
Dua sahabat Aska masih betah di rumah, mereka berbincang santai.
"Lu mending pecat si kunyuk satu nih," sungut Juno yang kini menatap tajam ke arah Ken.
"Lah ada apa dengan gua?" tanya balik Ken.
"Dia godain karyawan baru terus," terang Juno.
Aska hanya tertawa mendengar ucapan Juno. Dua sahabatnya ini sudah biasa beradu argumen.
"Wajarlah, orang karyawan barunya juga cantik," sergah Ken.
Aska hanya menyimak perdebatan mereka berdua. Dia tidak ingin melerai, anggap aja seperti hiburan.
"Lu cepat balik dah ke kafe. Terus lu godain karyawan baru juga. Dia lebih milih lu apa si Ken," ujar Juno.
Plak!
Pukulan di pundak Juno terdengar sangat keras. Ken benar-benar geram. "Jangan dibandingin sama si Askalah. Jelas-jelas gua akan kalah," keluhnya.
Juno tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan dari Ken. Wajah Ken yang terlihat tidak suka dengan raut memelas membuatnya tertawa puas.
"Si Aska pan gak normal, masih takut lu!" hardik Juno.
Bantal sofa meluncur bebas ke arah Juno. Kali ini pelakunya adalah Aska. Dia tidak terima jika dikatakan tidak normal.
__ADS_1
"Lu kalau mau ngeghibah di belakang orangnya, bukan di depan orangnya," omel Aska.
Juno tak hentinya tertawa melihat kedua sahabatnya bersungut ria.
"Eh, tapi yang dibilang si Juno benar juga. Banyak wanita cantik yang deketin lu, tapi lu tolak. Lu masih suka apem 'kan?" sergah Ken.
"Bhang Sat!" Juno malah semakin tertawa keras mendengar geraman Aska.
"Gua normal lah! Harus lu garis bawahi, ya. Gua itu gak suka dikejar-kejar. Gua itu sukanya ngejar," tutur Aska.
"Cewek yang ngejar gua itu seperti permata yang gak berharga aja. Terlalu murah dan rendah sampai rela ngejar-ngejar begitu, sedangkan kalau gua ngejar cewek ... berarti cewek itu sangat berharga," lanjutnya.
"Lah kalau cewek yang lu anggap berharga itu cewek orang. Apa akan lu kejar juga?" tanya Ken.
"Caranya?" tanya Juno.
"Cukup gua yang tahu," tukasnya.
Kedua sahabat Aska ini berdecak kesal mendengar ucapan Aska. Dia tidak pernah terbuka perihal wanita yang dia sukai kepada Ken dan Juno. Ada hal yang benar-benar pribadi yang tidak bisa Aska ungkapkan kepada kedua sahabatnya.
"Kalau cewek yang lu kejar itu pacar sahabat lu, apa masih mau lu kejar?" tanya Juno.
"Gua tikung terus sampai pelaminan," sahut Aska santai.
"Bang sat!" seru kedua sahabat Aska. Sekarang Aska yang tertawa terbahak-bahak melihat respon kedua sahabatnya.
__ADS_1
Aska bukanlah orang sekejam itu, jika menyangkut sahabat dia akan mengalah meskipun hatinya sakit. Namun, dia selalu berharap tidak menyukai wanita yang disukai kedua sahabatnya itu, ralat ketiga sahabatnya termasuk Bian.
"Si Bian gak ke rumah lu?" tanya Ken.
"Enggak, orang motor gua aja ditaruh di rumah si Juno," jawab Aska.
"Dia tadinya mau ke rumah lu. Mau numpang tidur juga, tapi dia dapat telepon dari karyawannya kalau ada pria ngamuk di restorannya. Hampir diacak-acak tuh restoran," jelas Juno.
"Kok bisa?" tanya Aska.
"Dia 'kan ngirim pacarnya si itu cowok ke Jakarta tanpa sepengetahuan si cowoknya. Auto diamuk lah," tambah Ken.
"Bhego!" umpat Aska seraya tertawa.
"Dia sih beralasan ingin menyelamatkan si cewek itu. Katanya cowoknya sering enteng tangan. Kasihan 'kan masih pacaran aja begitu, gimana kalau udah nikah," papar Juno.
Deg.
Aska teringat akan Jingga, itu seperti kisah Jingga.
...****************...
Komen dong ...
Rencananya mau crazy up nih
__ADS_1