
Merasa bosan berdiam diri di kamar perawatan Riana, Beeya mulai mendekat ke arah Ken dan juga Juno yang sedari tadi memandangi wajah Aksara.
"Keluar yuk," ajak Beeya.
Ken dan Juno segera menoleh, mereka berdua tidak menjawab. Hari ini mereka hanya ingin menghabiskan waktu di dalam ruangan. Tidak ingin keluar sama sekali.
"Kak, ayo!" Beeya terus memaksa, kini tangan Beeya sudah menarik tangan Ken.
"Bee," panggil sang ibu.
"Mah, Bee hanya ingin keluar sebentar. Kak Ken dan Kak Juno orang baik kok, gak mungkin macam-macam sama Bee. Kalaupun mereka macam-macam pasti Kak Aska akan langsung memecat mereka dari list sahabatnya," tutur Beeya.
"Papah sunat mereka dua kali." Arya menimpali ucapan sang putri.
"Ngomongnya pengen punya menantu kayak Bang Sultan dan Bang Radit. Kelakuan anaknya aja gak kayak Kak Riana juga Kak Echa," cibir Ken.
Semua orang pun tertawa, berbeda dengan Arya yang sudah menunjukkan wajah geramnya.
"Gak usah ributlah. Ayo!" Beeya terus memaksa dan pada akhirnya kedua sahabat Aska itupun menuruti permintaan Beeya. Salah satu pesan Aska adalah menjaga Beeya.
"Kak Ri mau nitip apa?" tanya Beeya.
"Bang, boleh makan es gak?" tanya Riana bak anak kecil.
"Mau es apa emang?" tanya Aksa.
"Mau es krim Ma'mun."
"Kakak Na mau."
"Kakak Sa juga."
"Adek juga."
Mata Beeya pun melebar mendengar ucapan ketiga kurcaci itu. Dia menghitung jumlah es krim dengan harga es krim sesungguhnya.
"Anjiim, boncos gua," keluh Beeya. Tidak akan mau tiga kurcaci serta Riana dibelikan hanya satu es krim. Minimal satu orang dua.
"Low budget, Bang." Beeya malah menengadahkan tangannya kepada Aksara.
Hanya decakan yang keluar dari mulut Aksa. "Kebiasaan," omelnya. Namun, Aksa mengambil dompet di saku celana belakangnya, dengan tak tahu diri dan tak tahu malu Beeya merampas dompet itu dan mengambil lima lembar uang kertas berwarna merah.
"Makasih, Bang." Kecupan kilat Beeya berikan ke pipi Aksa, dan yang empunya pipi hanya menggelengkan kepala.
"Beeya, Kak Ri cemburu!" seru Riana dengan wajah cemberut.
"Sebelum Kak Ri bisa menguasai tubuh Abang, Bee lebih sering mencium pipi dan kening Abang." Beeya pun menjulurkan lidahnya untuk mengejek Riana.
Suasana pun mendadak riuh karena ulah Beeya dan juga Riana. Riana menatap suaminya yang sudah bisa tersenyum. Ada senyum kecil yang terukir di hatinya.
"Jangan cemburu dong." Kini Aksa membubuhkan kecupan hangat di pipi sang istri tercinta. Namun, Riana masih menunjukkan wajah cemberutnya.
"Ah, mata gua ternoda," ucap Ken.
"Sirik banget gua liatnya," timpal Juno.
Para orang dewasa pun tertawa mendengar candaan dari dua sahabat Aska ini. Seketika suasana sedih menguap. Ken dan Juno pun memilih beranjak dari duduk mereka dan melangkahkan kaki menjauhi mereka.
"Ken, No," panggil Ayanda.
Langkah kaki Ken dan Juno pun terhenti. Mereka berdua menoleh ke arah ibu dari sahabatnya. Ada raut sedih dan pilu yang dapat mereka lihat.
"Jangan lupain Tante," ucap Ayanda lirih.
Hati kedua sahabat Aska pun mencelos. Mereka mendekat ke arah Ayanda dan bersimpuh di hadapan wanita yang sudah mereka anggap seperti ibu mereka sendiri.
"Mana bisa kita lupain Tante," ujar Ken yang sudah meraih tangan kanan Ayanda.
"Tante adalah ibu kedua untuk kita," tambah Juno. "Kami sayang Tante," tambahnya lagi.
Juno dan Ken pun sudah memeluk erat tubuh Ayanda. Bagi Ayanda, dua anak ini adalah pengganti Aska. Memiliki sifat yang sama dengan Aska. Bisa menjadi pelipur rindu untuknya.
"Mommy, Bee pinjam dua Upin Ipin ini, ya. Bee ingin menikmati Kota Jogja di siang hari," ucap Beeya.
Ayanda pun tersenyum dan mengangguk kepada Beeya. Mereka mampu menghangatkan hati Ayanda yang baru saja melepas kepergian Aska.
Beeya dan dua sahabat Aska pergi ke sebuah mall. Padahal di Jakarta mereka sering menghabiskan waktu mereka untuk sekadar berjalan-jalan ke mall, tapi di Jogja pun tempat yang mereka kunjungi mall juga.
"Makan steak, yuk!" ajak Beeya.
"Duit gua gak cukup, Bee. Ini aja udah dipake buat beli tiket pesawat. Sore nanti kita langsung balik ke Jakarta," tutur Ken.
Siapalah Ken dan Juno, mereka berdua hanya anak dari orang sederhana. Hasil keuntungan dari Jomblo's cafe pun mereka berikan kepada orang tua mereka. Apalagi mereka berdua sedang proses mencicil rumah untuk masa depan mereka berdua.
"Tenang, biar Bee yang bayarin." Senyum Beeya memberikan kehangatan untuk Juno juga Ken. Beeya seperti fotokopian dari Askara. Selalu senang mentraktir.
"Makasih, Bee. Mending makan yang murah aja kalau mau traktir mah," tawar Ken. Dia menjelma menjadi pria yang tahu diri.
"Tenang aja sih. Bee mah cucu Sultan. Baru steak, paling bertiga cuma abis setengah juta. Paling mahal satu juta," imbuh Beeya.
Dia bukannya sombong, memang Beeya salah cucu Sultan. Cucu satu-satunya dari Tuan Antonio Bhaskara.
"Udahlah gak usah malu. Biasanya juga malu-maluin." Beeya mampu mencairkan suasana, mereka bertiga pun tertawa.
Beeya merealisasikan ucapannya. Kali ini tidak tanggung-tanggung, dia mengajak Ken dan Juno ke restoran steak mahal.
"Set dah, kagak salah ini?" Ken berucap ketika melihat angka 325.500.
__ADS_1
"Bee, ini cuma steak-nya doang. Belum minumnya," ujar Juno yang merasa tidak enak hati.
"Ya kalau pengen minum gratis, tinggal ke wastafel. Minum air keran," kesal Beeya.
Mengajak dua anak manusia ini seperti mengajak orang yang dari pelosok sok sok ke mall dan makan daging sapi. Ribet dan banyak bicara. Padahal dia yang membayar semuanya.
"Enggak sekalian tuh dipakein sabun cuci tangan biar ada aroma apel-apelnya," balas Ken dengan tatapan jengah.
"Lah, kalian yang ribet. Tinggal milih doang apa susahnya, kecuali disuruh bayar. Baru deh boleh komplain." Mulut Beeya bagai emak-emak yang sudah kekurangan uang bulanan ketika tanggal tua datang. Hawanya nafsu saja kepada semua orang.
"Cepetan pilih! Bee lapar," omel Beeya lagi.
Akhirnya kedua sahabat Aska pun menyamakan pesanan mereka dengan apa yang dipesan oleh Beeya. Sambil menunggu pesanan mereka datang, Beeya menatap Ken dan Juno bergantian.
"Siapa sih yang kawin sama si Senja?"
Ken dan Juno saling tatap. Mereka bingung siapa Senja. Mereka tidak memiliki teman yang bernama Senja.
"Kenapa kayak orang bhego?" geram Beeya, ketika melihat Ken dan Juno hanya melongo.
"Lah lu nanya si Senja. Mana kita tahu?" balas Ken dengan bersungut-sungut.
"Tolil nih!" ejek Beeya. "Itu loh cewek yang disuka sama kakak gua," ujarnya.
"Jingga," balas Ken dan Juno kompak. Beeya pun mengangguk.
"Jingga namanya bukan Senja," geram Ken dengan mata yang sudah melotot.
"Warna Jingga itu seperti cahaya senja." Beeya pun tak mau kalah.
"Seterah lu lah, Bariyah!"
"Terserah!" ralat Beeya dan juga Juno.
"Sebodo amat! Gua gak bisa bilang terserah. Bisanya seterah," kekeh Ken.
"Sabodo lu lah, Kenebo."
"Kanebo, Bariyah!"
"Bodo!"
Juno hanya menggelengkan kepala melihat perdebatan Ken dan juga Beeya. Dalam benaknya teringat akan Aska yang belum lima jam pergi meninggalakannya juga keluarganya.
"Kalau ada lu pasti lebih rame."
Meja mereka saja yang terdengar sangat ramai oleh candaan serta perdebatan. Hingga seorang pelayan datang dan menyajikan makanan yang mereka pesan.
"Wangi banget ini," ucap Ken yang menghirup aroma steak yang baru saja disajikan.
"Jangan norak!"
"Pake nasi enak nih," celetuk Ken.
Seketika steak yang akan Beeya masukkan ke dalam mulut menggantung di depan mulutnya. Dia menatap Ken dengan tatapan tak percaya.
"Itu udah ada kentangnya pengganti Karbo, Kenebo!"
"Mana kenyang," sahut Ken. "Orang Indonesia itu belum makan kalau belum makan nasi," tambahnya lagi.
Beeya pun menggeleng, dia menatap Ken dan Juno bergantian. "Jangan-jangan kalau kalian makan sushi pakai nasi juga," sergah Beeya.
"Ya kalau ada nasi pasti pakai nasilah." Mulut Beeya menganga mendengar jawaban dari Ken.
"Jangankan sushi, mie goreng aja pakai nasi." Jawaban Juno semakin membuat Beeya terkejut.
"Double karbo itu, Upin Ipin!" serunya.
Ken meletakkan pisau dan garpu di tangannya. Dia menatap Beeya dengan sangat serius.
"Waktu gua SD, gua paling senang kalau dibawain bekal indukmie goreng pake nasi. Berasa mewah banget," terang Ken.
"Hah?"
"Itu mie dimasukin ke tempat makan kotak. Pas istirahat bentuk mie-nya pun kayak Spongebob kotak, tapi tetap enak. Apalagi kalau ditambah nasi."
"Lebih nikmat," lanjut Juno.
Beeya tidak bisa membayangkan bagaimana memakan indukmie goreng yang sudah dingin. Dia pun menggeleng pelan.
"Lu juga gak akan tahu gimana rasanya minum es teh atau es perasa lainnya di plastik ukuran seperempat atau setengah kilo," lanjut Juno lagi.
"Batagor dan siomay aja dua rebu dapat sekantong plastik ukuran seperempat. Cilok juga sama, mana makannya sering join sama teman yang lain."
Lagi-lagi Beeya terperangah dengan apa yang dikatakan oleh Ken.
"Hidup lu enak, pulang sekolah dijemput sama bapak lu atau gak sama supir. Lah kita berdua, cuma bisa naik angkot. Dalamnya padahal kosong tapi kita berlomba-lomba untuk menggantung di pintu masuk angkot," papar Ken. "Kalau ada guru lewat baru pada masuk ke dalam angkot," kekeh Ken.
"Belum lagi kalau pulang sekolah gak langsung ganti baju, malah main. Bambu dan pelepah daun pisang mendarat manis di bhokong kita." Ken setuju dengan apa yang dikatakan oleh Juno.
"Masa kecil kalian semenyedihkan itu, ya," balas Beeya.
"Bukan menyedihkan, malah menyenangkan." Ken membalasnya.
"Kalau boleh gua meminta ... gua tidak ingin menjadi dewasa. Gua hanya ingin jadi anak-anak saja yang tak pusing mengurusi rumitnya dunia orang dewasa. Hanya sibuk bermain dan tertawa," terang Ken.
Seketika hati Beeya mencelos. Apa yang dikatakan oleh Ken sering diucapkan oleh banyak orang. Beeya pun sedikit takut menjadi dewasa.
__ADS_1
"Tapi, sekarang hidup kalian enak 'kan karena ketemu kakaknya Bee," kata Beeya.
Ken dan Juno hanya tersenyum. "Aska membawa perubahan pada kehidupan gua," ucap Juno.
"Aska adalah definisi orang baik sesungguhnya," puji Ken. "Dia adalah orang yang mau merangkul tanpa mau disanjung. Dia adalah orang kaya yang mengaku tak punya apa-apa."
"Apa yang dikatakan Ken benar, tapi gua sama Ken bukanlah orang yang memanfaatkan kebaikan Aska. Kita ini adalah orang yang tahu terima kasih dan balas Budi karena almarhum kakek gua pernah bilang jangan pernah lupakan kebaikan orang yang udah menolong kamu walaupun hanya secuil. Kalau kamu tidak bisa membalas dengan uang, balaslah dengan sikap baik kamu. Pada sesungguhnya orang yang menolong kamu itu adalah malaikat tak bersayap yang diutus Tuhan untuk menmbantu kamu."
Melihat persahabatan Aska dan dua orang di depannya ini membuat Beeya sedikit iri.
"Bee banyak belajar dari persahabatan kalian," puji Beeya.
Ken dan Juno hanya tertawa. "Nyari sahabat di kala kita senang itu gampang banget, tapi nyari sahabat di kala kita susah itu sangat sulit. Askalah sahabat yang selalu ada dalam masa sulit kita berdua."
Hati Beeya sangat terenyuh mendengar ucapan Ken. Itulah definisi sahabat sesungguhnya.
"Jasa Aska sangat besar," papar Juno. "Dia adalah orang yang menjerumuskan gua ke dalam hal positif. Mengajarkan gua cara berbisnis hingga gua bisa lulus sarjana. Tanpa Aska, mungkin gelar gua hanya diploma. Pekerjaan gua juga paling Bantar pegawai pabrik."
"Tujuh hari tujuh malam membicarakan kebaikan Aska tidak akan pernah ada habisnya." balas Ken. "Intinya ... dia adalah orang yang sangat baik. Orang yang membuat kita banyak berubah ke arah yang lebih baik lagi dan lagi."
Beeya pun tersenyum mendengar pujian tanpa menjadi penjilat yang dua sahabat Aska terangkan.
"Bee juga gak nyangka ketika kalian mendapat kabar Kak Aska begini kalian langsung terbang ke sini. Padahal kalian bilang kalian gak punya uang untuk membeli tiket," imbuh Beeya.
"Gunanya sahabat adalah ini, sedihnya Aska adalah sedihnya kita berdua juga," sahut Ken.
"Sebenarnya uang ada, tapi cuma cukup buat makan dan transport sampai akhir bulan," jelas Juno. "Namun, keadaan Aska lebih penting dari apapun dan kita gak akan pernah mikir dua kali untuk hal segenting ini."
Beeya merasa persahabatan seperti mereka dan juga Aska sudah sangat jarang ada untuk sekarang ini. Sahabat yang selalu ada di kala susah sedangkan pada zaman sekarang adanya sahabat di kala senang dan ketika susah pura-pura tidak mengenal.
"Oh iya, kalian belum cerita pria yang rebut wanita yang kakak Bee cinta," pinta Beeya.
"Lu tahu Bian?" Ken berbicara sambil mengunyah steak.
"Namanya pernah denger, tapi ... mukanya gak tahu."
Ken menunjukkan foto Bian. "Dia itu bukan sahabat, tapi pria bang sat!" seru Juno.
Beeya tak ingin menanyakan lagi perihal Bian. Terlihat raut amarah di wajah Ken dan Juno.
Namun, mata Beeya memicing ketika melihat pria yang mirip dengan Bian tengah menggandeng tangan seorang wanita.
"Itu bukannya si Biang kerok," tunjuk Beeya ke arah Bian. Kedua sahabat Aska hanya mengangguk. Mereka sudah bosan berurusan dengan banci seperti Bian.
"Ceweknya bukan si Senja." Salah lagi menyebut nama orang membuat Ken dan Juno menatap kesal.
"Orang Jingga kabur."
"Hah?" Mulut Beeya menganga dengan lebar. Ken dan Juno kompak memasukkan kentang ke dalam mulut Beeya.
"Napa?" tanyanya dengan mulut penuh. Kedua sahabat Aska hanya menggedikkan bahu.
Beeya sudah beranjak dari duduknya. Namun, Ken dan Juno hanya diam saja. Mereka sudah tidak ingin mengenal Bian lagi. Mau Bian mati sekalipun mereka tak peduli.
Beeya mengikuti pria yang bernama Bian tersebut. Dia berdesis bagai ular ketika Bian dan seorang wanita masuk ke dalam restoran serba ayam.
"Orang kismin rupanya," remehnya kepada Bian.
Beeya tidak perlu khawatir karena mereka memang tidak pernah bertemu. Matanya memicing ketika melihat ada seorang pria seumuran ayahnya duduk bersama Bian dan juga wanitanya.
"Calon mertuanyakah?"
Kedatangan seorang pelayan membuat Beeya terkejut. Pelayan itu menanyakan dengan sopan apa yang ingin Beeya pesan. Akhirnya dia memesan ayam penyet dengan level terpedas.
"Bisa ketawa lu," geramnya ketika melihat Bian tersenyum. "Sedangkan kakak gua lu buat pergi karena sakit hati." Urat-urat kemarahannya sudah muncul. Ingin sekali Beeya mencabik-cabik pria yang tidak ada tampan-tanpannya itu.
"Ini, Kak." Pesanan Beeya pun sudah sampai meja. Beeya hanya mengangguk dan sebenarnya dia sudah kenyang karena makan steak tadi.
Ketika melihat apa saja yang ada di meja, bibir Beeya tersenyum jahat.
"Lu udah bikin kakak gua pedih." Tangan Beeya sudah meracik apa yang ada di meja hingga senyum licik pun terukir di wajahnya.
Beeya berjalan dengan anggun ke arah meja yang diduduki Bian. Di tangannya sudah ada racikan maut. Es kuwut rasa pedas neraka. Tawa Bian membuat Beeya benar-benar murka.
Byur!
Es kuwut yang sudah dicampur dengan sambal ayam geprek super pedas pun mengenai mata Bian hingga dia menjerit keperihan.
"Perih!"
Semua orang pun mendekat ke arah Bian dan membantunya sedangkan Beeya masih berdiri di sana dan menonton Bian dengan amarah yang menggebu.
"Lu hanya keperihan, sedangkan gua ... harus menerima kepergian Kakak gua!" pekik Beeya.
Semua orang menatap ke arah Beeya yang tengah meluapkan emosinya.
"Apa-apaan sih lu!" sergah si wanita yang ada di samping Bian. Dia sudah berdiri dan hendak menyerang Beeya.
"Kenapa? Gak terima cowok lu gua siram pake es kuwut cabe level mampoes," balasnya dengan seringai jahat. "Masih untung itu, tadinya mau gua siram pakai bensin dan gua bakar hidup-hidup." Api amarah masih berkobar di wajah Beeya.
Tanpa ada rasa takut, Beeya mendekat ke arah Bian dan menarik dagu Bian dengan kasar. Bian yang masih berteriak perih tidak bisa membuka matanya. Semua orang pun tidak bisa menahan Beeya. Ternyata ada beberapa orang berbadan tegap berbaju hitam di belakang anak remaja tersebut.
"Hebat banget lu," tekan Beeya yang masih mencengkeram dagu Bian. "Sahabat, tapi bhang sat!"
Kalimat itu penuh penekanan dan dengan kasar Beeya melepaskan cengkeramannya. Beeya berlalu begitu saja tanpa menoleh sedikit pun walaupun wanita yang tengah bersama Bian berteriak ke arahnya.
...****************...
__ADS_1
Komen dong ....