
Aska terus mengumpat kesal di sepanjang perjalanan. Perkataan Radit masih terngiang di kepalanya. Seperti biasa dia mengendarai motor pemberian dari kedua sahabatnya. Ketika di lampu merah, dia melihat seorang wanita yang mirip dengan Jingga sedang berjalan.
Matanya terus menatap perempuan itu yang semakin menjauh. Lampu pun sudah berubah menjadi hijau membuat Aska langsung menggas motornya. Dia menepikan motornya tepat di samping perempuan yang mirip dengan Jingga. Memang benar perempuan itu adalah Jingga. Penglihatannya tidak salah.
"Naik!"
Jingga terkejut. Dia melihat ke arah orang yang ada di atas motor berwarna hitam dengan helm full face. Dahi Jingga mengkerut, dia takut.
"Cepetan naik!" titahnya lagi.
Jingga mengenali suara tersebut, tapi dia masih ragu. Tangan pria itupun menarik paksa Jingga.
"To--"
Aska segera membuka helm yang dia gunakan sebelum Jingga berteriak. Mata Jingga terbelalak.
"Bang As," ucap Jingga.
"Cepetan naik!" titah Aska lagi. "Di mana-mana karyawan yang datang lebih pagi, bukan bosnya," oceh Aska. Jingga hanya menghela napas kasar, dia pun mengikuti ucapan Aska karena tatapan Aska sangat tidak bersahabat.
"Pegangan!" Sontak Jingga memegang besi di belakang jok motor membuat Aska berdecak kesal.
"Aku bukan tukang ojek," geramnya.
Dia pun menarik tangan Jingga dan meletakkan di pinggangnya. Rasa sungkan menyelimuti hati Jingga, ketika motor yang dibawa Aska jalan, Jingga melepaskan tangannya dari pinggang Aska. Terlihat Aska menatap tidak suka dari kaca spion.
Rasa geram tengah menyelimuti hati Aska, sehingga dia mengemudikan motornya dengan kecepatan tinggi. Wajah Jingga terlihat ketakutan, tetapi dia masih menutupinya dengan lihai. Terus merapalkan doa tiada henti.
Sebuah mobil truk bermuatan ada di depan motor Aska. Wajah Jingga nampak sedikit pucat. Aska hendak menyalip mobil truk tersebut. Jika malah memeluk pinggang Aska dengan erat. "Jangan nyalip!"
Suara yang terdengar penuh ketakutan. Kemudian, Aska melihat ke arah pinggangnya, tangan Jingga sudah melingkar dengan eratnya. Dia juga melihat Jingga dari kaca spion depan. Jingga sudah memejamkan mata di balik punggungnya. Dahi Aska mengkerut, dia sedikit kebingungan dengan sikap Jingga yang mendadak aneh. Akhirnya, Aska memperlambat laju motornya dan menepidi pinggiran jalan yang aman. Tangan Jingga masih memeluk erat tubuh Aska. Dia pun menyentuh tangan Jingga yang ternyata sudah sangat dingin.
"Ternyata dia ketakutan," gumam Aska. "Sebenarnya apa yang sudah terjadi dengan dia?" lanjutnya lagi.
Merasa tangannya disentuh, Jingga membuka matanya. Ternyata motor Aska sudah berhenti.
"Kamu kenapa?" tanya Aska yang masih menggenggam tangan Jingga.
"A-aku ... takut."
Nada suara Jingga terdengar sangat bergetar. Aska membuka helmnya dan menoleh ke arah Jingga. Wajahnya terlihat sudah pias. Aska semakin menarik tangan Jingga agar semakin memeluk erat pinggangnya. Jingga pun meletakkan dagunya di bahu Aska. Tempat ternyaman di kala seperti ini.
"Maaf ... lain kali aku gak akan nyalip-nyalip." Jingga hanya mengangguk pelan.
Seulas senyum terukir di wajah tampan Aska. Dia juga mengusap lembut punggung tangan Jingga yang ada di perutnya.
"Masih pagi woiy! Pacaran Bae!" omel salah seroang pengendara.
Aska mendengkus kesal, Jingga hendak melepaskan pelukannya di pinggang Aska, tetapi dilarang.
__ADS_1
"Biarkan seperti ini sampai kita tiba di kafe." Jingga tercengang dengan ucapan Aska. Jingga terus memperhatikan Aska yang sudah menggunakan helmnya kembali dan mulai melajukan motornya.
"Pundakmu terlalu nyaman untuk kepalaku berbaring."
Nyaman, itulah yang Jingga rasakan. Begitu juga dengan Aska. Mereka hanya saling menikmati kenyamanan tersebut dalam diam. Tidak ada kata yang keluar dari mulut mereka masing-masing.
Tibanya di depan kafe, Jingga segera turun dari motor Aska. "Makasih." Satu kata yang Jingga ucapan dan segera masuk ke dalam. Aska hanya bisa menggelengkan kepala.
Ternyata para karyawan sedari tadi mengintip Jingga yang dibonceng oleh Aska. Ketika jingga masuk ke area dapur mereka semua sudah menyapa Jingga dengan penuh tanya.
"Ada hubungan apa kamu sama Pak Aska?" sergah karyawan yang bernama Wati.
"Iya, kemarin Pak Aska juga ngejar kamu. padahal ada pacarnya di sana," lanjut yang lain.
Jingga terdiam sejenak. Dia bingung harus menjawab apa. Dia hanya menggigit bibir bawahnya. Dia tidak mungkin mengatakan bahwa dia pernah dekat dengan pemilik kafe ini.
"Jangan bilang kalau kamu selingkuhan--"
"Siapa yang jadi selingkuhan?" Suara dan kedatangan Aska membuat para karyawan lain bubar jalan. Mereka sangat tahu bagaimana owner kafe ini jika marah.
"Kalian digaji bukan untuk ngerumpi!" Kata-kata mutiara pun keluar dari mulut Aska.
Kini, Aska menatap ke arah Jingga yang tidak berani menatapnya. "Kenapa kamu di sini? Belum jelaskah ucapan saya kemarin."
Aska bagai memiliki dua kepribadian. Jika, sedang berdua bersamanya dia akan terlihat manis. Akan tetapi, jika di kafe dia bagai monster yang menyeramkan. Sorot matanya pun sangat tajam.
Semua karyawan yang berada di dapur cukup terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Aska.
Aska sudah menaiki anak tangga terlebih dahulu, sedangkan Jingga masih memperhatikan punggung Aska yang semakin menjauh. Helaan napas berat pun keluar dari mulut Jingga.
"Enak banget lu, baru kerja di sini beberapa Minggu aja udah diangkat jadi asisten pak bos," sindir karyawan yang lain.
Inilah yang Jingga takutkan. Mereka akan iri.
"Apa benar, kamu ini simpanan Pak Aska?" tambah yang lainnya.
"Kalian kira iklan Pino es cup," sambung Ken yang baru saja masuk ke area dapur.
"Jingga, kamu disuruh buatkan kopi buat bos. Katanya kamu tahu kopi apa yang bos suka," ucap Ken. Rasa curiga semakin menyeruak di hati para karyawan. Mereka menatap ke arah Jingga.
"Terus, langsung bawa ke atas," ujar Ken lagi. "Jangan sampai bos nunggu. Diamuk nanti," tambah Ken lagi. Jingga hanya mengangguk.
Jingga segera mengambil kopi kesukaan Aska dan langsung dia tuangkan ke dalam cangkir dengan ditambahkan air panas. Barista yang biasa membuatkan kopi untuk Asal sedikit terkejut melihat Jingga yang sangat tahu kopi kesukaan Aska.
"Permisi kakak-kakak, aku ke atas dulu." Bagaimanapun perlakuan para karyawan yang ada di sana, Jingga tetap bersikap sopan.
Sebuah ketukan membuat tiga pria yang tengah fokus pada layar segi empat mereka menoleh.
"Masuk!" Askalah yang berbicara.
__ADS_1
Ken dan Juno tahu siapa yang datang. Tidak akan ada yang berani mengetuk pintu ruangan atas, kecuali mereka yang disuruh oleh ketiga pria tampan tersebut.
Jingga sudah membawa nampan berisi secangkir kopi yang uapnya masih mengepul. Dia letakkan di meja Aska.
"Silahkan diminum, Pak." Hanya sebuah anggukan yang Aska berikan.
"Jingga, buatin saya teh manis anget dong," pinta Ken.
"Saya kopi item pahit," tambah Juno.
Jingga sudah mengangguk, tetapi suara Aska menggema. "Jingga asisten gua. Bukan asisten kalian berdua," sinis Aska.
"Sama aja kali, Sa," sergah Ken.
"Lu piara asisten sendiri dan bayar pake uang lu pribadi," sungut Aska. Ken.
"Set dah! Lu kira ikan main piara-piara ae," sergah Ken.
Aska tidak menggubris ucapan Ken. Dia malah menatap ke arah Jingga.
"Kamu hanya perlu mematuhi perintah saya. Tidak dengan dua manusia tidak berguna itu," tunjuknya pada Ken dan Juno.
Jika, orang lain yang mendengarnya pasti sudah sakit hati. Berhubung Ken dan Juno adalah dua manusia yang sudah kebal dengan bisa yang dimiliki Aska.
Jingga bingung dia harus mengerjakan apa. Akhirnya, Aska memberikan ponselnya kepada Jingga. Sontak matanya melebar.
"Itu ponsel khusus laporan kafe yang saya miliki. Kamu cukup mengecek pesan yang masuk di sana dan katakan kepada saya." Bukan hanya Jingga yang tercengang, Ken dan Juno pun melongo mendengar ucapan Aska.
Ternyata banyak sekali pesan yang masuk ke ponsel tersebut, sehingga Jingga harus berada di samping Aska dan memberitahukannya kepada Aska.
"Pak, ada yang ingin bertemu dari pihak kopi Kamojang," ujar Jingga.
Aska mendekatkan wajahnya ke arah ponsel yang digenggam Jingga. "Tanya, kapan?" balas Aska. Tangan Jingga menari-nari di atasa layar segiempat tersebut.
Lima menit kemudian, balasan Aska dijawab. "Sabtu malam katanya, Pak." Aska mengangguk.
"Gua ikut, ya," ucap Ken.
"Gua rindu Kota Bandung. Kita touring lagi," sambung Juno.
"PD amat kalian," balas Aska yang masih fokus pada laptopnya.
"Lu 'kan gak bisa jalan sendiri," imbuh Ken. Aska kini menatap ke arah sahabatnya yang sangat amat menyebalkan.
"Siapa yang mau ke sana sendirian?" Dahi Ken dan Juno mengkerut. "Gua sama Jingga ke sananya."
"Hah?"
...****************...
__ADS_1
Komen dong ....