Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Bosan Hidup?


__ADS_3

Maaf, update-nya kesorean. 😁


...****************...


Ari mendorong tubuh Fikri dengan sangat keras membuat Fikri mengerang dan mencoba melawan. Niat hati ingin memberikan bogem mentah kepada Ari, tangan Fikri lah yang Ari pelintir hingga dia berteriak kesakitan.


"Jangan pernah memancing! Saya bukan orang baik. Saya tidak akan pernah pandang bulu. Dalam sekejap saja tangan Anda bisa saya patahkan bagai ranting kering." Ucapan dan tatapan Ari sangatlah tajam.


Tak berselang lama, dua orang berpakaian serba hitam mulai memegangi Fikri. Teriakan minta tolong yang Fikri keluarkan tidak dapat didengar oleh mereka yang ada di dalam kosan Riana.


"Lepaskan!"


"Tidak semudah itu Ferguzo!" sentak Ari.


Ari membawa Fikri ke suatu tempat, meninggalkan Aksa, Riana dan Rion. Tugasnya adalah memusnahkan makhluk menyebalkan seperti Fikri ini.


Tibanya di sebuah gudang tua yang jauh dari mana-mana, dua orang itu membawa Fikri dengan sangat kasar. Ari mengikutinya dari belakang. Ternyata di sana sudah ada dua orang berbadan kekar penunggu pintu gudang. Mereka menunduk sopan kepada Ari.


Fikri terperangah ketika sudah melihat Arka di sana, tangannya sudah diikat sama halnya dengan Fikri.


"Papah."


Ari mendorong tubuh Fikri hingga mendekat ke arah Arka. Fikri berlega hati karena Arka tidak kenapa-kenapa. Hanya raut wajah pucat yang nampak jelas.


"Sudah lengkap semua?"


Suara seseorang menggema, mata Fikri melebar ketika dia harus berhadapan dengan siapa kali ini. Seseorang yang menjadi musuh bebuyutannya semenjak di bangku sekolah. Arya Bhaskara dan di belakangnya ada Giondra yang sudah memasang wajah sangat tak bersahabat.


"Ngapain lu di sini?" sentak Fikri pada Arya.


"Mau nonton tutorial masuk ke dalam liang lahat," sahut Arya dengan wajah songongnya.


Dua algojo mendekat ke arah Fikri, membuat Fikri menelan ludahnya karena takut. Apalagi, Arya dan Gio malah duduk di kursi yang telah disiapkan.


"Masih nyimpen dendam lu ke gua?" tanya Arya santai.

__ADS_1


"Dengan teganya lu korbankan anak lu hanya untuk menjatuhkan gua," lanjutnya lagi.


"Ck, ck, ck. Sungguh ayah yang gak ada akhlak," ejek Arya.


"Jaga bicara lu!" bentak Fikri.


Tawa Arya menggelegar. Dia pun bangkit dari duduknya dan menghampiri Fikri dan Arka.


"Masih dendam lu sama gua?" Tangan Arya sudah mencengkeram dagu Fikri. Kilatan kemarahan nampak jelas di matanya. Arya melepaskan dagu Fikri dengan sangat kasar membuat Fikri kesal.


"Fikri Septian, anak pengusaha kaya raya yang selalu sirik kepada si kere dan cupu Arya Bhaskara." Senyum tipis tersungging di wajahnya.


"Bhang Sat! Gak sudi gua sirik sama lu." Fikri mulai meludahi Arya dan membangkitkan amarah yang luar biasa di dalam diri Arya.


Sebuah pukulan keras Arya layangkan tepat di wajah Fikri. Bukan hanya di wajahnya. Perut Fikri pun menjadi sasaran dari Arya.


"Cukup Om!" Arka sedikit berteriak karena tidak tega melihat papahnya dianiaya seperti itu.


"Salah Papah apa?" Arka mulai membuka suara.


"Selama ini gua tahu, lu terus mencari gua karena dendam tak beralasan lu. Sampai lu ketemu Rion dan lu tahu bahwa gua kerja bareng dia. Keberuntungan buat lu juga, bahwa anak lu dan anak Rion sama-sama kenal. Apalagi, istri lu sangat menyukai Riana." Arya menjabarkan semuanya dengan urat-urat kemarahan.


"Gua juga tahu selama beberapa bulan ini lu terus menghasut Rion supaya Rion membenci Aksa. Lu juga gencar banget cuci otak anak lu supaya terus berjuang untuk mendapatkan Riana. Padahal, Riana udah nolak mentah-mentah. Terlalu ambisi lu jadi orang!" Suara Arya sedikit meninggi ketika mengucapakan kalimat akhir.


"Gua tahu rencana busuk lu, gua paham apa isi otak lu. Kalau anak lu jadi sama Riana, pelan-pelan lu akan ikut campur dan memasukkan anak lu ke dalam usaha milik Rion. Kemudian, lu akan memfitnah gua supaya gua dipecat dari sana dan langsung akan tertawa bahagia. Bukan begitu Fikri Septian?"


Mulut Fikri tercekat ketika mendengar penjabaran dari Arya. Rencana yang sudah dia susun sembunyi-sembunyi dan secara matang masih dapat diketahui juga.


"Pada nyatanya, toko itu bukan milik Rion Juanda." Fikri terkejut apalagi tawa mengejek terdengar dari semua orang.


"Anak sulung dari Rion Juanda lah yang memiliki toko itu. Dia lah yang memegang semuanya dan Rion bekerja di bawah titahan putrinya. Sampai sini paham?"


"Dari dulu lu emang bodoh, Fikri. Lu selalu menganggap rendah dan gampang semua orang. Sekarang, lu malah menyerahkan diri ke kandang binatang buas. Dasar otak kerdil," ejeknya.


"Gua ... yang lu anggap manusia kere kini menjelma menjadi anak sultan. Harga diri lu masih bisa gua beli dan gua jadiin keset di depan kamar mandi gua," ucapnya.

__ADS_1


Arya memperlihatkan sebuah video kepada Fikri. Matanya melebar ketika seorang Antonio Bhaskara pengusaha sukses memperkenalkan anaknya kepada piblik yang tak lain adalah Arya Bhaskara.


"Jelas 'kan! Gua bukan orang kere, gua orang tajir yang hanya ingin hidup mandiri karena bosan dengan kemewahan. Sedangkan lu, anak orang kaya yang doyan foya-foya. Semua aset bapak moyang lu aja udah abis lu jual." Puas sekali Arya memaki Fikri.


"Lu tahu 'kan, yang lagi duduk di depan sana itu siapa?" tanya Arya dengan wajah menyebalkannya.


"Dia kakak sepupu gua," bisik Arya. Fikri dikejutkan kembali oleh ucapan Arya.


Gio bangkit dari duduknya. Menghampiri bapak dan anak yang sudah membuat ulah kepada Riana.


"Mau berhenti sampai di sini atau lanjut ke tahapan selanjutnya? Saya bisa melenyapkan siapapun, termasuk ini." Gio memperlihatkan beberapa orang yang sedang menarik paksa Chintya keluar dari rumah.


"Jangan sakiti mamah saya!" seru Arka.


"Jangan sakiti, ya. Kenapa kamu menyakiti Riana?" bentak Gio.


Arka menunduk dalam. Tidak berani dia menegakkan kepalanya.


"Pria yang mengaku cinta kepada seorang wanita tidak akan pernah berbuat hal seperti ini. Memfitnah Riana dengan mulut tak beradab yang kamu miliki." Emosi Gio benar-benar meluap.


"Lawan kamu adalah putra saya. Bukan Riana," tegasnya.


"Selama berjuang mendapatkan Riana, putra saya tidak pernah sedikit pun membuat Riana menangis. Akan tetapi, kamu!" tunjuknya pada Arka. "Dengan sangat mudah kamu membuat Riana meneteskan air mata. Apa itu yang dinamakan cinta?" geramnya lagi.


Kini, Gio beralih pada Fikri. Menatap nyalang ke arah pria yang sudah membangunkan emosinya.


"Dan Anda, Fikri!" tunjuk Gio.


"Saya tidak pernah ikut campur mengenai perjuangan putra saya untuk mendapatkan Riana. Saya membiarkan putra saya untuk berjuang sendiri dan membuktikan cintanya kepada wanita yang di cintai. Padahal, saya bisa saja melamar Riana dengan mudah. Jika ayahnya tidak mengijinkan bisa saja putra saya membawa lari Riana."


"Saya dan putra saya bukanlah orang uang licik. Saya juga tidak pernah menyenggol kalian. Kenapa kalian malah menyenggol kami? Apa kalian sudah bosan hidup?"


...----------------...


Nah lu? Terungkap 'kan.

__ADS_1


__ADS_2