Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Testpack


__ADS_3

Aska tidak habis pikir dengan keinginan kakak iparnya yang satu ini. Mana ada nasi Padang yang buka dini hari begini?


"Jangan bercanda, Riana! Ini udah mau pagi," geram Aska.


Mata Riana berkaca-kaca mendengar ucapan Aska. Asal menghela napas kasar dan mengacak-acak rambutnya dengan kasar.


"Ya Allah ... dosa dan salah apa aku ini?" erangnya.


Aska dengan sangat terpaksa mengambil kunci mobil di atas nakas. Dia menatap tajam ke arah Riana ketika Riana hendak ikut.


"Diam di sini! Laki lu bakal mencak-mencak kalau tahu lu keluyuran tengah malam," sergahnya.


Riana mengangguk mengerti dan masuk ke kamarnya. Tangannya sudah memegang gagang pintu. Namun, dia berbalik kembali.


"Kak, pakai rendang, ayam bakar, tunjang, daging cincang, sama usus ya." Mata Riana berbinar ketika menyebutkan satu per satu makanan yang dia inginkan. Aska hanya menatapnya jengah.


"Duitnya?" Tangan Aska sudah menengadah. Riana tersenyum dan memberikan uang kertas berwarna merah lima lembar.


Selepas kepergian Aska, Riana ke arah dapur. Dia mencari makanan untuk mengganjal perutnya. Mata Riana berbinar ketika di dalam lemari pendingin ada es krim yang sedang viral. Bukannya satu potong dia ambil. Melainkan satu boks. Dia tidak memakannya di dapur, melainkan di kamar sambil menonton drama Korea.


Aska seperti orang tak waras. Memutari Jakarta hanya demi mencari kedai nasi Padang yang masih buka. Aska berkali-kali menguap. Sudah dua jam dia berkeliling, tetapi semuanya tutup. Mencari di aplikasi pencarian pun tidak ada.


"Tuh anak ngerjain gua nih," gerutunya.


Jam empat pagi Aska kembali dengan raut wajah yang sangat mengantuk. Dia tidak membawa hasil apapun. Dia ketika pintu kamar Riana, Riana menyambutnya dengan bahagia. Namun, Aska menggelengkan kepalanya. Wajah bahagia itu kembali murung.


"Besok aja, ya. Kakak janji beliin semuanya yang kamu mau. Makan di tempatnya juga boleh," bujuk Aska.


"Ri, inginnya sekarang." Riana sudah terisak sekarang.


Aska dibuat bingung dengan sikap aneh kakak iparnya ini. Sekarang, Riana malah menangis. Tidak ada jalan yang lain. Dia harus menghubungi abangnya.


"Kenapa lu video call pagi-pagi?" sergah Aksa. Di sana sudah menunjukkan pukul delapan.


Aska mengarahkan kamera ponselnya ke arah Riana. Sontak mata Aksa melebar.


"Sayang, kenapa nangis?"


Aska menyerahkan ponselnya kepada Riana. Dia memilih pergi karena matanya sudah sangat mengantuk. Biarkanlah ponselnya bersama Riana dulu.


Banyak hal yang Aksa bicarakan kepada Riana. Apalagi tentang kerinduannya. Namun, dia harus menunggu seminggu lagi untuk bertemu dengan Riana.


"Bang, jangan nakal ya. Pasti di sana banyak perempuan yang lebih cantik dari istri Abang yang menggendut ini," tuturnya. Aksa malah tergelak.


"Kata siapa kamu gendut?"


"Aleesa."


Lagi-lagi Aksa terbahak-bahak. Apalagi melihat istrinya yang memasang wajah merengut seperti itu.


"Gendut dari mananya coba, Yang?" tanya Aksa.


"Perut sama sumber asi Ri katanya," jawab Riana.


"Wah, bagus dong. Abang jadi gak sabar ingin mendaki gunung yang semakin membesar," kelakarnya.


"Abang!" seru Riana.


Aksa malah tertawa terbahak-bahak. Mood-nya pagi ini sangat baik karena melihat wajah sang istri.


"Ya udah, ya. Abang mau ke kantor dulu. Kamu tidur lagi. Nanti siang baru nyari nasi Padangnya. Kasihan Aska." Riana mengangguk patuh.


Setelah sambungan video terputus, Riana meletakkan ponsel milik Aska. Dia melihat jam sudah jam lima pagi. Mencoba merebahkan tubuhnya lagi. Selang setengah jam, perutnya terasa diaduk-aduk.


Riana segera bangkit dari tempat tidur dan memuntahkan apa yang dia makan semalam.


"Huek! Huek!"


Setelah dirasa semuanya sudah keluar. Riana mengelap bibirnya. Dia kembali ke tempat tidur dan menatap ke arah es krim yang masih ada di atas nakas.


"Apa karena es krim itu?" tanya Riana.


Dia menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. Rasa mual itu masih ada. Kepalanya juga sedikit berdenyut. Dia mengoleskan minyak kayu putih ke bagian perut serta dadanya. Juga ke pelipisnya dan mengurutnya dengan pelan.

__ADS_1


Namun, perutnya kembali diaduk-aduk. Dia kembali ke kamar mandi dan menumpahkan isi perutnya lagi. Untuk kali ini, dia sudah sangat tidak tahan. Dia memilih untuk duduk di kloset karena rasa lemasnya.


"Apa perut kosong terus makan es krim, ya?" tanyanya pada diri sendiri.


Setelah dirasa enakan, Riana memilih untuk turun ke lantai bawah. Dia menuju dapur untuk meminta dibuatkan teh manis hangat. Baru saja masuk ke dapur, mencium aroma masakan membuat perut Riana semakin mual. Dia berlari ke kamar mandi dapur dan memuntahkan semuanya. Pelayan yang melihatnya, segera menghampiri Riana.


"Non, kenapa?" tanya pelayan.


"Tolong buatkan saya teh manis hangat, ya. Terus ...."


"Huek!"


Pelayan itu sedikit panik, dia segera menjauhi Riana dan berlari ke kamar Ayanda. Tangannya terus mengetuk pintu kamar sang majikan. Ayanda yang baru selesai mandi pun sedikit terkejut dengan pelayan yang sudah ada di hadapannya.


"Ada apa?" tanya Ayanda.


"Non Ri ... muntah-muntah."


Mata Ayanda melebar, dia segera berlari menuju dapur. Dilihatnya sang menantu sudah dipapah oleh kedua pelayan di sana.


"Riana," panggil Ayanda.


Wajah Riana sudah sangat pucat. Tubuhnya sudah sangat lemah.


"Bawa ke kamarnya," titah Ayanda.


Sesampainya di kamar, Ayanda memijat lembut tangan Riana.


"Kamu kenapa, Ri?" tanya Ayanda.


"Perut Ri mual, Mom. Mungkin karena tadi ngabisin es krim itu," tunjuknya ke arah nakas.


Ayanda menggelengkan kepala melihat satu kotak es krim habis.


"Ya udah, kamu istirahat ya. Mommy buatkan sop kaki sapi mau?" Riana mengangguk saja. Toh, perutnya masih terasa diaduk-aduk.


Riana memilih untuk menutup matanya. Tubuhnya sangatlah lemah tak berdaya. Jam delapan, Ayanda sudah membawakan sop untuk Riana. Namun, menantunya tidak ada di kamar. Terdengar ada suara percikan air di dalam kamar mandi.


Dia meletakkan nampan berisi nasi serta sop serta pelengkapnya yang lain di atas meja. Namun, dia melihat ada ponsel Aska di sana. Pikiran Ayanda sudah berkelana. Dia segera menuju kamar sang putra yang tidak ikut sarapan. Dipukulnya tubuh Aska yang tengah tertidur.


Aska tahu betul bagaimana rasanya pukulan sang ibu tercinta.


"Kenapa ponsel kamu ada di kamar Riana?" tanya Ayanda.


"Jam satu malam ... menantu Mommy ketuk pintu kamar Adek. Dia ingin nasi Padang."


Ayanda sedikit terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Aska.


"Adek terpaksa keluar nyari rumah makan Padang yang masih buka jam segitu. Dari pada menantu Mommy itu menangis tengah malam," tuturnya seraya masih terpejam.


"Terus dapat?"


"Ya enggaklah, Mom," jawab Aska.


"Payah!"


Mendengar jawaban balasan dari sang ibu membuat mata Aska yang masih terpejam malah terbuka lebar. Ibunya sudah meletakkan ponselnya dengan sang keras di atas nakas. Kemudian, melenggang begitu saja meninggalakan Riana.


"Yang anaknya gua apa Riana sih?" Aska mendengkus kelas. Dia memilih melanjutkan mimpinya yang terjeda.


Ayanda kembali masuk ke kamar Riana.


"Huek!"


Dia segera menuju kamar mandi. Dilihatnya sang menantu tengah mengeluarkan apa yang dimakannya.


"Sayang, kita ke dokter, ya." Riana menggeleng.


"Mommy, khawatir," terangnya.


"Ri, gak apa-apa kok, Mom."


Riana sudah mencuci mulutnya. Dia dituntun oleh Ayanda untuk keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


"Kamu belum makan?" tanya Ayanda.


"Ri, nyium aromanya saja enek, Mom."


Ayanda segera menyingkirkan Soo kaki sapi yang dia buat. Kemudian, dia membawa buah-buahan yang berisikan jeruk Sunkist dan juga mangga potong.


Wajah Riana kembali berbinar. Dia tersenyum bahagia melihat dua buah itu.


"Ri, makan ya, Mom." Ayanda mengangguk cepat.


"Ya Tuhan, semoga dugaanku benar."


Di lain Negara, Aksa tengah berada di satu mall besar. Dia telah mengadakan meeting di sana dan sekarang hendak makan siang. Dia tersenyum melihat ke arah anak bayi sekitaran enam bulan. Sangat lucu dan bermata indah.


"Anda kenapa, Pak?" tanya Peter.


Aksa menggeleng dan kemudian melanjutkan makannya. Beberapa hari ini dia selalu membayangkan jika istrinya hamil, seperti pelipur rindu untuknya.


"Abang ingin melihat kamu ngidam dan merasakan memenuhi kemauan kamu seperti suami pada umumnya," batinnya.


Di saat pernikahan masih seumur jagung dan masih ingin berduaan dengan sang istri, berbeda halnya dengan Aksa yang menginginkan segera memiliki momongan. Bukan tanpa alasan, dia ingin istrinya tidak kesepian. Hubungan seperti ini akan berlangsung cukup lama sampai perusahaan Aksa benar-benar dikatakan berdiri tegak.


Aksa sangat yakin, kehadiran anaknya mampu mengubah semuanya. Semakin bahagia itulah yang akan Aksa rasakan.


Hari demi hari Aksa lalui dengan kerja keras dan sedikit istirahat. Dia ingin segera kembali ke Indonesia. Hari ini adalah hari terakhir dia di Melbourne. Hanya tinggal beberapa pekerjaan saja dan dia akan kembali Jakarta. Bertemu dengan istri tercinta.


Beda halnya yang dialami Askara di Jakarta. Setiap malam selalu saja ada hal aneh yang diminta Riana. Itu selalu jam satu malam. Dari bubur kacang hijau tanpa kacang hijau, sate tanpa tusukan serta Nasi kucing tanpa nasi. Aska benar-benar kewalahan. Pernah sekali dia menolak dan membentak. Riana menangis dan melapor kepada sang Baginda raja. Alhasil, ATM yang Aksa berikan dibekukan.


"Atuhlah, Bang," rengek Aska melalui sambungan telepon.


"Tinggal turutin aja apa susahnya sih? Lu gua bayar mahal!" sentak Aksa.


"Iya, Bang. Iya,"balas Aska.


"Lu butuh uang 1M 'kan? Jaga Riana dulu!"


Sebenarnya ada alasan kenapa Aska mau menjaga Riana sepenuh hati. Itu karena dia tengah membutuhkan uang cukup banyak. Itu juga yang menjadi alasan kenapa Aska tidak menjemput Jingga di Jogja. Malah memilih menjaga kakak iparnya.


Setiap tindakan Aska, pasti memiliki alasan yang jelas. Aska akan memperhitungkan secara matang apa yang akan dia lakukan. Jingga pun masih aman di dalam pengawasa menghargai dan mengerti di antara kakak beradik ini sangatlah kuat. Mereka seolah tahu batasan,meskipun mereka kembar, mereka memiliki privasi masing-masing.


"Iya, Bang. Buka blokirannya dulu lah ATM lu-nya."


Terdengar dengkusan kecil dari mulut Aksa.


"Udah, sekarang lu cek, tapi jaga Riana dengan baik. Apapun yang dia inginkan turuti. Gaji lu itu besar banget itu. Seminggu seratus juta," oceh Aksa.


"Iya, Baginda raja."


Kedua anak kembar ini tidak bisa saling terpisahkan dan saling membutuhkan satu sama lain. Aska dan Aksa sama-sama tidak enak hati jika meminta bantuan kepada orang tua atau kakak mereka. Mereka akan mengandalkan kembaran mereka dalam hal apapun.


Setiap pagi Riana pasti akan muntah-muntah, dia merahasiakannya dari sang suami karena dia tidak ingin Aksa khawatir, sedangkan Ayanda tengah asyik mencari artikel tentang sakit yang diderita menantunya.


"Morning sickness," gumamnya. Matanya masih terfokus pada kata demi kata yang ada pada artikel tersebut. Dia mencoba memahami semuanya dan lengkungan senyum pun terukir di wajahnya.


"Sama persis seperti yang dialami oleh Riana," ucapnya.


Maklum saja, ketika kehamilan awal Echa dia sama sekali tidak tahu bagaimana Echa menghadapi ngidamnya. Echa berada di London mengikuti suaminya. Echa juga terus menutupi apa yang dia rasakan karena dia tidak ingin membuat keluarganya khawatir.


Ayanda masuk ke dalam kamar sang menantu yang tengah bersandar di kepala ranjang. Posisi itulah yang membuat Riana nyaman dengan dua pelayan yang memijat kaki dan tangannya yang terasa pegal. Setiap hari harus ada pelayan yang memijat Riana. Nasi dan segala macamnya tak masuk ke dalam perut Riana untuk pagi sampai sore hari. Dia hanya bisa memakan buah-buahan yang sedikit masam.


"Mom, Ri ingin buah nanas," pinta Riana.


Dengan cepat Ayanda menggeleng. Dia menghampiri sang menantu kesayangan ketika melihat wajahnya mulai sendu.


"Jangan ya, Nak. Ganti buah yang lain saja," bujuk Ayanda.


"Kenapa gak boleh, Mom?"


Ayanda bingung menjelaskannya. Dia tidak ingin memberikan harapan yang besar kepada menantunya. Akan tetapi, dia juga penasaran dengan feeling-nya sebagai seorang ibu. Riana memang tidak mau dibawa ke dokter ataupun disayangkan dokter ke rumahnya. Dia ingin memeriksakan tubuhnya hanya dengan suaminya.


"Gak boleh, Sayang. Nanti mag kamu akan lebih parah," jawab Ayanda.


Di kantor, Giondra mengerutkan dahi ketika membaca isi pesan dari sang istri.

__ADS_1


"Daddy, tolong belikan testpack dari semua merk. Dari merk yang biasa hingga merk paling bagus. Dari harga yang paling murah, hingga paling mahal."


__ADS_2