
Keesokan paginya, Aksa mendapat telepon dari Christian perihal jenazah Sarah yang sudah sampai di Jakarta. Jenazahnya sudah dibawa ke rumah sakit tempat di mana Sarah dulu praktek.
Aksa masih bergeming, dia sama sekali tidak ingin melihat wanita berhati iblis itu. Rasa dendamnya masih ada hingga saat ini. Gio menepuk pundak Aksa. Putranya ini sedari tadi berdiri di ruang kerjanya.
"Kita temui untuk terakhir kalinya," imbuh Gio.
"Semua biaya pemakamannya sudah Daddy urus. Bagaimanapun dia sudah berjasa dalam persalinan Mommy ketika melahirkan kalian berdua," terangnya.
Di meja makan, Ayanda sudah memberitahukan perihal kabar duka tersebut.
"Ri, akan ikut apa kata Abang, Mom," jawabnya.
Gio dan Aksa bergabung ke meja makan. Riana melihat raut tidak bersahabat yang Aksa tunjukkan. Aksa mengecup kening istrinya, kemudian duduk di samping Riana.
Riana sudah mengisi piring milik suaminya dengan berbagai aneka lauk dan sayur.
"Ri, suapin, ya."
Aksa tersenyum dan mengusap lembut pipi sang istri. Gio dan Ayanda hanya tersenyum melihat keromantisan anak dan menantu mereka.
"Kamu gak makan?" Riana menggeleng.
"Setelah sarapan ... kita ke lapangan depan, ya. Pengen cari makanan di sana." Aksa tertawa dan menyetujuinya.
Sesuai dengan permintaan Riana, mereka berdua berjalan kaki menuju tempat yang diinginkan oleh Riana. Tangan mereka terus bergenggaman membuat semua orang melihatnya menggelengkan kepala. Ternyata banyak aneka gerobak makanan di sana. Wajah Riana terlihat bahagia.
Riana dan Aksa berkeliling dan Riana tersenyum ketika melihat gerobak kue cubit. Aksa terus mengikuti kemauan istrinya. Sangat jarang dia keluar rumah seperti ini. Setelah apa yang dipesan Riana tersaji, mereka duduk di bawah pohon yang sudah terdapat bangku plastik.
Aksan mengusap lembut kepala Riana ketika melihat istrinya sangat lahap memakan makanan manis.
"Nanti gendut loh," gurau Aksa.
"Biarin. Punya suami kaya ini. Bisa sedot lemak atau operasi plastik kapanpun."
Jawaban Riana membuat Aksa tergelak. Dia mencubit hidung mancung sang istri. Riana mengarahkan kue cubit hangat ke mulut Aksa. Namun, Aksa menggeleng.
"Sayang," panggil Aksa.
Riana yang tengah mengunyah pun menatap ke arah sang suami. Wajah Aksa sudah berubah.
"Kenapa, Bang?" Hati Riana mulai khawatir dan cemas.
"Setelah dari sini, kita akan melayat dan mengantar jenazah wanita berhati iblis itu ke pemakaman."
Riana terdiam sejenak, sejurus kemudian dia tersenyum dan mengangguk pelan. Ada kelegaan di hati Riana karena hati suaminya tidak sekeras batu.
Riana memilih untuk menunda kulinerannya. Dia mengajak Aksa untuk segera pulang.
"Sayang, katanya mau keliling lagi," ujar Aksa.
"Nanti aja," jawabnya. Riana sudah meraih tangan suaminya.
"Ini hari terakhir Abang di sini. Nanti malam Abang harus kembali ke Aussie."
Tubuh Riana menegang mendengar ucapan sang suami. Dia melupakan bahwa suaminya tidak selalu berada di sampingnya. Sekuat tenaga Riana menahan air matanya. Dia masih rindu kepada suaminya.
__ADS_1
Aksa bangkit dari duduknya dan memeluk tubuh Riana. Usapan lembut dia berikan di punggung Riana.
"Maafkan Abang, Sayang."
Mereka kembali dengan wajah Riana yang sendu. Ayanda dan Gio menatap tajam ke arah Aksa. Putra mereka hanya menggeleng.
Di kamar, Riana memeluk tubuh Aksa dengan sangat erat. Aksa tahu istrinya ini tidak ingin ditinggal.
"Hanya sepuluh hari, Sayang. Nanti kita bertemu lagi."
Aksa pura-pura kuat padahal hatinya juga tidak ingin berpisah dengan Riana. Dia menatap manik mata Aksa dengan penuh rasa cinta. Mata yang sembab membuat Aksa mengecup kelopak mata Riana bergantian. Kemudian turun ke bibir mungilnya dan semuanya berubah menjadi panas.
Kesedihan kini berubah menjadi gairah yang tak terbantahkan. Baik Riana maupun Aksa sama-sama menginginkannya. Mereka menyelami lautan kenikmatan dengan alunan melodi yang membuat bulu kuduk meremang. Mereka melupakan banyak orang yang tengah menunggu.
Gesekan kulit yang licin menjadi suara yang indah di telinga mereka. Seperti para supporter olahraga yang berteriak menyemangati mereka berdua. Pacuan mereka semakin cepat menuju garis Finish. Teriakan kecil nan nikmat pun keluar dari mulut mereka berdua. Berhenti sejenak, mengatur napas barulah Aksa turun dari pacuan kuda memabukkan itu.
Dia tersenyum dan mengecup dalam kening sang istri yang masih kelelahan. Kemudian, dai mencium perut Riana. Mengusapnya dengan sangat lembut.
"Cepat tumbuh di dalam sana ya, Nak," ucapnya pelan.
Mereka membersihkan tubuh bersama. Setelah itu mengenakan baju serba hitam dengan kerudung panjang yang bertengger di kepala Riana. Tak lupa kacamata hitam.
Tangan mereka saling bertautan membuat Aska geram .
"Ngapain aja sih?" sungutnya.
Aksa tak menghiraukan ucapan sang adik. Sudah biasa Aska seperti itu. Christian pun sudah ada di sana bersama Christina. Aksa dan Riana memutuskan untuk berangkat bersama dua pengacara itu.
Di dalam mobil tangan Riana terus merangkul manja lengan kekar sang suami. Hari ini dia ingin menghabiskan waktu bersama Aksa sebelum suaminya berangkat ke Melbourne.
Sesekali mereka bercanda dan tercipta lengkungan indah di bibirnya. Mereka sudah disambut hangat oleh pihak kepolisian yang berjaga di sana. Riana semakin mempererat rangkulan lengannya. Aksa mengecup ujung kepala Riana, memberikan ketenangan kepadanya.
"Ada Abang di sini." Senyum pun mengembang di bibirnya.
Tibanya di ruang jenazah, terdengar Isak tangis yang sangat lirih dari pihak keluarga. Kedatangan keluarga Gio membuat perwakilan dari keluarga Sarah dan Mahendra menghaturkan kata maaf yang sebesar-besarnya. Mereka juga meminta pihak Gio untuk mencabut semua gugatan untuk Ziva dan juga Mahendra.
"Tidak!"
Bukan Gio yang bersuara, Aksa yang sudah mendekat bersama Riana.
"Ini negara hukum, yang salah haru dihukum seadil-adilnya," tegas Aksa.
Ziva yang tengah menangis tersedu di samping jenazah sang ibu, buru-buru menghampiri suara yang dia kenali. Matanya memerah ketika melihat Aksa datang bersama Riana. Bagai manusia kesetanan Ziva menghampiri Aksa.
Plak!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Aksa. Dia pun menarik rambut Riana hingga dia terhuyung ke sana ke mari. Aska dan Gio segera menarik tangan dan tubuh Ziva. Akan tetapi, mereka kewalahan. Tenaga Ziva semakin besar.
"Lu yang harusnya mati!" pekik Ziva kepada Riana.
Pihak kepolisian ikut membantu dan akhirnya Ziva berhasil ditarik dan dibawa oleh pihak kepolisiàn untuk ditenangkan. Riana meringis kesakitan memegangi rambutnya.
"Sayang," Aksa mengusap rambut istrinya.
"Manusia seperti itu yang kalian minta dibebaskan, iya?" Emosi Aksa sudah meledak.
__ADS_1
"Saya pastikan tidak akan ada penangguhan penangan apalagi pembebasa. Pasal berlapislah yang akan dia terima!"
Semua orang yang berada di sana terdiam. Termasuk kedua orang tua Aksa. Aska hanya memperhatikannya saja. Aska melihat pergerakan dari Mahendra karena mendengar teriakan sang Abang. Tak dia sangka Mahendra bersujud di kaki Aksa.
"Maafkan putri saya," ucapnya lemah.
Aksa melirik ke arah Christian. Dia segera menyuruh Mahendra untuk bangkit, sedangkan Aksa sudah memeluk tubuh sang istri yang terlihat masih ketakutan.
"Ziva depresi, sedari tadi dia terus memanggil nama ibunya," lirih Mahendra.
Aksa hanya tersenyum tipis. Dia menatap nyalang ke arah Mahendra.
"Anda pikir saya akan mengiba? TIDAK!" tekannya.
"Apa anak Om mau nyusul ibunya juga? Sepertinya menarik ... anak dan ibu berada dalam satu liang lahat yang sama," tutur Aska.
Kembaran dari Aksa tidak kalah sadis mulutnya. Bukannya mendinginkan suasana dia malah memperkeruh keadaan.
"Dad, Abang pulang dulu. Abang tidak ingin melihat istri Abang semakin tertekan," tukasnya. Gio mengangguk mengerti.
Dari kejauhan ada seseorang yang tersenyum menatap ke arah Aksa dan juga Riana. Usapan di pundaknya membuatnya menoleh.
"Aku bahagia, Mah. Riana menikah dengan orang yang tepat," ucapnya.
Bibirnya memang tersenyum, tetapi hatinya menitikan air mata.
"Mau bertemu dia?" tawar sang mamah. Laki-laki itu pun menggeleng.
"Cukup melihatnya dari jauh membuat aku sangat bahagia. Aku tidak mau membuatnya ketakutan, Mah. Dia pantas mendapatkan kebahagiaan."
🎶🎶
Satu hal yang terindah
Anugrah cinta yang pernah kupunya
Kau buat ku percaya
Ketulusan cinta
Seakan kisah sempurna kan tiba
Masih jelas teringat
Pelukanmu yang hangat
Seakan semua tak mungkin menghilang
Kini hanya kenangan
Yang telah kau tinggalkan
Tak tersisa lagi waktu bersama
Lagu yang cocok untuk menggambarkan perasaan Arkana saat ini. (Mahalini - Sisa Rasa)
__ADS_1