
"Selamat malam, Pak," sapa Christian juga Fahri.
Deg.
Deg.
Deg.
Jantung kedua wanita yang akan disidang berdegup sangat kencang. Apalagi suara langkah kaki sudah semakin mendekat. Wajah tampan seseorang yang baru saja duduk di kursi kebesaran membuat nyali kedua wanita itu menciut.
"Kalian sahabat saya." Aksa membuat suaranya. "Kenapa kalian tega menyakiti adik saya?" Suara Aksa sudah mulai keras. Urat-urat kemarahan pun sudah terlihat di wajahnya.
Fahri dan Christian hanya menunduk dalam. Mereka berdua merasa tidak becus dalam mendidik adik-adik mereka.
"Maaf, Pak. Saya hanya mengikuti ide Fahrani," sahut Christina.
Fahrani melebarkan matanya dan menatap nyalang ke arah Christina. Aksa hanya terdiam dan menatap tajam ke arah kedua sahabatnya ini. Tangannya sudah mengetuk-ngetuk meja menandakan keduanya harus berbicara.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Hanya keheningan yang ada. Tidak ada yang membuka mulut satu pun.
__ADS_1
"Masih mau diam?" tanya Aksa. "Atau mau saya beberkan semuanya!" sentaknya.
Sentakan Aksa menandakan kemarahannya sudah di puncak kepala. Bagi yang sudah bekerja sama dengan Aksa pasti akan mengerti watak Aksara seperti apa.
"S-sa-ya hanya ingin membantu Fajar mendapatkan Jingga," jawab Fahrani.
"Mendapatkan? Lalu kamu bahagia ketika Jingga dapat penyiksaan? Begitu?" bentaknya.
Fahrani semakin menundukkan kepalanya. Hatinya sudah berdegup sangat cepat.
"Pak, kami hanya ingin melihat Aska bahagia dengan wanita yang sekelas dan sederajat dengannya." Christina sudah mulai membuka suara.
"Seperti kamu, begitu?" sergah Aksa.
Christina pun menunduk dalam. Meladeni ucapan Aksa sama dengan bunuh diri. Selalu ada saja kalimat balasan yang mematikan yang akan keluar dari mulut Aksara.
"Itu bukan bagian dari rencana saya. Saya tidak akan melukai Aska," balas Fahrani.
"Tapi nyatanya? Seharusnya Sebelum kamu bertindak kamu pikir dengan matang," sentak Aksa.
"Kamu ingin menyingkirkan Jingga dengan menyuruh Fajar, sudah pasti Fajar akan menghabisi Aska karena foto yang kamu berikan dulu!" teriaknya sambil menggebrak meja.
Dada Aksa sudah turun naik. Dia tidak akan pernah tinggal diam jika ada yang menyakiti anggota keluarganya. Dia akan berada di garda paling depan untuk mereka.
__ADS_1
"Dengar ya, Fahrani ... ayah saya memang tidak mengetahui perbuatan kamu, tapi saya tidak menjamin kakek saya tidak mengetahui akan hal ini."
Fahrani seketika membeku. Dia lupa bahwasannya Genta masih memantau anak, menantu serta cucu-cucunya dari jauh. Dia benar-benar bodoh dan melakukan hal yang fatal.
"Ma-maafkan saya, Pak." Fahrani mulai berani menegakkan kepalanya. Sorot matanya terlihat penuh penyesalan.
"Maaf? Mudah sekali," cibir Aksa dengan senyum tipisnya.
Fahri dan Christian tidak dapat berbicara apapun. Mereka mengakui bahwa adik mereka salah.
"Maaf Pak, sebelumnya. Saya hanya ingin membuka mata Aska supaya dia melihat siapa yang tulus menyayanginya. Bukan mengejar wanita yang belum tentu membalas cintanya," tutur Christina dengan raut serius.
Aksa tersenyum dan menatap ke arah Christina, sedangkan Christian sudah menepuk dahinya. Adiknya benar-benar menjadi wanita penuh obsesi.
"Kamu bekerja sama dengan Fahrani untuk menyingkirkan Jingga. Ketika rencana kamu berhasil, kamu dan juga Fahrani akan menjadi saingan untuk mendapatkan Aska. Apa itu menguntungkan untuk kamu?" ujar Aksa.
Christina terdiam mendengar ucapan Aksa. Penuturan Aksa memang benar. Tidak seharusnya dia bekerja sama dengan Fahrani yang nantinya akan menjadi Rivalnya.
"Dua wanita bodoh!" cibir Aksa sambil menggelengkan kepalanya.
Suara ponsel Fahrani berdering. Fahri yang tengah memegang ponsel adiknya melebarkan matanya.
"Tuan Genta?" Sontak Fahrani menoleh ke arah Fahri.
__ADS_1
...****************...
Up Lagi jangan?