Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Perpaduan


__ADS_3

Seketika mata Aska melebar ketika melihat siapa orang yang ada di belakangnya. Perempuan itu pun sama terkejutnya dengan Aska.


"Melati!"


"Kak Aska!"


Mereka berdua berucap secara bersamaan. Mereka tidak percaya bisa bertemu kembali. Namun, Aska menelisik setiap inchi tubuh Melati yang berbeda dengan sebelumnya.


"Kamu lebih berisi," ucap Aska.


Melati hanya tersenyum kikuk. Dia tidak menjawab ucapan Aska.


"Makin gendut." Mulut Aska tidak ada manisnya sama sekali. Definisi laki-laki yang sangat jujur dan berterus terang ya, Askara. Mendengar ucapan Aska, Melati malah merengut wajahnya berharap Aska akan meminta maaf dan menghiburnya.


Harapan Melati hanyalah harapan belaka. Pada nyatanya Aska tetaplah Aska. Si manusia bermulut pedas melebihi bubuk cabe berlevel tinggi.


"Mel, suami kamu belum ke sini?"


Suara seorang pria membuat Aska juga Melati menoleh. Dokter Eki sedikit terkejut melihat kehadiran Aska. Begitu juga dengan Aska.


"Malam, Om." Aska menyapa Eki dengan sopan. "Ketemu lagi kita," lanjutnya lagi.


Eki pun menyambut sapaan hangat Aska dengan seulas senyum. "Kamu sedang apa di sini?" tanya Eki. Dia juga melihat Aska tidak seperti biasanya. Dia terlihat lebih rapi dengan kemeja yang dia kenakan.


"Hanya santai sejenak, Om. Biasalah nyari angin. Namanya juga anak muda," sahut Aska dengan jenaka. "Ini juga saya mau pulang. Malah ketemu anak Om yang semakin bohay." Eki pun malah tertawa mendengar gurauan Askara.


"Kalau begitu saya permisi, Om," lanjutnya lagi. Sebelum Aska pergi dia mengulurkan tangan kepada Melati. Namun, Melati mengerutkan dahi karena tidak mengerti.


"Selamat, atas pernikahan kamu."


Melati melihat ke arah tangan Aska yang terulur. Ada rasa sedih di hatinya dan mau tidak mau dia menyambut tangan Aska. "Makasih." Jawaban itu terlihat sangat terpaksa.


Setelah Aska pergi, Melati menatap sebal ke arah sang ayah. "Kenapa Ayah bilang kalau Mel udah menikah?" ucapnya merasa tidak terima.


"Kenapa kamu mengelak kenyataan yang ada? Kamu sudah menikah dan sebentar lagi kamu-"


"Maaf, aku terlambat."


Suara seorang pria menghentikan perdebatan antara ayah dan anak itu. Dia tersenyum ke arah Melati.


"Sudah selesai urusanmu?" Pria itu pun mengangguk dan menarik kursi untuk dia duduki.


"Padahal Abi mencari dia itu gak pernah ketemu, tapi pas kita di sini ada surat talak dari Abi dan sudah ditandangani oleh dia," tutur menantu Eki tersebut.

__ADS_1


"Baguslah, yang paling penting kamu menikahi Melati secara agama juga hukum," sahut Eki.


.


"Andaikan gua punya piaraan kayak Doraemon, gua akan minta ramuan untuk menaklukan hati Jingga," gumamnya sedikit gila.


Seketika dia tertawa sumbang, meratapi kesedihannya yang tak berkesudahan. Satu hal yang tidak bisa diulang adalah waktu. Dia juga tidak menyalahkan Jingga, dia juga salah dalam hal ini.


"Tuhan, jika dia memang jodohku pertemukanlah kami kembali, tapi jika dia bukan jodohku ... tolong permudah aku untuk mengikhlaskannya."


Aska menatap langit yang dipenuhi bintang melalui kaca mobil depan karena mobilnya tengah berhenti di lampu merah. Tak sengaja Aska melihat ke arah jendela kiri mobil. Seorang wanita yang tengah tertunduk di atas motor. Perlahan tangan wanita itu menyeka ujung matanya. Aska hanya tersenyum dan berkata, "gua gak sendiri." Wanita itu terlihat sangat sedih karena punggungnya terlihat bergetar. Aska mengalihkan pandangannya dan wanita itu menoleh ke arah mobil yang dibawa oleh Askara. Mata wanita itu melebar, hatinya berdegup sangat kencang.


"Bang As!"


Sayang, mobil itu sudah melaju karena lampu lalu lintas sudah berubah berwarna hijau. Kecepatan mobil itu pun tak bisa dikejar oleh motor yang ditumpangi Jingga.


"Bang As, apa itu kamu? Atau hanya imajinasi ku saja karena aku terlalu merindukan kamu."


.


"Ajarkan aku ... cara tuk melupakanmu, bila membencimu tak pernah cukup, tuk hilangkan kamu ...."


Suara Aska memang sangat merdu, membuat Riana yang mendengarnya menghampiri sang adik ipar yang tengah berada di ruang tamu sambil memangku gitar.


"Diminum dulu, Kak."


Riana duduk di samping adik iparnya itu dengan senyum yang terus mengembang. "Suara Kakak enak banget."


Pujian Riana membuat Aska tertawa. Dia mengusap lembut perut istri dari abangnya itu. "Nanti kalau udah gede uncle akan ajarin kamu main gitar juga nyanyi," ujarnya.


Tak disangka anak di dalam perut Riana merespon dan membuat Aska tersenyum.


"Aarrghh! Sakit!"


Senyuman Aska pudar ketika Riana berteriak kesakitan.


"Ri, lu kenapa?"


"Sakit!" Tangan Riana sudah mencengkeram kepala Aska hingga Aska pun ikut berteriak.


"Sakit, Ri!"


Aksa yang mendengar keributan segera keluar dari ruangan kerja. Dia sedikit berlari dan matanya melebar ketika melihat sang adik sudah berada di bawah sofa dengan tangan istrinya menarik keras rambut Askara.

__ADS_1


"Bang, tolongin gua. Kenapa malah ngejedog di situ," omel Aska sambil meringis kesakitan.


"Sakit, Bang ... sakit," lirih Riana.


"Rambut gua juga sakit, Riana!" seru Aska.


Aksa bukannya menolong Aska malah menghampiri istrinya. Tangan istrinya yang berada di kepala Aska pun dibiarkan begitu saja oleh Aksa.


"Woiy! Rambut gua rontok!" pekik Aska.


Namun, sang Abang malah memeluk tubuh istrinya dan mengusap lembut perut Riana agar rasa sakitnya menghilang. Dia juga membisikan sesuatu di atas perut sang istti. Perlahan tarikan di rambut Aska pun mulai mengendur. Kesempatan yang bagus untuk Aska menjauh.


"Apa-apaan sih, Ri? Sakit ini rambut gua," omel Aska.


"Maaf, Kak. Setelah Kakak mengusap perut Ri, tiba-tiba perut Ri sakit," terangnya.


"Calon bocah bengal nih kayaknya," ucap Aska ke arah perut Riana.


Aksa melempar bantal ke arah adiknya hingga dia mengaduh. "Anak gua itu akan jadi anak yang baik. Gak kayak lu anak durhaka!"


Sang pembela jabang bayi mulai beraksi. Namun, Aska pun tak mau kalah.


"Buktinya di dalam perut aja selalu aja nyiksa gua. Lu yang nanam benihnya, malah gua yang kena apesnya mulu," omel Aska bak ibu-ibu komplek.


Bukannya memisahkan ataupun melerai Riana malah tertawa sambil mengusap lembut perut buncitnya yang sudah tidak terasa sakit lagi.


"Kayaknya kamu itu perpaduan Daddy dan uncle deh," gumam Riana.


Di negara yang berbeda, Juno dan Ken tengah mengkerutkan dahi mereka.


"Berita ini benar? Atau cuma hoax doang?" tanya Ken.


"Gua dapat juga dari teman terdekatnya," sahut Juno.


"Dia poligami?" Juno mengangkat bahunya. Dia sendiri pun tak tahu apa-apa hanya mendapat sebuah foto pernikahan dari temannya.


"Terus istrinya ke mana? Sampai sekarang 'kan belum ketemu?" tanya Ken lagi.


"Mana gua tahu, gua bukan lambe curah," balas Juno dengan nada sewot.


"Udahlah! Gak penting. " Ken menyerahkan foto itu kepada Juno lagi. Dia tidak ingin mendengar kabar tentang sahabat bang satnya itu.


...****************...

__ADS_1


Komen atuh ...


Terjawab belum? Apa masih menjadi teka-teki besar?


__ADS_2