Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Rewel


__ADS_3

Lagu dari Lyodra yang berjudul Pesan Terakhir terus Aska putar di damainya taman belakang. Lusa dia harus terbang lagi ke Aussie dan belajar mengikhlaskan Jingga kembali.


"Genggam, tanganku sayang, dekat denganku peluk diriku. Berdiri tegak di depan aku, cium keningku tuk yang terakhir. Ku 'kan menghilang jauh darimu. Tak terlihat sehelai rambut pun. Tapi, di mana nanti kau terluka ... Cari aku ... Ku ada untukmu."


Penggalan lirik dari lagu pesan terakhir m menggambarkan bagaimana perasaan Aska saat ini. Hembusan napas berat keluar dari mulutnya. Cangkir yang berisi kopi panas kini sudah berubah menjadi dingin. Sama sekali tidak dia sentuh.


"Kak."


Aska segera menoleh ketika dia mendengar suara sang adik ipar dan juga suara stroller yang didorong. Senyumnya mengembang ketika melihat si Empin yang masih terpejam.


"Nitip Empin dulu, ya. Ri, mau ngerokin Abang dulu."


"Lama tinggal diluar negeri masih mempan tuh orang dikerok?" ledek Aska. "Aduh!" ringisnya. Tangannya sudah memegang kepala bagian belakang. Ketika dia menoleh sang Abang sudah menatapnya tajam.


"Jagain anak gua, sepuluh ribu dollar buat sopirin gua sama jaga anak gua."


"Hah?"


Aksa tidak mempedulikan sang adik. Dia segera merangkul pundak istrinya dan membawanya ke kamar utama. Aska hanya dapat menggelengkan kepala. Dia menatap wajah bayi yang sangat tampan di depannya. Bibirnya melengkung dengan sempurna. Hatinya berubah menjadi hangat.


"Aura lu sangat bagus, Empin." Aska mengusap lembut bayi berpipi merah itu. Ingin rasanya Aska menggendong tubuh keponakannya, tetapi dia takut Gavin terjatuh.


"Enak ya jadi lu," ucap Aska. Kini dia sudah duduk di lantai dengan tangan yang berada di atas Stoller. "Tidur lu aja nyenyak banget," tambahnya lagi.


Aska meletakkan dagunya di besi stroller dekat. Tangannya tak henti mengusap lembut pipi sang keponakan. "Gua masih sayang dia, Pin."


Gavin seakan menjadi pendengar yang baik untuk sang paman. Diam dan tak bergerak sama sekali.


"Hati gua sakit ketika gua bilang gua akan mengikhlaskannya." Aska menjeda ucapannya yang sangat lirih itu. "Pada nyatanya, sampai detik ini gua masih mencintainya. Masih ingin memilikinya. Padahal ...."


Aska menghentikan ucapannya. Helaan napas kasar keluar dari mulutnya. Ditatapnya wajah Gavin yang sangat tampan tersebut.


"Kalau udah gede jangan jadi sahabat bang sat, ya. Jadilah laki-laki yang gentle dan jangan pernah merusak wanita sebelum kata sah diucapkan para saksi." Aska tengah menasihati dirinya sendiri dengan berbicara kepada Gavin. Putra Aksara itu semakin terlelap karena merasa dibacakan dongeng oleh sang paman.


Satu jam berselang, Riana baru kembali ke halaman belakang. Langkahnya terhenti ketika melihat Aska tengah memandang wajah Gavin dengan sendu.


"Kak."


Aska tak menoleh, dia malah mengusap lembut pipi merah Gavin. Riana mendekat dan barulah Aska menoleh kepadanya.


"Gua hanya ingin mengingat wajah keponakan gua yang tampan ini sebelum gua kembali ke Aussie."


Hati Riana sangat sedih mendengar ucapan dari adik iparnya ini. Dia memilih untuk duduk di kursi yang ada di sana. Dia ikut memandangi wajah Gavin yang sangat tampan.

__ADS_1


"Kakak gak mau kembali ke Jakarta?" Pertanyaan yang membuat Aska tertawa dan nyaris membuat Gavin menangis karena tawanya.


Aska berbalik dan menatap sang kakak ipar yang pernah dia cintai ketika masa putih abu-abu. Dia tersenyum dan menjawab, "sebelum gua menjadi orang, gua belum mau balik ke Jakarta."


Bagi Aska yang sudah terjun dan tenggelam ke dunia bisnis berarti dia harus memiliki nama besar seperti Abang dan juga ayahnya. Barulah dia bisa kembali ke Jakarta dengan rasa kebanggan tersendiri.


Riana hanya mengangguk pelan. Aska mulai duduk di samping Riana, masih menatap lekat ke arah istri dari abangnya ini. "Kenapa?"


"Apa masih ingin menghindar?" Aska pun tertawa dan mengusap lembut rambut Riana. Wanita di sampingnya ini masih sangat cantik walaupun tidak memakai polesan make up sama sekali.


"Hanya ingin belajar."


"Melupakan?" sergahnya.


Aska menggeleng, dan sekarang dia menatap ke arah depan di mana sang keponakan masih terpejam.


"Belajar usaha dan belajar mengikhlaskan." Aska menghembuskan napas terlebih dahulu sebelum melanjutkan ucapannya. "Ketika gua jauh di sana dan sibuk dengan belajar usaha, setidaknya gua sedikit tidak memikirkan dia."


.


Di malam di mana besoknya Aska hendak kembali ke Aussie, Riana merasa lelah selelahnya karena sang putra tak mau berhenti menangis. Dari pagi hingga malam Gavin terus saja rewel hingga Riana tidak bisa melakukan apapun. Mandi pun hanya mandi bebek saja karena dengan sang Mimo pun dia tidak mau. Bayi satu Minggu sudah mengerti siapa yang menggendongnya.


Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh. Riana masih dengan daster lusuhnya masih menimang sang putra yang sangat rewel. Ayanda tengah menyiapkan makan malam karena sang suami sudah mendarat di Bandara dan esok hendak mengantarkan sang putra. Kedua pria kembar baru saja masuk ke dalam rumah. Aska menemui ibunya dan Aksa segera menghampiri istrinya. Sebelumnya, dia mencuci kaki, muka juga tangan di kamar mandi dapur.


"Sayang." Riana yang tengah menimang-nimang Gavin pun tersenyum. Aska dengan langkah lebar segera menghampiri istirnya. Mencium kening Riana sangat dalam.


"Empin kenapa?" tanya Aksa. Dia hendak menggendong putranya, tetapi dilarang oleh Riana.


"Abang masih kotor. Lebih baik mandi dulu." Niat hati ingin membantu sang istri, tetapi Riana menolak dengan sangat lantang.


"Apa seorang ibu seperti itu? Selelah-lelahnya dia tidak akan rela memberikan anaknya kepada siapapun ketika anaknya rewel?"


Aksa mengikuti perintah sang istri. Dia menuju kamar mandi dan segera membersihkan tubuhnya. Ketika dia selesai mandi, pandangan Aksa tertuju pada nampan yang berada di atas nakas. Nasi, sayur dan lauk pauk masih lengkap dan tak tersentuh sama sekali. Dia melihat ke arah tempat tidur di mana sang istri tengah bersandar di kepala ranjang dengan mata terpejam dan tangan menggendong Gavin.


Tiba-tiba hati Aksa sakit melihat istrinya seperti itu. Dia tidak tega membangunkan sang istri juga putranya. Jika, tangannya menyentuh Gavin sudah pasti Gavin akan terbangun. Aksa memilih mengambil nampan berisi makanan dan membawanya ke dapur.


"Bawa apa, Bang?" Aksa sedikit terkejut mendengar suara yang bertanya kepadanya. Namun, lengkungan senyum terukir di wajahnya.


"Nampan, Dad." Aksa meletakkan nampan itu di atas tempat cuci piring dan segera mencium tangan ayahnya yang baru saja datang.


"Gak dimakan sama Riana?" Ayanda pun bertanya ketika masakan yang dia bawakan tadi siang tidak disentuh sama sekali .


"Gak sempet kali, Mom. Riana kelihatannya capek banget," keluh Aksa.

__ADS_1


Ayanda mendudukkan diri di atas kursi setelah memberikan teh hangat kepada suaminya. "Empin rewel hari ini. Dia gak mau ditinggal sama Mommy-nya."


Hembusan napas kasar keluar dari mulut Aksa. Baru saja Aksa hendak membuka suara, tangisan sang putra membuatnya segera berlari menuju kamar. Sama halnya dengan kedua orang tua Aksa.


"Empin kenapa, Ri?" Riana menggeleng pelan dan semua orang melihat bahwa mata Riana sudah memerah karena lelah dan kantuk.


"Sini sama Pipo." Gio mulai mengulurkan tangannya untuk menggendong bayi yang baru berusia satu Minggu itu, tetapi Gavin malah menangis.


"Kamu kenapa, Nak?" Aksa mengusap lembut rambut Gavin yang tidak terlalu banyak, tangis Gavin pun semakin keras.


Kini, Aksa menatap ke arah sang istri. Dia mengecup ujung kepala Riana dan hanya senyum kecil yang Riana berikan. Tubuhnya sudah seperti ayam tulang lunak, makan pun tidak bisa. Setengah jam berlalu, Aska masuk ke kamar sang Abang.


"Si Empin kenapa? Gacor amat perasaan." Askara mendengar jikalau keponakannya ini terus saja menangis.


"Lagi galau dia," jawab Riana seraya tersenyum.


"Muka lu capek banget itu, mending istirahat gih," titah Aska. Dia pun mendekat dan meminta Riana untuk meletakkan Gavin di tangannya. Tiba-tiba tangis itu reda dan malah Gavin tersenyum.


Aska mencoba menimang-nimang keponakannya dan Gavin pun terlelap. Terdengar dengkuran halus dari mulutnya.


"Ya ampun, ternyata pengen sama Uncle."


Semua orang pun tak percaya melihat apa yang terjadi. Aksa membawa Riana untuk duduk di pinggiran ranjang. Dia mengangkat kaki istrinya ke atas paha. Dipijatnya pelan karena Aksa tahu bahwa istrinya kelelahan.


"Si Empin gua bawa ke kamar gua, ya." Aksa pun mengangguk dengan cepat. Dia ingin istrinya makan lalu istirahat sejenak.


"Mommy bawakan makanan buat kamu, ya." Ayanda sangat perhatian sekali. Tanpa diminta dia selalu peka dan memperhatikan kebutuhan sang menantu.


Gio malah mengikuti Aska ke kamarnya. Dia tersenyum ketika Aska menggendong Gavin dengan sangat kaku, tetapi terlihat penuh kasih sayang.


"Kamu gak rela ya Uncle pergi."


Hati Gio mencelos mendengar ucapan dari putra bungsunya. Dia memperhatikan Aska yang terus mengajak berbicara Gavin.


"Walaupun kita jauh, tetapi Uncle akan menjadi ayah kedua untuk kamu. Akan selalu menjaga kamu dan mengajarkan kamu tentang kebaikan."


Gio hanya mematung di tempatnya mendengar ucapan yang sangat tulus itu. Kecupan hangat yang Aska berikan di pipi cucunya membuat Gio melengkungkan senyum.


"Bukan hanya Gavin yang tidak ingin ditinggalkan. Daddy pun merasakan hal yang sama."


...****************...


Yang pada nanyain kapan up? Pas udah up tapi! gak komen aku sentil nih, 😑

__ADS_1


__ADS_2