Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Dua


__ADS_3

Setelah Aska pergi mencari bubur, Aksa juga Riana masuk ke dalam kamarnya karena Riana mengeluh ingin rebahan. Aksa akan selalu menuruti permintaan sang istri tercinta.


"Sayang, setiap hari kamu merasakan hal seperti ini?" tanya Aksa yang tengah memijat lengan sang istri.


"Iya, malah dua pelayan di sini tiap pagi sampai siang harus pijit Ri," jawabnya.


Aksa merasa sangat bersalah, ketika istrinya tengah dilanda hal seperti ini dia malah berada di jauh.


"Maafkan Abang, Sayang," sesalnya,


Riana menatap ke arah sang suami. Dia tersenyum seraya mengusap lembut pipi suaminya yang terlihat sedikit tirus.


"Gak apa-apa, Bang. Abang jauh juga 'kan untuk kerja demi masa depan Ri juga calon anak kita ini," jawabnya.


Senyum melengkung indah di wajah Aksa. Dia mengusap perut Riana yang masih rata.


"Jangan nakal ya, Nak.''


Ada kebahagiaan yang tak terkira yang Riana rasakan ketika Aksa mengucapkan hal seperti itu. Pijatan Aksa mampu membuat Riana terpejam. Aksa tersenyum melihat istrinya yang terlihat lebih chubby dari biasanya.


"Sehat terus ya, Sayang. I love you." Kecupan hangat mendarat di kening Riana.


Aksa sangat tidak menyangka kedatangannya disambut dengan kebahagiaan yang tak terkira. Bukan hanya istri serta keluarganya. Ada kecambah hasil penanamannya yang kini bersarang di perut sang istri.


Tangan Riana tak melepaskan rangkulannya di lengan Aksa. Seolah Aksa tidak boleh jauh dari dirinya.


Pintu kamar terbuka, Askalah yang datang dengan membawa pesanan Riana.


"Taruh di mana?" tanya Aska pelan. Dia tidak ingin membangunkan Riana.


Aksa menunjuk ke arah meja di depan sofa. Aska menuruti apa yang diperintahkan oleh sang Abang.


"Gua titip Mommy. Gua janji sebelum lu berangkat lagi gua udh pulang." Aksa menjawab hanya dengan sebuah anggukan.


Aska mampu menipu semua orang, tetapi dia tidak bisa membohongi Aksa. Ikatan batin keduanya sangatlah kuat.


Sebelum berangkat, Aska berpamitan terlebih dahulu kepada sang mommy. Dia memeluk erat tubuh Ayanda.


"Hati-hati ya, Dek. Kalau urusan kamu di sana sudah selesai segera pulang." Ayanda sama seperti orang tua pada umumnya, akan mengkhawatirkan anaknya ketika mereka jauh dari kedua orang tuanya.


"Iya, Mom."


Selepas kepergian Aska, Ayanda menuju kamar putra pertamanya. Tangannya membuka gagang pintu dengan pelan. Dilihatnya sang menantu tengah tertidur, sedangkan Aksa tengah memeluk tubuh Riana dengan sangat erat.


"Bang."


Suara sang ibu membuat Aksa menoleh. Ayanda menghampiri anak dan menantunya yang tengah tertidur.


"Bawa Riana ke rumah sakit jam tiga sore. Mommy sesudah buat janji supaya kalian tidak menunggu lama." Aksa menagagguk mengerti mendengar ucapan sang ibu.


"Jaga istri serta calon anak kamu, ya. Mommy ingin melihatnya lahir ke dunia," tutur Ayanda.


"Pasti, Mom."

__ADS_1


Suara teriakan dari lantai bawah terdengar. Ayanda segera keluar dari kamar Aksa karena itu adalah suara sang cucu.


"Mimo!"


Ketiga anak kembar itu memeluk tubuh sang nenek.


"Udah bilang sama Bubu?" tanya Ayanda. Si triplets pun mengangguk.


"Aunty di mana?" tanya Aleena.


"Lagi tidur, jangan ganggu, ya. Nanti dimarahin uncle," ujar Ayanda.


Mereka menagagguk mengerti. Orang yang mereka takuti itu adalah Aksa. Uncle-nya itu jika marah layaknya raja hutan. Sangat garang dan akan menghabisi lawannya tanpa ampun.


"Ya udah, sekarang kalian ganti baju dan kita akan buat puding buah. Mau?"


"Mau!" jawab mereka kompak.


Ayanda akan merasa bahwa jika si triplets datang ke rumahnya. Keadaan rumah yang akan berubah seperti kapal pecah pun, Ayanda tidak akan mempermasalahkannya. Ketiga cucunya ini adalah pelipur lara untuknya.


Di dalam kamar, Riana terbangun karena tiba-tiba perutnya terasa mual. Dia segera turun dari tempat tidur dan berlari ke arah kamar mandi. Aksa yang terkejut segera mengikuti istrinya. Dipijat lembut tengkuk leher Riana hingga semua isi perutnya dikeluarkan semua.


"Udah?" tanya Aksa. Riana hanya mengangguk.


Aksa membopong tubuh Riana dan membaringkannya ke atas tempat tidur. Dia menyeka keringat yang ada di kening sang istri.


"Mau teh manis?" Riana menggeleng. "Mau es jeruk," jawab Riana.


Rian masih bergeming, Aksa tahu Riana tidak setuju dengan tawarannya. Kemudian, tangannya dia letakkan di atas perut Riana.


"Kasihan anak kita dong, Sayang. Mommy-nya belum sarapan, berarti anak kita juga belum makan apa-apa. Masa mau dikasih sarapan yang asam-asam," ujar Aksa.


Mendengar kata 'anak kita' membuat Riana mengalah dan menerima penawaran Aksa. Senyum melengkung di wajah Aksa. Benar kata orang, menghadapi orang hamil itu menguji kesabaran.


Aksa menyuapi istrinya dengan telaten. Kemudian pintu kamar terbuka. Tiga anak tuyul sudah membawa puding mangga.


"Ini buatan kita dan Mimo," ujar Aleena.


Riana tersenyum dan menyuruh ketiga anak itu mendekat. Mereka memeluk tubuh Rian dengan sangat erat. Aksa membayangkan jika keinginan ibunya terkabul, semua orang pasti akan sangat bahagia.


Sebelum jam tiga sore, Riana dan Aksa sudah berangkat ke rumah sakit yang direkomendasikan sang ibu. Mereka tidak hanya berdua, melainkan mengajak ketiga anak Echa yang sudah anteng berada di kursi penumpang belakang.


"Kita akan melihat Dedek bayi?" tanya Aleesa yang terlihat antusias.


"Iya, Aleesa," jawab Riana.


"Kira-kira ... dedeknya ada berapa, ya?" timpal Aleena.


"Kalau banyak anak si pushy," balas Aleesa.


Riana dan Aksa hanya tertawa mendengar celotehan bocah Lima tahun itu.


Tibanya di rumah sakit, Aksa maupun Riana sama-sama menggandeng tangan ketiga kurcaci cilik itu. Mereka terus saja berceloteh dan banyak sekali bertanya. Untung saja Aksa pandai, jadi Aksalah yang menjawab pertanyaan penuh keingin tahuan dari mereka bertiga.

__ADS_1


Benar kata sang mommy, mereka tidak usah menunggu. Riana segera dipanggil dan masuk ke dalam ruangan dokter obgyn.


"Selamat sore," sapa sopan seorang dokter wanita yang bernama Gwen.


"Selamat sore, Dok," jawab Riana.


Dari arah belakang Aksa dan juga si kembar tiga baru masuk. Dokter pun sedikit tercengang dengan apa yang dia lihat.


"Katanya anak pertama, tapi ini?" Begitulah batin sang dokter.


Gwen adalah dokter yang sengaja Ayanda pilih untuk Riana. Dia adalah dokter kandungan terbaik yang ada di rumah sakit ini. Untuk menantu tersayangnya mana boleh coba-coba.


"Anak ke berapa ya, Bu?" tanya Gwen.


"Pertama," jawab Riana serta Aksa,


Ketiga kurcaci itu malah tengah asyik memandang setiap sudut ruangan dokter kandungan. Perawat mulai memeriksa tekanan darah Riana serta berat badannya. Setelah itu, dokter membawa Riana ke ranjang pesakitan untuk diperiksa, diikuti Aksa juga si kembar tiga.


"Apa merasa mual?" Riana mengangguk.


Gwen menyingkap sedikit kaos yang Riana pakai. Mengoleskan gel ke atas perutnya. Kemudian, mulai menggerakkan alat yang terhubung ke layar monitor.


"Silahkan Bapak lihat ke arah layar monitor," titah Gwen.


Bukan hanya Aksa yang memandngi layar monitor, Aleena, Aleesa serta Aleeya pun ikut melihat ke arah sana.


"Bagaimana dok? Apa saya hamil?" Pertanyaan penuh kekhawatiran keluar dari mulut Riana.


Tadi Riana sempat membaca artikel mengenai kehamilan. Positif melalui hasil testpack belum tentu positif ketika di USG.


"Kalian bisa melihat titik ini?" Gwen menunjuk ke arah titik kecil yang ada di layar monitor. Semuanya mengangguk.


"Itu tandanya memang ada kehidupan di dalam perut sana," jelas Gwen seraya tersenyum,


Aksa tersenyum bahagia dan mengecup kening Riana sangat dalam.


"Calon anak kita, Bang," ucap Riana dengan suara yang bergetar.


"Dan selamat ... bukan hanya satu nyawa yang ada di dalam sana, melainkan dua."


Air mata Riana mengalir begitu saja ketika mendengarnya, sama halnya dengan Aksa yang mematung.


"D-dua?" ulang Aksa. Gwen mengangguk mantap.


Ketiga anak Echa pun ikut berbahagia, tetapi Aleesa terus menukikkan kedua alisnya.


"Dua? Tapi ...."


...****************...


Boleh minta tolong enggak? Kalau ada Up terbaru langsung baca, ya. Jangan ditimbun-timbun. Biar level karya JODOH RAHASIA stay. Syukur-syukur naik.


Jangan lupa komen kalau kalian mau aku Up lagi.

__ADS_1


__ADS_2