Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Tunggu Jandanya


__ADS_3

Aksa dan Riana tiba di rumah jam setengah dua belas malam. Istrinya tertidur ketika masih di perjalanan karena perut yang sudah kenyang.


"Kok malam banget," tanya Ayanda yang ternyata belum tidur. Dia mengkhawatirkan sang menantu.


"Minta makan di luar dulu, Mom," jawab Aksa seraya membopong tubuh Riana.


"Baju Riana ganti ya, Bang. Pasti udah banyak debunya. Kasihan calon cucu Mommy," imbuh Ayanda. Aksa hanya mengangguk pelan.


Aksa dengan sangat hati-hati meletakkan istrinya di atas tempat tidur. Sesuai dengan perintah sang ibu. Dia membuka baju Riana sambil menahan desakan di bawah perutnya.


"Ya Tuhan, kenapa semakin membesar," gumamnya sambil menelan saliva.


Aksa sudah tidak bisa menahannya, adiknya seakan mendesak ingin keluar.


"Kenapa semakin menggoda," erangnya kesal.


Hatinya menolak, tetapi tubuhnya seakan menginginkan semua yang ada pada tubuh sang istri. Seperti anak kecil yang tengah dahaga, dia meminum susu dari sumbernya. Riana yang tengah tertidur pun terganggu. Dia membuka mata ternyata sang suami sudah menjelajahi gunung gede miliknya.


"Bang." Sebisa mungkin Riana menahan the sahannya. Sungguh itu titik terlemahnya. Jika, suara merdu itu lolos begitu saja sudah dipastikan Aksa akan menerkamnya.


"Gak kuat, Sayang," keluhnya.


Aksa masih asyik menjelajahi gunung gede, wajah Riana pun tidak bisa berdusta. Dia sudah terbawa penjelajahan itu. Ketika Aksa hendak menerkamnya, Riana menggeleng.


"Anak kita," ucapnya pelan.


Aksa tersadar dan menjatuhkan diri di samping Riana. Wajahnya masih menempel di gunung gede milik istrinya. Sebenarnya Riana tidak tega, tetapi dia juga tidak ingin anaknya kenapa-kenapa.


"Berapa lama Abang harus puasa?" tanya Aksa dengan wajah yang sangat menyedihkan.


"Sampai dokter memperbolehkannya," jawab Riana.


Aksa terkulai lesu, sedangkan Riana sudah membelai rambut sang suami. Tangannya sudah masuk ke dalam sangkar emas dan ternyata sudah berdiri kokoh.


"Mau apa, Sayang?" tanya Aksa ketika sang istri sudah mulai bangun dari posisi tidurannya.


Riana sudah membuka resleting celana Aksa dan sudah menyentuh sosis jumbo.


"Sayang." The sahnya.

__ADS_1


Riana semakin asyik bermain dengan sosis jumbo itu. Lidah tak bertulang sudah mulai menyusuri sosis jumbo sang suami. Rancauan sang suami terdengar. Riana semakin bersemangat. Tak apalah dia lelah sebentar untuk memuaskan rasa dahaga suaminya. Pulang ke Indonesia bukannya memuaskan suami, malah membuat suaminya harus puasa panjang hingga batas waktu yang tidak ditentukan.


Riana sungguh memanjakan adik dari suamianya hingga adiknya ingin menyemburkan lahar panas yang sedari tadi sudah ingin keluar.


"Sayang, lepas!"


Lidah tak bertulang itu pun menjauh dari sosis jumbo hingga Aksa melenguh panjang. Lahar panas nang kental keluar dari singgasananya.


"Makasih, Sayang," ucap Aksa.


Riana mengelap lembut bekas lahar sang sosis jumbo. Ujung sosis jumbo itu pun dibersihkan dengan sangat hati-hati. Kemudian, Aksa menariknya ke dalam dekapannya yang hangat.


"Capek gak?" tanyanya. Tangannya sudah mulai mengusap lembut bibir sang istri. Kemudian, mengecupnya lembut.


Tidak ada jawaban dari Riana. Dia hanya membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami dan tangannya melingkar di perut Aksa. Tak lama, Riana pun terlelap tanpa baju bagian atasnya.


Namun, pikiran Aksa masih melayang. Dia masih mengkhawatirkan adiknya. Dia tahu sang istri tidak bisa jauh darinya untuk saat ini. Ingin selalu bermanja dengan dirinya.


Setelah Riana terlelap, perlahan Aksa bangun dari tidurnya. Dia mengecek ponselnya. Dia mengecek GPS ponsel sang adik. Helaan napas kasar keluar dari mulutnya. Aska masih betah di tempat angkringan.


Jam sepuluh malam Aska tiba di Jakarta. Dia tidak pulang ke rumahnya, dia memilih ke tempat angkringan yang menjadi langganannya untuk menenangkan hatinya yang sedang tidak baik-baik saja. Aska bukanlah pecinta dunia malam, bukan juga peminum yang akan menghabiskan kegalauannya di tempat seperti itu. Aska dan Aksa adalah dua pria yang tidak merokok juga.


Sekarang Aska tengah duduk di tempat yang gelap seorang diri. Meratapi nasibnya yang sangat malang ini. Wajah sendu Jingga masih berputar di kepalanya.


"Pulang."


Sebuah pesan yang masuk ke ponsel Aska. Itu adalah pesan dari sang Abang. Dia hanya menghela napas kasar. Pesan itu hanya dibaca tanpa dibalas.


Angin malam sudah menusuk ke dalam tulangnya. Akan tetapi, dia masih betah berada di sana. Di rumah yang besar Aksa tidak bisa tertidur karena sang adik belum pulang. Cemas dan khawatir jadi satu. Dia tahu adiknya sedang terluka.


"Dek, pulanglah!"


Dua kata yang Aksa ketik dan dia kirim kepada sang adik. Aksa sudah mengecek semuanya.


Melihat pesan dari sang Abang lagi, Aska mulai beranjak dari duduknya. Dia merasakan kekhawatiran dari sang Abang. Minuman serta makanan yang dia pesan tak dia sentuh sedikit pun. Ketika dia hendak membayar, dia mengenali seseorang yang bersandar di mobil hitam. Bibirnya sedikit terangkat.


"Makasih, Bang," gumamnya.


Sopir pribadi keluarga Giondra sudah menjemputnya sedari tadi. Itu atas perintah dari Aksa yang mengkhawatirkan akan kondisi adik satu-satunya.

__ADS_1


"Den Aksa sangat mengkhawatirkan Den Aska, sedari tadi dia belum tidur," ucap sang sopir.


Aska merogoh sakunya dan dia mengecek waktu di ponselnya. Sudah jam satu malam. Sudut bibir Aksa terangkat sedikit. Dia tidak menyangka abangnya akan seperhatian ini.


Tibanya di rumah, Aksa sudah berada di anak tangga yang paling bawah. Dia menatap Aska dengan sorot mata penuh kelegaan.


"Belum tidur?" tanya Aska.


"Ikut gua!" Langkah kaki Aksa mulai menaiki satu per satu anak tangga dan langkahnya membawanya menuju ruangan kerja.


Aksa seperti sedang menyidang seorang siswa yang nakal. Dia menatap tajam ke arah Aska yang hanya menundukkan kepalanya.


"Mau ngomong sendiri atau Abang yang buka semuanya," kata Aksa.


Aska hanya menghembuskan napas kasar. Dia tahu sang Abang pasti tahu semuanya tentang apa yang dia lakukan. Namun, mulut Aska terasa kelu.


Lama ruangan itu terasa hening, hingga Aksa mulai mengetukkan jarinya di meja. Menandakan dia sudah sangat tidak sabar.


"Miris," ujar Aska. Hanya satu kata itu yang keluar dari mulut adiknya.


"Nyerah?" tanya Aksa yang masih menatap tajam ke arah Aska. Aska hanya terdiam.


"Sebelum kata sah diucapkan para saksi, masih ada kesempatan dan masih bisa hadang dia disetiap tikungan," lanjut Aksa.


"Kalau gagal di tikungan dan malah dia menuju jalan tol pernikahan? Apa gua harus jadi pecundang," sergah Aska.


"Apa pernikahannya akan berjalan bahagia?" tanya Aksa dengan seringainya.


"Pernikahan pertama tidak menjamin bahagia. Banyak orang berpisah di pernikahan pertama dan malah bahagia di pernikahan kedua," tutur Aksa.


"Termasuk lu?" hardik Aska.


"Bukan hanya gua, tetapi Mommy juga Daddy pun bahagia setelah pernikahan Mommy yang kedua," balasnya.


Apa yang dikatakan oleh Aksa ada benarnya juga.


"Lalu, apa yang harus gua lakukan?" tanya Aska yang masih merana.


"Tunggu jandanya!"

__ADS_1


...****************...


Komen dong, semoga hari ini bisa up banyak


__ADS_2