
Aska pulang dengan membawa luka di dada. Namun, semua itu tidak menyurutkan cintanya kepada sosok wanita yang terus saja menghantuinya.
Berbeda dengan kembarannya yang tengah dilanda kebahagiaan yang tak terkira. Selalu memanjakan istri tercintanya. Ketika Aska bertolak ke Jakarta, semua penghuni rumah Rion sedang menuju rumah Nyonya Bhaskara, ibunda dari Arya Bhaskara.
Pagi harinya ...
Rion terus tersenyum dan wajahnya memancarkan rona bahagia. Itu membuat Arya menatapnya heran.
"Udah mulai gila?" sergah Arya.
Rion hanya melirik sekilas ke arah sahabatnya itu. Kemudian, dia memfokuskan kembali matanya ke arah laptop.
"Roman-romannya lagi bahagia nih," tebak Arya.
"Riana hamil anak kembar," jawabnya, tanpa memalingkan wajah ke arah Arya.
"Serius?" Rion mengangguk mantap.
"Anak-anak lu keturunan kucing kali, ya. Setiap hamil pasti keluar banyak," oceh Arya.
Pulpen Rion lempar hingga mengenai kepala Arya. Sang empunya kepala pun mengaduh.
"Jangan sembarang lu kalau ngomong! Kucing lu aja kalah sama anak-anak gua," balasnya.
Arya berdecih kesal dan menatap jengah ke arah Rion Juanda sang duda dua kali.
"Oh iya, gua baru ingat," ujar Arya.
Rion kini menatap Arya, begitu juga Arya yang menatap ke arahnya.
"Nanti malam lu disuruh ke rumah Tuan Anthony Bhaskara," lanjutnya.
Dahi Rion mengkerut mendengar ucapan dari Arya. "Itu 'kan bapak lu?" sergahnya.
"Lah iya. Lu disuruh ke sana oleh sang emak tercinta," jawabnya.
"Mau ngapain?" tanya Rion heran, tidak biasanya Nyonya Bhaskara mengajakanya makan malam bersama.
"Mau dijadiin mantu kali," jawab Arya asal.
Kini, buku kecil mendarat di kepala Arya. Sahabat Rion itu terus mengaduh.
"Sakit woiy! Geger otak nih gua," sungutnya.
"Jangan ngadi-ngadi lu!" omel Rion.
"Siapa juga yang mau punya kakak ipar macam lu?" balas Arya.
"Gua cuma dapat perintah itu doang. Emak gua juga gak bilang ada acara apa," lanjutnya lagi.
"Gua gak bisa datang," ucap Rion.
"Serah lu! Dikutuk jadi batu nisan baru nyaho lu!" tukas Arya.
"Bhang Sat!" pekik Rion. "Lu nyumpahin gua mati?" hardiknya.
__ADS_1
"Kagak, tapi 'kan kematian itu tidak ada yang tahu, bukan?" Cara bicara Arya bagai manusia sok bijak.
Ingin rasanya Rion mencekik Arya hidup-hidup. Semakin tua tingkat menyebalkannya semakin menjadi. Suara dering ponsel membuat Rion yang hendak menimpali ucapan Arya terhenti. Kedua alisnya menukik tajam ketika dia melihat siapa yang menghubunginya.
"Emak lu," ucap Rion sambil menunjukkan nama yang tertera di ponselnya.
"Angkatlah, entar emak gua nyap-nyap lu," balas Arya yang sudah fokus pada pekerjaannya.
"Iya, Tante," jawabnya sopan.
"Anak bungsu kesayangan Tante sudah memberi tahu kamu 'kan?"
"Beri tahu apa ya, Tante ." Rion pura-pura tidak tahu.
"Perihal makan malam nanti."
"Oh, tapi maaf Tante ...." Rion menggangung ucapannya.
"Kenapa? Kamu mau nolak datang?Pokoknya gak ada penolakan! Sekalian juga ajak anak, menantu serta cucu kamu."
"Lah ini mau makan malam atau mau sensus keluarga gua?" batin Rion.
Nyonya Bhaskara tak memberi kesempatan untuk Rion menyanggah ucapannya. Dia terus saja mengoceh bagai burung yang tengah ikut perlombaan.
"Ya udah, aku usahakan ya, Tan."
Pada akhirnya Rion menyerah juga, sedangkan Arya sudah tertawa.
"Mau ngapain sih sebenarnya?" erang Rion.
Arya menggedikkan bahunya, ibunya tidak memberi tahu apapun kepadanya. Hanya akan mengadakan makan malam, begitulah yang ibunya katakan.
"Gak tahu Ayah juga, Dek. Oma hanya menyuruh kita untuk datang," jelas Rion.
Di mobil yang dikendarai oleh Radit hanya diisi oleh empat orang. Radit, Rion, Echa serta Iyan, sedangkan ketiga cucu Rion ikut bersama tantenya di mobil Aksara.
Tibanya di kediaman Anthony Bhaskara, sudah terparkir mobil Arya di halaman rumah. Mereka turun dan segera masuk. Sambutan hangat diberikan oleh Tuan Anthony beserta istri.
"Tamu kita sudah datang," imbuh Tuan Anthony, seraya berjabat tangan dengan Rion.
Riana terus menggenggam tangan Aksa. Sekarang ini dia tidak ingin jauh dari suaminya. Apalagi, malam ini suaminya terlihat sangat tampan.
"Wah, ada pengantin baru," sapa Nyonya Bhaskara.
Riana tersenyum dan mencium tangan ibu dari Arya. Begitu juga dengan Aksa.
"Makin tampan sekali kamu, Aksa," puji Nyonya Bhaskara.
"Terima kasih, Oma," balasnya.
Si triplets sudah berlarian ke sana ke mari. Apalagi ada Beeya di sana serta cake cokelat yang di meja.
"Bhaskara ke mana, Tante?" tanya Rion.
"Lagi jemput Arina," jawab Nyonya Bhaskara seraya tersenyum.
__ADS_1
"Arina?" batin Rion.
Riana terus bergelayut manja di lengan suaminya, meskipun Aksa tengah berbincang dengan Tuan Anthony.
"Maaf ya, Opa. Riana sedang hamil muda makanya dia gak mau lepas sama saya," terangnya.
Aksa hanya takut jika Tuan Anthony mengira bahwa Riana adalah perempuan yang manja. Pada nyatanya ini adalah keinginan sang buah hati yang tidak mau jauh dari ayahnya.
"Tidak apa, wajar bawaan bayi," sahut Tuan Anthony seraya tersenyum.
Tak berselang lama, Arya datang bersama Arina. "Loh kok banyak orang?" tanya Arina bingung.
"Ada acara makan malam. Makanya, kamu dijemput Arya," jawab Tuan Anthony.
"Dalam rangka apa?" tanya Arkna yang masih bingung.
"Udah, mending mandi dulu," titah Nyonya Bhaskara.
Arian mematuhi ucapan sang ibu. Bibirnya melengkung sempurna ketika melihat si triplets ternyata ada di sana juga.
"Hai, kembar tiga," sapa Arina.
Si triplets menoleh dan tersenyum ke arah Arina. Mereka mendekat dan mencium tangan Arina.
"Anteu mandi dulu, ya. Nanti kita main," ucap Arina.
"Oke, Anteu," jawab mereka bertiga.
Setelah semuanya tiba, Nyonya Bhaskara mengajak semuanya makan malam. Menu yang tersedia adalah menu spesial. Rion menatap ke arah Arya, sorot matanya itu penuh dengan tanda tanya. Namun, Arya hanya menggelengkan kepalanya pelan.
Mereka menikmati makan malam dengan suasana hening, sesekali para pria membahas perihal pekerjaan mereka. Riana masih bermanja dengan Aksa, Jika, dia tidak sedang hamil mana mau dia bermesraan didepan umum seperti ini. Dekat dengan sang suami menghilangkan rasa mual serta keinginan yang aneh-aneh.
Setelah makan malam, mereka berkumpul di ruang keluarga yang sangat besar, Beeya sang cucu tunggal sudah asyik memakan cemilan yang ada di sana. Sama halnya dengan ketiga anak Echa yang tak hentinya mengunyah sedari tadi.
"Maaf nih, Om. Sebenarnya ada apa, ya?" tanya Rion. Sedari tadi kedua orang tua Arya seakan menatapnya dengan tatapan aneh.
"Om dan Tante gak akan memanggil aku kalau gak ada hal yang penting," lanjutnya lagi.
Persahabatan Arya dan juga Rion memang sudah sangat lama. Mereka tahu keluarga masing-masing. Rion pun sering berkunjung ke rumah besar ini.
"Ternyata kamu sangat peka," ujar Tuan Anthony, seraya tersenyum.
Hati Rion sedikit berdegup ketika dugaannya benar. Dia kembali menoleh ke arah Arya, lagi-lagi Arya menggeleng.
"Om dan Tante sengaja ngumpulin kamu beserta keluarga kamu karena ada hal penting yang ingin kami katakan," terangnya.
Semua orang yang ada di sana kini menatap ke arah kedua orang tua Arya. Termasuk Arya, Arina, Beby serta Beeya.
"Ada apa sih, Opa?" tanya Beeya. Dia sudah menatap sang kakek dengan sangat intens,
"Om ingin kamu dan Arina menikah."
"Apa?
...****************...
__ADS_1
Maaf kesorean ...
Komen dong ....