
Setelah acara haru biru, Riana tersenyum gembira karena sudah lulus dengan nilai yang terbaik. Dia memeluk kakaknya dengan sangat erat.
"Akhirnya ... selamat ya, Ri."
"Makasih, Kak. Semuanya karena jasa Kakak juga," imbuhnya.
Riana bergeser memeluk tubuh Radit. "Kamu harus bisa meraih mimpi kamu." Riana mengangguk mendengar ucapan sang kakak ipar.
"Aunty gak mau pulang kita?"
Pertanyaan yang keluar dari salah satu dari si kembar. Riana memeluk tubuh mereka bertiga menciuminya satu per satu.
"Aunty pasti rindu uncle," ujar Aleesa.
Riana menatap Aleesa dengan seksama. Sedangkan Radit, Echa dan Iyan sudah tertawa. Sedangkan Rion masih terdiam.
"He will come with a sweet surprise," bisiknya.
Apa benar?
Jawab Riana dalam hati. Dia tidak mau terlalu berharap. Dia takut kecewa. Biarkanlah hubungan ini berjalan seperti air yang mengalir.
"Iyan, kamu harus bisa melebihi Kak Ri, ya. Meskipun, nanti Ayah tidak bisa melihat kamu memakai baju toga, tapi jangan pernah kecewakan kedua kakak kamu."
__ADS_1
Iyan berkaca-kaca mendengar ucapan Rion. Dia memeluk tubuh ayahnya dengan sangat erat.
"Jangan berbicara seperti itu, Ayah. Ayah bisa melihat Kakak dan Kak Ri wisuda. Pasti Ayah juga bisa melihat Iyan wisuda," ucapnya dengan suara berat.
Echa dan Riana memeluk erat tubuh senja sang ayah. Rion memang masih tampan, tetapi sudah terlihat guratan halus di wajahnya. Matanya sudah sayu menandakan dia memang sudah tidak sekuat dulu.
Ketiga cucunya pun memeluk erat tubuh Rion. Mereka adalah pelipur lara bagi Rion di saat kesedihannya melanda. Rasa sepi pasti ada, semakin hari anak-anaknya semakin besar dan memiliki kesibukan masing-masing. Di situlah, Rion harus ikhlas dan berdamai dengan rasa sepi. Untung saja, Tuhan mengirimkan tiga kurcaci kecil yang menjadi kebahagiaannya saat ini.
Riana tersenyum bahagia ketika memegang buket bunga. Senyum manisnya terukir jelas di sana. Hatinya seolah menunggu seseorang. Matanya melirik ke sana dan ke mari. Akan tetapi, orang yang dinanti Riana tidak ada.
Aku ingin Abang hadir dan memberikan kejutan yang manis. Namun, semuanya hanya khayalanku saja.
Batinnya berkata sangat lirih. Apa yang dia tonton di drama Korea tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Aksa tetaplah Aksa bukan pemain di drama Korea. Hanya hembusan napas berat yang keluar dari mulut Riana.
"Nanti langsung kirim ke Jakarta saja, ya." Sang fotografer pun mengangguk.
Di lain tempat, seorang pria sudah menyunggingkan senyum manisnya. Matanya terus memandangi setiap sudut ruangan.
"Sempurna," gumamnya.
Dia segera mengambil ponselnya di saku. Membuka aplikasi pesan dan tangannya sangat lihat mengetikkan sesuatu di atas dan.
"Posisi?"
__ADS_1
"Sebentar lagi ke sana. Apa semua sudah siap?"
Tangannya pun mulai membalas pesan tersebut.
"Sudah."
Pria itu memasukkan kembali ponselnya, duduk manis di belakang meja dengan sudut bibir yang melengkung dengan sempurna.
"Semoga kamu suka," gumamnya.
Ketika khayalannya sedang melambung, tiba-tiba seseorang datang. Membisikkan sesuatu di telinganya.
"Kita harus terbang ke Jakarta, sekarang."
Pria itu menatap tak mengerti ke arah pria yang tengah berbisik di telinganya.
"Abortus spontan."
...****************...
Ada apa ini?
Tembus 70 komen aku akan up lagi.
__ADS_1