
Kebahagiaan nampak jelas di wajah Riana. Dia sangat menikmati kebersamaan bersama sang pujaan hati. Manisnya perlakuan Aksa lebih dari biang gula. Semua yang Aksa lakukan tidak pernah Riana duga.
Tangan mereka terus bertaut selama berada di udara. Menggenggam satu sama lain seakan tidak ingin saling melepaskan. Tidak ada ucapan apapun. Mereka terus menikmati waktu berdua dengan melempar senyum dan cium.
Satu jam sepuluh menit waktu yang terasa sangat singkat bagi duo sejoli yang sedang dimabuk cinta ini. Sekarang, pesawat yang mereka tumpangi sudah landing di Bandara Adisutjipto, Yogyakarta. Riana terus mengukir senyum ketika Aksa tak melepaskan gandengan tangannya hingga pintu keluar.
"Abang mau antar, Ri?" Pertanyaan yang terlontar dengan senyuman yang manis dari bibir mungil Riana.
"Tidak." Sungguh jawaban yang tidak Riana harapan, dan sukses membuat senyum Riana pudar.
Aksa tidak melanjutkan pembicaraannya lagi karena smmimik wajah Riana yang telah berubah. Dia membawa Riana ke sebuah restoran cepat saji. Duduk di hadapan Riana sambil menatap manik mata sendunya. Aksa meraih tangan Riana. Mengusapnya sangat lembut.
"Maaf, Abang sedang banyak pekerjaan," terang Aksa.
Mulut Riana masih terbungkam. Hatinya sedang kecewa. Ternyata harapannya harus sirna sekarang.
"Ketika Abang ada waktu luang. Abang akan menemui kamu," ujarnya yang masih menggenggam erat tangan wanita pujaannya.
"Ri sudah tidak tinggal di tempat itu lagi," lirihnya. Dia tak kuasa menatap manik mata Aksa. Pasti akan ada air mata yang terjatuh. Hatinya sungguh sangat rapuh.
Aksa berpindah tempat, kini dia duduk tepat di samping Riana. Merangkul pundak kekasihnya dan meletakkan kepala Riana di bahunya.
"Ke mana pun kamu pergi, pasti akan Abang temui." Sebuah ucapan bagai janji yang keluar dari mulut Aksa.
Tangan Riana mulai melingkar di pinggang Aksa. Membenamkan wajahnya di dada bidang Aksa. Hati Aksa mulai goyah. Namun, dia teringat akan tujuan awalnya.
"Bersabar dulu, ya. Suatu saat Abang akan hadir tanpa kamu duga." Riana mendongak dan menatap ke arah Aksa.
"Seperti di pesawat?"
Aksa menggeleng seraya tersenyum. "Lebih dari itu," tukasnya.
Riana hanya menghela napas kasar dan kembali membenamkan wajahnya di dada bidang Aksara. Tempat ternyaman selain dada bidang sang ayah.
"Kenapa waktu seakan tidak berpihak pada hubungan kita? Kenapa harus ada kata menunggu?" ucap Riana pelan.
__ADS_1
Aksa menangkup wajah Riana. Menatap lekat manik mata cantik itu.
"Menunggu memang sesuatu yang membosankan. Di balik rasa bosan itu pasti terselip rasa rindu yang menggebu. Rasa ingin memiliki lebih dalam lagi dan rasa tak ingin berpisah yang lebih kuat lagi dari sebelumnya. Lelah pasti akan kita rasakan, tetapi inilah cara kita untuk berjuang. Mau 'kan sama-sama berjuang?" Riana mengangguk pelan dengan seulas senyum.
Teman dari sang kakak ternyata terlambat menjemput Riana. Untung saja ada Aksa yang rela menemaninya. Padahal jadwal Aksa hari ini sangat padat.
Ketika Aksa menikmati makanannya, Riana tak mau melepaskan pelukannya. Sungguh membuat Aksa ingin segera menghalalkannya. Mengunci Riana di dalam kamar.
"Makan dulu." Riana menggeleng.
"Nanti kamu sakit loh," kata Aksa.
"Biarin, biar Abang jengukin." Aksa pun tertawa keras mendengar ucapan Riana.
"Jangan lukai diri kamu sendiri, Sayang. Belum tentu Abang bisa jenguk kamu."
Mendengar ucapan Aksa membuat Riana mengerucutkan bibirnya. Masih melekat sisi menyebalkan Aksa yang dia kenal.
"Sekarang makan, ya. Abang gak mau kamu sakit," ujar Aksa.
Mereka menikmati makan dalam diam. Lima menit berselang mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing.
"Abang akan sangat sibuk. Jadwal Abang sudah sangat padat. Tidak ada yang bisa dicancel. Pulang ke Jakarta pun mungkin akan jarang atau tidak akan pulang dulu hingga pekerjaan Abang selesai," terangnya.
"Sesibuk itu kah? Sampai meluangkan waktu mengirim pesan kepada Ri pun tidak bisa?" Mata Riana sudah berkaca-kaca.
"Maaf." Hanya kata itu yang bisa Aksa ucapkan.
Kini, Riana menunduk dalam. Kenapa Aksa harus bersikap manis dan romantis jika akhirnya harus seperti ini. Jangankan bertemu, berkirim pesan tentang kabar pun sudah dipastikan akan sulit.
"Ke Kota mana Abang dikirim oleh Kakek?" tanya Riana penasaran dengan suara berat.
"Masih di pulau Jawa," jawab Aksa.
Pulau Jawa 'kan luas. Tolong kasih tahu spesifikasi Kotanya. Aku juga perlu tahu atas dirimu.
__ADS_1
Ingun sekali Riana melupakan isi hatinya itu. Namun, dia tidak ingin egois. Mencoba mengerti mungkin lebih baik.
Mulut Riana masih tertutup rapat, menandakan dia masih merajuk. Dia bagai orang bisu hingga seorang wanita menghubunginya dan telah menunggunya di depan Bandara. Aksa masih mendampingi Riana memastikan wanita yang dia sayangi dijemput oleh orang yang tepat.
"Mbak Rani?" Wanita itu pun mengangguk.
"Maaf saya telat. Ayo, ikut dengan saya." Rani mempersilahkan Riana untuk masuk ke dalam mobil yang dia bawa.
"Ri, pergi," ketusnya pada Aksa. Tanpa mau menoleh sedikit pun pada pria yang telah melambungkannya, tetapi dalam sekejap menjatuhkannya ke bagian bumi terdalam.
Riana yang hendak pergi begitu saja dicekal oleh Aksa. Dia menarik tangan Riana agar masuk ke dalam pelukannya.
"Ayo kita berjuang, Ri!" ucap pelan Aksa di telinga Riana.
"Bantu Abang untuk memperjuangkan cinta kita. Bukankah lebih mudah menghadapi apapun ketika kita berjuang bersama-sama?" Riana melonggarkan pelukannya. Menatap manik mata Aksa yang memancarkan keseriusan.
"Berjuang sendiri itu melelahkan, Ri. Bagai menapaki anak tangga dengan hanya satu kaki. Tertatih, terluka dan berdarah-darah. Namun, berujung sia-sia ketika bukan Abang yang lebih dulu mendapatkan kamu."
"Bantu Abang untuk berjuang," pinta Aksa. Riana pun mengangguk pelan dan memeluk tubuh Aksa untuk kesekian kalinya.
"Jaga diri Abang baik-baik. Tetap jaga hati Abang," pinta Riana dengan sorot mata penuh permohonan.
"Tentu, Sayang. Tentu."
Aksa mengecup kening Riana sangat dalam dan lama. Tak peduli di mana mereka berada sekarang.
"Jaga diri kamu, buktikan jika kamu bisa lulus dengan nilai yang terbaik." Riana tersenyum dan mengangguk mantab.
Aksa membuka jaket hitam yang dia kenakan. Dia pasangkan pada tubuh Riana.
"Jika, kamu rindu dengan Abang. Pakailah jaket ini. Jaket baru yang sengaja Abang beli dan Abang pakai khusus untuk hari ini. Khusus untuk menemani kamu meskipun hanya sebentar. Simpanlah, wangi parfum yang melekat pada jaket ini akan sedikit mengobati rasa rindu yang kamu miliki."
Riana tersenyum mendengar ucapan Aksa. Dia mulai berjinjit, bibirnya kemudian menyentuh kening Aksa. Meninggalkan kehangatan yang tidak akan pernah bisa Aksa lupakan.
"I love you, Aksara."
__ADS_1
...----------------...
Komen lebih dari 70 up lagi nih, sambil kita malam mingguan ...😁