
Setelah kejadian semalam, Giondra memutuskan untuk tidak berhubungan lagi dengan keluarga Eki. Tak satupun dari anggota keluarganya yang menyukai Eki juga putrinya.
Pagi ini, Aska sudah memanaskan motornya. Dia ingin menjemput Jingga tanpa memberi kabar terlebih dahulu. Motor pun melaju ke arah kosan Jingga, Aska sudah tampan juga sudah wangi.
Baru saja memasuki area kosan Jingga. Sudah banyak orang yang berkumpul di sana. Dahi Aska mengkerut dan dia memarkirkan motornya jauh dari kosan Jingga. Dia melihat warga tengah memaksa dua sejoli berjalan berkeliling lapangan tanpa sehelai benang pun.
"Saya mohon ... jangan!!"
Aska Mendengar suara uang sangat familiar di telinganya. Dia segera menyerobot masuk ke dalam kerumunan. Matanya melebar ketika orang uang dicintainya diperlakukan bagai binatang oleh orang-orang di sana.
"Jingga!"
"Jangan mendekat! Aku kotor, Bang As! Kotor!" serunya.
Deg.
Hati Aska terhenyak seketika. Otaknya menolak percaya. Tak lama, seorang pria digiring oleh warga sekitar dengan tubuh yang polos. Dunia Aska seakan runtuh seketika. Tepat di mana Jingga berjanji akan menjawab pertanyaan perihal isi hatinya, dia mendapatkan kenyataan pahit ini.
"It's not true."
Begitulah batin Aska berbicara. Namun, matanya sudah nanar.
"Masih mau mengelak?" sergah salah seorang warga yang membawa seprei ke hadapan Aska juga Jingga,
"Lihat! Bercak darah apa ini?"
Hati Aska sangat sakit mendengarnya. Apalagi JIngga yang terus berteriak jika tidak melakukannya. Bukti lain muncul ada bekas cairan susu kental manis di selangkangann JIngga, Dia terus menjerit histeris.
Aska seperti patung di sana. Hatinya remuk, dadanya sangat sakit dan dia bingung harus melakukan apa.
"Kalian harus dibawa ke rumah Pak RT supaya masalahnya cepat selesai. Jangan selalu berbuat zinah karena ini bukanlah tempat prostitusi," terang salah seorang warga.
JIngga terus menangis, membuat hati Aska teriris. Namun, JIngga sama sekali tidak ingin disentuh oleh Aska.
"Tinggalkan aku, Bang As! Aku wanita kotor!" pinta Jingga dengan deraian air mata. Tangannya menutupi bagian sensitif atas juga bawahnya. Aska membuka jaketnya dan memakaikannya ke tubuh Jingga.
"Saya mohon! Kalian berbaik hati sedikit. Dia bukan hewan," ujar Aska dengan suara lemah, ketika salah seorang dari warga itu tidak membolehkan Jingga mengenakan sehelai benang pun.
Air mata Jingga menetes begitu saja ketika melihat secara dekat wajah Aska. Pembelaan Aska yang tulus membuat Jingga merasa sangat bersalah.
"Aku mencintaimu, Bang As."
Sebuah kalimat yang membuat hati Aska menangis keras.
__ADS_1
"Tapi, kenapa ini semua terjadi kepadaku?" lirih JIngga,
Dia terus menolak pelukan dari Aska, "Aku tidak pantas untukmu, Bang As. Tidak paantas!"
Jingga dan pria yang sangat Aska kenali pun dibawa oleh para warga. Tubuh Aska tiba-tiba terkulai lemah. tubuhnya tersandar di dinding dengan air mata yang menetes begitu saja.
Seperti orang yang kehilangan arah, begitulah Askara sekarang. Tatapannya kosong dan dia hanya bisa memandang lurus ke depan.
"Berengsek!" geram Aska. Dia mengerang kesal dan menjambak rambutnya sendiri.
Aska sama sekali tidak beranjak dari apartment milik sang Abang. Dia masih betah di sana dengan segala rasa yang berkecamuk di dada. Dia meraih kunci motor dan hendak ke kosan Jingga lagi.
"Gua yang akan bertanggung jawab dengan semuanya," tukas Aska.
Meskipun Jingga sudah tak suci lagi, dia akan mencoba menerima Jingga dengan lapang dada dan akan merahasiakan semua ini dari kedua orang tuanya.
"Tunggu aku, Jingga. Aku akan menikahimu."
Baru saja dia membuka pintu apartment, Ken dan Bian sudah ada di depan pintu unit apartment Aksa. Mereka menatap pilu ke arah Aska.
"Kita perlu bicara," ucap Ken dengan sangat hati-hati.
Aska terdiam, Juno menarik kembali tubuh Aska ke dalam. Mendudukkannya di sofa, saling berhadapan dengannya juga Ken.
"Ada apa?" tanya Aska langsung.
ponsel Juno terlepas dari tangan Aska. Air mata Aska menetes begitu saja membasahi wajahnya.
"Ka," panggil Ken. Dia segera memeluk tubuh sahabatnya.
"Kenapa dia tega?" tanya lemah Aska.
"Jika, dia mencintai Jingga jangan pernah merusak Jingga. Mental Jingga pasti terguncang," lanjutnya lagi.
Juno menatap iba ke arah Aska. Dalam kondisi seperti ini, Aska masih bisa memikirkan perihal Jingga. Padahal hatinya tengah baik-baik saja. Malah hancur tak tersisa.
"Kenapa mereka harus terlalu cepat menikah? Gua juga bersedia menikahi Jingga," tuturnya lagi.
Juno tidak tega melihat Aska seperti ini. Jalan satu-satunya adalah menelepon abang dari Aska. Tak menunggu lama, Aksa datang dengan langkah lebar.
"Dek!"
Suara sang Abang membuat Aska menoleh. Dia tersenyum tipis ke arah Aksa. "Gua kalah, Bang. Gua yang gak mau merusak malah si bajing*n itu yang ngerusak wanita yang gua sayang."
__ADS_1
Aksa segera memeluk tubuh adiknya ini. Ucapan yang sangat lemah yang keluar dari mulut Aska membuat hatinya sangat sakit dan perih.
"Hari ini ... dia bilang kalau dia juga cinta sama gua, tapi kenapa dia nikahnya sama orang lain?"
Aksa hanya menghela napas kasar. Dia sangat tahu bagaimana rasanya berada di titik seperti Aska saat ini. Terluka parah, tetapi tak terlihat oleh mata. Tak tega melihat adiknya seperti ini, Aksa menghubungi Radit. Dia pasti tahu obat supaya Aska tenang.
Selang setengah jam, Radit datang dan dia tercengang melihat keadaan Aska yang sudah sangat kacau. Ken dan Juno segera berdiri memberikan ruang kepada Radit.
"Dek!"
Aska menoleh, ada Abang iparnya di sana tengah menatapnya dengan tatapan sendu.
"Ejek gua, Bang. Ejek gua sesuka hati lu."
Aksa menatap ke arah Radit, dia hanya menghela napas kasar melihat adik iparnya seperti ini.
"Gua ingin dia tenang dulu, Bang," ucap pelan Aksa.
Radit mengangguk, dia mencatat sebuah resep yang harus Ken dan Juno tebus di apotek yang khusus menjual obat tersebut. Kedua sahabat Aska memang bisa diandalkan.
"Kenapa?" tanya Radit kepada Aska. Dia mencoba memulai komunikasi dengan Aska. Namun, Aska tidak menjawab. Dia hanya memejamkan matanya saja.
Aksa menunjukkan foto serta video yang tengah viral di aplikasi pesan hijau. Radit menatap ke arah Aksa dan Aksa mengangguk kecil.
"Dia melihat langsung juga."
Radit terkejut dengan apa yang di dengar. "Malang banget nasib lu," ujar Radit melihat ke arah Aska.
Di dalam apartment itu hanya tercipta keheningan. Radit dan Aksa hanya memandangi Aska yang sama sekali tidak mau minum ataupun makan. Hanya rokok yang mau dia hisap.
Ken dan Juno kembali ke apartment. dia membawa obat yang dimaksud oleh Radit.
"Bang, harganya mahal banget," bisik Ken ke telinga Aksa.
Aksa meminta struk obat tersebut. Hampir satu juta. Aksa mengeluarkan ponselnya dan meminta nomor rekening Ken. Pada detik itu juga Aksa mentransfer uang sesuai struk tersebut kepada rekening Ken.
"Makan dulu, Dek," pinta Aksa.
Aska menggeleng. "Dek, kalau lu gak mau makan gua akan aduin ke Mommy dan juga Daddy."
Mendengar kedua orang tuanya disebut, Aska segera menurut. Aksa menyuapi Aska dengan sangat telaten.
"Jangan bilang kepada mereka, Bang. Gua gak mau mereka membenci Jingga."
__ADS_1
...****************...
Komen ...