Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Keguguran


__ADS_3

"Christian, segera urus perceraian ku dengan wanita biadab itu. Pastikan, persidangan itu berjalan dengan cepat."


Riana dan Ziva terkejut mendengar ucapan Aksa. Selain kalimatnya yang kasar, dia juga dengan mudahnya mengatakan hal yang dibenci oleh Tuhan. Namun, Riana tidak bisa berbuat apa-apa. Dia juga ingin secepatnya Aksa menceraikan Ziva. Sesekali dia harus bersikap egois, agar dia tidak selalu menjadi pecundang.


"Kamu tega Aksa! Tega!" seru Ziva, dengan tangis yang sudah pecah.


"Tega? Siapa yang lebih tega? Kamu atau aku?" balas Aksa tak kalah sengit.


"Aku yang gak tahu apa-apa malah kamu jebak. Orang lain yang tabur benihnya, malah aku yang kamu suruh bertanggung jawab. KAMU WARAS?"


Riana sudah menggenggam erat tangan Aksa. Dia menoleh kepada Riana. Gelengan kepala yang Aksa lihat.


"Ri gak suka Abang berbicara kasar. Bisa 'kan resmi emosinya," imbuhnya.


"Maafkan Abang, Sayang."


Tak segan-segan Aksa mengecup kening Riana di depan Ziva. Sengaja, sudah pasti.


"Suami gak punya hati kamu!"


Suara terdengar dari arah pintu luar. Seorang wanita dengan wajah yang merah padam menahan amarah. Melangkah dengan langkah cepat dan menghampiri mereka bertiga.


"Istri kamu keguguran, malah asyik selingkuh," tuduhnya.


Tawa Aksa pun menggema. Sedangkan Riana tersentak mendengar ucapan Sarah. Wajah Aksa tidak menyorotkan ketakutan sama sekali. Malah dia menantang setiap orang yang tengah menyerangnya dengan kata-kata bodoh yang mereka ucapkan.


STUPID!


"Istri jadi-jadian yang Tante maksud?" hardik Aksa, dengan seringai tipisnya.


"Bukankan selingkuh dibalas dengan selingkuh itu akan lebih adil?" Seringai licik hadir di wajah Aksa.


Sarah membisu mendengar ucapan Aksa. Aksa masih menatap nyalang ke arah Sarah. Dia masih menunggu perkataan apalagi yang akan keluar dari mulut ibu mertua jadi-jadiannya. Lama hening, Aksa membuka suara lagi.


"Keguguran itu adalah karma yang harus dia terima," bentak Aksa kepada Sarah dengan tatapan tajam.


"Masih ingatkah bagaimana jahatnya anak yang Tante banggakan melukai kakak perempuan ku? Didorong hingga tersungkur dan ... mengalami keguguran hingga rahimnya harus diangkat. Apa Tante lupa?"


Suara Aksa sudah semakin meninggi. Urat-urat marahnya sudah terlihat jelas, jika mengingat kejadian yang membuat kakaknya menangis berhari-hari.


"Jika, aku menjadi suami kakakku. Aku tidak akan menunggu karma. Aku akan membalas semuanya. NYAWA HARUS DIBAYAR DENGAN NYAWA."


Sarah dan Ziva pun terdiam mendengar kemarahan Aksa. Baru kali ini Aksa menunjukkan taringnya.


"Masih untung anak Tante hanya keguguran. Aku sih inginnya, DIA mengalami hal yang sama seperti

__ADS_1


Kak Echa. Keguguran dan rahimnya diangkat. Baru itu adil."


Christian sudah menggelengkan kepala. Mulut Aksa menyimpan bisa langka yang sangat mematikan lawannya.


"Satu hal lagi, JANGAN PERNAH MENGATAKAN ANAK YANG GUGUR ITU ADALAH ANAKKU!"


Tangan Aksa sudah terulur ke arah Christian. Dari dalam jas Christan mengambil sesuatu. Selembar kertas putih yang dia serahkan kepada Aksa.


"Baca dengan teliti!" titahnya.


Selembar surat itu sudah ada di tangan Sarah. Mata Sarah melebar ketika melihat tulisan kapital NEGATIF.


"Sudah jelas sekarang? Apa masih ada yang dielakkan?"


Ziva menatap ibunya yang terlihat ketar-ketir. Wajahnya berubah pias.


"Tante kira aku bodoh, aku polos. Tidak seperti itu Sarbo'ah!" sarkasnya.


Tangan Aksa mengarah lagi pada Christian. Dia mengambil sebuah ponsel pintar. Diputarnya sebuah video.


Di dalam video itu ...


Seorang perempuan sedang terbaring di brankar rumah sakit dengan mata terpejam. Ada seorang orang yang berjas putih menusukkan jarum ke perutnya.


Terlihat ada Aksa yang didampingi Christian di sana.


Off.


Mata Sarah melebar dan dadanya berhenti berdetak untuk sesaat. Namun, api amarahnya berkobar kembali.


"Kamu tahu risiko tes DNA itu adalah keguguran. Kamu lah penyebab anak kamu sendiri meninggal," tuduhnya.


Riana benar-benar tersentak mendengar ucapan Sarah. Dia menatap ke arah sang kekasih yang malah tertawa menakutkan. Sedangkan tangan mereka masih bertaut sangat erat.


"Anak aku? Jelas-jelas itu bukan anak aku! Masih ngayal aja."


"Akan saya laporkan kamu ke polisi atas pembunuhan janin yang tak berdosa," sergahnya.


Riana mulai meremas tangan Aksa, menandakan dia ketakutan. Tangan Aksa mengusap lembut tangan Riana menandakan dia tidak apa-apa. Anggukan kecil dari Aksa mengisyaratkan bahwa Riana harus tetap ada di sampingnya.


Christina menyerahkan ponsel pintarnya lagi kepada Aksa. Mata Aksa menyuruh Christian untuk memberikannya kepada Sarah.


"Silahkan tonton adegan membagongkan itu!"


Riana menggelengkan kepala mendengar ucapan Christian. Ternyata tidak jauh berbeda dengan Aksa.

__ADS_1


Kali ini Sarah tidak bisa berkutik. Malah, dia menatap tajam ke arah Ziva.


"Masih bisa melaporkan aku?"


Aksa berucap dengan sangat santai, tetapi tegas. Dia melihat urat-urat kemarahan di wajah Sarah. Namun, itu ditunjukkan pada putri kesayangannya.


"Anak Tante sendiri yang meminum obat penggugur kandungan di lapas. Itu terjadi sebelum aku melakukan tes DNA."


Aura kemarahan semakin terlihat. Ziva yang dipandang horor oleh sang ibu hanya bisa menunduk dalam.


"Kenapa kamu melakukan ini?" teriak Sarah.


"Anak itu tidak berdosa. Jika, kamu tidak ingin mengurusnya. Mamih masih mampu mengurusnya!"


Bagaimana pun Sarah dulunya Sarah adalah dokter kandungan. Dia sangat mengecam dan membenci para ibu yang tega menggugurkan kandungan. Padahal, di luaran sana masih banyak para wanita yang mendambakan seorang anak. Perilaku ibu itu lebih kejam dari perilaku hewan. Namun, kini dia mendapati putrinya sendiri yang bertindak seperti hewan.


"Ma-maaf aku, Mih," sesal Ziva dengan sangat lirih.


"Maaf ketika anak itu sudah tiada apa berguna? Itu buah kesalahanmu, kenapa kamu malah mencelakainya dan membunuhnya? Kenapa Ziva?"


Ziva mulai terisak, sedangkan Riana menatap ke arah Aksa. Tangan Aksa merengkuh pinggangnya. Mengecup ujung kepalanya dengan penuh cinta.


"Pelajaran juga buat kita," imbuh Aksa.


Riana mengangguk setuju. Apa yang dikatakan oleh Sarah benar adanya. Di balik sifat devil-nya dia masih memiliki naluri kemanusiaan yang sangat tinggi.


"Mamih kecewa sama kamu, Ziva! Kecewa!"


Sarah masih meninggikan suarnya. Dadanya yang turun naik sangat terlihat jelas. Emosinya belum bisa dia redam.


Pandangannya beralih pada Aksa yang terus merengkuh tubuh Riana .


"Proses perceraian kalian secepatnya. Biar kamu bisa menikahi wanita yang seribu kali lebih baik dari putriku yang kini berubah menjadi iblis jahat."


Aksa dan Riana terkejut dengan ucapan yang dilontarkan Sarah. Mereka kira Sarah akan murka kembali, ternyata sebaliknya.


"Tentu saja, Tante. Lagi pula aku sudah melamar Riana. Sudah mengikatnya juga."


Aksa memperlihatkan cincin di jari manis sang pujaan hati kepada Sarah. Ziva yang menunduk pun kini menegakkan kepalanya. Melihat cincin yang sangat indah yang melingkar di jari manis Riana.


...****************...


Komen dong ...


Udah bosen ya sama ceritanya?

__ADS_1


__ADS_2