Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Tak Masuk Akal


__ADS_3

Tit ....


Suara monitor membuat semua dokter dan juga perawat yang ada di sana menoleh. Garis horizontal yang monitor itu tunjukkan.


"Dok, pasiennya ...


"Gunakan defribrilator."


Dokter dan perawat tengah melakukan penyelamatan semaksimal mungkin. Mereka sudah terbiasa menghadapi hal seperti ini, tetapi permintaan dari Aksara membuat mereka seakan memikul tanggung jawab yang lebih berat. Apalagi Aksara meminta mereka untuk menyelamatkan pasien yang tengah mereka tangani ini.


Dokter sudah membantu dengan alat pemacu jantung, tetapi garis yang ada di monitor tidak berubah.


"Bunda, jangan tinggalin aku!"


Tubuh Jingga luruh di atas pandang rumput. Setelah sang ibu masuk ke dalam cahaya putih, tubuhnya baru bisa digerakkan.


"Aku ingin ikut, Bunda."


Seorang berbaju hitam dengan penutup kepala menghampirinya.


"Kamu harus pulang. Kamu belum boleh tinggal di sini."


Ucapan orang itu seakan menghipnotisnya. Dia mengikuti perintah orang tersebut dan mengikuti setiap langkah orang berbaju hitam itu.


"Lagi! Jangan berhenti," titah salah seorang dokter yang tengah memandangi monitor.


Garis horizontal itu akhirnya bergerak lagi dan membuat semua perawat juga dokter bersyukur tak terkira.


"Terima kasih, Tuhan."


"Alhamdulillah."


Mereka masih memantau kondisi Jingga. "Detak jantung normal," ucap salah seroang dokter yang lain.


Mereka segera mengecek kondisi Jingga keseluruhan. Ada rasa lega di dada mereka ketika semuanya sudah normal dan pasien sudah bisa melewati masa kritisnya.


Berbeda dengan keadaan di luar, empat orang di depan ruang IGD tengah menunggu dengan hati yang


sangat cemas. Segala rasa berkecamuk di dada Askara. Tubuhnya seakan kehilangan separuh jiwanya.


Setengah jam berselang, seorang dokter keluar dari ruang IGD. Aska segera menghampirinya, meskipun keadaannya sangat kacau.


"Pasien bisa melewati masa kritis."


Tubuh Aska pun luruh ke lantai. Bukan karena tidak bahagia, melainkan bahagia yang tak terkira. Ucap syukur selalu dia panjatkan kepada sang pemilik semesta. Aksa tersenyum lega mendengarnya, begitu juga dengan Riana. Dia sudah memeluk tubuh sang suami. Fahri membantu Aska untuk berdiri.


"Maafin gua," sesal Fahri.


Aska menoleh, kemudian menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Ini bukan salah lu. Maafin gua yang udah emosi," ucap tulus Aska.


Aska tidak seperti Aksa yang dapat mengendalikan emosinya. Dia akan murka jika ada sesuatu hal yang terjadi pada orang yang dia sayangi.


"Boleh kami melihatnya?" tanya Aksa.

__ADS_1


"Boleh. Kondisinya masih lemah dan belum sadar, tetapi semua pemeriksaan sudah normal," terang dokter tersebut.


Aksa mengangguk mengerti, dia menyuruh adiknya untuk masuk. Dia sangat tahu bagaimana kondisi hati adiknya sekarang ini.


Helaan napas lega keluar dari mulut Aksa. Namun, dering ponsel membuat Aksa melebarkan mata. Sang ayah menghubunginya.


"KE KANTOR SEKARANG!"


Aksa memejamkan matanya karena mendengar kemurkaan dari sang ayah. Dalam perihal pekerjaan Gio akan menjelma menjadi ayah yang tegas sekaligus galak.


"Pak bos besar?" tebak Fahri.


Aksa mengangguk, dan Riana sedikit terkejut. Dia menatap ke arah suaminya yang mimik wajahnya sudah berubah.


"Bang."


Aksa mencoba untuk tersenyum, seraya menenangkan istrinya.


"Biar Ri yang bilang ke Daddy," ucap sang istri tercinta.


Namun, Aksa menggeleng. Tangannya mengusap lembut rambut Riana.


"Abang bisa hadapi sendiri. Inilah tugas seorang kakak yang harus bisa melindungi adiknya."


Air mata Riana menetes begitu saja ketika mendengar ucapan dari Aksara. Dia teringat akan kakaknya. Orang yang akan selalu menutupi kesalahannya di hadapan sang ayah.


"Dad-dy ... pasti marah," ujarnya lagi.


Semenjak pagi tadi, Aksa sudah bekerja sama dengan orang suruhan Giondra. Dia membungkam mulut orang suruhan sang ayah agar tidak melaporkan apa yang dia juga Aska lakukan. Merogoh kocek cukup dalam, itulah yang harus Aksa lakukan.


Pada akhirnya, dia berbohong kepada sang ayah jika dia kesiangan untuk pergi ke kantor, sedangkan rapat penting sudah dibatalkan karena ketidakhadiran Aksa tanpa adanya kabar berita. Saking marahnya, Gio terbang langsung ke Jogja dan ingin bertemu dengan sang putra.


"Sayang, kamu kembali ke apartment, ya. Abang harus ke kantor sekarang," ucap Aksa.


"Kak Aska?"


"Abang masuk sebentar menemui Aska, terus Abang antar kamu ke apartment baru Abang ke kantor."


Biarlah Aksa yang terkena marah sang ayah. Asal dua orang yang dia sayangi baik-baik saja. Riana pun mengangguk mengerti.


Aksa membuka pintu ruang IGD. Dia mencari keberadaan sang adik. Dilihatnya Aska tengah menggenggam erat tangan Jingga dengan wajah yang masih sedih.


"Dek."


Aska pun menoleh, dia melihat sang Abang menghampirinya.


"Jaga Jingga. Gua balik ke kantor dulu. Lu sendiri dulu ya di sini," ucap sang Abang.


"Makasih, Bang."


Aksa tersenyum dan mengusap lembut pundak sang adik. "Kalau ada apa-apa langsung hubungi gua." Aska mengangguk dengan cepat.


Bagi Aska, Aksa adalah kakak yang paling setia. Dia akan melakukan apapun demi dirinya. Itulah yang membuat Aska tak pernah bisa menolak apapun perintah abangnya.

__ADS_1


Aksa berbalik arah dan meninggalakan Aska seorang diri di ruang IGD. Dia membawa Riana pergi dari rumah sakit bersama Fahri. Sepanjang perjalanan, Riana menatap sang suami yang sedari tadi terdiam. Dia menyentuh lengan Aksa membuat Aksa seketika menoleh dan tersenyum ke arahnya.


"Ri, ikut ke kantor."


Lagi-lagi Aksa menggeleng. Dia menyunggingkan senyum seraya mengusap lembut pipi Riana.


"Abang bisa menghadapi Daddy seorang diri."


Fahri yang mendengar ucapan Aksa sedikit ketar-ketir. Dia sangat tahu bagaimana ayah dari atasannya itu jika sudah murka. Apalagi ini bukan masalah sepele. Menyangkut maju atau tidaknya perusahaan anak cabang.


Setelah sampai apartment, Aksa mengantar istrinya terlebih dahulu ke unit apartment miliknya. Setelah itu, barulah dia pergi ke kantor.


"Bapak yakin?" tanya Fahri.


"Saya harus hadapi semuanya."


Tibanya di perusahaan WN, Aksa menuju ruang di mana ayahnya berada. Semua orang sudah menatapnya. Tangannya ragu untuk menekan gagang pintu. Apapun harus dia hadapi.


Mata elang milik sang ayah sudah menatapnya dengan nyalang. Aksa hanya menunduk dalam tidak berani menegakkan kepalanya.


"Aksara!"


Seruan suara sang ayah membuat Aksa semakin menunduk. Ini bukan kali pertama Aksa menghadapi hal seperti ini.


"Kamu mau membuat perusahaan ini gulung tikar, iya?" hardik Giondra.


"Maaf, Dad."


Jawaban lemah yang masih bisa terdengar oleh Giondra. Bukannya melemah, Giondra semakin berkata dengan sangat keras.


Kertas yang Gio pegang kini sudah dia lempar ke tubuh putranya. "Lihat laporan ini!"


Aksa meraihnya, dia membacanya dengan sangat teliti. Lagi-lagi Aksa tidak bisa mengelak. Dia tidak bisa menyanggah apapun.


"Daddy gak pernah ngajarin kamu bangun siang!" geramnya. "Alasan yang sungguh tidak masuk akal," lanjutnya lagi.


"Serius, Dad. Abang kesiangan," sahutnya.


"Kenapa sekarang kamu semakin seenaknya? Jangan mentang-mentang kamu sudah punya istri dan menjadikan dia alasan atas segala kesalahan kamu," sentak Gio.


Aksa terus terdiam. Menatap sang ayah pun dia tidak berani. Bibirnya kelu.


"Apa harus Daddy pisahkan lagi kamu dengan istri kamu? Agar kamu bisa menghargai yang namanya waktu," bentaknya.


Tubuh Aksa menegang mendengar ancaman sang ayah. Sungguh dia tidak mau berpisah dengan Riana. Apalagi, kandungan Riana sudah memasuki kehamilan tua.


"Jangan Daddy."


Bukan Aksa yang menjawab, melainkan seseorang yang baru saja membuka pintu ruangan Giondra.


...****************...


Komen dong ...

__ADS_1


__ADS_2