Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Kebaikan


__ADS_3

Aska terus menikmati waktu bersama para sahabat serta keluarganya. Hanya kehangatan yang dia rasakan. Candaan, gelak tawa akan menjadi kenangan yang manis untuk dikenang. Apalagi kedatangan kakak juga Abang iparnya yang semakin meriuhkan suasana.


Aska memeluk tubuh Echa dengan sangat erat seperti Aksa ketika hendak pergi ke Aussie. Echa merasa ada yang janggal dengan sikap Askara.


"Dek," panggil Echa. Aska hanya tersenyum seraya mendongakkan kepalanya.


"Ijinkan seperti ini dulu, sebentar saja."


Ada kekhawatiran yang Echa rasakan. Perasaannya sudah tidak enak seperti akan terjadi sesuatu. Echa membiarkannya saja, begitu juga dengan Radit. Biasanya Radit akan menjelma menjadi manusia yang posesif, tapi kali ini tidak. Ada sesuatu yang telah Radit ketahui yang belum diketahui oleh keluarganya. Mulut pria akan lebih tertutup dibandingkan dengan mulut wanita ketika mengetahui kabar berita.


Di apartment Aksa, ketiga anak Echa masih sibuk menikmati makanan yang dibuatkan oleh sang nenek. Aleesa, anak kedua dari Radit dan Echa merasa hatinya bergejolak tak karuhan. Ada perasaan yang tak menentu.


"Mimo, kenapa dengan Om Aska?" tanya Aleesa yang tidak tahan dengan perasaannya.


Dahi Ayanda mengkerut, dia menghentikan memotong sayuran ketika cucu keduanya bertanya. "Memangnya kenapa Kakak Sa?" tanya balik Ayanda.


Aleesa menggeleng, dia mendudukkan bokongnya di atas kursi. Menahan dagunya dengan dua tangannya.


"Kakak Sa keingat Om terus. Jika, sudah seperti itu pasti akan ...."


Aleesa tidak melanjutkan ucapannya. Dia malah merebahkan kepalanya di atas meja makan.


"Kakak Sa masih ingat perkataan Baba 'kan. Kakak Sa bukan Tuhan yang tahu akan segalanya," imbuh Ayanda seraya menghampiri cucunya. Dia pun tersenyum ke arah Aleesa.


"I know, tapi ...."


"Akan ada perpisahan dadakan dan bermandikan air mata."


Suara Iyan menggema membuat Aleesa serta Ayanda menoleh. Anak yang selalu membawa gadget di tangannya itu ikut mendudukkan tubuhnya di atas kursi. Ayanda menatap lekat putra dari mantan suaminya tersebut.


"Apa maksud kamu, Yan?" tanya Ayanda penasaran.


"Pesawat ... benua lain." Jawaban Iyan seperti teka-teki yang harus dipecahkan. Namun, Ayanda belum sepenuhnya mengerti.


"Om akan pergi?" timpal Aleesa dengan mata yang melebar.


Ayanda tersentak mendengar ucapan dari cucunya. Dia menatap Aleesa dengan tatapan penuh tanda tanya. Namun, Aleesa masih menatap sang om kecil yang sudah fokus pada gadgetnya.


"Om kecil," panggil Aleesa.


Iyan menoleh dan tersenyum. Tangannya mengusap lembut rambut indah Aleesa. "Don't cry."

__ADS_1


Anak yang memiliki keistimewaan itu tidak akan menjelaskan secara gamblang. Hanya poin terpenting yang akan dia katakan dan berakhir menjadi teka-teki yang harus dipecahkan.


Ayanda segera mengambil ponsel miliknya. Jarinya dengan lincah menari-nari di atas layar ponsel. Menekan huruf demi huruf hingga menjadi sebuah kalimat.


"Dad, apa benar Aska akan pergi?"


Kalimat itulah yang Ayanda kirimkan kepada suaminya. Dari potongan clue yang Iyan berikan Ayanda dapat menyimpulkan seperti itu. Namun, pesannya sama sekali belum dibaca oleh Giondra. Memang belum dibaca atau sengaja tidak ingin dibuka pesan dari istrinya karena takut istrinya akan bersedih.


Hatinya berkecamuk, sama halnya dengan hati sang putra yang masih nyaman berada di pelukan Echa. Dua wanita yang Aska cintai akan dia tinggalkan dalam waktu yang cukup lama.


Ketika makan siang tiba, Giondra juga Remon datang ke rumah sakit. Datang juga Ayanda dengan ketiga cucunya juga Iyan hingga semua orang berkumpul. Ayanda sengaja menyuruh mereka semua berkumpul karena dia memasak makan siang hari ini. Apalagi sang menantu meminta dibuatkan ayam pedas manis.


Mereka menyantap apa yang Ayanda bawa. Masakan rumahan yang rasanya sangat lezat. Ayanda terus menatap sang putra bungsu yang seakan tidak berselera menyantap masakan yang telah Ayanda buatkan. Tepatnya bukan tidak berselera, dia tengah meresapi rasa masakan buatan ibunya yang nantinya akan dia rindukan ketika berada di benua lain.


Ponsel Askara berdering, dahinya mengkerut ketika melihat nama pemanggil. Dia pun segera beranjak dari posisinya. Mata Ayanda masih mengikuti ke mana langkah sang putra pergi.


"Mom," panggil sang suami.


"Apa harus kebahagiaan yang baru saja sempurna ini berakhir?" lirihnya.


Gio hanya menghela napas kasar. Keinginan istrinya sederhana, yaitu ingin anak-anak, menantu dan cucu-cucunya berkumpul bersama. Tidak apa tidak dalam satu atap dengannya, setidaknya berada satu Kota dengan dirinya agar ketika dia rindu masih terjangkau oleh kendaraan roda empat atau dua.


Riana kini menatap sang suami tercinta yang seperti tengah menyimpan kesedihan. Sorot matanya mampu membuat Aksara menundukkan kepala.


Dahi Riana mengkerut mendengar ucapan dari sang suami, tidak mengerti.


"Maksudnya?"


"He must go."


Riana terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Aksa. Dia yang Aksa maksud adalah kembaran suaminya. Apalagi raut wajah Aksa yang sudah sendu. Dua anak kembar itu tidaklah bisa dipisahkan.


"Why?" Suara Riana sangat pelan karena dia takut orang lain mendengarnya.


"Jingga."


Hati Riana sedikit sakit mendengar alasan itu. Kisah cinta Aska sangat menyedihkan dan lebih menyedihkan dari kisah Aksa juga Riana.


Aska masuk kembali ke ruang perawatan Riana. Wajahnya sudah berubah membuat semua orang terdiam dan menatapnya. Namun, Aska masih terdiam membisu.


Setelah semuanya selesai makan dan menyantap makanan penutup berupa puding buah, Aska mulai membuka suara.

__ADS_1


"Kenapa Daddy ambil rumah Bian?"


Semua orang terdiam mendengar pertanyaan Aska sedangkan Gio sudah tersenyum tipis.


"Kenapa kamu bertanya hal yang sudah kamu tahu jawabannya?" sahut Giondra.


"Daddy, Tante Weni tidak salah, yang salah itu anaknya," jelas Aska.


"Daddy tahu akan hal itu, tapi kamu juga tahu 'kan bagaimana Daddy jika keluarga Daddy sudah diusik," tegas Giondra. Aska pun terdiam.


"Bukannya Daddy tidak memiliki hati, justru karena Daddy sudah berbaik hati makanya kebaikan yang sudah Daddy lakukan Daddy tarik kembali," jelasnya. Semua orang pun terdiam.


"Percuma berbaik hati kepada anjiing yang terjepit. Ketika sudah dilepaskan akan menggigit," lanjutnya lagi.


Apa yang dikatakan oleh Gio benar adanya karena Bian adalah orang yang tidak tahu malu juga tak tahu diri.


"Sudahi rasa kasihan kamu itu kepada orang yang kamu anggap sahabat, nyatanya adalah pria bhang sat."


Dalam sekali ucapan Gio. Ken dan Juno tersentak mendengar ayah dari sahabatnya yang berkata cukup kasar. Tidak biasanya berkata seperti itu.


"Mon."


Panggilan dari Gio adalah perintah untuk Remon. Dia mengeluarkan beberapa kertas putih dan menyerahkannya kepada Giondra.


"Apapun yang kamu lakukan, Daddy pasti tahu," kata Giondra sembari menyerahkan kertas tersebut.


Mata Aska melebar ketika dia melihat print-an uang yang dia keluarkan untuk ibunda dari Bian.


"Tinggal pilih, biarkan mereka hidup tanpa memiliki rumah atau biaya pengobatan Bu Weni kamu hentikan dari sekarang."


Pilihan yang teramat sulit untuk Askara. Arya menggelengkan kepalanya tak percaya mengetahui sisi lain dari seorang Askara.


"Hati lu kenapa baik banget? Apa lu gak punya rasa dendam?" tanyanya penuh keheranan.


"Sebelas dua belas sama kakaknya," lanjut Rion seraya menatap ke arah Echa.


"Kebaikan yang kita tanam biarlah menjadi tabungan kebahagiaan untuk masa depan. Ketika kita membenci satu orang, jangan sangkut pautkan keluarganya karena mereka belum tentu salah."


Pesan menohok yang Echa berikan kepada semua orang yang ada di sana. Bersikap baik itu sudah keharusan. Mau diterima atau tidak itu tidak masalah. Mau dibalas atau tidak pun tak jadi masalah juga. Kebaikan tidak akan pernah hilang di mata Tuhan karena sesungguhnya berbuat baik itu bukan untuk dilihat oleh manusia, tetapi sebagai kewajiban yang sudah Tuhan perintahkan.


...****************...

__ADS_1


Komen dong ....


Sekarang UP-nya sore ya. 🙏🏻


__ADS_2