
Melihat Riana ketakutan membawa kebahagiaan tak terkira kepadanya. Dia benar-benar bisa membuat Riana panik. Kini, saatnya dia balas dendam.
Seringai mematikan dari seorang wanita yang masih menyimpan dendam yang tak pernah berkesudahan. Dia melangkahkan kakinya menuju Riana. Jantung Riana berdegup sangat cepat dan sungguh dia tidak bisa berpikir. Ditambah dia menggunakan sepatu berhak. Tidak bisa leluasa bergerak. Meskipun tidak tinggi, tetapi bisa membahayakannya juga janinnya jika dia berlari. Dia tidak ingin sesuatu terjadi pada calon anaknya .
"Mau ke mana, Riana?" Suara wanita itu terdengar sangat menyeramkan di telinga Riana. Dia memundurkan langkahnya dan wanita itu semakin mendekat. Riana pun semakin beringsut mundur.
Bugh!
"Aw!"
"Hahaha!" Tawa pun menggelegar ketika melihat Riana meringis kesakitan.
Ringisan cukup keras terdengar. Riana terpeleset hingga dia terjatuh. Wanita itu bukannya membantu. malah bagai mak lampir.
"Rasakan pembalasanku, Riana." Wajah yang penuh amarah terlihat jelas di wajah wanita itu. Dia mendekat dan Riana mencoba untuk bangun, tetapi perutnya terasa sakit. Ketika dia melihat ke arah bawah darah segar mengalir di kaki bagian dalam.
"Da-darah."
Wanita itu semakin tertawa puas dan dia mendekatkan wajahnya ke arah Riana. Tangannya mencengkeram pipi Riana dengan kencang.
"Aku akan membuat kamu seperti kakak kamu. Kehilangan rahimmu."
Mata Riana membelalak mendengar ucapan dari wanita yang pernah menjadi bagian dari masa lalu suaminya. Kakinya yang tengah memakai sepatu hak tinggi sudah berada di atas perutnya.
"Ja-jangan-"
Hak lancip itu sudah ingin menyentuh perut Riana . Namun, kedatangan office girl membuat kaonya segera dia tarik kembali.
"Sedang apa Anda Nona?" Wanita itu tidak menjawab. Dia juga tidak menunjukkan wajahnya dan segera kabur dari sana.
"To-tolong saya." Perut Riana terasa sangat sakit karena ulah dari iblis wanita..
Office girl itu segera membantu Riana. Namun, dia juga terkejut dengan apa yang dilihatnya pada kaki bagian dalam Riana.
"Nona, kaki Anda-"
"Sayang!"
Panggilan seseorang membuat Riana menoleh dan dia tak kuasa menahan tangis. Aksa segera berlari menghampiri istrinya dan tubuhnya menegang ketika melihat darah yang mengalir.
"Ma-maafkan-"
Aksa segera membawa tubuh Riana dengan membopongnya. Hatinya tengah ketakutan, tetapi dia melihat istrinya lebih kesakitan.
Semua orang menatap ke arah Aksa yang terlihat tegang. Gio dan Ayanda melebarkan mata melihat pemandangan tak jauh darinya.
"Bang, kenapa?"
"Ke rumah sakit, Dad." Suara Aksa sudah sangat sendu.
__ADS_1
Gio mengangguk cepat. Dia segera keluar dari tempat acara dengan langkah tergesa. Namun, dalam langkah lebar Gio dia sudah menghubungi seseorang untuk mengusut semuanya.
Selama perjalanan, Aksa hanya memeluk tubuh istrinya yang masih menangis. Tak ada satu buah kata pun yang terucap dari mulut mereka yang berada di dalam mobil.
Tibanya di rumah sakit, Aksa segera membawa Riana ke dalam IGD. Dia tetap setia mendampingi Riana di dalam kondisi seperti ini.
"Bang."
Aksa tersenyum, dia mengusap lembut rambut Riana. "Tidak apa-apa, Sayang."
Mulut boleh berkata tidak apa-apa, tetapi hati pasti sangat terluka. Namun, jika buah hatinya harus pergi dia bisa apa. Ini bukan keinginannya juga bukan keinginan istrinya. Ala berpikir positif bahwa semua ini adalah rencana Tuhan untuknya jjhd keluarga kecilnya.
"Kita lakukan kuret," ucap dokter yang menangani Riana.
Patah dan sakit, itulah yang Riana dan Aksa rasakan. Namun, mereka harus ingat masih ada Gavin yang membutuhkan mereka. Aksa menatap Riana yang sudah berkaca-kaca.
"Tuhan menginginkan kita untuk fokus kepada Empin." Aksa masih bisa tersenyum. Sebelum dibawa ke ruang tindakan, Aksa mengecup kening Riana Sangat dalam.
"Jangan sedih, ya."
Di ruang tindakan, Riana memejamkan matanya sejenak. Dia melihat wajah bundanya tengah tersenyum. "Jangan sedih, Ri. Rawat dan jaga cucu tampan bunda dulu untuk sekarang."
Ada juga putri perempuannya yang juga tersenyum kepadanya. "Kakak sudah memperingatkan. Namun, rencana Tuhan tidak bisa dielakkan."
.
Keluarga Riana sangat terkejut mendengar ucapan dari Aksara. Mereka bergegas ke rumah sakit di mana Riana ditangani. Echa pun ikut serta sambil membawa Gavin. Mungkin, jika bayi itu bertemu dengan Aksa juga Riana tangisnya akan mereda. Kasihan, sedari tadi terus menang wellis hingga suaranya serak.
Rion terus bersungut-sungut kepada Radit yang tengah melajukan mobil. "Cepat, Dit!"
Radit pun berdecak kesal dengan tingkah sang mertua. "Ayah mau cepat datang ke rumah sakit apa ke liang lahat?"
Rion memukul pundak Radit dengan sangat kencang hingga yang empunya pundak mengaduh.
"Engkong!" seru Aleesa. "Masih aja ih bercanda," sungutnya.
"Tau, orang lagi panik juga," timpal Iyan.
Mobil yang mereka kendarai sudah berbelok masuk ke area rumah sakit. Mereka segera menuju IGD sedangkan Radit harus memarkirkan mobilnya terlebih dahulu.
Rion berjalan diikuti oleh kedua anak juga ketiga cucunya. Serta Gavin yang tengah digendong oleh Echa.
"Aksara!"
Panggilan Rion membuat Aksa yang tengah menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan menoleh. Hanya tatapan sendu yang dia berikan. Ditambah dia mendengar tangisan sang putra dan segera menghampiri putra tercintanya. Kemudian, menggendongnya. Menciumnya penuh dengan cinta.
"Jangan nangis ya, Nak. Daddy tahu kamu juga pasti sedih, tapi ini adalah jalan yang terbaik untuk kita." Aksa mencium pipi gembul Gavin dan tangis putranya pun reda.
"Maksudnya apa?" tanya Rion.
__ADS_1
"Riana sedang mendapat tindakan kuret."
Hati Rion sangat sakit mendengarnya. Kenapa hal seperti ini harus terjadi kepada putrinya. Dia hanya bisa menyandarkan punggungnya di dinding.
"Kenapa bisa, Bang?" Kini, Echa sudah membuka suara.
"Sedang Papahmu selidiki, Kak."
Hembusan napas kasar keluar dari mulut mereka semua. Namun, ketika mereka melihat ke arah Gavin yang terlelap dalam dekapan Aksa membuat hati mereka lega. Setidaknya kasih sayang kedua orang tuanya tidak akan terbagi untuk Gavin. Mereka semua pun memang seakan tidak rela jika Riana hamil lagi sedangkan usia Gavin masih tiga bulan. Mereka kasihan kepada Gavin karena sudah pasti kasih sayang kedua orang tuanya akan terbagi dengan sang adik. Kini, Tuhan merealisasikan ketidak relaan mereka dengan mengambil kembali calon buah hati Riana dan juga Aksa.
"Bang." Echa mengusap pundak Aksa dan disambut senyuman oleh adiknya itu.
"Maafkan Abang, Kak. Maafkan Abang, Yah."
Rion mendekat dan mengusap pundak menantunya itu. "Ini sudah ketentuan Tuhan. Kita tidak akan pernah bisa mengelaknya."
Tidak ada marah ataupun emosi pada diri Rion. Dia hanya melihat iba kepada Aksa juga Gavin, serta Riana.
"Setelah ini, segera pasang IUD pada Riana. Tahan dua sampai tiga tahun dulu. Barulah rencanakan punya anak lagi." Pesan dari sang ibu yang membuat Aksa mengangguk patuh.
Riana sudah keluar dari ruang tindakan dan sudah memasuki ruang perawatan. Dia tersenyum ke arah sang suami yang tengah menggendong putranya.
"Jangan sedih, ya." Aksa mengusap lembut rambut Riana. Tangan Riana pun menyentuh tangan Aksa kemudian menggenggamnya.
"Abang juga jangan sedih," ucapnya.
Seulas senyum Aksa berikan kepada Riana. Kecupan hangat pun dia berikan di kening Riana. Keluarga mereka mampu bernapas lega. Riana dan Aksa mampu menerima kenyataan yang ada.
"Taruh di sini Empinnya," pinta Riana kepada Aksa. Dia pun sudah memberikan ruang untuk putranya tertidur di sampingnya.
Benar saja, Gavin tidak menangis dia malah semakin nyenyak. Lengkungan senyum terukir di wajah Aksa. "Kamu kangen Mommy, ya." Usapan lembut Aksa berikan di kepala Gavin.
Aksa masih menemani sang istri, sedangkan yang lain sudah kembali ke rumah masing-masing. Hanya ada sang mommy yang sudah merebahkan tubuhnya di atas sofa.
Pintu kamar perawatan terbuka, Gio mendekat ke arah Aksa. Dilihatnya sang menantu sudah terlelap bersama cucunya. Istrinya pun sudah masuk ke alam mimpi.
"Keluar sebentar."
Gio memerintahkan kepada sang putra untuk mengikuti langkahnya. Aksa pun meninggalkan Riana juga Gavin.
"Sudah dapat?" tanya Aksa. Gio hanya mengangguk pelan. Kemudian, dia memperlihatkan ponselnya ke arah Aksara.
Rahang Aksara mengeras, urat-urat di wajahnya terlihat jelas. Juga kedua tangannya sudah mengepal penuh emosi.
"Wanita laknatt!" geramnya.
"Dia sudah diamankan."
"Biarkan Abang yang membunuhnya dengan tangan Abang sendiri."
__ADS_1
...****************...
Sudah terjawab belum teka-teki Empin di Jodoh Terakhir?