Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Dua Pria


__ADS_3

Ketika semuanya sudah tahu perihal Aska dan juga Jingga, mereka seakan sudah berjanji untuk menutup mulut mereka atas keinginan tahuan tentang kisah Askara Jingga. Mereka tidak ingin menyakiti Aska dengan pertanyaan itu lagi. Cukuplah menjadi kenangan di antara dua insan yang tidak bisa disatukan. Apalagi melihat Aska yang tengah bermandikan kesedihan.


Aska memilih untuk menemani sang Abang di rumah sakit sedangkan kedua orang tua Aska juga keluarganya yang lain memilih untuk tidur di apartment milik Aksa. Tak apalah tidur bagai ikan teri di apartment Aksa. Tidak sempit, tetapi hanya memiliki dua kamar saja.


Aksa menghampiri adiknya ketika Riana sudah terlelap. Adiknya sudah membaringkan tubuhnya di sofa. Matanya dia tutup dengan lengan kanannya. Tepukan di pundaknya membuat Aska menurunkan lengannya dan membuka matanya perlahan. Sudah ada sang Abang di sampingnya.


"Lu serius dengan keputusan yang lu ambil?" Pertanyaan Aksa membuat Aska tersenyum.


"Iya."


Hanya satu kata yang keluar dari mulut Aska. Aksa menurunkan kaki adiknya yang berada di atas sofa. Mau tidak mau Aska harus mengakhiri rebahannya dan duduk bersama sang Abang.


"Jingga sayang sama lu," ujar Aksa.


"Gua tahu itu." Setelah membalas ucapan sang Abang, Aska menoleh ke arah Aksara.


"Lu gak mau berjuang lagi?" Gelengan kepala yang menjadi jawaban atas pertanyaan Aksa.


"Berjuang sendiri terlalu melelahkan dan membawa gua ke jurang kehancuran."


Kini, tatapan Aska lurus ke depan, dia memandangi Riana yang terbaring nyaman di atas ranjang pesakitan.


"Riana dan lu emang pada dasarnya memiliki cinta yang kuat. Badai, angin topan mau menghadang kalian berdua pun gak akan mampu merobohkan cinta yang kalian punya. Sedangkan gua?" tanyanya pada Aksa. Pandangan Aska masih lurus ke depan.


"Gua cinta sendirian, berjuang dengan mati-matian dan terus bersabar ketika gua selalu dapat penolakan. Ketika ini semua terjadi ... dia bilang cinta sama gua, dia bilang ingin gua berjuang untuk dia seolah selama ini gua yang berdiam diri. Gua yang diam aja. Padahal-"


Aksa mengusap lembut pundak Askara. Dia mengerti bagaimana perasaan Aska sekarang. Kecewa, sedih dan sakit jadi satu. Ketika dia ingin memiliki, dia malah diberi kenyataan pahit seperti ini. Apalagi, yang menjadi duri dalam daging adalah sahabatnya sendiri. Bukankah itu terlalu menyakitkan?


"Ijinkan gua untuk mengikhlaskannya, Bang." Aska memandang wajah abangnya lagi.


"Gua yakin, gua gak akan bisa melupakan dia, tetapi dengan gua mengikhlaskan dia lambat laun hati gua bisa menerimanya. Menerima bahwa kita tak mungkin bersatu."


Kalimat yang terdengar sangat perih. Aksa menatap sang adik yang sudah tersenyum kecil menandakan hatinya sangat teriris.


****


Ayanda tidak bisa tertidur malam ini. Dia masih betah duduk di pinggiran tempat tidur kamar Riana dan juga Aksa. Suaminya yang baru saja masuk ke dalam kamar menghembuskan napas kasar ketika melihat istrinya seperti itu. Dia menghampiri Ayanda dan mengusap lembut pundak istri tercintanya.


"Kenapa?"


Ayanda menoleh, matanya sudah berkaca-kaca. "Putra terakhir kita sangat terluka." Suara Ayanda bergetar dan Gio segera memeluk tubuh istrinya.


Naluri seorang ibu itu sangat kuat. Tanpa anak-anaknya mengatakan apa yang tengah mereka rasakan, Ayanda pasti akan tahu. Ikatan batin antara mereka sangatlah kuat.

__ADS_1


"Dari luka itu akan membuat Askara menjadi lebih kuat," balas Gio yang masih memeluk tubuh Ayanda.


Perlahan Gio mengurai pelukannya, menatap manik mata istrinya. "Luka itu tidak hanya memberikan kerapuhan. Di balik kerapuhan akan tercipta kekuatan bagi mereka yang pernah disinggahi oleh luka." Seulas senyum Gio berikan kepada istrinya.


"Udah ya." Usapan lembut Gio berikan ke rambut sang istri yang sudah tergerai. "Sekarang Mommy tidur. Askara akan baik-baik saja. Percaya sama Daddy."


Gio membantu Ayanda merebahkan tubuh istrinya di atas tempat tidur. Kecupan selamat malam Gio berikan untuk istri tercintanya. Seorang laki-laki tidak akan pernah menunjukkan kesedihannya. Begitulah Gio.


Setelah Ayanda terlelap, Gio mematikan lampu kamar dan memilih keluar dari kamar Aksara. Di ruang tamu ada dua pria yang masih betah menonton acara televisi. Film zaman dulu Suzzana yang mereka tonton. Gio melebarkan mata ketika melihat cucu keduanya ada di sana bersama Iyan.


"Mana ada hantu cantik begitu," ucap Aleeya sambil mengambil keripik kentang di dalam toples.


"Semua hantu di sekitaran komplek wajahnya jelek semua. Termasuk yang di pojokan tuh."


Mata Rion dan Arya melebar mendengar ocehan bocah enam tahun itu. Mereka mengikuti arah bibir Aleesa yang memang menunjuk ke salah satu pojokan di apartment Aksara.


"Cucu lu lebih serem dari filmnya," ujar Arya.


"Bulu Rika gua merinding," balas Rion.


Arya memukul bahu Rion dengan cukup keras. "Bulu Rhoma, Rion," ralat Arya.


"Lah pasangan Rhoma siapa?"


Malah kedua pria paruh baya ini yang beradu pendapat. Gio semakin menggelengkan kepala.


"Baba dipeluk Kakak Na, Bubu dipeluk Dedek Ya. Kakak Ya gak bisa peluk siapa-siapa, mending Kakak Ya tidur di sini bareng Om kecil, Wawa juga Engkong." Gio menghampiri cucunya tersebut dan mencium gemas pipi Aleesa.


"Mimo sendiri, Kakak Sa bisa peluk Mimo," ucap Gio. Namun, Aleesa menggeleng.


"Biar gua aja yang peluk mimonya si triplets." Rion sudah berdiri, sontak Gio pun ikut berdiri dan menghadang tubuh besannya itu.


"Mau masuk rumah sakit atau liang lahat?" Rion pun tergelak begitu juga dengan Arya.


"Santai Aki bro," ucap Rion yang masih tertawa.


"Canda gua, jangan dibawa erosi," tutur Rion.


"Emosi, Yah!" seru Iyan.


"Yaelah Ndra, masih aja cemburu sama duda gila di samping gua ini. Yanda itu wanita pintar, gak mungkin juga dia mau balikan sama pria modelan buaya rawa begini," terang Arya.


"Kam pret!" pekik Rion.

__ADS_1


Suasana tengah malam terasa bising di ruang tamu. Rasa sedih Gio seketika menguap dengan candaan dua sahabatnya itu. Bel berbunyi, kelima orang yang ada di ruang tamu terdiam dan menatap satu sama lain.


"Hantu bukan?" Arya bertanya kepada Iyan.


"Pak Doraemon," jawab Aleesa.


"Doraemon?" ulang empat laki-laki di sana. Aleesa yang masih fokus pada layar segi empat besar pun menganggukkan kepala.


"Siapa Doraemon?" tanya Arya.


"Itu loh ... yang biasa sama Aki," papar Aleesa.


"Remon," jawab ketiga pria dewasa itu.


"Nah, itu!" balas Aleesa. "Kakak Sa lupa namanya, terus ingetnya Doraemon." Cengiran khas dia tunjukkan ke arah tiga pria dewasa di sampingnya.


"Dasar!" Gio mencubit gemas pipi Aleesa dan membuat Aleesa mengerucutkan bibirnya.


Apa yang diucapkan Aleesa benar, Remonlah yang tengah malam datang ke unit apartment milik Aksara. Gio tahu apa tujuannya karena Remon harusnya tidur di kosan Fahri.


"Langsung ke ruangan kerja."


Remon mengikuti langkah Gio dari belakang. Dia menganggukkan kepalanya dengan sopan kepada Rion juga Arya.


"Hai cantik! Kok belum tidur," sapa Remon kepada Aleesa.


"Lagi nonton hantu cantik," jawab Aleesa tanpa menoleh ke arah Remon.


Di ruang kerja Aksara, Remon menyerahkan ponsel pintar miliknya kepada Giondra. Bosnya itu sangat serius membaca laporan Remon dengan teliti. Terlihat dahinya pun mengkerut.


"Apa Aksa tahu tentang ini?" tanyanya kepada Remon perihal kerja sama cathering dengan pihak Bian.


"Pak Aksa sudah menyetujui perihal cathering tersebut, tetapi beliau ingin bertemu secara langsung dengan pemilik warung makan tersebut untuk taken kontrak," jelas Remon. Bibir Gio pun terangkat sedikit. Terlihat ada ide licik yang bertengger di kepalanya.


Di ruang perawatan Jingga, dia masih terjaga padahal sudah tengah malam. Bayang-bayang wajah Aska masih memutari kepalanya. Dia berharap Aska datang lagi untuk menemaninya. Pada nyatanya, itu tidak terjadi. Aska benar-benar pergi.


Bulir bening menetes untuk kesekian kalinya. Tidak ada semangat untuknya pulih. Tidak ada semangat untuknya bangkit. Semuanya sudah hancur dan dia ingin ikut tertimbun di dasar kehancuran itu.


Bian, pria yang berstatus suaminya hanya dapat melihat Jingga dari jendela luar kamar perawatan. Hembusan napas berat berkali-kali dia keluarkan. Hatinya sakit ketika melihat Jingga seperti ini karena ulahnya.


Hanya kata maaf yang bisa dia ucapkan. Namun, tidak dapat merubah semuanya apalagi mengubah keadaan. Bukan hanya Jingga yang dia pikirkan, Askara sahabatnya. Dia sudah sangat berdosa kepada Askara. Dia menjelma menjadi manusia yang tak tahu diri, tak tahu terimakasih.


Suara langkah kaki terdengar mendekat ke arahnya. Namun, Bian masih tidak sadar. Dia masih memandangi wajah Jingga dari balik jendela kamar perawatan. Dia terkejut ketika seseorang menarik kerah bajunya. Wajahnya nampak penuh kemurkaan. Bukan hanya satu orang, satu pria lagi pun menunjukkan kemarahan yang luar biasa. Belum juga Bian berbicara, kedua pria itu sudah menyeret Bian keluar rumah sakit.

__ADS_1


...****************...


Komen dong ....


__ADS_2