Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Jogja


__ADS_3

Wajah Aksa terlihat berseri setelah mendapati sang kakak sudah memaafkannya. Hatinya sudah sangat lega. Tinggal menunggu tes DNA saja. Setelah mendapat lampu hijau dari sang kakak dia merasa yakin jika anak yang berada di dalam kandungan Ziva bukanlah anaknya.


...Bukan hanya Aksa yang bahagia, Aska serta Ayanda pun ikut bahagia melihat Aksa mereka telah kembali. Aska memeluk tubuh sang Mommy. ...


"Abang sudah kembali, Mom," imbuh Aska. Hanya sebuah anggukan yang Ayanda berikan. Ujung matanya mengeluarkan bulir bening.


Ayanda kembali fokus kepada Echa yang tengah berbaring di sofa.


"Kak, udah coba testpack belum?" Echa yang sedang terpejam pun membuka matanya. Menatap sang mamah dengan tatapan bingung.


"Echa 'kan minum pil KB, Mah," jawabnya.


"Siapa tahu ada yang kelewat, Kak."


Echa berpikir keras, seingatnya dia tidak pernah melewatkan untuk meminum pil penunda kehamilan itu.


"Kalo hamil juga gak apa-apa, Kak. Trio kurcaci sudah besar dan sudah tidak ingin diciumi lagi. Susah kalo mau ngajak mereka pergi," keluh Aska.


"Benar kata, Adek. Mamah akan sangat senang. Apalagi Papahmu," imbuh Ayanda.


Echa hanya tersenyum ke arah mamah dan adiknya. Meskipun sudah menjadi seorang ibu, Echa tetaplah putri kecil untuk Ayanda.


Di dalam pesawat, Aksa tak hentinya melengkungkan senyum. Dia ingin segera tiba di Jogja. Dia ingin bertemu dengan Riana. Wanita yang sangat dia cintai.


Sebelumnya, Aksa sudah menghubungi Rakha untuk tidak datang ke rumahnya. Tidak lupa juga dia menghubungi Fahri dan Fahrani. Mereka ditugaskan untuk mengawasi Ziva selama dia tidak ada. Tibanya di Jogja, Aksa segera menuju ke perusahaan yang Remon maksud. Dia harus bekerja ekstra agar pekerjaannya cepat selesai. Supaya dia bisa cepat bertemu dengan Riana.

__ADS_1


Sedangkan di rumah yang Gio berikan untuk Aksa. Seorang wanita sedang gundah gulana. Sudah lebih dari seminggu ini suaminya tidak pulang ke rumah. Ziva mencoba menghubungi Aksa, tetapi selalu tidak aktif. Ponsel Aksa pun tidak bisa dia lacak.


Ziva mengerang kesal dan memutuskan untuk pergi ke rumah sang mertua. Dia yakin, suaminya pasti ada di sana. Kali ini, tanpa ditemani oleh Rakha. Dia takut, jika mertuanya curiga.


Tibanya dia di kediaman Ayanda bersamaan dengan Aska yang baru saja keluar dari pintu rumah. Aska berdiri di depan pintu dengan menatap nyalang ke arah Ziva.


"Mau apa lu ke sini?" sergah Aska.


"Aku mau mencari suamiku," jawab Ziva dengan tatapan tajam.


"Suami lu tidak ada di sini."


"Bohong!" seru Ziva.


Jika, bukan perempuan mulut Ziva sudah Aska sobek-sobek layaknya kertas.


Mendengar teriakan Aska dari arah luar, Ayanda serta Echa menuju ke arah teras. Ada dua manusia yang sedang menatap satu sama lain dengan sorot mata penuh permusuhan.


"Ada apa, Dek?"


"Aksa mana?" timpal Ziva. Sungguh tidak sopan sekali mulut Ziva


"Pakai sopan santun kamu!" sentak Echa.


"Gak usah sok berkuasa. Jangan mentang-mentang kamu anak emas jadi kamu bisa membentakku," ucap Ziva berapi-api.

__ADS_1


Echa mendekat ke arah Ziva. Dia menatap tajam ke arah wanita jahanam ini. Tangannya sudah mengepal keras.


Plak!


Tamparan mendarat di pipi Ziva. Pergerakan tangan Echa sangat cepat. Sehingga membuat Ziva tidak bisa menghindar. Tidak terima dengan tamparan Echa, Ziva mendorong tubuh Echa dengan sangat keras hingga Echa tersungkur ke lantai.


"Aw!"


Ringisan keluar dari mulut Echa. Mata Ayanda melebar ketika melihat ada darah yang mengalir di kaki Echa.


"Kak, kakimu ...."


Tubuh Ziva menegang, dia dilanda ketakutan. Apalagi darah segar mengalir di kaki Echa. Dia mencoba mundur ketika Aska mendekat ke arah Echa.


Lebih baik aku pergi.


Kepanikan melanda Aska dan juga Ayanda. Sedangkan Echa merasa sangat kesakitan sehingga kepanikan mereka berdua semakin menjadi. Aska segera membawa kakak tercintanya ke rumah sakit terdekat. Pun dengan Ayanda yang sudah menghubungi Radit.


Tubuh Ziva masih bergetar ketika mobil yang membawa tubuh Echa sudah melewatinya yang tengah bersembunyi. Ziva hanya dapat menghembuskan napas lega.


Suara dering ponsel Ziva terdengar. Dahinya mengkerut ketika melihat nama siapa yang tertera.


"Cepat ke Jogja."


...****************...

__ADS_1


Segini aja dulu, ya.


Insha Allah besok up lebih banyak lagi. 🙏


__ADS_2