Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Tidak Mau Kalah


__ADS_3

"I don't like her."


Kalimat yang sangat tegas Aleesa katakan ketika dia sudah duduk di kursi meja makan.


Riana dan Aksa menatap ke arah keponakannya dengan mengulum senyum. Apalagi mereka melihat tatapan kesal dari sorot mata Aleesa kepada Melati. Aleesa adalah anak yang sangat peka.


"Who?" tanya Aksa dengan sengaja.


"Kakak Sa tidak perlu menjelaskan. Don't pretend to don't know."


Riana dan Aksa pun tertawa. Merema mengusap lembut rambut keponakannya. "Jangan cemberut ah, jelek. Mending makan," ucap Riana.


Aleesa menghembuskan napas kasar dan menuruti apa yang dikatakan oleh sang Tante. Ujung matanya masih memandangi Melati dengan sangat tajam.


"Mereka anak siapa, Ndra? Lucu-lucu banget," tanya Eki.


Dia sedikit bingung ketika tiga kurcaci itu memanggil Gio dengan sebutan Aki. Pada nyatanya, putra pertama Gio baru saja menikah dan istrinya baru mengandung anak pertama.


"Mereka anak dari putri sulung saya dan juga Mas Rion," tegas Ayanda.


"Oh, cucu tiri si Andra berarti," ulangnya.


Mata semua orang melebar mendengar ucoaan dokter Eki. Sungguh snagat lemes sekali mulutnya. Terlihat Aksa yang sudah terlihat sangat geram sekali.


"Jaga bicara Anda!" Suara Aksa sudah meninggi.


Keluarga besar mereka tidak ada yang pernah mengatakan hal seperti itu di depan si triplets. Kata 'tiri' itu sangatlah kejam di telinga keluarga Gio. Mereka sangat membenci kata-kata itu. Kata yang sangat haram yang mereka katakan.


"Biarin aja, Uncle. Suka-suka orang itu mau bilang kami apa," sahut Aleena.


Aki dan Mimo dari si triplets sedikit terhenyak mendengarnya. Begitu juga dengan Aksa serta Riana.


"Tuh dengar, mereka aja mengakui kok." Kini, Giolah yang wenatap tajam ke arah Eki. Menandakan dia sangat tidak sudah dengan ucapan yang keluar dari mulutnya.


"Cucu tiri," tambah Aleesa yang tertawa kecil.


"Kami memang cucu tiri Aki. Lalu apa masalahnya?" hardik Aleeya.


"Kami ini adalah anak-anak yang sangat beruntung karena bisa memiliki banyak kakek. Lagi pula, Aki sangat menyayangi kami. Aki bukanlah kakek tiri yang kejam kok," terang Aleena.


"Om yang di sana sirik ya karena gak punya cucu?" sergah Aleesa.


"Apa hidup Om kurang bahagia selalu mengusik kebahagiaan orang lain?" tambah Aleeya. .


Eki benar-benar diskak mat oleh ketiga anak kecil ini. Dia tidak bisa menimpali ucapan mereka lagi.


"Kalian mengerti dengan apa yang dikatakan tadi?" Penasaran, itulah yang Riana rasakan.Ketiga anak itu mengangguk, menjawab pertanyaan dari Tante mereka .

__ADS_1


"Bubu dan Baba sudah menceritakan semuanya kepada kami. Siapa Aki, hubungan Mimo dan Engkong, Opa dan Oma, Bubu dan Baba sudah menceritakan semuanya. Kata Bubu, suatu saat nanti bakalan ada orang lain yang mengatakan hal tersebut. Jadi, kami sudah tidak kaget lagi karena kami sudah tahu alasannya," tutur putri pertama Radit.


Semua orang menatap iba sekaligus bangga kepada mereka bertiga.


"We are okay, no problem everybody."


Riana, Aksa, Gio dan Ayanda terkekeh mendengar ucapan ketiga anak Echa ini. Mereka sangat bangga karena ketiga anak ini mampu memahami kenyataan yang ada. Terlebih kedua orang tuanya yang sangat terbuka kepada mereka.


"Malam semua, maaf saya telat."


Aska baru saja masuk ke ruang makan. Semia orang menoleh. Ada seseorang yang sudah tersenyum hangat ke arahnya. Sontak dahi Asak berkerut. Dia menatap ke arah sang ayah.


"Kenalkan Dek, itu dokter Eki, sahabat Daddy."


Aska pun menjabat tangan Eki dengan senyum yang dipaksakan. "Askara." Dia memperkenalkan dirinya. Namun, tidak kepada Melati.


"Loh, kenapa gak salaman sama Melati?" tanya Gio bingung.


"Udah kenal," jawab singkat Aska.


Aska malah menarik kursi untuk dia duduki. Padahal Melati berharap Aska akan duduk di samping dirinya karena masih ada kursi kosong di sana. Akan tetapi, Aska malah duduk di samping ketiga keponakannya.


"Kenapa dunia ini begitu sempit?" ucap Aska Damanik menyendokkan nasi ke atas piringnya. Melati terkejut mendengar ucapan dari Aska. Aska yang lemah lembut kini berubah menjadi Aska yang ketus. Ada sedikit kecewa di hatinya.


"Pria ini yang kamu ceritakan itu, Mel?" tanya Eki. Melati mengangguk dengan malu-malu.


"Anak gua udah kenal sama anak lu," ucap Eki.


"Lalu?"


"Kenapa gak kita jodohkan saja mereka berdua."


Tidak ada yang terkejut akan ucapan Eki. Mereka seperti sudah tahu maksud dan tujuan Eki itu apa dan arah pembicaraannya ke mana.


"Kenapa orang dewasa itu sangat mudah menjodoh-jodohkan anak-anaknya?" tanya Aleena si anak jenius.


"Kalian pikir, anak kalian itu sapi atau kerbau yang bisa saja nurut karena dicocok hidungnya," ucapnya lagi.


Eki sedikit tersinggung dengan apa yang dikatakan oleh Aleena, bocah berusia enam tahun.


"Kenapa kamu sangat pintar berbicara?" tanya Eki ke arah Aleena. Padahal itu adalah kalimat singgungan.


"Aku sekolah, aku juga senang baca buku juga nonton berita. Makanya aku pandai. Satu lagu, Tuhan memberikan aku mulut gunanya untuk bicara, makanya aku gunakan. Akan tetapi, aku menggunakan mulutku untuk berbicara yang baik-baik," jelasnya.


Jawaban Aleena membuat Eki terdiam, sedangkan Aleena sudah menatap Eki dengan tatapan malas.


"Ini meja makan, bukan ruang diskusi," tukas Aleesa. "Orang tua kok gak mau ngalah sama anak kecil," sindirnya.

__ADS_1


Eki pun terdiam, dia kalah oleh ketiga anak kecil yang merupakan cucu tiri dari Giondra.


Hening dan hanya ada suara dentingan sendok dan piring.


Sedari tadi Aska hanya terdiam, sedangkan Melati mencuri-curi pandang ke arah Aska yang terlihat sangat tampan dengan baju yang dia gunakan.


"Kakak Sa mau nambah lagi?" tanya Riana. Sedari tadi Riana melihat keponakannya menatap Melati dengan sangat sinis.


"Kakak Sa tidak berselera," jawabnya.


Ayanda melihat masih banyak lauk serta nasi di atas piring Aleesa. Ayanda menghela napas kasar.Dia ingin membujuk Aleesa, tapi putra keduanya malah sudah terlebih dahulu menyuapi Aleesa.


"Nanti nasinya nangis kalau gak dimakan," bujuk Aska.


Semua mata kini tertuju pada Aska. Dia sangat kebapak-an. Dia sangat telaten menyuapi keponakannya.


"Sudah cocok kamu punya anak," kata Eki kepada Aska.


"Benarkah?" balas Aska pura-pura terkejut.


"Iya."


Melati sudah mesam-mesem sendiri. Tingkat percaya dirinya sangat luar biasa.


"Baiklah, saya akan membawa calon mantu ke hadapan ibu saya," tuturnya.


"Emangnya udah punya?" Aksa sengaja memancing.


"Punyalah, tapi gua bukan orang yang doyan mempublikasikan hubungan," tutur Aska.


Gio serta Ayanda tahu bahwa putra keduanya ini hanya sedang berdusta. Beginilah cara Aska untuk menolak secara halus ucapan Eki.


"Wah, sayang sekali ya. Padahal Om sudah membawa permata berharga malam ini," ucapnya seraya melihat ke arah sang putri yang sudah tersenyum.


"Permata berharga jika tidak dipoles dengan baik dan benar tidak ada harganya," sindir Ayanda.


Melati terdiam mendengar ucapan Ayanda. Perkataan yang sangat menusuk dan tembus ke ulu hatinya. Tanpa dia duga orang yang dia hina siang tadi adalah ibunda dari Aska, pria yang dia sukai.


"Attitude is number one," balas Aleesa.


"Aki setuju dengan ucapan Kakak Sa." Aleesa pun tersenyum ke arah Gio.


"Gua jamin, lu gak akan nyesel jadiin anak gua mantu lu. Attitude anak gua sangat bagus," timpal Eki.


"Benarkah?"


Suara seseorang yang baru saja datang terdengar.

__ADS_1


__ADS_2