
Tamu undangan tidak ada yang Riana kenal. Hampir semuanya adalah kolega Aksa, Gio dan Rion. Namun, mata Riana berbinar ketika dia melihat seorang perempuan yang terlihat cantik dalam polesan riasan tipis.
"Mbak Jingga!"
Perempuan itu tersenyum dan memeluk tubuh Riana.
"Kenapa gak bilang kalau mau nikah sama Pak ...." Ucapannya terhenti ketika melihat wajah suami Riana.
"Kenapa Mbak?" tanya Riana.
"Kamu ... Askara?"
Riana pun tergelak, sedangkan Aksa masih menunjukkan wajah datar.
"Dia Aksara, Askara itu adiknya."
"Kembar?" batin Jingga.
Seketika dia menoleh ke pojokan, sosok yang sama dengan pria di hadapannya.
"Selamat ya, Mbak," ucap Jingga. Dia tidak ingin membahas perihal Askara atau Aksara. Tidak penting baginya.
"Mbak, sendiri?" tanya Riana.
"Sama calon suami."
Riana terkejut mendengarnya. Dia pikir Jingga masih single ternyata sudah memiliki calon suami.
"Kalau nikah, undang aku ya, Mbak." Jingga hanya tersenyum kecut.
"Bang, nanti mau 'kan datang ke pernikahan Mbak Jingga?" tanya Riana antusias.
"Tentu, Sayang. Apa sih yang enggak buat kamu." Kecupan hangat Aksa berikan di puncak kepala Riana.
Sungguh pemandangan yang membuat Jingga iri. Hanya kata andai yang keluar dari mulutnya.
"Mbak, saya ke bawah dulu, ya. Masih banyak tamu yang ingin mengucapakan selamat," tuturnya.
Riana pun mengangguk dengan senyum yang merekah. Tangan Riana merangkul manja lengan Aksa.
"Abang, yang ngundang Mbak Jingga?" Hanya sebuah anggukan yang Aksa berikan.
"Makasih, suamiku," ucapnya penuh cinta.
"Tapi, itu tidak gratis," bisik Aksa.
__ADS_1
Riana sedikit waspada dengan ucapan sang suami. Dia menatap tajam ke arah Aksa.
"Kamu harus membayarnya setelah kita di kamar." Seringai pun muncul di wajah Aksa, sedangkan Riana mulai sedikit ketakutan mendengar ucapan sang suami.
Sudah hampir dua jam Riana dan Aksa berdiri. Kaki Riana terasa pegal dan juga perih, kakinya sudah pasti lecet.
"Capek, ya?" Hanya anggukan yang menjadi jawaban dari Riana.
"Dingin," bisik Riana.
"Jangan menggoda, Sayang."
Setelah sah menjadi suaminya Aksa yang kalem berubah menjadi Aksa mesoem. Apa yang Riana katakan pasti diartikan berbeda. Padahal Riana benar-benar kedinginan karena gaun yang sedikit terbuka memperlihatkan pundak putihnya. Tangannya pun sudah seperti es.
Kini saatnya mereka berdua menikmati makanan karena mereka memang belum makan sedari pagi. Aksa menyuapi sang istri dengan telaten.
"Udah, Bang."
"Sedikit banget sih, Yang. Nanti kamu sakit," ujar Aksa.
Aksa memaksa, tetapi Riana menggeleng. Akhirnya Aksa pun menyerah.
Tumpukan kado menjulang tinggi. Sudah pasti berisi barang-barang mewah dan mahal. Sambil menemani sang suami makan, Riana mencari sosok tiga tuyul yang tidak kelihatan batang hidung mereka.
"Si triplets ke mana ya, Bang?" tanya Riana.
Aska terlihat lesu dan mendudukkan tubuhnya di samping pengantin baru.
"Kenapa?" tanya Aksa seraya mengunyah.
Aska tidak menjawab, tetapi Aksa merasa aneh. Adiknya ini mau keluar dari tempat persembunyiannya padahal para kolega ayahnya masih ada.
"Diapain sama Fahrani apa Christina?" tebak Aksa.
Decakan kesal keluar dari mulut Aska. "Gak ada hubungannya sama mereka."
"Kak, itu Mbak Rani ngelihat ke sini terus," ujar Riana.
"Bodo amat!"
Aksa dan Riana tertawa. Namun, tamu undangan yang masih berdatangan, membuat Aksa dan Riana harus kembali ke pelaminan.
"Kamu sudah siap jadi kejaran paparazi?" bisik Aksa.
Aska segera kembali ke pojokan dengan segala pikiran yang tengah memenuhi kepala.
__ADS_1
Hampir tiga jam sudah pengantin baru ini berdiri. Ketika resepsi dinyatakan selesai, Riana mendudukkan diri di kursi pelaminan dengan hembusan napas lega.
Aksa memeluk tubuh Riana dan merasakan aroma tubuh istrinya yang kini menjadi candu untuknya.
"Ke kamar, yuk. Kita istirahat," ujar Aksa.
Lelah yang mendera Riana, akhirnya Riana menyetujuinya. Namun, dengan mencopot heels yang dia gunakan. Kakinya benar-benar perih. Aksa hanya dapat tertawa.
"Mom, Dad, Ayah, Abang dan Riana istirahat dulu, ya." Ketiga orang tua itu pun mengangguk.
"Gempur, Bang. Sekali celup harus langsung jadi," kelakar Gio.
Pukulan keras Rion layangkan. Tidak terima dengan perkataan besannya itu. Aksa dan Ayanda tertawa sedangkan Riana hanya mengangkat bahunya tak mengerti. Otaknya sudah tidak mampu menyambungkan ucapan yang ambigu dari para pria dewasa.
Rona berseri Aksa tunjukkan. Dia membuka kamar suite room yang sudah diberi kelopak mawar yang sangat banyak dan indah. Rasa lelah Riana menguap sudah. Aksa, memeluk Riana dari belakang. Meletakkan dagunya di pundak sang istri. Bibirnya mulai menyusuri leher jenjang Riana.
"Abang."
Riana merasa geli dengan perlakuan Aksa. Tak dipungkiri ada desiran aneh yang Riana rasakan. Sekarang, Aksa sudah membalikkan tubuh Riana. Membawa dagu Riana mendekat ke wajahnya.
Rasa itu berbeda ketika mereka melakukannya di dalam pesawat maupun di dalam lift. Sekarang lebih nikmat dan memabukkan karena mereka sudah sah menjadi pasangan. Tidak ada yang mereka takutkan jika mereka harus kebablasan.
Keduanya terbawa arus hingga lenguhan keluar dari bibir Riana dan tubuh Riana sudah tidak seimbang lagi karena tidak sanggup menahan sesuatu yang membuatnya melayang. Aksa merengkuh pinggang Riana agar dia tidak terjatuh. Bibirnya terus menyusuri dan seakan sedang mencari tahu di mana letak kelemahan sang istri.
Namun, semuanya harus berakhir ketika suara bel berbunyi. Aksa dan Riana pun tersadar bahwa mereka belum membersihkan diri. Kecupan hangat Aksa berikan di kening Riana sebelum dia bangkit untuk membuka pintu.
"Maaf, Tuan. Saya disuruh membawa semua hadiah ini ke kamar pengantin." Hanya anggukan yang Aksa berikan.
"Kami permisi, Tuan." Dua pelayan hotel pun meninggalakan kamar pengantin baru tanpa rasa bersalah. Padahal mereka sudah mengganggu gejolak pengantin baru tersebut.
Riana sudah membersihkan riasannya. Wajahnya sangat sensitif akan make up tebal. Lagi-lagi suaminya memeluknya dari belakang.
"Mandi bareng yuk, Yang. Biar kamu bisa kenalan dulu sama adik Abang."
Riana tersentak mendengar ucapan Aksa. Sungguh tanpa sensor dan filter. Kerlingan mata yang Aksa berikan membuat Riana bergidik ngeri.
Namun, dia juga mengiyakan ajakan sang suami. Sudah saatnya Riana memperlihatkan semuanya kepada Aksa. Begitu juga Aksa.
Di dalam kamar mandi mereka hanya memandang satu sama lain. Tak berkedip dan nampak terpesona. Aksa mulai menyentuh tubuh Riana dan menuntun tangan Riana untuk berkenalan dengan adik tercinta. Terbuai akan indahnya tubuh masing-masing. Aksa membawa tubuh Riana ke dalam bath up yang sudah berisi air hangat. Pemanasanlah yang mereka lakukan. Kini, Aksa sudah benar-benar tahu titik terlemah istrinya. Setelah dirasa cukup untuk pemanasan, Aksa membalut tubuh Riana dengan bathrobe begitupun dengan dirinya.
"Kita lanjut di tempat tidur. Abang tidak ingin mengukir kenangan buruk untuk first night kita." Sorot mata Aksa sudah penuh dengan napsu begitu juga dengan Riana.
Namun, ketika Aksa sudah menggendong Riana dan hendak membuka pintu, terdengar suara yang dia kenali. Aksa menurunkan tubuh istrinya. Sedikit membuka pintu kamar mandi. Matanya membelalak dengan sempurna ketika siapa yang dia lihat.
"Jangan ngintip-ngintip begitu, Uncle. Dedek tahu Uncle dan Aunty ada di kamar mandi. Ayo, cepat ke sini! Kita buka semua hadiahnya."
__ADS_1
...****************...
Udah dua bab ya, komennya banyakin. 😁