Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Kembali Ke Jakarta


__ADS_3

Tiba sudah hari di mana Aksa juga Riana serta Gavin kembali ke Indonesia. Mereka sudah dijemput oleh Giondra dan Remon.


"Udah gendut ya cucu Pipo." Gio menggendong tubuh Gavin dan mengajak bayi yang baru berusia empat puluh dua hari itu berbicara. Tanpa dia sangka cucunya tersenyum ketika Gio mengajaknya berbicara.


"Ya ampun, kalau Mimo tahu cucu tampannya udah bisa diajak ngobrol bisa dikekepin terus."


Aksa juga Riana tertawa mendengar ucapan ayah mereka. Aksa tak henti menatap Riana dengan penampilan yang baru. Rambut sebahu yang dia gerai lurus membuatnya semakin cantik.


"Semakin hari kamu semakin cantik," puji Aksa. Riana hanya tersenyum dan memeluk tubuh suaminya dari samping. Remon hanya menggelengkan kepalanya dan berkata dalam hati, "percis bapaknya dulu. Bucin."


Riana sudah menggendong tubuh Gavin dan Aksa yang membawa semua keperluan Gavin. Mereka diperbolehkan terbang atas seijin dokter anak.


"Daddy yakin, semua orang di rumah sedang sibuk untuk menyambut kehadiran kalian." Aksa juga Riana hanya tertawa sedangkan putranya Selalu terlelap jika berada di atas dada Riana.


"Kalau gak nyaman bilang, ya." Riana hanya mengangguk. Kali ini Riana sengaja memakai atasan yang memiliki kancing agar mudah menyusui sang putra.


Sesekali Riana menguap dan membuat Aska tersenyum. Kemudian, dia meletakkan kepala Riana di pundak lebar miliknya.


"Tidur aja kalau kamu ngantuk mah."


Aksa tahu setiap malam istrinya harus terbangun setiap dua jam sekali karena putra mereka meminta jatah susu. Siangnya pun sama seperti itu. Jadi, waktu istirahat Riana benar-benar berkurang.


Gio menatap ke arah sang putra juga menantunya. Lengkungan senyum terukir di wajah tampannya.


"Putra pertama Anda sudah bahagia. Bagaimana dengan putra bungsu Anda?" Pertanyaan Remon membuat Gio menghela napas kasar.


"Biarkan dia menemukan cintanya sendiri."


Bukannya Gio tidak tahu perihal Jingga, tetapi Gio tidak ingin ikut campur terlalu dalam lagi. Cukup dia melihat betapa terlukanya Askara ketika bertemu dengan dua manusia itu, Jingga juga Bian di Bandara Changi. Bibir Aska mampu tersenyum, tetapi hatinya tengah merasakan kesakitan yang amat menyiksa. Sampai detik ini pun Gio melihat bahwa Aska belum mampu melupakan perempuan itu.


Apa Gio membenci perempuan itu? Jawabannya, tidak. Dia malah kasihan kepada wanita yang malang itu. Jingga dan Aska adalah korban dari kebejatan seorang pria yang tak lain adalah sahabat Askara. Namun, putranya itu lebih memilih mundur. Bukan karena tidak mencintai Jingga, tetapi karena perjuangannya selama ini tak pernah dihargai. Apalagi dia sudah berpegang teguh pada janjinya, bahwa dia tidak akan merebut wanita milik sahabatnya.


Tibanya di Bandara Soekarno-Hatta, mereka sudah dijemput dengan mobil mewah. Aksa tetapi tidak membiarkan istrinya kelelahan. Dia selalu memberikan kenyamanan kepada anak dan istrinya. Apalagi melihat Gavin sedang meminum susu dari sumbernya. Aksa hanya menggelengkan kepala ketika melihat putranya terlihat sangat rakus.


"Daddy juga gak akan minta, Nak. Pelan-pelan miminya." Gio tertawa mendengar ucapan dari putranya.


.


"Bubu, Kakak Sa beliin hadiah buat Dedek tampan loh, pakai uang tabungan Kakak Sa sendiri."


Echa tersenyum dan mengusap lembut kepala putri keduanya. "Wah, anak Bubu baik sekali," puji Echa.


"Bubu mau lihat?" Echa pun mengangguk.


Namun, mata Echa melebar ketika melihat baju yang dibelikan Aleesa serba pink semua.


"Kata Engkong, dedek tampan gak boleh pakai bando dan juga jepitan. Makanya, Kakak Sa beliin topi warna pink dan sepatu pink juga."

__ADS_1


Echa pun tertawa. Dia ingin memarahi putrinya, tetapi dia tidak tega karena dari seminggu yang lalu dia berbelanja dengan Radit menggunakan uang tabungannya.


"Aku udah bilangin, tapi anak itu keras kepala." Radit yang baru saja datang segera membuka suara dan mendekat ke arah istrinya. Mencium kening Echa dengan sangat mesra.


"Ya udah gak apa-apa." Echa memakluminya dan dia ingin segera melihat bagaimana respon paman dan Tante si triplets ketika membuka hadiah dari Aleesa.


Radit meletakkan kepalanya di pangkuan sang istri. Membenamkan wajahnya di perut rata Echa dengan tangan yang sudah memeluk pinggang istrinya. Tangan Echa membelai lembut rambut Radit hingga suaminya itu merasakan kenyamanan.


"Kamu mending istirahat, Ay. Baru pulang banget 'kan." Radit baru saja tiba di Jakarta setelah tiga hari pergi ke London untuk pertemuan para mantan dokter di mana dia bekerja dulu.


"Aku gak mau tidur sendiri." Radit semakin mengeratkan pelukannya dan membuat Echa tersenyum. Lebih dari satu tahun ini hubungan mereka sangat hambar dan belum lama ini Echa baru berdamai dengan kesakitan yang kian menjalar.


"Ya udah, kita ke kamar aja, ya. Nanti kamu sakit karena kurang istirahat."


Selama satu tahun ini Radit berupaya untuk menyakinkan hati istrinya. Merelakan tubuhnya menderita demi sang istri tercinta. Sakit pun tak dia rasakan dan pada akhirnya dia harus diopname.


"Anak-anak Bubu, Bubu boleh ya nemenin Baba tidur dulu. Kasihan Babanya." Izinnya kepada ketiga putrinya. Si triplets malah senang dan mengizinkan kedua orang tuanya untuk ke kamar mereka yang ada di rumah sang nenek.


Echa dan Radit akhirnya ke kamar yang ada di rumah Ayanda. Radit memeluk tubuh istrinya dengan sangat erat meskipun matanya sudah sepat.


"Jangan tinggalin aku. Tiga malam aku gak bisa tidur," adunya pada sang istri. Echa hanya mengangguk dan membelai lembut rambut Raditya.


Suaminya sudah banyak berubah selama satu tahun ini. Tidak mau keluar rumah jika tanpa anak dan istrinya. Selalu meluangkan waktu untuk Echa, baik menemani istrinya ke luar kota ataupun sekadar bercengkrama di rumah.


Raut lelah terpancar di wajah Radit. Tak berapa lama dia pun sudah terpejam dengan tangan yang tak mau lepas di pinggang istri tercintanya.


.


"Dedek tampan!"


Seruan Aleeya membuat semua orang yang ada di dalam rumah keluar. Wajah mereka terlihat sangat bahagia dan segera menyambut cucu Sultan sesungguhnya.


"Cucu Engkong!"


Ayanda segera mengambil alih Gavin dari Riana. Dia terus menciumi pipi chubby Gavin.


"Cucu Mimo udah besar sekarang."


Aksa menggelengkan kepala. "Anaknya mah gak disambut, sekarang mah beralih ke cucunya," sindir Aksa. Ayanda menoleh dan menatap tajam ke arah sang putra. "Kamu itu udah bangkotan, gak ada lucu-lucunya."


Ucapan Ayanda mampu membuat semua orang tertawa. Sekarang yang mereka utamakan adalan Gavin Agha Wiguna. Cucu keempat Ayanda dan cucu pertama dari Giondra. Namun, bagi Gio, Gavin tetaplah cucu keempatnya.


"Echa ke mana, Dek?" tanya Rion kepada mantan istrinya.


"Bubu lagi kelonin Baba," ucap asal Aleesa.


"Udah tua juga," sungut Aksara.

__ADS_1


Ayanda tidak berkomentar apapun. Mendengar itu semua dia malah tersenyum bahagia. Putrinya sudah bisa berdamai dengan kesalahan suaminya.


Suasana rumah pun sangat ramai karena kedatangan Gavin. Tiga bocah itu segera mengambilkan kado yang mereka beli untuk sang sepupu.


"Wah, makasih banyak," ucap Riana ketika ketiga keponakannya memberikan paparr bag yang mereka bawa.


"Jangan kaget aja liat isinya." Kalimat Rion itu membuat Riana mengerutkan dahi.


Ketika Riana membuka hadiah dari tiga bocah ini dia malah tertawa. Ada topi berwarna pink gambar hello Kitty, sepatu pink, boneka Minions dan baju berwarna hitam gambar Gavin.


"Makasih ya keponakan-keponakan Aunty," ucap Riana.


"Kamu gak marah?" Riana hanya tersenyum, kemudian menggeleng menjawab pertanyaan ayahnya.


"Ini bentuk kasih sayang mereka kepada anak Ri, Ayah. Mereka masih kecil, harus diberi pengertian bukan dimarahi." Riana mampu menyikapinya dengan santai dan membuat Aksa yang sedang menuju ke arahnya tersenyum bangga. Semakin hari sikap Riana seperti kakak perempuannya.


"Sayang, minum dulu." Aksa membawakan air putih untuk istrinya.


"Mom, nitip Empin dulu, ya. Ri, harus memompa susu dulu." Ayanda mengangguk tanpa menoleh kepada menantunya.


"Istirahat dulu, Sayang. Baru mompa susu," ujar Aksa, ketika sudah duduk di samping sang istri.


"Ini udah pada sakit, Bang. Harus dikeluarin."


Aksa menyingkirkan breast pump yang tengah Riana gunakan. Dia malah mendekatkan wajahnya dan menghisap sumber asi milik putranya. Rasanya hambar, tetapi nikmat sekali. Bukan hanya Aksa yang merasakan kenikmatan, sentuhan bibir dan lidah Aksa pun membuat Riana mengeluarkan suara yang sangat syahdu.


Aksa menatap wajah Riana yang sudah tak karuhan. Perlahan Aksa membaringkan tubuh istrinya dan tangannya sudah berkerja dengan sangat lincah. Tak terasa, semua pakaian istrinya sudah ada di lantai.


Mereka berdua seakan tengah melepaskan dahaga karena sudah lama tidak berbuka puasa. Menahan hasrat yang pastinya hadir di tubuh mereka.


"Masukin, ya." Sebuah anggukan kecil menjadi jawaban dari Riana yang sudah lemah tak berdaya karena sentuhan yang memabukkan.


Aksa sudah mengarahkan rudalnya ke dalam ladang yang sudah sangat basah dan terlihat masih memerah. Nafsunya sudah di ujung. Gesekan pelan membuat Riana mengerang. Aksa pun sudah mengambil kuda-kuda dan tembakannya pasti tepat pada sasaran. Tubuhnya bersiap untuk menembak.


"Ri, Empin mau enen nih." Seruan sang ibu mertua membuat mata Riana terbuka dan tangannya mendorong tubuh suami tercinta tanpa sengaja.


"Sakit, Sayang." Ternyata tubuh Aksa sudah berada di lantai dengan posisi terlentang. Terlihat rudalnya masih berdiri tegak.


"Kalau ada waktu kita lanjutin lagi ya, Bang." Aksa pun mengerang kesal.


...****************...


Komen atuh ...


Jangan tinggalin Bang Aksa juga Riana, ya. Tetap setia baca kisah mereka sampai akhir bulan ini. Jangan karena Bang As, keluarga Bang Aksa ditinggalin. Pan nantinya aku sedih😢


Yang belum tap love ❤️ di ceritanya Bang As JODOH TERAKHIR silahkan tekan ikon ❤️ biar masuk ke dalam rak buku kalian.

__ADS_1


Kapan cerita Bang As terbit? Setiap tengah malam ya. (Kalau gak ketiduran)😁


__ADS_2