
"Kak Jing-jing?" kata Aleeya.
Perempuan yang menabrak Aleeya mengerutkan dahinya. Dia tersenyum dan mengusap lembut rambut anak kecil di hadapannya.
"Dek," panggil Aleena.
Aleeya menoleh begitu juga dengan perempuan yang ada di hadapan Aleeya.
"Kakak Na, ada Kak Jing-jing." Lapor Aleeya dengan sangat antusias. Aleena menatap ke arah perempuan yang ada di depan Aleeya. Memandanginya dari atas sampai bawah.
"Itu bukan Kak Jing-jing, Dek," sahut Aleena seraya menggelengkan kepala.
Perempuan itu tersenyum ke arah Aleeya yang berubah murung.
"Maafkan Kakak, ya. Biar Kakak ganti makanan serta minuman yang sudah Kakak jatuhkan," ucap perempuan itu.
"Tidak usah, ini kafe punya Om aku. Aku bisa dengan puas makan apa saja yang ada di sini," tukas Aleeya.
Bocah bawel itu berlalu begitu saja, sedangkan Aleena menatap punggung Aleeya dengan penuh keheranan.
"Maaf ya, Kak," ucap Aleena sopan. Kemudian, dia mengikuti langkah adiknya.
Aleesa dan Aleeya duduk di meja yang sama. Aleesa dengan dunianya dan Aleeya dengan kemurungannya. Sudah beberapa hari ini Aleeya memimpikan sosok Jingga. Wajahnya tidak berubah, tetapi dia terlihat tidak seceria ketika mereka bermain bersama. Aleena duduk bersama kedua saudaranya dan menatap intens ke arah Aleeya.
"Dedek mimpiin Kak Jing-jing terus. Dedek kangen Kak Jing-jing," tuturnya.
Menyebut nama Jing-jing membuat Aleena teringat pada sahabatnya yang kini berada di Surabaya, Kalfa namanya. Jing-jing adalah pengasuh dari Kalfa.
"Mimpi itu hanya bunga tidur, Dek," balas Aleesa.
Aleeya dan Aleena tengah bergelut dengan pikiran serta perasaan mereka masing-masing. Yang satu merindukan Jing-jing dan satunya lagi merindukan Kalfa.
Di tempat yang berbeda, Aksa sedari tadi menatap nyalang ke arah Fahrani. Suasana mendadak mencekam karena tatapan Aksa. Dia segera mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Dek, pinjam ruangan kamu dulu sebentar." Aksa berbicara melalui sambungan telepon.
Riana yang tengah bersandar di pundak sang suami pun menegakkan kepalanya. Menatap Aksa dengan penuh tanya. Belum juga Aksa menjawab, Aska sudah datang ke meja sang Abang.
"Di lantai dua ruangan guanya. Di sana juga ada tempat tidur, kalau istri lu mau rebahan. Cuma tempat tidurnya kecil," terang Aska. Aksa mengangguk mengerti.
"Lu langsung naik aja, gua mau bantuin Ken dan Juno dulu. Pengunjung semakin banyak," ucapnya. Aska pun berlalu begitu saja.
__ADS_1
Christina dan Fahrani sedikit kecewa dengan ucapan Aska yang terdengar sangat dingin bagai es balok. Aksa sudah bangkit dari duduknya mengajak serta istrinya. Riana bingung dengan ajakan Aksa, pikirannya sudah bertraveling ke mana-mana.
"Fahrani, ikut saya ke atas," tegas Aksa.
Jantung Fahrani berdetak sangat cepat ketika mendengar perintah dari Aksa. Dia merasa tidak membuat kesalahan, tetapi ucapan Aksa teramat membuatnya takut. Tidak biasanya Aksa seperti ini.
Fahrani menatap ke arah Fahri, kakaknya itu hanya menggedikkan bahunya. Sungguh dia juga tidak tahu. Biasanya jika ada apa-apa, Aksa akan selalu berbicara dengannya terlebih dahulu.
"Ada apa dengan bos muda?" bisik Christian. Lagi-lagi Fahri menggeleng. Dia yang sebagai tangan Aksa pun tidak tahu Aksa kenapa.
"Udah cepat ke atas!" titah Fahri. "Jangan buat bos muda menunggu," lanjutnya lagi.
Fahrani bangkit dari duduknya dengan jantung yang berdentum sangat cepat. Kakinya seakan sulit untuk dilangkahkan, terasa sangat berat. Tibanya di undakan anak tangga paling atas, dia melihat sang bos tengah mengecup kening istrinya. Senyum Riana pun sangat manis dan terlihat sangat bahagia.
"Pak," ucapnya.
Aksa dan Riana menoleh ke arah Fahrani. Tatapan Aksa sangat tajam membuat nyali Fahrani menciut begitu saja.
"Masuk duluan!" titah Aksa dengan suara yang sangat datar.
Fahrani mengangguk dan membuka ruangan yang tak jauh dari tempatnya berdiri, sedangkan Aksa membuka satu kamar yang ada di sana.
"Istirahat dulu, ya. Abang janji sebentar doang kok." Riana mengangguk. Akhir-akhir ini dia merasa sangat lelah padahal tidak melakukan hal apapun.
"Jangan lama-lama Daddy, nanti anak-anak nyariin Daddy," pinta Riana.
Aksa tersenyum dan mengecup perut Riana yang masih rata. "Daddy gak akan lama ya, Nak. Daddy ada urusan sebentar. Jangan nakal ya kalau gak ada Daddy. Jaga Mommy," ucapnya.
Riana mengusap lembut kepala sang suami. Setiap Aksa berbicara dengan perutnya hatinya akan sangat menghangat. Ada kebahagiaan yang tidak bisa diucapkan oleh kata-kata.
Di ruangan sebelahnya, Fahrani tengah menunggu Aksa dengan hati yang dag dig dug tak karuhan. Dia mencengkeram erat tangannya sendiri. Keringat dingin sudah membasahi telapak tangannya. Pintu ruangan terbuka dan jantung Fahrani seakan berhenti berdetak.
Aksa sudah duduk di seberang Fahrani. Dia menunjukkan sebuah foto yang ada di ponselnya. Mata Fahrani melebar dengan sempurna.
"Sejak kapan kamu memata-matai adik saya?" tanya Aska dengan suara yang sangat datar. Jika, sudah seperti ini atasannya ini sudah marah.
Fahrani tidak menjawab. Mulutnya terasa kelu. Hatinya pun terasa sangat sakit melihat foto Aska tengah mencium lembut Jingga di ujung senja.
"Kenapa diam? Mendadak bisu?" sergah Aksa. Jika, sudah murka mulut Aska akan lebih tajam dari silet.
"I-itu ...."
__ADS_1
"Cemburu? Karena tidak bisa seperti wanita yang ada di foto itu, iya?" bentak Aksa. Baru kali ini Fahrani mendapatkan bentakan maut dari Aksa.
Tangan Aksa menggeser foto selanjutnya. Kali ini, mata Fahrani hampir keluar dari tempatnya.
"Cara kamu untuk mendapatkan hati adik saya bagai di sinetron yang sudah ketebak jalan ceritanya," sindir Aksa.
"Jelaskan foto itu!" desak Aksa.
"I-itu ... calon suami dari wanita yang Aska sukai. Sa-saya ... sengaja memberitahunya supaya dia marah kepada calon istrinya," terang Fahrani dengan suara yang bergetar.
Wajah Aksa sudah sangat geram, tangannya kembali menyentuh layar ponsel dan muncul foto yang lainnya.
"Ini hasil pengaduan kamu 'kan." Di sana ada foto Jingga yang penuh dengan luka lebam dan jalan terpincang-pincang. Fahrani hanya diam saja, dia tidak bisa membuka mulutnya.
Semua kebusukannya sudah Aksa ketahui. Dia kira Aksa tidak akan pernah ikut campur dalam urusan pribadi Aska. Pada nyatanya, Aksalah yang menjadi pelindung utama untuk Aska.
Tangan Aksa menggeser lagi gambar yang lainnya. Fahrani sedikit terlonjak ketika melihat hasil Rontgen atas nama Jingga.
"Inilah hasil dari ulah kamu!" bentak Aksa.
Ketika baru saja istirahat di kosan, Jingga sudah dijemput oleh seorang wanita yang mengaku dari Jomblo's kafe. Ternyata dia dibawa ke rumah sakit dan dilakukan pemeriksaan seluruh tubuhnya. Hasilnya sangat mengejutkan. Tulang rusuknya ada yang hampir patah, Tulang tangannya pun terluka dan harus segera diobati.
"Untung saja wanita itu kuat. Jika, dia mati kamu adalah orang yang akan Aska cari dan akan Aska bunuh dengan cara yang sama," ujar Aksa dengan nada yang masih murka.
"Kamu tahu 'kan bagaimana jika Aska murka? Dia tidak pandang bulu dan dia bukanlah pria yang memiliki rasa iba yang tinggi," lanjutnya lagi.
Nyai Fahrani menciut begitu saja mendengar kemurkaan dari Aksa. Dia juga tahu betul bagaimana jika kembaran bosnya itu murka.
"Saya masih menyembunyikan ini semua dari Aska. Jika, suatu saat Aska mengetahuinya jangan pernah cari saya untuk melindungi kamu. Saya pun sangat-sangat kecewa dengan sikap kamu," tambah Aksa dengan sangat tegas.
"Ma-maafkan saya, Pak," balas Fahrani.
"Maaf sekarang apa gunanya? Harusnya kamu memakai otak kamu sebelum bertindak. Malu saya memiliki orang kepercayaan seperti kamu!" pungkas Aksa.
Hati Fahrani sungguh sakit mendengar ucapan dari Aksa. Bertahun-tahun bekerja sama dengan Aksa, bosnya itu tidak pernah marah seperti ini. Dia juga tidak pernah berbuat kesalahan yang fatal, tetapi kali ini dia seperti menyerahkan nyawanya kepada Aksa hanya karena adik dari bosnya itu.
"Sifat saya dan Aska tidak jauh berbeda, harusnya kamu sudah sangat paham akan hal itu!"
...****************...
Komen dong, insha Allah akan up maksimal 2bab hari ini. Syukur-syukur 3 bab.
__ADS_1
Note : Jing-jing adalah panggilan dari si triplets untuk Jingga. Di usia tiga tahun mereka sudah mengenal Jingga karena Jingga adalah pengasuh dari Kalfa, anak angkat dari Satria (Selingkuhan Amanda/ibu dari Riana, juga adik kandung dari Addhitama, ayah Raditya) kalau penasaran, baca aja YANG TERLUKA.
Kalau aku masukin di cerita ini nanti kalian akan bosan.