
Aksa terbang dengan hati yang sangat bahagia. Dia sungguh tidak sabar untuk memberikan kejutan kepada istri serta keluarganya. Lengkungan senyum terus mengembang di bibirnya selama berada di perjalanan menuju Jakarta.
Hampir tujuh jam mengudara, akhirnya dia sampai di Bandara Sorkarno-Hatta. Sekarang sudah pukul 15.32 wib. Aksa memilih memesan ojek online agar mempercepat perjalanannya. Dia sungguh tidak sabar untuk bertemu dengan istri tercintanya. Dia ingin melihat reaksi Riana.
"Aku sangat-sangat merindukan kamu, Sayang," ucapnya dalam hati.
Sengaja Aksa turun dari ojek online di depan rumahnya. Penjaga keamanan di depan rumahnya pun terkejut dengan kedatangan Aksa.
"Istri saya ada?" sergah Aksa ketika sang pihak keamanan membukakan pintu gerbang.
"Non Riana tidak pernah keluar rumah, Den, kecuali ke rumah Pak Rion," sahutnya.
Senyum tipis terukir di wajah Aksa. Rasa lelah, kurang tidur serta badannya yang sedikit tak terurus dia abaikan. Dia hanya inginbertemu dengan istrinya. Mengecup lembut perut Riana.
Aksa segera berlari masuk ke dalam rumah orang tuanya. Ayanda yang sedang berada di ruang keluarga pun terkejut dan sontak berteriak ketika melihat Aksa di depannya.
"Abang!" pekiknya.
Ayanda segera berhambur memeluk tubuh putranya dengan rasa haru yang tak terkira. Akhirnya, putranya pulang.
"Mommy sangat bahagia, Bang." Tidak ada jawaban dari Aksa. Matanya masih mencari sosok istrinya.
Aska yang mendengar suara ibunya berteriak segera turun ke lantai bawah. Dia takut terjadi sesuatu dengan sang ibu. Mata Aksa melebar ketika melihat sang Abang sedang memeluk ibunya.
__ADS_1
"Abang!" panggil Aska. Aksa menoleh dan tersenyum ke arah adiknya. Namun, raut wajah Aska nampak masih tak percaya. Padahal Aksa sudah berada di depannya.
Tangan Aksa direntangkan dan Aska memeluk tubuh kakaknya sambil melompat dan digendong oleh Aksa bagai kangguru.
"Akhirnya, Bang," ucap penuh kelegaan dari seorang ibu.
"Iya, Mom. Abang benar-benar tidak tenang di sana. Pikiran Abang tertuju ke Riana terus," balas Aksa dengan tak kalah sendunya.
"Bagaimana dengan perusahaan kamu?" tanya Ayanda.
"Alhamdulillah, sukses Mom. Makanya, Abang bisa pulang."
Lengkungan senyum terukir
Aska yang tidak mengerti pun mencari tahu. Aksa menjelaskan semuanya dan Aska hanya bisa menggelengkan kepala.
"Gila sih ini mah. Keren banget Abang gua," ucap Aska penuh bangga. Aksa hanya tersenyum. Bagi Aksa disanjung tidak akan terbang, dihina tidak akan jatuh. Prinsip yang selalu dia pegang.
"Kamu dan Abang kamu adalah anak-anak yang hebat. Kalian memiliki passion yang berbeda. Mommy dan Daddy tahu akan itu," tutur Ayanda. Aksa dan Aska hanya tersenyum. Kedua orang tuanya tidak pernah memaksakan mereka untuk menjadi ini dan itu. Semuanya terserah mereka berdua.
Cukup lama berbincang, Aksa sudah tidak dapat menahan rindunya kepada sang istri. "Riana. ma ...."
"Mommy!"
__ADS_1
Suara teriakan berasal dari lantai atas membuat tiga orang itu lari tunggang langgang. Aksa adalah orang pertama yang segera berlari menaiki anak tangga karena dia tahu itu suara siapa. Diikuti oleh Aska serta Ayanda dari belakang.
Pintu kamar dibuka dengan sangat kasar oleh Aksa dan matanya membelalak ketika melihat bercak darah di baju yang dikenakan oleh Riana. Wajah Riana pun sudah basah dengan air mata. Riana terkejut ketika melihat Aksa ada di depan matanya. Air matanya semakin mengalir deras.
Aksa segera menghampiri Riana tanpa ada satu patah katapun yang Aksa ucapkan kepada Riana. Dia segera menggendong tubuh Riana.
"Dek, siapkan mobil sekarang!"
Aska segera berlari ke lantai bawah dan mengeluarkan mobil dari dalam garasi. Hati Aska ikut sakit melihat sang Abang seperti ini. Wajah Aksa memang terlihat baik-baik saja. Akan tetapi, hatinya tengah menahan rasa sedih yang tak terkira.
Ayanda mendengar suara putra pertamanya sangat panik. Pikiran buruk sudah mengelilingi kepalanya. Dia terus merapalkan doa agar semuanya baik-baik saja dan semoga itu hanya pendarahan biasa. Dia mencoba untuk tenang agar anak dan menantunya pun tenang.
"A-abang," panggil Riana dengan suara nyaris tak terdengar. Aksa yang tengah menggendong tubuhnya menuruni anak tangga menatap ke arah istrinya dengan senyum penuh kesedihan.
"Tenang ya, Sayang," ucapnya.
Hati Aksa sesungguhnya sudah menangis sangat keras. Apalagi dia melihat bercak darah segar itu pun ada di tempat tidur.
Tuhan, jangan ambil kebahagiaanku juga istriku.
...****************...
Aduh ... kok ðŸ˜
__ADS_1
Terusin jangan?!