
Agha belum juga mendapatkan maaf dari Ghea. Alhasil, sang ibu turun tangan untuk menyelesaikan permalasahan dua kakak beradik itu.
"Boleh Mommy Masuk?" tanya Riana yang baru saja membuka kamar putri bungsunya.
"Masuklah, My." Ghea menjawab dengan mata yang masih terfokus pada layar ponselnya.
"Tugas udah selesai?" Ghea menggeleng.
"Adek udah chat Daddy. Mau minta bantuan Daddy buat ngerjainnya." Riana menghela napas kasar. Beginilah putrinya jika tengah merajuk kepada sang kakak. Dia akan meminta bantuan kepada sang ayah dan Aksa pun tidak akan pernah keberatan membantu putrinya.
"Belum baikan sama Mas?" tanya Riana yang kini sudah duduk di samping tempat tidur Ghea.
Mata Riana tertuju pada ponsel Ghea yang sedari tadi berbunyi seperti notif pesan. Namun, Ghea seakan tidak memperdulikannya.
Ghea memeluk tubuh ibunya dan membenamkan wajahnya di dada wanita yang paling dia cintai.
"Jangan egois, Dek. Biarkan Mas-mu menikmati masa remajanya dengan teman-temannya. Waktu seperti ini tidak akan pernah bisa diulang," ujar sang ibu yang mengusap lembut rambut Riana.
"Adek hanya tidak rela Mas dekat dengan cewek lain. Mas hanya milik Adek."
Riana tersenyum, dia sangat tersentuh akan ucapan Ghea. Dari Ghea masih berada di dalam kandungan, Agha sudah sangat menyayanginya. Ketika Ghea lahir pun Agha selalu menemani dan melindungi Ghea dari nyamuk-nyamuk nakal. Apabila ada nyamuk yang menggigit Ghea, Agha akan marah-marah dengan bahasanya.
Ikatan batin antara keduanya sangatlah kuat. Riana tidak memungkiri itu. Agha yang sangat menyayangi Ghea begitu juga Ghea yang sangat menyayangi Mas-nya. Beberapa jam saja tidak bertemu pasti akan membuat mereka mencari satu sama lain. Bagai anak kembar yang tak terpisahkan.
"Dengar Mommy ya, Dek." Riana mengusap lembut punggung Ghea. "Mas dan Adek itu setiap hari tumbuh besar. Pasti akan ada perubahan dari diri kalian berdua. Terutama Mas, ke depannya pasti Mas akan jauh lebih sibuk. Jarang bersama Adek dan lebih fokus pada sekolahnya. Adek harus belajar menerima itu. Bukan karena Mas udah gak sayang lagi sama Adek, bukan. Mommy yakin, selamanya Mas akan menyayangi Adek, menjaga Adek juga melindungi Adek. Percaya sama Mommy."
Ghea belajar mencerna ucapan ibunya. Ghea pun terlelap karena kenyamanan dekapan ibunya. Riana menyunggingkan senyum bahagia. Diletakkannya tubuh Ghea dengan pelan di atas kasur dan menyelimuti tubuh putrinya.
Merasa penasaran, Riana mengambil ponsel yang berada di samping kepala Ghea. Ketika dia membuka kunci layar, kepalanya menggeleng.
Mas Sayang❤️
Dek, Mas kerja kelompok dulu, ya.
Adek udah makan belum?
Balas dong Dek chat Mas. Jangan marah terus.
Adek
Dek
Dek
Udahan dong marahnya
__ADS_1
Ting!
Sebuah pesan masuk lagi ke ponsel
Ghea.
Mas arah pulang. Adek udah kerjain tugas belum? Nanti Mas bantu. Mas bawain Adek cemilan kesukaan Adek sama booba yang kemarin Adek minta.
Riana merasa bahagia ketika dua anaknya sangat saling menyayangi satu sama lain. Apalagi melihat Agha yang sangat menyayangi adiknya dengan sangat tulus. Dia percaya jika nanti putranya akan menjadi pemimpin keluarga yang hebat. Seperti arti dari namanya.
Setengah jam berselang, Agha tiba di rumah. Orang yang pertama kali dia cari adalah Ghea.
"My, Adek di mana?" tanya Agha sambil mencium tangan ibunya.
"Lagi tidur." Agha mengangguk mengerti.
"Apa itu, Mas?" tanya Riana pura-pura tidak tahu.
"Ini booba yang kemarin Adek minta." Riana tersenyum dan mengusap lembut rambut sang putra yang sudah menjadi remaja tampan.
"Masukin ke lemari pendingin. Nanti juga Adek minum."
Sore pun tiba, kebiasaan Ghea setelah bangun tidur adalah mencari cemilan. Tentunya setelah dia mencuci wajahnya terlebih dahulu. Ghea membuka lemari pendingin dan dilihatnya ada minuman booba yang sangat dia inginkan.
"My," panggil Ghea dari arah dapur bersih. Sang ibu yang tengah berada di dapur kotor pun menghampiri Ghea.
"Ini--"
"Mas yang beliin kamu." Ghea pun terdiam. Dia meletakkan kembali booba tersebut ke dalam lemari pendingin.
"Loh?"
"Gak mood!"
Riana tertawa ketika melihat Ghea kembali ke lantai atas tanpa membawa apapun. Dia melihat bahwa putrinya masih merajuk kepada sang kakak.
Malam menjelang, ayahnya tak kunjung datang. Sudah jam delapan malam. Ghea sudah menunggu ayahnya di ruang keluarga.
"My, Daddy meeting-nya lama gak?" tanya Ghea.
"Kurang tahu, Dek. Daddy belum ngasih kabar lagi."
Sebenarnya Riana pandai dalam hal akademik, tetapi kedua anaknya lebih mempercayai ayahnya ketimbang dirinya. Di mata kedua anaknya ayahnya serba bisa.
Jam sembilan malam Agha baru pulang dari tempat les. Dia mengambil banyak les sehingga memakan waktu cukup lama.
__ADS_1
Dilihatnya sang ibu juga adiknya tertidur di ruang keluarga. Ibunya
tidur di sofa dan Ghea tidur di karpet berbulu. Helaan napas kasar keluar dari mulut Agha. Tak lama, ayahnya pun tiba. Dua laki-laki beda usia itu hanya saling pandang.
"Daddy ada meeting dadakan. Daddy kira, kamu yang bantuin Adek kerjain tugas."
"Adek masih marah sama Mas."
Kalimat yang terdengar sangat lirih di telinga Aksa. Dia pun mengusap lembut pundak sang putra.
"Biar Daddy pindahin Adek dan Mommy."
Agha mengangguk dan berucap, "Mas akan kerjain tugas Adek biar besok gak dihukum." Aksa pun tersenyum. Sungguh luar biasa kasih sayang Agha kepada adiknya.
Agha pun mengerjakan tugas matematika Ghea dengan terus menguap. Ternyata tugasnya cukup banyak dan memakai rumus cukup panjang. Walaupun matanya sudah mengantuk, tetapi dia tetap mengerjakannya hingga selesai.
Jam setengah dua belas malam tugas Ghea selesai. Hembusan napas lega keluar dari mulut Agha.
"Mas, udah malam. Tidur gih, besok kamu telat." Itu adalah perintah yang kelima kali yang Aksa berikan kepadanya. Setiap setengah jam sekali ayahnya selalu turun ke bawah untuk memeriksa dirinya.
"Iya, Dad. Ini baru selesai." Aksa pun tersenyum dan menghampiri putranya yang tengah membereskan alat tulis dan buku milik Ghea.
"Makasih, Mas."
Agha hanya tersenyum seraya menatap sang ayah. "Sudah tugas Mas menjaga Adek. Mas laki-laki, harus menjadi pelindung untuk Adek juga Mommy."
Sungguh Aksa sangat bangga terhadap Agha. Di usianya yang masih terbilang kecil sudah mengerti arti kasih sayang yang sesungguhnya dan mampu melindungi adiknya. Selalu mengalah kepada Ghea.
Pagi pun datang, Ghea merasa tidurnya sangat nyenyak. Namun, dia sedikit terkejut ketika tubuhnya sudah ada di dalam kamar miliknya. Dilihatnya jam di dinding. Jam lima lewat sepuluh menit. Ghea melihat ke arah meja belajarnya. Dia melihat buku bersampul batik dan membuatnya teringat akan sesuatu.
"Tugas!"
Ghea benar-benar panik. Dia segera duduk di belakang meja belajar. Tugasnya belum dia kerjakan. Ketika tangannya membuka buku tugas matematika, dia terhenyak ketika dia melihat lembaran kertas berisi cara pengerjaan dari soal-soal yang diberikan. Mata Ghea berkaca-kaca. Hatinya terenyuh, dengan berlinang air mata dia mengerjakan tugasnya itu. Hingga dia menemukan satu kotak kecil cokelat yang Ghea tahu harganya tidak murah. Hanya ada di supermarket.
Mas bingung dengan cara apa lagi Mas meminta maaf sama kamu? Mungkin dengan cokelat yang paling Adek suka ini bisa membuat Adek memaafkan Mas. Maaf ya, Mas baru bisa beliin Adek cokelat ini karena kemarin-kemarin uang Mas belum cukup. Hihihi. Mas sayang Adek. Jangan ngambek, Mas jadi gak semangat kalau Adek marah.
Mas sayang Adek.
Ghea berlinang air mata membacanya. Dia segera keluar dari kamarnya menuju kamar sang kakak. Pintu dia buka dengan kasar membuat Agha yang tengah merapikan buku pelajaran menoleh. Ghea segera memeluk tubuh Agha dengan terisak.
"Dek."
"Maafin Adek."
...****************...
__ADS_1
Komen dong ...