radit menghubungi sang istri. Namun, Echa sedang quality time bersama sang ibu. Dia tidak mau mengganggu istrinya Akhirnya, rasa sedih dan pedih itu Radit rasakan seorang diri. Dia tidak ingin menggenangi kedua kakaknya.


Satu jam.


Dua jam.


Radit masih setia menunggu Addhitama di depan ruang IGD. Tak dia pedulikan perutnya yang sudah berbunyi sedari tadi. Dia bergeming di tempatnya dan tak sedikit pun beranjak dari sana, yang dia pikirkan adalah papihnya.


Pintu IGD terbuka, seorang dokter memanggil keluarga dari Addhitama. Radit segera menghampiri dokter tersebut. Dia tersenyum bahagia ketika ayahnya sudah membuka mata. Seperti sebuah keajaiban.


"Papih," panggilnya.


Addhitama yang terlihat masih pucat tersenyum ke arah sang putra. Radit segera memeluk tubuh Addhitma dengan deraian air mata. Tubuhnya bergetar.


"Jangan menangis, Dit," ucap Addhitama.


"Radit menangis bahagia, Pih. Sangat bahagia," ucapnya tanpa melepaskan pelukannya.


Radit bahagia karena ayahnya sudah sadar. Hal yang Radit takutkan adalah ditinggalkan oleh ayahnya. Kehilangan ibunya sudah menyebabkan trauma yang mendalam bagi Radit. Jangan sampai dia kehilangan ayahnya, sudah pasti dunia runtuh.

__ADS_1


Banyak cerita yang Addhitma berikan kepada Radit. Radit hanya tersenyum dan terus menatap wajah ayahnya yang sudah sangat senja. Sudah banyak kerutan di mana-mana.


"Kamu tahu tidak, Dit. Antara Papih dan Genta pernah berjanji satu sama lain." Cerita Addhitama. Dia melanjutkan ucapannya lagi, "ketika kami meninggal nanti, kami ingin dimakamkan di tempat yang sama dan saling berdampingan."


Hati Radit sangat sakit mendengarnya. Dada Radit terasa sesak seperti kekurangan oksigen.


"Papih maupun Genta sama-sama belum tenang, jika dipanggil sekarang oleh Tuhan," ujarnya. Radit masih mendengarkan apa yang diceritakan oleh sang ayah.


Di usia senjanya, sang ayah menginginkan teman untuk diajak berbincang. Bukan hanya kesendirian yang selalu Addhitama rasakan. Genta adalah sahabatnya, tetapi kini mereka terpisah benua.


"Papih belum siap mati karena kakak kamu belum menikah. Papih ingin. menyaksikan akad nikahnya. Papih ingin melihat calon menantu Papih."


Radit hanya tersenyum perih mendengar semua yang diucapkan oleh ayahnya. Hatinya benar-benar-benar menangis. Keinginan yang sederhana, tetapi belum terlakana..


"Sama halnya dengan Genta, dia masih ingin menunggui cucu terakhirnya menikah, yaitu Askara," lanjutnya.


"Abang kamu sudah bahagia bersama wanita yang luar biasa sabarnya. Kamu sudah bahagia dengan Echa, memberikan cucu yang sangat lucu-lucu juga pandai. Tinggalkan Rifal," tukasnya. Radit hanya terdiam. Bingung mau menjawab apa.


Inilah isi hati Addhitma yang sesungguhnya. Papih dari Radit ini sudah terlalu menyimpan segala rasa yang berkecamuk di dada seorang diri. Hanya Genta yang menjadi sahabat setianya. Tempat berkeluh kesah dirinya karena ketiga anaknya sangat sibuk.


Di lain tempat, Gio sedang melakukan panggilan video Dengan sang ayah.


"Ayah, besok Gi terbang Aussie," ucap Gio. Ayahnya tengah terbaring di ranjang pesakitan dengan selang infus menancap di punggung tangan Genta.


Wajah renta seorang Genta Wiguna sangat terlihat jelas. Keriput sudah menghiasi wajahnya. Sorot mata yang kelelahan sangat terbaca.


"Tidak usah, Gi. Ayah baik-baik saja," jawabnya.


"Gi tidak bisa melihat Ayah sendirian seperti ini," tukasnya.

__ADS_1


Genta tertawa menunjukkan giginya yang sudah tidak lengkap lagi.


"Ayah di sini banyak yang menangani. Kamu jangan khawatir."


Orang tua masih bisa berbohong kepada anak-anaknya. Buktinya Genta Wiguna, dia berada di negara orang seorang diri. Ketika dia sakit, sudah pasti ingin ditemani oleh anak dan cucu. Namun, bibir manisnya mampu membohongi hatinya.


"Tetap di sana, Gi. Urus perusahaan kamu serta perusahaan Ayah. Nantinya perusahaan besar itu akan dikelola oleh anak dan cucu kamu," terangnya.


Sebenarnya banyak kata dan kalimat yang ingin Genta sampaikan kepada Gio. Namun, dia juga harus sudah tahu aturan. Sekarang, Gio sudah memiliki keluarga sendiri. Jadi, Genta tidak ingin menyusahkan anak, menantu serta cucu-cucunya. Itulah hebatnya orang tua. Selalu mengerti anak-anaknya, tetapi belum tentu dengan sang anak. Hanya tiga puluh persen anak yang mengerti kondisi orang tua. Selebihnya seakan tidak peduli dengan orang tua.


"Ayah serius tidak apa-apa?" tanya Gio.


"Tidak apa-apa, Gi. Ayah di sini ditemani oleh Christo."


Setelah berbincang cukup panjang dengan sang putra, Genta mematikan sambungan video. Helaan napas kasar keluar dari mulutnya.


"Kamu benar-benar anak Ayah," pujinya. Usaha dan kerja keras Gio membawa kesuksesan yang tak tertandingi.


Rasa kesepiannya akan terobati ketika Genta mengetahui Gio ataupun Aksa berhasil mengelola perusahaan dengan baik. Menjadikan perusahaan mereka sebagai perusahaan terbesar di Asia.


Biarlah dia di Aussie seorang diri. Inilah cara bagi Genta untuk menikmati masa tuanya. Menanti detik demi detik malaikat maut menjemput dirinya. Dia sudah sangat rindu kepada istrinya, Gina. Juga putrinya Giandra.


"Ayah ingin berkumpul bersama kalian di surga. Namun, Ayah masih ingin melihat cucu Ayah menikah supaya kebahagiaan Ayah di dunia ini lengkap," gumamnya.


"Tunggu Ayah, Bu. Tunggu Ayah, Gia. Kita akan kumpul bersama ketika anak Giondra yang bungsu menikah. Miss you so much."


Jika, Gio mendengar ucapan Genta sudah pasti dia akan menangis. Perkataan yang sangat mengiris hati terdalam bagi siapapun yang mendengarnya.


Kesendirian adalah sebuah pilihan. Bukan karena takdir. Banyak orang yang tidak bisa sendiri, ada juga yang lebih nyaman jika sendiri.

__ADS_1


Genta dan Addhitma adalah pria yang setia pada istrinya. Tak memikirkan cinta lagi ketika sang istri dipanggil sang maha kuasa. Mereka sudah memiliki buah cinta dari pernikahan mereka masing-masing. Di dalam diri anak-anak mereka, pasti ada kemiripan dengan mendiang istri-istri mereka. Lebih baik menatap dan mencintai anak mereka dengan tulus, dari pada mencintai wanita lain yang belum tentu tulus mencintai mereka.


__ADS_2