
"Jingga!"
Aksa segera menoleh begitu juga dengan Aska. Namun, lampu berwarna hijau sudah menyala menandakan mobil yang dikemudikan oleh Aska harus segera berjalan.
"Jingga! Itu Jingga, Kak!"
Riana berteriak karena Aska malah melajukan mobilnya bukan menghentikannya barang sebentar saja.
"Peraturan di sini tidak seperti di Indonesia, Ri," ucap Aska.
Teriakan itu memicu kontraksi kembali dan membuat Riana mulai meringis lagi.
"Tuh 'kan, jangan terlalu heboh," omel Aksa. Dia segera memeluk tubuh Riana dan mengusap lembut perut buncit sang istri.
"Maaf, ya." Ucapan penuh penyeselan yang keluar dari mulut Aksara karena tadi sudah membentak sang istri tercinta. Dia juga membubuhkan kecupan hangat di puncak kepala sang istri.
"Jangan bentak-bentak, hati Ri sakit."
"Iya, maafin Abang, ya." Riana akhirnya mengangguk membuat hati Aksa sedikit lega.
Aska yang dapat melihat kemesraan mereka berdua secara langsung hanya dapat tersenyum bahagia. Terbesit khayalan tentang dirinya dan juga Jingga jika bersatu. Dia ingin seperti Abang juga iparnya yang selalu menjadi best couple.
Tibanya di rumah sakit, Aksa segera membawa Riana dengan menggunakan kursi roda. Aska sudah membuat janji dokter kandungan ternama di rumah sakit ini. Setelah diperiksa dokter hanya tersenyum. "Hanya kontraksi palsu. Jadi, jangan panik.
Aksa dapat bernapas lega, berbeda dengan Riana yang menginginkan ini kontraksi sungguhan. Dia ingin melahirkan secara normal. Dia ingin menjadi seorang ibu yang sesungguhnya agar dia bisa menyayangi anaknya dengan penuh cinta. Anak yang dia lahirkan dengan penuh perjuangan.
Setelah pemeriksaan mereka kembali ke apartment. Aksa duduk di tepian ranjang dengan menggenggam erat tangan istrinya.
"Kenapa sedih?" tanya Aksara dengan sangat serius.
"Ri, ingin melahirkan secara normal. Ri, ingin merasakan menjadi ibu yang sesungguhnya."
Aksa mencium punggung Riana dengan sangat dalam. Dia menatap wajah Riana dengan penuh cinta. "Melahirkan secara apapun, kamu akan tetap menjadi ibu dan istri yang sempurna untuk Abang dan juga calon anak kita," terang Aksa.
Riana hanya bisa menghela napas kasar. Dia menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang. Dia teringat akan kisah dirinya ketika baru lahir. Alasan mendiang ibunya sangat menyayangi Riana karena Riana lahir secara prematur dan harus mendapat perawatan yang intensif. Riana juga adalah anak yang sangat diimpikan oleh ayahnya. Berbeda dengan Iyan yang memang anak tak direncanakan.
"Bang, misalkan ... setelah anak kita lahir terus Ri hamil lagi anak yang tidak kita rencanakan, apa Abang akan tetap sayang kepada anak kita yang tidak rencanakan itu?"
Aksa tertawa mendengar ucapan sang istri. Dia mencubit gemas Riana. "Anak adalah anugerah terindah yang Tuhan berikan untuk kita. Tugas kita menjaganya, merawatnya serta memberikannya kasih sayang yang tulus dan besar. Tidak ada alasan untuk kita membedakannya karena mereka terlahir suci."
Riana pun tersenyum mendengar jawaban dari sang suami. Dia meyakini bahwa anak yang dikandungnya sekarang ini sudah lahir pasti akan memiliki adik. Dia takut, jika dia tidak bisa bersikap adil kepada anak-anaknya. Setelah mendengar jawaban dari sang suami dia seperti mendapat pencerahan lagi.
"Kenapa nanya begitu?" Riana hanya menggeleng. "Apa setelah empat puluh hari mau langsung digaskeun biar Aksara dan Riana junior hadir lagi," goda Aksa.
Riana mencubit perut suaminya dengan cukup keras. Tatapan Riana pun sangat tajam dan membunuh.
"Kapan sih tuh pikiran bisa bersih dan jernih?" geram Riana.
__ADS_1
"Gak akan pernah bisa bersih kalau ada kamu di samping Abang."
Tangan Aksa pun sudah menyelinap ke dalam dress yang digunakan oleh Riana. Sungguh cekatan sekali putra pertama Tuan Giondra Aresta Wiguna ini. Istrinya pun seakan membiarkannya saja karena menurut artikel yang dia baca hubungan badan suami-istri akan membuka jalan untuk si jabang bayi.
.
Askara, pria yang masih penasaran dengan apa yang dikatakan Riana mencoba kembali ke lampu merah di mana Riana memanggil nama Jingga.
"Apa mungkin Jingga di sini?" tanyanya pada diri sendiri. "Dengan siapa?" Pertanyaan lain pun terlontar lagi.
Aska terus berkeliling tempat itu untuk mencari Jingga. Dia tidak akan menyapa, dia hanya ingin melihat saja. Dua jam sudah Aska seperti orang bodoh, memutari wilayah itu berkali-kali. Namun, orang yang ingin dia temui tidak ada.
"Apa cuma halusinasi si Riana aja?" tanyanya lagi.
Hembusan napas kasar pun keluar dari mulut Aska. Dia memilih untuk berdiam diri sejenak di kedai kopi yang full music. Sudah dua jam Aska masih betah di sini. Tempat di mana dia merasa tengah berada di Kota Jakarta karena lagu yang diputar pun lagu Indonesia. Menikmati dua cangkir kopi hanya dengan berdiam diri. Aska pun menghembuskan napasnya kasar. Dia berjalan menuju mini panggung tempat di mana para penyanyi mengeluarkan suara merdu mereka. Terlebih dahulu Aska meminta ijin kepada pihak kedai kopi. Ternyata pemilik kedai kopi itu adalah orang Indonesia juga sehingga dia bisa mengungkapkan isi hatinya melalui sebuah nyanyian.
(Mesin Waktu-Budi Doremi)
🎶
Kalau harus ku mengingatmu lagi
Aku takkan sanggup
Dengan yang terjadi pada kita
Jika melupakanmu hal yang mudah
Takkan membuat hatiku lelah
Kalah, kuakui aku kalah
Cinta ini pahit
Dan tak harus memiliki
Jika aku bisa, ku akan kembali
Ku akan merubah
Takdir cinta yang kupilih
Meskipun tak mungkin,
Walaupun ku mau
Membawa kamu lewat mesin waktu
__ADS_1
Jika melupakanmu hal yang mudah
Ini takkan berat
Takkan membuat hatiku lelah
🎶
Suara merdu Aska mampu membuat para pengunjung terhipnotis dan menikmati. Seorang wanita dengan rambut sebahu juga badan berisi tengah menunduk dalam ketika mendengar lagu tersebut. Posisinya membelakangi sang penyanyi.
"Panjang ... perjalanan yang harus kulalui ... merelakanmu." Dia pun ikut bernyanyi.
🎶
Panjang perjalanan yang harus kulalui
Merelakanmu
Jika aku bisa, ku akan kembali
Ku akan merubah
Takdir cinta yang kupilih
Meskipun tak mungkin,
Walaupun ku mau
Membawa kamu lewat mesin waktu,
🎶
Air mata wanita itupun menetes. Lagu itu seperti mewakilkan perasaanya yang sesungguhnya. Sulit untuk melupakan seseorang yana masih bersarang di hatinya. Andai, ada mesin waktu seperti di cerita Doraemon, dia akan kembali ke waktu di mana dia mengulur waktu untuk menjawab sebuah pernyataan cinta dari seseorang yang mencintainya dengan sangat tulus.
Aska menyudahi nyanyiannya dengan mengucapkan terima kasih. Dia turun dari mini panggung dan kembali ke meja yang daa duduki. Di belakang kursi yang diduduinya, sad girl itu berada.
"Kenapa aku merasa dekat dengan Jingga?" gumam Aska. Ada kehangatan yang Aska rasakan.
Dia meminum sisa kopi di cangkirnya dan setelah itu memutuskan untuk pergi dari kedai kopi tersebut. Ketika dia bangkit dari kursi, tak sengaja kursinya mengenai seseorang di belakangnya.
"Sorry."
Seketika mata Aska melebar ketika melihat siapa orang yang ada di belakangnya.
...****************...
Komen atuh ..
__ADS_1