
Semua orang tercengang mendengar semua ucapan Genta Wiguna. Para wartawan merekam semuanya tanpa terkecuali. Ini adalah berita spektakular dan jarang terjadi. Biasanya yang licik akan selalu menang dan yang menjadi korban akan terus kalah. Akan tetapi, kasus ini berbeda. Melawan Genta sama dengan mencari mati.
Aksa ingin segera menghampiri sang kakek, tetapi Aska melarangnya. Dia yakin, masih ada kebenaran lagi yang akan diungkapkan oleh Genta.
Gio yang baru saja bertolak dari Singapura terkejut ketika melihat sang ayah sehat wal'afiat. Padahal, kata dokter khsusus yang menangani Genta keadaan sang ayah masih belum stabil.
"Apa ini rencana Ayah? Sehingga semua anak buahku tidak ada yang bisa menembus pertahanan Mahendra," gumamnya.
Ada kelegaan di hati Gio, serta ada kebahagiaan yang tak terkira. Kerinduan yang menggebu dia tunjukkan dengan mata yang berkaca-kaca ketika menatap wajah sang ayah di balik layar laptop yang menyala.
Ayanda, Echa serta Radit pun terkejut ketika melihat Genta berada di ruang konferensi pers dengan tubuh yang sangat sehat. Mereka tidak percaya, tetapi keterangan Genta tentang video demi video yang diputar membuat mereka mengerti.
Kembali ke Genta Wiguna. Dia masih menatap nyalang ke arah Mahendra. Mahendra hanya bisa menunduk dalam. Nyawanya sudah di ujung tanduk.
"Jadi, anak yang dikandung oleh Ziva bukan anak dari cucu Anda?" Salah seorang wartawan memberanikan diri untuk bertanya di tengah suasana yang panas.
"Saya yakin, cucu saya tidak pernah menyentuh anaknya," tunjuk Genta ke arah Mahendra.
"Foto mesra mereka berdua itu?" tanya wartawan yang lain.
"Jebakan, dia yang telah menjebak Aksa. Di mana Aksa yang sudah terlelap karena kelelahan, dengan tak tahu malunya wanita itu melucuti pakaian atas bagian Aksa. Dia lakukan dengan sangat hati-hati agar Aksa tidak terbangun. Kemudian, dia pun membuka bajunya sendiri dan berfose layaknya suami-istri yang kelelahan telah melakukan olahraga malam," terangnya.
Aksa yang mendengar penjelasan dari ruangan yang berbeda menghela napas lega. Wajahnya benar-benar bahagia.
"Zivana Meysha Mahendra telah menyerahkan kesuciannya kepada adik kandung Mahendra yang belum lama ini meninggal dunia akibat kecelakaan. Namanya, Mahesa." Semua orang terkejut ketika mendengar keterangan dari Genta.
Genta juga memperlihatkan foto demi foto kedekatan Mahesa dan Ziva.
Wajah marah dan geram bukan hanya Genta tunjukkan. Aksa yang masih bisa mengontrol amarahnya pun kini sudah tidak tahan lagi. Fahri dan Christian tidak mampu menahan Aksa, akhirnya mereka membiarkan Aksa keluar yang diikuti oleh Aska.
"Saya kira ayah biologis dari anak yang dikandung Ziva adalah Rakha."
Suara orang yang tidak Mahendra dan Brandon sangka-sangka kini menggema memenuhi ruangan. Senyum tipis ditunjukkan oleh Genta. Begitu juga mata yang menyorotkan kerinduan terlihat jelas di wajah Aksa. Namun, dia masih bersikap santai dan datar. Begitulah ciri khas Aksa.
"Siapa Rakha?" timpal wartawan lainnya.
Sebuah video diputar kembali. Video yang Aksa tidak ketahui. Dia pun menyipitkan mata ketika melihat ruangan yang sangat dia kenali. Ada dua orang sejoli yang tengah bertindak tidak senonoh.
"Benar-benar jalank!!" seru Aksa dengan teriakan cukup keras.
__ADS_1
Ijinkan aku untuk bertanggung jawab atas anak ini. Meskipun, pertama kali kita melakukan ini kamu sudah tak tersegel. Aku tidak masalah karena aku mencintai kamu, Ziva.
"Dia lah Rakha," ujar Genta.
"Ya Tuhan, Hyper sekali. Bisa berubah-ubah pasangan," ucap jijik wartawan wanita. Tak dia pedulikan di depannya ada Mahendra.
"Wanita gilaa," kata wartawan yang lainnya.
Di lain tempat, dua wanita sudah ditangkap oleh pihak kepolisian. Pemberontakan terjadi, tetapi tenaga mereka tidaklah kuat melawan tenaga polisi. Bukan hanya polisi, orang berbaju hitam pun sudah menjemput mereka. Belum lagi para wartawan yang terus menyorot kamera ke arah mereka.
Bukan dengan mobil polisi mereka dibawa, tetapi dengan mobil hitam mewah mengkilap. Dua orang berbaju hitam mendorong mereka dengan cukup keras.
"Hati-hati! Aku tengah mengandung," bentak salah seorang wanita itu.
"Mengandung anak orang lain, tetapi putra ku yang harus bertanggung jawab atas kehamilanmu? Begitu?"
Suara yang terasa sangat dingin dan penuh dengan penekanan. Terlihat dada orang itu turun-naik seperti sedang menahan kemurkaan.
"Gio."
Tidak ada jawaban dari pria itu, dia segera menyuruh sopir untuk melajukan mobilnya menuju ke suatu tempat.
"Maafkan Zi, Dad," kata Ziva.
Mulut kejam Gio sudah beraksi. Taring Gio kembali keluar. Ditambah semua perusahaannya kembali normal. Jadi, sudah tidak ada beban lagi di hatinya.
Mulut Sarah terbungkam, menjadi kekasih Gio di masa muda membuatnya tahu bagaimana watak Gio sesungguhnya. Apalagi, jika sudah emosi. Manusia sehat pun bisa dia masukkan ke liang lahat.
Suasana semakin panas di ruang konferensi pers. Genta terus menunjukkan bukti demi bukti kecurangan yang Mahendra lakukan. Perusahaan yang diambang kehancuran pun itu ulah Mahendra yang sudah mensabotase semuanya. Dibantu oleh Brandon yang sudah lama menjadi pengawal pribadi Genta.
"Apa kalian masih bisa berkilah?" bentak Genta.
"Jika ini bukan negara hukum, sudah aku masukkan kalian ke dalam liang lahat pada hari ini juga," geramnya lagi.
"Om Mahendra ... Aksara yang dulu memang penurut. Dia memperlakukan Ziva sangat manis karena memang dulunya Ziva anak manis. Berbeda dengan sekarang, waktu lebih dari lima tahun bisa mengubah semuanya. Termasuk kemanisan putri Anda yang kini menjelma menjadi wanita yang sangat miris. Menggunakan tubuhnya demi untuk melancarkan rencana kalian. Banyak yang menikmati tubuhnya, lalu Anda menyuruh saya untuk yang menikahinya. Sungguh orang tua tak berotak!"
Aksa berbicara dengan sangat santai. Akan tetapi, kata-katanya sangat menusuk hati dan sanubari.
"Jadi, apa yang akan Anda lakukan? Tetap melanjutkan tes DNA atau segera menceraikannya?" Pertanyaan yang sangat menanti jawaban.
__ADS_1
"Cerai!"
Bukan Aksa atau Genta yang menjawab. Melainkan Giondra yang sudah berada di ruang konferensi pers dengan membawa Ziva dan Sarah.
Genta tersenyum ke arah sang putra yang kini sudah berkaca-kaca. Gelengan kepala pelan, isyarat bukan waktunya untuk terharu.
"Aksa tidak bisa menceraikan putriku. Dia tengah mengandung," ujar Sarah.
"Apa kalian masih percaya diri dengan surat wasiat yang kalian miliki?" Brandon mengenali suara itu. Matanya terus mencari keberadaan orang yang berbicara.
"Christo!" ucapnya tak percaya.
"Kenapa terkejut Brandon? Aku masih hidup karena aku orang baik. Tidak seperti kamu, orang bodoh yang dengan suka rela menawarkan diri untuk dimakan buaya," sindir Christo.
"Surat wasiat apa, Pak?" Wartawan kali ini dibuat bingung oleh Christo.
Layar putih sudah menunjukkan surat wasiat yang Genta tulis dengan tangannya sendiri. Kemudian, muncul surat wasiat lainnya dengan tanda tangan Genta, tetapi dengan isi yang berbeda.
"Jadi ... Pak Mahendra sudah memalsukan surat wasiat itu? Mengganti salah satu poin yang ada di sana, bahwa Pak Aksara harus menikahi putrinya?" tebak salah seorang wartawan.
Christo menganggukkan kepala. "Klien saya tidak pernah menjodohkan anak dan cucu-cucunya. Apalagi memasukkan hal tidak penting itu ke dalam surat wasiat."
Tidak ada yang dapat berbicara kali ini. Tidak ada yang bisa menyangkal semuanya. Bukti yang dibeberkan oleh Genta dan Christo sudah sangat jelas.
"Kakek," panggil lirih seorang wanita.
Mata Genta dan Gio melebar ketika melihat wanita yang mereka sayangi duduk di kursi roda.
"Apa yang sudah terjadi?" selidik Gio ke arah Radit dan Ayanda yang berada di belakang kursi roda.
Mereka bertiga hanya terdiam. Tidak ada yang mampu membuka suara. Apalagi kekhawatiran nampak jelas di wajah Gio. Gio beralih menatap ke arah Aksa. Bibir Aksa pun kelu. Dia sudah berjanji kepada sang kakak untuk tidak mengatakan apapun kepada Gio.
"Kakak didorong Ziva lalu terjatuh. Dinyatakan keguguran oleh dokter dan ... terpaksa rahimnya harus diangkat." Aska lah yang membuka suara.
Urat-urat kemarahan muncul di wajah Gio. Bukan hanya Gio yang murka, wajah Genta pun terlihat lebih murka.
"Aku pastikan kalian semua akan membusuk dan mati di dalam penjara!"
...****************...
__ADS_1
Udah ya ...
Puas ya ...