Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Menitipkan Cinta


__ADS_3

Selama di pesawat, hati Aksa terasa tidak tenang. Dia harus cepat menggenggam akta cerai. Agar bisa meyakinkan semua orang terutama ayahnya Riana. Ketika Aksa berada di mode tegas seperti ini, Fahrani tidak akan banyak bicara. Satu kata saja terucap dari bibirnya, akan mendapat semburan bisa mematikan dari Aksa.


Tibanya di Jakarta, Aksa menuju kantor di mana sang Daddy bertugas. Di sana sudah ada Remon serta Aska juga Christian.


"Bagaimana perusahaan di sana?" tanya Gio.


"So far so good," jawab Aksa.


"Apa sudah memiliki calon sekretaris? Fahri selalu mengeluh kepada Aska," tutur Gio.


"Sudah ada kandidatnya, tetapi belum saatnya dipekerjakan."


"Maksudnya?" tanya Gio.


Aksa tidak menjawab, dia memilih merebahkan tubuhnya di sandaran sofa. Gio mulai menatap ke arah Fahrani, tetapi Fahrani menggelengkan kepala seolah tidak tahu.


"Kenapa anak bos yang satunya diam aja. Biasanya banyak bicara," imbuh Remon.


Aska mendelik kesal ke arah Remon. Sedangkan Christian tersenyum melihat tingkah Aska.


"Lagi sariawan dia," jawab Aksa sekenanya.


"Berisik Bang," sentak Aska.


"Ini kenapa pada berantem. Katanya kamu mau bicara sama Daddy, Bang." Gio melerai pertengkaran anak kembarnya.


"Bagaimana dengan hukuman Ziva dan keluarganya?" Aksa sudah langsung masuk ke inti.


"Sudah dipastikan akan mendekam di jeruji besi cukup lama. Bisa sampai mereka mati," jawab Gio.


"Perceraian Abang?" Aksa mulai menanyakan statusnya.


"Kamu harus bertemu dengan Ziva terlebih dahulu untuk menjatuhkan talak. Ketika kamu mengatakan kata itu, secara agama kamu sudah bercerai dengannya. Namun, secara hukum kamu masih menjadi suaminya sampai akta cerai kamu terima," terang Gio.


"Kalau begitu, Abang akan menemuinya." Gio yang sudah melihat Aksa bangkit dari duduknya langsung mencegahnya.


"Kamu harus tanya dulu kepada Christian, apa secara hukum bisa menalak istri yang sedang hamil?" Semua orang menatap ke arah Christian sekarang.


"Sebenarnya sah-sah saja jika suami mengajukan talak disaat istri tengah mengandung. Apalagi alasan Aksa menalak Ziva itu ada di antara poin pengajuan perceraian. Namun, alangkah lebih baiknya jika Aksa menunggu hingga Ziva melahirkan. Lakukan tes DNA dan bawa hasil tes DNA tersebut sebagai bukti. Itu akan mempercepat perceraian," jelas Christian.


"Tapi, aku ingin segera menikahi Riana," ujarnya.


"Percaya diri sekali anak Anda Bos," celetuk Remon seraya tertawa.


"Jangan terburu-buru, Bang. Yakinkan hatimu dan hati Riana dulu. Terlebih yakinkan hati ayahnya, itu yang utama. Ayahnya memiliki watak yang keras. Restu pernikahan itu terletak pada restu orang tua. Mantapkan hatimu, persiapkan masa depan kamu agar ketika menikah kamu benar-benar menjadikan Riana sebagai ratu. Bukan seorang babu." Nasihat yang harus Aksa dan Aska dengar.


"Bercermin lah pada suami Kakakmu. Dia mampu membuktikan kepada Papa serta Ayah bahwa dia mampu menjadikan kakakmu ratu dalam rumahnya. Bukan dari segi materi, tetapi kasih sayang serta perhatian juga yang utama agar rumah tangga yang dijalani selalu bahagia."

__ADS_1


"Ingat, menikah itu bukan untuk sehari. Melainkan sekali seumur hidup. Tidak selamanya berumah tangga itu selalu manis. Pasti akan datang badai kecil maupun besar yang akan menerpa kalian. Sebelum itu terjadi, kamu harus bisa memahami dan mengerti Riana. Ketika kalian saling memahami dan melengkapi, sebesar apapun badai yang akan datang pasti akan bisa kalian lalui," pungkas Gio.


Sore harinya Aksa dan Fahrani mengunjungi kantor Echa. Mereka disambut hangat oleh Echa.


"Mau minum apa, Bang?" Begitulah Echa, meskipun adiknya ini sudah dewasa dan sukses tetap diperlakukan layaknya anak kecil.


"Fahrani sudah membawa es kopi kesukaan Kakak," jawab Aksa.


Echa bisa menebak apa yang sedang dipikirkan oleh Aksa. Dia menatap lamat-lamat sang adik.


"Ada apa?"


Aksa menghela napas kasar sebelum menjawabnya. "Apa tidak bisa pilihan hati Riana dijawab sekarang?" Hanya seulas senyum yang Echa berikan. Kemudian, dia meminum es kopi kesukaannya.


"Kenapa? Mau nyerah?" sahut Echa.


"Abang gak ikhlas Kak, Arka mepet Riana terus," terangnya.


"Di situlah kesabaran dan kegigihan kamu diuji."


"Kak ...."


"Tidak ada rengekan! Kakak tidak akan menarik ucapan Kakak. Kamu dan Arka memiliki kesempatan yang sama untuk mendekati Riana. Balik lagi kepada Riana, ke mana hatinya akan berlabuh," tegasnya.


"Lagi pula kamu belum resmi bercerai dengan istri kamu 'kan. Gugatan itu akan dilayangkan ketika Ziva sudah melahirkan." Echa sangat mengetahui rencana dari keluarga Gio.


"Tugas kamu masih banyak, Bang. Setelah surat cerai di tangan, kamu harus bisa meyakinkan Ayah," jelas Echa.


Ada gurat kekhawatiran yang Aksa lihat di mata Echa. Aksa menggenggam tangan Echa dengan sangat lembut.


"Abang akan berusaha meyakinkan Ayah. Membuat Ayah merestui hubungan Abang dengan Riana." Seulas senyum Echa berikan kepada Aksa. Dia percaya adiknya ini tidak akan pernah main-main dengan ucapannya.


Baru saja Riana keluar dari gerbang kampus, sosok pria yang pantang menyerah sedang menunggunya di atas motor. Siapa lagi jika bukan Arka.


"Aku antar kamu pulang," ucap Arka.


"Makasih, Ka. Aku mau ke rumah Raisa dulu," tolaknya.


"Biar aku antar." Arka masih teguh pada pendiriannya.


Riana menghela napas kasar. Bingung, dia harus mencari alasan apa lagi untuk menolak ajakan Arka. Pada akhirnya, Riana naik ke atas motor gede yang dibawa oleh Arka. Mau tidak mau tubuh mereka berhimpitan membuat Riana merasa risih sendiri.


"Kalau Baginda raja tahu bisa dibogem mentah gua," gumam seorang pria dari balik kemudi.


Motor Arka berhenti di depan kosan Riana. Baru saja Riana turun dari motor, klakson mobil Ari memekik gendang telinga. Arka segera menggeser motornya agar mobil Ari bisa masuk ke dalam.


Bukannya pergi, Arka malah mengikuti Riana. "Kenapa gak pulang?" Suara Ari membuat Riana menoleh. Dia melihat Arka yang sedang membuntutinya.

__ADS_1


"Iya, kenapa kamu gak pulang?" Sekarang, Riana lah yang bertanya kepada Arka.


"Ada sesuatu hal yang mau aku obrolin sama kamu," kata Arka.


"Di luar aja ngobrolnya," sahut Ari dengan tatapan tidak sukanya.


"Baik, Mas," jawab Riana.


Setelah Ari masuk ke dalam kosan, Arka mulai bertanya perihal Ari kepada Riana.


"Dia pemilik kosan ini." Kalimat yang terucap dari Riana membuat Arka mengerti kenapa pria itu nampak tidak suka dengan kehadirannya.


"Oh iya, aku mau ngasih ini." Sebuah undangan pernikahan yang Arka berikan kepada Riana.


"Undangan siapa?" Riana menatap heran kepada Arka.


"Undangan saudara jauh aku. Dua hari lagi acaranya. Mamah dan Papah berniat untuk mengajak kamu ke sana dan aku didapuk sebagai penyanyi di sana. Aku berniat untuk mengajak kamu untuk jadi teman duet aku," terangnya.


"Kenapa harus aku? Masih banyak teman kamu yang bersuara bagus dibanding aku," tuturnya.


"Tante inginnya kamu, Ri." Suara Chintya terdengar jelas di telinga Riana. Ketika Riana menatap ke arah depan, Chintya sudah berada di halaman kosan dengan Fikri.


"Jangan khawatir, Om sudah meminta izin kepada ayah kamu. Dia pun mengijinkan. Kita tidak akan bermalam di sana. Hanya ke Magelang, pulang-pergi pun tak masalah." Waktu tempuh Jogja-Magelang hanya satu sampai dua jam. Tergantung macet atau tidaknya.


Bimbang, itulah yang Riana rasakan. Akan tetapi, dia tidak akan bisa menolak permintaan kedua orang tua Arka. Apalagi, sang ayah sudah mengirim pesan bahwa dia mengijinkannya untuk pergi bersama keluarga Fikri.


"Ikut ya, Ri." Chintya terus mendesak Riana hingga Riana pun mengangguk.


Di lain Kota, Fahrani masuk ke dalam ruang kerja Aksa. Pria itu masih fokus ke layar laptopnya.


"Ada undangan resepsi dari Pak Faisal," kata Fahrani.


"Kapan waktunya?" Pandangan Aksa masih fokus pada layar segiempat di depannya.


"Sabtu sore."


"Pesankan tiket ke Magelang dulu. Biar malamnya sopir menjemput kita di sana." Hanya anggukan yang menjadi jawaban dari Fahrani.


Setelah pekerjaannya selesai. Aksa membuka ponsel khusus untuk Riana. Ada beberapa pesan yang masuk.


Bang, lusa Ri mau ngisi acara bareng sama Arka di acara pernikahan saudara Arka. Ri, harap Abang gak marah. Ri, gak bisa menolak permintaan mamahnya Arka. Maaf, jika Ri tidak meminta persetujuan dulu kepada Abang. Malah memutuskan ini secara sepihak.


Aksa menghembuskan napas kasar ketika membaca pesan yang Riana kirim. Namun, dia teringat akan ucapan Daddy serta kakaknya. Dengan menahan sesak di dada, jari Aksa menari-nari di atas layar ponsel.


Abang tidak marah, untuk saat ini Abang hanya bisa percaya sama kamu. Menitipkan cinta Abang yang sangat besar ini kepada kamu. Abang hanya berpesan, jaga hati kamu hanya untuk Abang.


...****************...

__ADS_1


Komen dong komen ....


__ADS_2