Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Laki-Laki Cengeng


__ADS_3

Aksa pergi ke suatu tempat. Dia melajukan mobilnya menuju apartment yang ditempati Fahri dan juga Fahrani. Kedatangannya tanpa pemberitahuan, membuat Fahri sedikit terkejut.


"Tumben," ujar Fahri.


Jika, di luar kantor Fahri dan Fahrani akan menjelma menjadi sahabat Aksa. Mereka bertiga mendapat bimbingan khusus dari Genta ketika di Singapura. Dididik dengan sangat keras agar memiliki jiwa kepemimpinan tinggi.


"Apa kamu sudah mendapatkan info tentang Rakha?" Fahri mengangguk pelan.


Aksa duduk di sofa sedangkan Fahri mengambil sesuatu ke dalam kamarnya. Dia mengecek ponsel khusus untuk mencari informasi yang diperintahkan oleh bosnya.


Fahri duduk di hadapan Aksa dan menyerahkan ponsel yang di genggam. "Baca sendiri."


Aksa membaca satu per satu laporan dari anak buah Fahri beserta bukti yang tertera di sana. Matanya melebar ketika melihat foto mesra Ziva bersama Rakha.


"Ini!" Aksa menunjukkan foto istrinya bersama sopir barunya.


"Mereka pernah memiliki hubungan. Berakhir sebelum kalian menikah." Sungguh laporan yang mengejutkan untuk Aksa.


"Sedekat apa mereka?" Fahri menukikkan kedua alisnya dan menatap Aksa dengan tatapan penuh selidik.


"Kenapa? Kamu cemburu?"


"Bodoh! Untuk apa aku cemburu," balas Aksa dengan tatapan membunuh.


"Lalu?"


"Aku mendengar percakapan mereka di kamar mandi tadi pagi. Rakha mengatakan akan bertanggung jawab atas anak yang ada di dalam kandungan wanita itu," terang Aksa.


"Ziva hamil?" Aksa mengangguk cepat.


"Anakmu?"


"Tidak tahu." Aksa menyandarkan kepalanya di sandaran sofa.


"Apa sekali berhubungan akan langsung hamil? Sedangkan aku merasa tidak pernah menyentuh Ziva sedikit pun," jelasnya lagi.


"Kamu ragu?" Aksa mengangguk lagi.


Fahri bangkit dari duduknya, dia duduk di samping Aksa dan membisikkan sesuatu. Aksa mendengarkan dengan seksama. Kemudian, lengkungan senyum hadir di bibirnya. Menambah ketampanan Aksa berkali-kali lipat meskipun dia belum membersihkan tubuhnya.


"Good idea," ujarnya sambil menunjukkan dua jempol ke arah Fahri.


Aksa bangkit dari duduknya dan melonggarkan dasinya. "Berbagi tempat tidur malam ini denganku," imbuhnya.


"Kebiasaan," sungut Fahri dan dibalas tertawa renyah oleh Aksa.


Fahri hanya menggelengkan kepala. Tanpa Aksa berbicara pun dia sudah tahu semuanya dari adik kembar Aksa. Sebelum Aksa menyuruhnya mencari tahu, Aska terlebih dahulu menyuruh Fahri untuk mencari tahu Rakha. Jadi, Fahri tidak perlu susah payah lagi. Tinggal melihat hasil dari laporan sebelumnya saja.


****


Singapura.

__ADS_1


Aska tidak sanggup untuk menghampiri kakeknya. Tubuhnya seperti tidak bertulang. Salah seorang dokter membantunya berdiri.


"Kita harus segera memakamkannya," ujar dokter Christ.


"Tapi, keluarga Kakek ...."


"Mereka bisa menyusul," potong dokter Christ.


Otak Aska tidak mampu berpikir, dia masih larut dalam kesedihan. Apalagi dia mendengar, jika dokter Christ sudah memerintahkan para pengawal Genta yang berada di depan kamar perawatan untuk pergi ke pemakaman.


"Kakek," lirih Aska.


Brankar yang berisi tubuh Genta pun didorong oleh beberapa perawat menuju mobil ambulance yang sudah menunggu mereka di bawah. Dokter Christ memapah tubuh Aska yang lemah. Sorot mata Aska menyiratkan kesedihan yang mendalam.


Bagaimana dengan Daddy? Apa Daddy akan kuat menerima kepergian Kakek? Aku saja pun tidak sanggup.


Tubuh Genta segera dimasukkan ke dalam ambulance dan akan dibawa ke rumah duka. Aska disuruh untuk menemani sang kakek di ambulance. Sepanjang perjalanan air mata Aska tak kunjung reda. Beban yang dia pikul saat ini semakin berat. Apalagi surat wasiat yang belum menemukan titik terang.


"Kek, jangan tinggalkan Adek." Aska menangis layaknya anak kecil.


Tibanya di rumah duka, ternyata di sana sudah ada kedua orang tuanya, Kano, Beby, serta keluarganya yang lain. Semuanya sudah berkumpul. Tangis haru terdengar memilukan ketika jenazah itu diturunkan dari ambulance.


"Jangan tinggalkan kami," lirih semua anggota keluarga. Tak ada satu pun yang tidak menangis di sana.


Duka yang mendalam ditinggalkan oleh orang terkasih dan tercinta menyelimuti keluar Giondra saat ini. Hanya wajah sedih yang mereka perlihatkan karena kehilangan sosok yang mereka sayangi.


Tidak lama jenazah disemayamkan di rumah duka. Kemudian, dimandikan dan dikafani di ruang yang tertutup. Khusus hanya keluarga yang bisa melihat. Para pengawal Genta dari berbagai negara sudah berjaga.


Mobil ambulance pun melaju dengan membawa jenazah. Diiringi beberapa mobil mewah di belakangnya yang berisi anggota keluarga.


Jangan pernah bermain-main denganku.


Jenazah pun mulai dimasukkan ke liang lahat. Isak tangis kembalinya dengar. Sedangkan mata Aska terus tertuju pada seorang pengawal yang sedang berbahagia.


Brandon.


Prosesi pemakaman telah usai. Tanpa ada nisan bertuliskan nama di sana. Hanya dua bilah papan kosong yang ditancapkan.


Semua pengawal berbaris di depan makam dengan menunduk dalam seraya berdoa. Tidak dengan satu pengawal, dia terus menyunggingkan senyum tipis.


Keluarga baru pergi meninggalkan makam setelah semuanya pergi, yang masih berada di sana hanya beberapa ketua pengawal dari berbagai negara.


"Yang tenang ya, Papa." Kano berucap seraya mengusap kayu nisan tersebut.


"Papa sudah sehat sekarang. Papa bisa bertemu Mama di surga," lirih Beby.


"Maafkan Gi, Paman. Belum bisa membahagiakan Paman," tambah Gio.


Di sebuah hunian sederhana jauh dari Kota. Seorang pria paruh baya sedang duduk bersama seseorang yang masih memakai perban di kepala.


"Apa menurut Anda, Brandon tidak akan curiga?"

__ADS_1


"Brandon adalah manusia yang mudah untuk dicuci otaknya. Bisa dibilang dia itu pengawalku yang bodoh, berotak udang," jawabnya.


"Kakek," seru Aska dan segera berhambur memeluk tubuh Genta.


"Laki-laki cengeng," cibir Genta seraya tertawa. Aska hanya merengut kesal layaknya anak kecil.


Tiga jam yang lalu ...


Aska menangis tersedu layaknya anak kecil di samping jenazah Genta. Kata-kata lirih terdengar dari mulutnya membuat si jenazah palsu itu bangkit dari kematian bohongan.


"Berisik!"


"Laki-laki kok cengeng."


Seketika Isak tangis itu berhenti, berganti dengan rasa takut yang menyelimuti hatinya.


"Su-suara Kakek," gumam Aska.


"Itu memang suaraku."


"Gak mungkin. Kakek sudah meninggal," imbuh Aska.


"Ciluk ... Ba ..."


"Arrgghh!" teriak Aska. Teriakan Aska mampu memekik gendang telinga. Membuat sang sopir ambulance menginjak rem dadakan hingga tubuh Aska tersungkur ke atas tubuh sang kakek.


"Berat Aska," pekik Genta.


Aska segera bangkit dari tubuh Genta. Dia menatap lekat wajah sang kakek yang terlihat segar. Seperti orang yang tidak sakit.


"Ka-kakek bukannya udah mati?" Tangan Genta memukul belakang kepala Aska hingga dia mengaduh.


"Sontoloyo, kamu lihatnya gimana? Mendadak bodoh," sungut Genta.


"Ja-jadi Kakek masih hidup?" Genta mengangguk. Pelukan pun Aska berikan kepada sang kakek.


"Makasih, Kek. Adek tidak tahu harus melakukan apalagi jika Kakek benar-benar meninggalkan kami semua," lirih Aska.


"Kakek akan berusaha tetap sehat agar bisa menyaksikan cucu-cucu Kakek menikah."


Aska tersenyum kecut mendengar kata menikah. Dia teringat akan surat wasiat.


"Kek, apa surat wa ...."


"Akan Kakek tunjukkan surat aslinya kepada kamu setelah pemakaman Winarya selesai."


...****************...


Masih bilang cerita ini kek ikan terbang? 🤧


Silahkan mampir ke apk K B M Dan J O Y L A D A. Di sana banyak kisah layaknya ikan terbang. Tapi, pembaca enjoy-enjoy aja. Kisah ini dari mana ikan terbangnya coba? 🤧

__ADS_1


Sesekali main ke tempat yang agak jauh deh, yang sedikit rada mahal ke apk berbayar. Biar kalian tahu dan bisa merasakan jadi pembaca itu tidak mudah dan membaca novel kesukaan kalian pun harus berkorban dulu, harus membeli koin setiap kali buka bab terbaru. Sedangkan di sini? Udah gratis hanya bermodal kuota masih aja jarinya gak bisa menghargai kerja keras penulis yang dibayar hanya perakan rupiah per satu pembaca. 🤧 Itu pun jika karyanya sudah kontrak, sedangkan kisah ini belum aku kontrak. Jadi, gak dapat apa-apa. Cuma dapat komenan menyakitkan doang. 🤧😪


Suka like dan komen gak suka lebih baik diam.


__ADS_2