Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Kata Sandi


__ADS_3

Sebelumnya Aska terus mendesak Fahri agar memberikan kode sandi apartment milik sang kakak. Bukan dengan cara mudah membujuk Fahri, harus melakukan beberapa cara agar dia mau memberi tahu.


"Gak modal amat sih," dengkus Fahri.


"Gua 'kan cuma pelayan kafe, lah Abang gua pengusaha kaya. Beda kastalah," ungkapnya.


Fahri berdecak kesal ketika mendengar kalimat itu. Kalimat yang tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Padahal, Aska pun memiliki kekayaan yang cukup banyak. Namun, dia selalu bilang kakaknyalah yang orang kaya.


"Jam segini pan si Abang udah molor. Syukur-syukur gua gak dengar suara menakutkan lagi, yang membuat iman gua meremang gak karuhan."


Fahri tergelak sangat keras, dia mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Aska. Ketika dia mengantar di triplets pun dia terus mengulum senyum karena leher dari istri atasannya penuh noda merah.


"Ganas ya, Abang lu," ejek Fahri.


"Berimbang lah, bininya juga sama ganasnya."


Lagi-lagi Fahri tertawa, dia melihat jam di tangannya. Dia tersenyum tipis. Dia sangat tahu jadwal bosnya. Apalagi ada si triplets di sana. Fahri sangat tahu bagaimana kelakuan ketiga keponakan Aksa yang sangat luar biasa itu.


"Sini gua bisikin," ujar Fahri.


Aska hanya mengangguk, dan dia melenggang begitu saja meninggalakan Fahri.


"Lu jangan galak-galak sama adik gua," teriak Fahri.


"Adik lu pantas untuk digalakin," sahut Aska dengan suara keras.


Fahri menggelengkan kepala, adiknya sangat keras kepala begitu juga Aska. Namun, dia melihat jika Fahrani memang menyimpan perasaan untuk Aska. Dia juga mengerti bahwa Aska tidak semudah itu untuk membuka hati.


Tibanya di apartment, Aska berjalan santai. Keadaan sudah sangat sepi. Dia mencoba kata sandi yang Fahri berikan dan ternyata benar.


"Ternyata kagak bohong juga tuh orang," gumamnya.


Ketika pintu terbuka, matanya melebar ketika melihat sang Abang dan juga istrinya sedang melakukan kegiatan silat lidah yang mengasyikkan.


"Astaghfirullah Al adzim. Mata perjaka gua ternoda!"


Pekikan suara itu membuat Riana dan Aksa segera melepaskan pagutan mereka. Aksa mendengkus kesal, sedangkan Riana sudah membenamkan wajahnya di dada sang suami. Tangannya melingkar erat di perut Aksa.


"Kebiasaan!" omel Aksa.


"Maaf, gua gak tahu," sesal Aska.


"Kamu ke kamar, ya." Aksa membawa istrinya ke kamar.


"Abang," panggil Riana.


"Gak apa-apa, Sayang. Dia udah dewasa. Kamu istirahat dulu. Nanti Abang nyusul." Riana mengangguk, setelah Aksa melayangkan kecupan hangat di keningnya.


Di ruangan depan, Aska sudah membaringkan tubuhnya di sofa. Matanya sudah dia pejamkan.


"Ngapain ke sini?" hardik Aksa.


"Numpang tidur," jawab Aska.


Aksa menarik paksa adiknya agar terduduk, Aska benar-benar mengerang kesal.


"Lu dapat kata sandi ini dari si Fahri 'kan." Aska hanya tertawa sumbang.


"Berengsek! Gua potong gajinya," geram Aksa.


"Udahlah, jangan ngoceh udah malam. Gua capek," ujar Aska.


"Capek? Perasaan sedari tadi lokasi ponsel lu ada disekitaran kantor."


Sontak mata Aska melebar. Dia menatap Aksa yang seolah acuh.


"Lu nyadap ponsel gua?" tanya Aska.


"Menurut lu?"


Aska pun menghembuskan napas kasar. Dia menyandarkan tubuhnya di kepala sofa.


"Apa yang lagi lu sembunyikan?" Aska hanya diam, tidak bisa menjawab ucapan dari sang kakak.


"Lu tahu 'kan, di antara kita ini gak akan bisa ada yang berbohong."


Aska masih membungkam mulutnya. Dia malah memejamkan matanya.


"Kalau ada masalah atau kesulitan, bilang. Kamu nggak sendiri, ada Abang di sini." Senyum Aska merekah mendengar ucapan abangnya.

__ADS_1


Ikatan batin mereka berdua sangatlah kuat. Ketika salah satu dari mereka tengah dilanda kesedihan, pasti yang satunya akan merasakan. Sama halnya ketika Aksa yang harus berjuang untuk Riana. Tanpa Aska, semua kebenaran itu tidak akan pernah terbongkar.


"Di lemari pendingin banyak makanan. Keponakan kamu baru saja belanja." Askara menatap ke arah Aksa.


"Si kembar tiga ada di sini?" tanya Aska.


"Iya, tadi sore dia diantar si Fahri. Kakak sedang ada pekerjaan dadakan kayaknya. Ditinggal di rumah pun gak mungkin. Mommy dan Daddy sedang di Singapura." Aska mengangguk mengerti. Kakaknya menjadi wanita yang super sibuk sekarang.


"Si Alan si Fahri," sungut Aska.


Aksa menatap heran ke arah adiknya. "Dia sengaja ngasih kata sandi apartment ini. Dia berarti tahu apa yang sedang Abang lakukan," terang Aska dengan bersungut-sungut.


Aska tertawa dan menepuk bahu sang adik. "Jangan mau dibodohin si Fahri." Aksa melenggang begitu saja dan masuk kamar.


Di rumah yang lain, Fahri tengah tertawa terbahak-bahak karena berhasil mengerjai adik dari bosnya tersebut.


"Pasti lu lagi dengar alunan nada yang membuat syahwat menari-nari." Fahri terkikik sendiri.


****


Pagi harinya, Riana tersenyum manis ketika sang suami tengah memeluknya dari belakang. Mereka tidur di atas sofa berdua karena tempat tidur mereka digunakan oleh si triplets.


"Abang, bangun dong. Udah siang."


"Sebentar lagi, Sayang."


Baru kali ini Aksa menjelma menjadi pria malas. Biasanya dia segera bangun ketika alarm berbunyi. Namun, hangatnya tubuh Riana membuatnya betah berlama-lama berada di alam mimpi.


"Ri, mau siapin sarapan dulu, ya."


"Jangan, temani Abang aja di sini." Riana pun tertawa dan mengecup singkat bibir sang suami, sehingga matanya perlahan membuka.


"Ada anak-anak. Training jadi ibu," kekeh Riana.


Aksa pun tertawa dan mencium kembali bibir Riana. "Ya udah. Abang mandi di kamar tamu, ya. Tolong siapin baju Abang." Riana tersenyum dan mengangguk.


Setelah membersihkan wajahnya dan mengambil baju untuk sang suami, langkah Riana terhenti ketika melihat seseorang yang meringkuk di atas sofa dengan selimut yang membalut tubuh orang itu. Riana melanjutkan langkahnya menuju kamar tamu.


"Abang, Ri taruh bajunya di atas tempat tidur, ya."


"Iya," jawab Aksa dari dalam kamar mandi.


Riana menuju ke dapur untuk menyiapkan sarapan sederhana saja untuk ketiga keponakannya dan juga adik iparnya. Dia teringat jika ketiga anak kakaknya itu senang sekali dengan telur.


"Istri sungguhan," gumamnya.


Perkataan Aska sungguh ambigu. Dia melihat ke arah pintu kamar yang terbuka, sang Abang sudah sangat tampan.


"Mandi!" titah Aksa.


Aska tidak menjawab, matanya malah mengikuti ke mana sang kakak melangkah.


"Suami-istri panutan," ucapnya dalam hati.


Aksa memeluk Riana dari belakang dan terlihat Riana tersenyum manis ke arah Aksa. Kecupan di pipi Riana Aksa labuhkan.


"Pagi-pagi bikin otak gua traveling," dengkusnya pelan.


Aska bukan ke kamar tamu malah masuk ke kamar utama. Niatnya untuk mengganggu ketiga keponakannya. Namun, di atas tempat tidur sudah tidak ada siapa-siapa. Aska berjalan ke arah pintu kamar mandi. Ada suara percikan air di sana.


"Pintar banget tuh bocah-bocah," ucapnya.


"Ngapain ke situ?" tanya Aksa yang melihat adiknya baru keluar kamar utama.


"Lihat si trio tuyul. Mereka malah lagi pada mandi," jawab Aska.


"Makanya mandi, kalah sama bocah," sungut Aksa.


"Kambing aja gak mandi laku," balas Aska.


"Dasar kambing jantan."


Riana terkekeh mendengar perdebatan sang suami dan juga adiknya. Mereka bagai anak kecil jika sudah berdebat.


Aska memilih untuk masuk kamar tamu. Namun, dia keluar lagi.


"Pinjam baju," ucap Aska kepada Aksa.


"Ambil di lemari," sahut Aksa yang sudah fokus pada ponselnya.

__ADS_1


"Ri, ambilin baju Abang, ya," pinta Aska.


"Iya, Kak."


Riana mematikan kompor terlebih dahulu. Dia mengambilkan baju untuk adik iparnya yang dia panggil Kakak. Lengkungan senyum terukir di wajahnya ketika si triplets baru keluar dari kamar mandi.


"Pintarnya keponakan, Aunty. Setelah pakai baju langsung sarapan, ya." Mereka pun mengangguk.


Riana memberikan baju kepada Aska. Kemudian melanjutkan kembali acara masak memasaknya. Setelah semuanya sudah siap, dia hidangkan di atas meja. Riana merebut ponsel Aksa membuat Aksa menoleh terkejut.


"Sarapan dulu."


Aksa pun tersenyum dan menarik tangan Riana hingga dia terjatuh di pangkuan Aksa.


"Jangan galak-galak," bisik Aksa.


Hanya tatapan tajam yang Riana berikan dan membuat Aksa mencubit pipi istrinya dengan gemas.


Si triplets pun keluar dan mendengkus kesal. Melirik ke arah paman dan tantenya dengan tatapan malas.


"Masih pagi," sindir Aleena.


Aksa dan Riana pun tertawa. Riana mengambilkan nasi goreng untuk suaminya, kemudian untuk ketiga keponakannya.


"Aunty, sosisnya dua telurnya dua," pinta Aleeya.


"Baik, Sayang."


Aksa merasa kehadiran si triplets membuat rumah tangga yang baru mereka bina semakin menghangat layaknya keluarga bahagia.


Aska yang baru keluar dari kamar tamu membuat si triplets sedikit terkejut.


"Kenapa Om di sini?"


"Lagi main. Siang ini juga Om harus pulang ke Jakarta," jawab Aska.


"Katanya besok?" sergah Aksa.


"Ken dan Bian sudah merindukan adikmu ini, Bang."


"Najis!"


Aska pun tertawa mendengar respon sang kakak. Aksa tahu siapa Ken dan Bian. Upin Ipin versi dewasa yang kompak menjomblo berdua. Disela sarapan mereka, Aleena terlihat bersedih.


"Kakak Na kenapa?" tanya Riana.


"Bubu kapan jemput?" tanyanya.


Ketiga anak ini tidak bisa jauh dari ayah dan ibu mereka.


"Paling siang atau sore," jawab Riana.


"Gimana pas siang nanti kalian ke kantor Uncle, kita makan siang bersama." Aksa mulai angkat bicara.


"Boleh ke kantor?" tanya Aleeya.


"Tentu. Nanti kalian akan pergi bersama Aunty ke sana."


Wajah sendu mereka pun hilang begitu saja. Riana merasa senang ketika suaminya bersikap sangat lembut kepada Aleena, Aleesa dan juga Aleeya.


Aksa berangkat ke kantor dan diikuti oleh Aska dari belakang. Aska seperti sedang memecahkan sebuah masalah bagai detektif Conan.


Selama Riana membersihkan rumah, mereka bertiga asyik menonton acara televisi. Gelak tawa terdengar dari ruangan depan.


"Aunty, kapan kita ke kantor Uncle," tanya Aleeya.


Riana yang tengah menjemur pakaian pun tersenyum. "Sebentar lagi, ya. Setelah selesai ini, kita akan berangkat." Riana mengusap lembut rambut Aleeya.


Setelah semuanya rapi, dan penampilan Riana pun sudah berbeda, mereka menuju kantor Aksa. Ocehan demi ocehan keluar dari mulut mereka bertiga.


"Punya anak sekaligus tiga begini repot banget kali ya," ujar Fahri. Ya, yang menjemput Riana dan si triplets adalah Fahri.


"Pastinya."


Tibanya di depan kantor, mereka Riana bawa menuju lift untuk naik ke atas di mana ruangan Aksa berada. Aleesa jalan belakangan karena sedari tadi dia asyik melihat para makhluk tak kasat mata yang aneh-aneh dan mampu membuat dia terkekeh.


Namun, tak sengaja dia menabrak tubuh cleaning service. Hingga tangannya menempel pada tangan cleaning service tersebut. Ada bayangan masa lalu yang dia lihat. Wanita yang pernah dekat dengannya dan dia saudaranya.


Ketika dia mendongak ke atas ....

__ADS_1


...****************...


Gantung ah, coba banyak yang komen gak? 😁


__ADS_2