Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Adu Mulut


__ADS_3

Tanpa sepengetahuan Riana, Aksa membeli alat-alat pengecek kehamilan. Dia ingin memastikan bahwa feeling-nya itu benar.


Ketika pagi menjelang, Riana mengerjapkan matanya dan tidak melihat sang suami di tempat tidur. Riana terduduk, lalu mencoba bangun dari tempat tidur untuk mencari suaminya. Senyumnya merekah ketika melihat sang suami tengah menerima telepon di sofa. Riana segera menghampiri suaminya dan memeluk perut Aksa dari samping. Aksa tersenyum dan dia mengecup kening Riana sangat dalam.


"Iya. Ya udah nanti malam Abang segera ke rumah yang Mommy maksud. Abang nunggunya di sana aja, ya."


Riana mendongak mendengar kata Mommy. Ponsel suaminya diletakkan di sampingnya dan kini Aksa memeluk tubuh istrinya.


"Mommy mau ke sini?" Aksa menggeleng.


"Pernikahan Aska dipercepat besok malam."


"Apa?" Aksa menghembuskan napas kasar. Dia juga tidak mengerti dengan jalan pikiran keluarganya. Tidak memikirkan bagaimana perasaan Aska.


"Mau ke mana hari ini?" Aksa tidak ingin membuat istrinya kecewa karena Maslah keluarganya.


"Boleh ke pantai?" Aksa pun tertawa dan membolehkan keinginan Riana yang satu itu.


"Yang, jangan pakai hot pants terus dong," keluh Aksa.


"Pokoknya selama di sini Ri akan membuat mata Abang tertuju pada Ri." Aksa pun tertawa.


"Bukan hanya Abang yang akan melihat kamu, tapi banyak pria juga yang akan melihat keindahan tubuh kamu."


"Yang hanya bisa menikmati tubuh Ri 'kan hanya Abang," bisiknya. Aksa pun terkekeh dan kemudian mencium bibir mungil Riana tiada henti.


Mereka melakukan kegiatan suami-istri di mana pun mereka berada. Mereka seperti pasangan yang baru menikah selalu kuat melakukannya setiap hari dengan penuh gairah juga cinta.


Setelah semuanya selesai, mereka memilih mandi berdua dan di kamar mandi pun melakukan hal serupa. Riana yang biasanya mengeluh tidak kuat, sekarang seperti memiliki semangat lebih.


"Bang, Ri ingin segera memberikan adik untuk Empin." Riana kini tengah berada di pangkuan sang suami.


"Kita 'kan selalu berusaha, Sayang."


Di pantai, Riana terlihat bahagia bisa bermain ombak. Aksa hanya dapat tertawa. Ketika mereka berdua tengah menikmati es kelapa ada seorang pria yang mendekat ke arah mereka.


"Riana!"


Bukan Riana menoleh, tetapi sang suamilah yang menatap tajam ke arah pria itu.


"Makin cantik aja." Aksa sudah terlihat snagat geram, tetapi dia masih terdiam.


Riana segera berpindah tempat, kini dia duduk di pangkuan sang suami yang masih terdiam. Dia menatap ke arah suaminya yang bagai patung bernapas.


"Bang."


Aksa masih terdiam dan pria yang ada di seberangnya menatapnya dengan tajam. Riana merengut kesal dan tanpa Riana duga Aksa menarik tangannya dan bibir mereka pun bertemu. Aksa melhuMat bibir Riana dengan sangat lembut membuat Riana tak kuasa diam. Tangannya pun sudah melingkar di leher Aksara.


Kevin, pria yang masih mengejar Riana hanya dapat menelan salivanya karena melihat adegan dewasa di depan matanya itu. Hingga dia memutuskan untuk pergi dari sana.

__ADS_1


Melihat Kevin sudah pergi, Aksa mengehentikan ciumannya dan kembali bersandar di kursi pantai.


"Ih!"


Riana benar-benar kesal dan Aksa tak menghiraukan.


"Abang!" Riana memukul-mukul perut Aksa.


"Abang kesal!"


Riana pun tersenyum. Dia memeluk tubuh suaminya yang berada di bawahnya.


"Kenapa harus ketemu dia terus?"


Riana tersenyum dan mengecup pipi Aksa dengan lembut.


"Abang gak perlu takut. Ri tidak akan pernah berpaling dari Abang."


Aksa tersenyum mendengarnya dan dia mengecup lembut puncak kepala sang istri.


"Pulang, yuk! Kita nanam benih lagi sebelum musuh kecil Abang datang."


Riana pun tertawa, dia meminta Aksa menggendongnya keluar dari area pantai.


Testpack yang Aksa beli Aksa masukkan ke dalam tas miliknya. Sekarang mereka harus pergi ke rumah yang sudah Ayanda sebutkan. Selama perjalanan, Riana terlihat kelelahan apalagi tanda merah di leher Riana sudah banyak sekali.


"Capek?" Hanya anggukan yang menjadi jawaban. Aksa pun terkekeh.


Ketika malam tiba rombongan dari Jakarta dan Gavin segera memeluk tubuh ayahnya. "Lindu Daddy." Aksa pun tertawa dan mencium gemas pipi Gavin.


"Riana mana?" tanya Ayanda.


"Lagi di kamar mandi."


Riana pun menyambut mereka, malah suara riuh yang terdengar.


"Masya Allah, Aksa ... kenapa kamu ganas amat," omel Kano.


"Ya ampun, Ri. Ini berapa ronde?" tanya Beby.


Riana hanya tersenyum dan Aksa segera menghampiri istrinya agar tak terlihat malu. "Banyaklah, 'kan lagi program bikin adiknya Empin."


"Iyakah?" Semua orang yang tidak mengetahui terkejut.


"Iya don. Atu mu puna adit don."


Padahal udara cukup dingin, tetapi keringat terus bercucuran di tubuh Riana.


"Emang gerah, Yang?" Riana hanya mengangguk. Aksa meletakkan kepala Riana di bahunya dengan tangan yang menggenggam erat tangan Riana. Di pangkuannya ada Gavin Agha Wiguna yang tengah mengoceh bersama Kaza. Mereka semua tengah berbincang santai.

__ADS_1


Kamar di ruang itu sangat banyak sehingga mereka bisa tidur di masing-masing kamar. Riana sudah memeluk erat tubuh Gavin yang kini berada di sampingnya. Aksa tersenyum ketika mendengar pertanyaan dari putranya tadi.


"Daddy, Mash itu apa?"


...


"Talo beditu atu mu dipandil Mash ada nanti Tama Adit atu."


"Selamat tidur Mas Gavin," ucap pelan Aksara setelah mencium kening sang putra.


.


Pagi hari, Aksa memeluk tubuh Diana yang baru saja keluar dari kamar mandi. Dia mengecup pundak Riana yang sangat putih dan wangi.


"Ada Empin, Bang." Riana takut jika Aksa akan minta jatah sarapan pagi.


"Abang tahu, Sayang." Aksa menyerahkan sebuah kantong plastik putih bernamakan sebuah apotek. Riana menoleh ke arah sang suami yang sudah meletakkan dagunya di pundaknya.


"Coba test."


Dada Riana bergemuruh mendengar ucapan Aksa. Dia ragu, dia takut mengecewakan suaminya.


"Kalau negatif juga gak apa-apa." Akan mencoba menenangkan istrinya.


"Kita 'kan udah sering usaha. Sekarang, gak ada salahnya kita mengecek hasilnya." Riana pun mengangguk mengerti. Jika, negatif berarti Tuhan belum mempercayakan kepada mereka.


"Abang tunggu, ya."


Aksa mengangguk mengerti. Dia memilih menemani sang putra tidur lagi.


Selang setengah jam, Riana keluar dari kamar mandi dengan mata yang berkaca-kaca. Dia duduk di samping Aksa yang masih memeluk tubuh putranya.


"Bang." Suara Riana bergetar.


Aksa segera membalikkan tubuhnya dan melihat istrinya sudah bermandikan air mata. "Kamu kenal, Sayang?"


Riana berhambur memeluk tubuh Aksa dengan sepuluh testpack yang dia genggam.


"Gak apa-apa kalau negatif juga. Abang hanya ingin tahu." Ucapan Aksa sangatlah tulus.


Riana mengendurkan pelukannya dan menatap manik mata sang suami. Dia menyerahkan sepuluh testpack di genggamannya dan membuat Aksa tak percaya. Semua rest pack bergaris dua.


"Ini serius?" Riana mengangguk.


Saking bahagianya Aksa menggendong tubuh Riana. "Makasih, Sayang."


Bibir mereka pun bertemu seakan tengah mengucapkan rasa terima kasih yang tak terkira.


"Mommy dan Daddy ladi apa? To adu mulut?" (Mommy dan Daddy lagi apa? Kok adu mulut?)

__ADS_1


...****************...


Jangan bosan ya ....


__ADS_2