Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Pandai dan Cerdik


__ADS_3

Perintah sang kakak bagai alarm yang mematikan untuk Askara. Dia menghembuskan napas kasar dan memilih untuk menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. Memijat pangkal hidungnya yang terasa pusing. Dia menutup matanya untuk sejenak. Perkataan sang ayahnya saja masih terngiang-ngiang di kepala. Sekarang, abangnya memberikan perintah yang tidak bisa dibantah.


"Daddy sudah melihat kinerja kamu yang sangat bagus. Daddy ingin kamu mengelola perusahaan yang ada di Melbourne. Kakek dengan senang hati akan mengajari kamu supaya menjadi pebisnis yang sukses."


Tubuh Aska seketika menegang. Dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh ayahnya. Refleks, dia menggelengkan kepala seraya tersenyum.


"Are you kidding?"


Giondra pun tertawa, dia mendekat ke arah sang putra. Duduk di sampingnya juga merangkul pundaknya.


"I'm serious."


Aska benar-benar tak bisa bicara. Mulutnya terasa kelu. Tubuhnya membeku. DIa menatap manik mata ayahnya. Hanya ada keseriusan dari sorot mata Giondra.


"Persiapkan diri kamu," ucapnya. "Satu bulan lagi kamu akan pergi dan menetap di Melbourne."


Helaan napas berat keluar dari mulutnya. Dia memandang lurus ke depan. Ternyata doa yang selalu Aska panjatkan kepada Tuhan ketika dia teringat Jingga dikabulkan dengan sangat cepat.


"Tuhan, tolong hilangkan dia dari ingatanku. Bawa dia pergi jauh dariku."


Sebuah doa yang selalu Aska katakan ketika dia benar-benar frustasi akan hati dan cintanya. Doa yang dia ucapkan ketika dia mengingat betapa sakitnya dikhianati oleh sahabat sendiri.


"Malah aku yang akan pergi, menghilang dan perlahan melupakan." Senyum, penuh luka terukir di wajahnya.


Aska kembali memejamkan mata, bergelut dengan pikirannya sendiri. Memikirkan nasibnya ketika berada di negara orang nanti. Suara ketukan pintu membuat Aska menghentikan lamunannya.


"Masuk!"


Mendengar jawaban dari dalam, seseorang yang berada di balik pintu luar kamar Aska menekan gagang pintu. Dahinya mengkerut ketika melihat putranya masih santai di atas tempat tidur.


"Kenapa masih santai?" omel sang ibu. "Cepat bersiap!" titah sang ibu lagi.


Aska tak habis pikir, ternyata abangnya berbicara kepada ibunya perihal dirinya yang diminta ke Jogja malam ini juga. Sungguh menyebalkan. Sudah pasti sang ibu akan heboh sendiri. Apalagi jika alasan sang Abang adalah Riana.


"Cepatan Adek!" seru sang ibu.


"Kamu tinggal jalan doang apa susahnya? Semuanya sudah abangmu pesankan dan siapkan," oceh Ayanda lagi.


"Tapi, Mom--"


"Daddy tadi menawarkan diri untuk menggantikan kamu, tapi Abang kamu hanya membutuhkan kamu."


Melihat anaknya masih terduduk di atas ranjang. Tak segan Ayanda menarik tangan Aska dan menyeretnya ke kamar mandi.


"Mau Mommy mandiin atau mandi sendiri?" Wajah Ayanda sudah berubah garang.


"Iya, Mom. Adek mandi sendiri."


"Bagus, Mommy tunggu di bawah."


Aska mengumpat kesal kepada Aksara. Kata-kata nan mengerikan keluar dari mulutnya. Malam ini dia merasa banyak sekali beban yang dia tanggung. Aska memilih mengguyur kepalanya dengan air dingin. Berharap bayang-bayang wajah Jingga hilang terbawa guyuran air shower. Kakaknya selain pintar dalam hal bisnis dia juga cerdik dalam hal seperti ini.


Setelah selesai membersihkan tubuh, Aska memasukkan semua barang yang dia perlukan ke dalam tas ransel. Aska pun menuju ruang bawah. Ternyata sudah ada kedua orang tuanya yang sudah menunggu dirinya.

__ADS_1


"Daddy antar kamu." Aska pun menolak.


"Diantar sopir aja, Dad. Buat apa punya sopir kalau setiap hari makan gaji buta," candanya.


Celotehan yang sedikit menutupi semua rasa di dada Aska. Dia tidak ingin terbang ke sana. Dia tahu kenapa abangnya menyuruhnya ke sana. Pasti ada hubungannya dengan wanita yang dia sayangi juga sahabatnya.


"Kapan gua bisa melupakan dia?" erangnya dalam hati.


Selama perjalan menuju Bandara, Aksa asyik mendengarkan lagu yang melalui earphone. Dia tersenyum kecut ketika lagu yang dia dengarkan sesuai dengan perasaanya.


🎶


Maafkanlah diriku


Atas semua kesalahan


yang kuperbuat


Selama ini kepada dirimu


Aku berjanji akan melepasmu


Dengan senyuman yang


Akan kau ingat


Dan kau kenang sampai mati


🎶


Lupakanlah semua kenangan ini


Hancurkanlah semua mimpi-mimpi


Jangan pernah kembali


Dan janganlah kau pernah berikan aku satu harapan


Dan karena ku ingin


Pergi hilang dan lupakan


Aksa menikmati lagu itu dengan hembusan napas berat. Di dalam pesawat pun dia hanya bisa memandangi lampu-lampu Kota dari balik jendela kaca pesawat, sebelum pesawat itu terbang lebih tinggi lagi.


"One month. What I can do it?"


Di lain Kota, Riana masih menatap wajah Jingga. Dia masih berada di samping Jingga.


"Tidur yuk, udah malam," ajak Aksa.


"Ri, gak tega tinggalin Jingga, Bang. Ri, takut dia akan mengamuk lagi." Raut penuh kekhawaturan terlihat jelas di wajah istri dari Aksara itu.


Aksa membalikkan tubuh Riana, menatapnya dengan sangat dalam. "Obat itu akan bekerja dengan baik," jawab Aksa.

__ADS_1


Pandangan Riana kembali beralih pada Jingga. Tubuh Jingga memang tengah beristirahat, tetapi tidak dengan pikirannya. Riana sering melihat Jingga mengerutkan dahinya ketika terpejam, seperti banyak beban yang dia simpan.


"Nasibnya sangat malang," ujar Riana. "Siapa dia sebenarnya?" lanjutnya lagi.


"Dia anak yatim piatu."


Jawaban sang suami membuat Riana segera menoleh kepada Aksara. Matanya meminta penjelasan lebih lagi.


"Jingga bukanlah anak dari orang sembarangan."


Belum juga mendapatkan jawaban atas rasa penasarannya, suaminya kini berbicara hal lain lagi. Sungguh membuat Riana tidak mengerti.


"Maksud Abang?"


Aksa memeluk tubuh istrinya dari belakang. Menghela napas panjang sebelum menjawab pertanyaan yang Riana lontarkan.


"Tanpa sepengetahuan Askara, Abang mencari tahu perihal Jingga. Hanya beberapa info yang Abang dapat tentang Jingga. Ketika Abang mencari tahu tentang keluarganya, hanya sosok ibunyalah yang selalu menemani Jingga. Ayahnya masih menjadi misteri sampai saat ini. Info tentang ayahnya sulit untuk diretas," papar Aksara.


"Maka dari itu Abang menyimpulkan bahwa ayahnya Jingga bukan orang dari kalangan biasa."


"Apa Jingga diterlantarkan oleh ayahnya?" tanya Riana.


Aska menggeleng, menandakan dia tidak tahu dan tidak ingin mencari tahu lagi. Dia tidak ingin melukai perasaan Aska, adiknya. Aska ingin benar-benar melupakan Jingga.


"Kamu harus istirahat. Anak kita juga butuh istirahat. Percaya sama Abang, dia tidak akan terbangun."


Riana pun mengikuti ucapan suaminya. Jujur saja, tubuhnya sudah sangat lelah. Apalagi setelah suaminya pulang kerja dia bermain sangat semangat hingga remuk badannya baru terasa sekarang. Aksa membawa Riana ke kamar, sebelum tidur Aksa menyuruh Riana untuk berganti pakaian. Riana tidak mengetahui bahwa Aska akan datang ke Jogja malam ini.


Ting!


"Bang, Adek sudah berangkat. Nanti suruh orang aja jemput dia di Bandara."


Pesan yang dikirimkan oleh sang ibu. Sebenarnya Aksa juga merasa bingung, di satu sisi dia tidak ingin adiknya bergelut dengan rasa sakitnya terus menerus. Di satu sisi lagi, dia masih manusia yang memiliki hati. Tidak tega melihat Jingga seperti orang gila. Apalagi JIngga adalah sahabat dari istrinya. Aksara bukanlah pria yang keji.


Tiga jam berselang, Aksa masih belum bisa terpejam, sedangkan Riana sudah terlelap dengan begitu damai. Sedari tadi dia hanya memandangi wajah istrinya yang sangat cantik. Juga gerakan-gerakan anaknya yang membuatnya tersenyum bahagia.


Ponsel Aksa di atas nakas bergetar. Dia segera meraihnya. Benar saja, orang yang dia tunggu sudah tiba di depan unit yang dia tempati. Aksa dengan hati-hati turun dari tempat tidur dan meninggalakan istrinya yang sedang terlelap dengan nyenyak.


Pintu apartment terbuka, Aska segera menerobos masuk ke dalam tanpa permisi, dan dengan kasar menjatuhkan tubuhnya ke sofa yang berada di ruang tamu.


"Harus berapa kali gua bilang? Gua ingin lupain dia!" teriak Aska. Namun, dengan cepat Aksa membekap mulut adiknya itu.


"Bini gua lagi tidur," ucap Aksa dengan tatapan membunuh.


Aska hendak mengeluarkan suara lagi, tetapi Aksa segera menarik tubuhnya dan membawanya ke sebuah kamar yang tak jauh dari mereka berada. Dia menekan gagang pintu dan tubuh Aska menegang seketika.


"Tatap wajah dia dari dekat! Dari situ lu akan tahu semuanya."


...****************...


Komen dong ...


Oh iya, aku mau bikin grup chat khusus pembaca nih. Kalau kalian minat bergabung, silahkan DM ke aku, ya nomor Whatsapp kalian.

__ADS_1


__ADS_2