
Trauma itu bisa mengakibatkan seseorang ingin mengakhiri hidup mereka, sama halnya seperti Radit pada waktu kecil. Rasa takut serta beban hidup yang terus menghantui, membuat seseorang memilih jalan pintas. Namun, Jingga tidak seperti itu. Dia mengikuti alur yang sudah Tuhan tentukan. Tidak menolak ataupun berniat untuk mengubah jalan hidupnya, dengan cara seperti itu dia akan cepat menhadap kepada sang penciptanya.
"Apa kamu cinta kepada pria itu?" tanya Radit. Dia terus memaksa Jingga untuk berbicara.
"Hatiku sudah mati rasa," tukasnya.
Radit menganggukkan kepala pelan. Dia mengerti akan beban hidup yang diderita oleh Jingga.
"Sekarang mau kamu apa?"
"Ijinkan aku hidup tenang. Tanpa ada pukulan dan kekerasan. Jika, tubuhku bisa teriak dia sudah teriak sangat keras dan meminta untuk tidak disakiti lagi," jawab Jingga.
Radit bisa menyimpulkan bagaimana perasaan Jingga sesungguhnya. Trauma apa yang dia derita. Apa yang dirasakan oleh Jingga lebih berat dari apa yang pernah dia rasakan di masa kecil.
"Katanya Anda seorang dokter. Kenapa Anda tidak memeriksa saya?" Jingga seperti baru sadar dari lamunan panjangnya, sedangkan Radit hanya tersenyum,
mendengar ocehan Jingga.
"Cara memeriksa saya seperti ini. Tidak perlu stetoskop atupun jarum suntik," sahut Radit santai.
Radit bangkit dari duduknya. Matanya menatap Jingga dengan penuh iba.
"Banyak yang akan melindungi kamu. Percaya sama saya," ucap Radit dan berlalu begitu saja. Jingga terperangah dengan ucapan Radit barusan.
"Kenapa aku merasa kenal dengan dokter itu?" gumamnya.
Di luar ruangan tangan Radit menari-nari di atas layar segiempatnya.
"Hasil visum sudah keluar. Bukti kuat untuk langkah selanjutnya." Kalimat yang Radit ketikkan di aplikasi pesan.
Tiga jam kemudian, ketika Radit hendak pulang dia melihat seseorang yang dia kenali. Dari penampilannya itu tidak akan salah lagi.
"Adek!" panggilnya.
Orang yang dia panggil pun menoleh begitu juga dengan laki-laki yang ada di samping Aska.
"Ngapain?" tanya Radit yang sudah mendekat ke arahnya.
"Nyari cabe-cabean," sungutnya.
Bian memukul lengan Aska dengan cukup keras hingga Aska mengaduh. "Dia cewek baik-baik bukan cabe-cabean," omel Bian.
Padahal Aska cuma bercanda malah dianggap serius oleh Bian. Aska pun mendesis kesal.
"Pasien di kamar itu udah pulang," ujar Radit.
"Kapan?" tanya Bian.
"Belum lama," jawab Radit. "Pasien itu tidak perlu dirawat hanya perlu berobat jalan aja," lanjutnya lagi.
Bian pun mengangguk sedangkan Aska seolah tak perduli. Dia tidak mengenal siapa pasien tersebut.
"Ya udah antar gua ke kosan teman gua, yuk," ajak Bian.
"Gua bukan tukang ojek lu!" sentak Aksa. Dia menyerahkan kunci motor kepada Bian, dia juga mengeluarkan STNK dan diberikan kepada Bian.
"Bawa sendiri tuh," ucap Aska.
__ADS_1
"Bang, ayo pulang," ajak Aska kepada Radit.
Bian dan Radit hanya menggelengkan kepala melihat tingkah laku Aska.
Di dalam mobil, tidak ada percakapan antara Radit dan Aska. Wajah Aska pun nampak murung seperti langit yang tengah mendung.
"Lu normal gak sih, Dek?" tanya Radit.
"Normal apaan?" tanya Aska bingung.
"Doyan cewek gak?"
"Bhang Sat!"
Radit tertawa puas karena berhasil membuat Aska murka. Tatapan membunuh Aska berikan kepada Radit.
"Abang lu udah nikah, dia udah bahagia banget. Lu kapan?" tanya Radit serius.
"Menunggu senja datang," jawabnya asal.
"Senja? Nama cem-ceman lu?" Aska pun menggeleng.
"Sepertinya beban hidup lu berat banget, ya." Bukannya marah. Aska malah tertawa mendengar ucapan Raditya.
"Padahal gua udah rajin sekolah ya, masih aja dapat ujian," kelakar Aska.
"Selebar apapun senyuman kamu, tetap sorot mata kamu gak bisa berbohong," batin Radit.
Di kediaman Ayanda, seorang pria dewasa tengah bernegosiasi dengan wanita hamil yang manja.
"Enggak Riana! Enggak!" tolak Arya dengan sangat tegas.
Air mata Riana sudah ingin terjatuh, Aksa menarik tubuh Riana ke dalam pelukannya.
"Sayang, kalau Papah gak mau jangan dipaksa. Tadi 'kan kamu janji gak akan maksa Papah," imbuh Aksa dengan lembut.
"Tapi ... ini permintaan anak-anak kita. Ri, janji ini permintaan terakhir," ucap Riana dengan nada yang terdengar sangat lirih.
Aksa sungguh tidak tega mendengarnya. Dia pun memandang Arya dengan penuh permohonan.
"Kenapa sih anak-anak si duda selalu nyusahin gua?" erangnya kesal. "Laki lu yang bikinnya merem melek, gua yang yang kena getahnya," oceh Arya tidak henti.
"Tolonglah turutin kemauan menantu gua. Apapun yang lu minta pasti akan gua penuhi," kata Gio Dnegan kedua jari yang sudah mengacung ke atas.
"Beneran?" Gio mengangguk tegas. "Okay kalau begitu," lanjut Arya dengan penuh semangat.
Gio dan Aksa tersenyum lega. Ayanda sudah mengambilkan bikini yang dia miliki untuk dipakai oleh Arya.
"Astaghfirullah!" serunya ketika melihat bikini yang seperti baju baju daster laknat para wanita di malam jum'at.
Arya meraih bikini yang Ayanda berikan. Dia menimang-nimang bikini tersebut. Dilihat dari atas hingga ke bawah. Dari belakang hingga ke depan. Ujung-ujungnya dia menggelengkan kepala.
"Gua sih gak masalah sama belahan atas di sini, yang gua permasalahkan adalah segitiga bermuda di bawah sini," tunjuknya ke arah bawah bikini. Sontak semua orang tertawa terpingkal-pingkal.
"Pah, cepatan pakai! Baby-nya sudah gak sabar," pinta Riana yang kini menunjukkan rona bahagianya.
Dengusan kesal Arya terdengar oleh semua orang. Mulut Arya terus berkomat-kamit sambil membawa bikini milik Ayanda.
__ADS_1
"Nyesel gua ke sini," keluhnya.
Ketiga anak Radit bersama Beeya malah tengah asyik bermain air. Di usia mereka kelima tahun mereka sudah mahir berenang bagai anak bebek.
Lima belas menit kemudian, Arya kembali lagi ke kolam renang dengan mengunakan bathrobe. Riana bertepuk tangan gembira layaknya anak kecil yang akan mendapat hadiah.
"Buka itunya," pinta Riana sambil menunjuk ke arah bathrobe yang Arya kenakan.
Sebelum melakukannya Arya menarik napas panjang terlebih dahulu. Jika, mertua Riana tidak mengiming-imingi barang yang Arya suka. Mana mungkin Arya mau memakai baju yang bukan jenis kelaminnya.
Satu.
Dua.
Tiga.
Tangan Arya sudah membuka bathrobe yang dia gunakan. Semua orang yang berada di sana tertawa terbahak-bahak. Mereka salah fokus ke arah bawah dari Arya.
"Oh My God. Ada yang menonjol di bawah sana dan sungguh menggugah selera," ejek Gio.
Mendengar para orang dewasa tertawa, jiwa keingin tahuan bocah Lima tahun meronta-ronta. Mereka menyudahi acara berenang mereka dan naik ke tempat yang kering.
Langkah mereka terhenti ketika melihat Arya menggunakan pakaian yang sama dengan mereka. Mereka bertiga saling tatap. Kemudian, mereka mendekat.
"Wawa kenapa pakai baju itu?" tanya Aleesa penasaran.
Mata Aleeya terfokus pada benjolan yang ada di bawah pusar Arya. Dia pun memandang ke arah bawah perutnya.
"Wawa, itu apa?" tunjuk Aleeya persis di benjolan yang menjulang tinggi tersebut.
Sontak Arya menutup bagian sensitifnya itu. Wajah Arya memerah karena malu.
"Apa itu Wawa?" tanya Aleeya lagi karena penasaran.
"Belalai," jawabnya.
Dahi Aleena mengkerut mendengar jawaban dari Arya. "Sejak kapan manusia punya belalai?" sergah Aleena. Semua orang dewasa di sana mengulum senyum mendengar pertanyaan Aleena.
"Hanya gajah yang punya belalai, Wawa!" seru Aleeya.
Arya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Suara tawa renyah terdengar dari arah pintu menuju kolam renang. Dua pria yang mulutnya sama seperti Arya.
"Kakak!" Riana yang sedari tadi berada di pelukan Aksa kini berlari menuju Aska.
Mata Aska melebar, hatinya sudah tidak karuhan. Apalagi melihat Riana yang sudah mempertunjukkan puppy eyes.
"Kakak pakai itu juga, ya."
...****************...
Komen dong ....
Makasih atas jawaban kalian. 🙏
Tapi mohon maaf, cerita Aska akan tetap aku pisah. Kenapa? Peraturan NT sekarang mengharuskan penulis itu memiliki banyak karya agar kami bisa gajian.
Aska-Jingga tidak akan aku publish d menunggu Riana-Aksa tamat aja dulu. Tapi, jangan sedih di bulan ini akan ada cerita terbaru dari aku yang pastinya akan menguras air mata. Bukan tentang keluarga Bang Duda. Ini berbeda. Semoga kalian mau baca, ya ...
__ADS_1