
Di kediaman Ayanda ketiga bocah enam tahun sudah berkumpul. Baru saja perdebatan antara mereka bertiga selesai. Sekarang mereka bertiga saling diam bagai orang yang tengah bermusuhan.
"Pokoknya Dedek Ya marah sama Kakak Sa," pungkas Aleeya yang sudah melipat kedua tangannya di atas dada.
"Kakak Na juga kesal sama Dedek Sa," tambah Aleena.
"Sesama saudara jangan seperti itu dong. Tidak baik." Nasihat dan nenek.
"Kakak Sa curang! Nginep di rumah Mimo gak bilang," sungut Aleeya.
"Kamu dan Kakak Na udah tidur," tekan Aleesa.
Ayanda mengurut pangkal hidungnya yang pusing karena ocehan ketiga cucunya ini. Sedari tadi perdebatan mereka sangatlah sengit. Di mana si bawel Aleeya terus saja mengoceh bagai burung. Untung saja Aleesa adalah manusia santai yang tidak menanggapi ocehan adiknya itu, sedangkan Radit dan Echa sudah tertawa melihat tingkah ketiga anak mereka ini.
"Nanti juga mereka baikan lagi, Mah. Jangan dipikirin," ucap Echa ke arah ibunya.
"Lama-lama Mamah darah tinggi kalau mereka begini terus," keluh Ayanda. Echa tertawa dan mengusap lembut pundak sang ibu.
Sepasang suami-istri baru saja turun dari lantai atas. Tangan mereka saling bertaut apalagi Aksa yang bersikap sangat posesif kepada istrinya.
"Ri, lebih baik kamu isi kamar di bawah aja. Kakak takut kandungan kamu sedikit terganggu kalau kamu terus turun-naik begitu, tangganya juga cukup tinggi 'kan," tutur Echa.
Riana menatap ke arah Aksa yang sudah tersenyum ke arahnya. Usapan lembut Aksa berikan di puncak kepala Riana.
"Berikan waktu satu Minggu untuk merenovasi kamar yang akan kita tempati di bawah." Riana tersenyum ke arah suaminya.
Aksa benar-benar menjadi suami yang sangat siaga. Ayanda hanya bisa tersenyum melihat anak dan menantunya kini mendapatkan kebahagiaan.
"Si Aska ke mana, Mah? Perasaan Radit dari semalam gak lihat dia," imbuh Radit.
"Dia lagi di Bandung, kafe di Bandung katanya lagi ada masalah," jawab Ayanda.
Itulah yang Aska katakan kepada kedua orang tuanya ketika mereka menghubungi Aska. Itupun sudah bersekongkol dengan Aksa juga Riana. Serta kedua sahabat Aska. Ken dan Juno. Bukan tanpa alasan, jika ayahnya tahu perihal dia yang babak belur, sudah pasti ayahnya akan sangat murka dan berujung akan menghabisi Fajar tanpa ampun. Itu juga akan berimbas pada hubungannya dengan Jingga.
Mendengar penuturan sang ibu mertua dahi Radit mengkerut. Dia hendak membuka suara, tetapi kakinya Aksa injak sekuat mungkin agar dia diam. Tatapan tajam Aksa berikan kepada Abang iparnya itu.
__ADS_1
Sudah pasti Radit tahu perkembangan kafe di Bandung karena dia memiliki saham di sana dan terhubung dengan orang-orang yang bekerja di sana. Kedua alis Radit menukik dengan tajam, Aksa hanya menggeleng pelan.
Setelah sarapan dengan penuh drama antara ketiga kurcaci cilik, Radit menghampiri Aksa yang tengah membuatkan susu untuk istrinya. Sudah menjadi kegiatan rutin Aksa ketika ada di rumah.
"Ada yang lu rahasiain dari gua?" sergah Radit dengan nada yang pelan.
"Aska lagi dirawat," jawab Aksa tanpa menoleh ke arah kakak iparnya. Mata Radit melebar mendengar ucapan Aksa. Dia mensejajarkan diri di samping sang adik ipar.
"Kenapa?" tanya Radit penasaran.
"Duel," sahut Aksa.
Radit menghela napas kasar, jika sudah menyangkut kelakuan dia tidak bisa berkata apa-apa.
"Dirawat di mana?" tanya Radit.
"Di rumah sakit tempat gua nanam saham. Di sana ada tempat private khusus petinggi." Radit mengangguk.
"Pantas saja Aleesa mengatakan bahwa omnya terluka," terang Radit.
"Kalau bonyok banyak mah gak akan lu rawat di sini," balas Radit.
Aksa pun terkekeh mendengar ucapan dari Abang iparnya. Mereka bertiga akan menjadi manusia kompak juga sudah menyangkut rahasia laki-laki. Mereka juga akan saling membantu satu sama lain.
Radit sangat tahu bagaimana kedua adik iparnya yang kembar identik itu. Mereka akan saling melindungi satu sama lain.
"Gua duluan ya," ucap Radit sambil menepuk pundak Aksa.
Setelah kepergian Echa juga Radit, serta keponakannya yang sudah diantar sang Mimo. Aksa menghampiri istrinya yang tengah bersandar di sofa. Riana tersenyum ke arah suaminya yang sudah memberikan segelas susu ibu hamil.
"Bang, nanti ganti ya sama rasa cokelat," ujar Riana. Aksa pun mengangguk dan mengusap lembut rambut sang istri.
"Setelah menjenguk Aska kita pergi ke supermarket, ya." Riana pun mengangguk setuju.
"Siang nanti Abang tunggu di kafe Aska," ujar Aksa sebelum berangkat ke kantor ayahnya.
__ADS_1
"Ada apa sih, Bang?" tanya Riana penasaran.
"Nanti juga kamu tahu," jawab Aksa seraya tersenyum.
Riana mengerucutkan bibirnya dan membuat Aksa tertawa. "Jangan merengut, jelek tahu," canda Aksa kepada sang istri.
Aksa memeluk tubuh istrinya dan mengecup kening istrinya sangat dalam. Kemudian dia bersimpuh di hadapan istrinya dengan tangan yang sudah menguap lembut perut Riana.
"Jangan nakal ya, Nak. Daddy ke kantor dulu. Setelah makan siang kita akan bermain bersama lagi," ucapnya dan setelah itu dia mengecup perut Riana.
Ada kebahagiaan yang tak bisa terlukiskan di hati Riana. Dia tidak menyangka jika Tuhan memberikannya anugerah untuk bisa mengandung dalam waktu yang sangat cepat.
"Abang berangkat, ya." Riana tersenyum dan mencium tangan Aksa.
Di Jomblo's kafe, para karyawan sudah menatap dingin ke arah Jingga. Mereka mendengar apa yang dikatakan oleh Ken ketika mereka briefing tadi.
"Kalau sudah dipanggil ke atas, sudah tidak akan dipertahankan lagi," ucap salah seorang karyawan.
Jingga hanya tersenyum mendengarnya. Dia sudah mempersiapkan diri dan hati sebaik mungkin. Apapun yang terjadi dia sudah sangat siap.
Jingga mulai menaiki anak tangga satu per satu. Kini, dia sudah berada di lantai atas di mana tempat itu menjadi ruangan khusus para pemilik kafe. Jingga bagai tersangka yang tengah disidang. Suasana di ruangan tersebut sangat dingin dan mencekam. Belum ada yang memulai pembicaraan terlebih dahulu. Jingga sudah berdiri di depan Ken dengan kepala yang menunduk.
Jingga sudah menguatkan hatinya sedari tadi. Jika, dipecat dia harus mencari pekerjaan lagi. Dia harus siap dengan segala konsekuensi yang harus dia hadapi. Walaupun itu bukan salahnya, tetap saja dialah yang menjadi sumber permasalahannya.
"Jingga," panggil Ken.
Jingga yang menundukkan kepalanya, perlahan mulai menegakkan kepalanya dan membalas tatapan Ken. Dua pria itu sudah berubah mimik wajah. Nampak sangat serius.
"Kamu tahu berapa kerugian yang diterima kafe ini karena ulah pacar kamu?" sergah Juno.
Jingga menggeleng, kemudian dia membuka suara. "Maaf, Pak. Pria itu sudah menjadi mantan saya," jawab Jingga.
Ada yang ingin berteriak dari balik sambungan video sana.
...****************...
__ADS_1
Kemarin aku udah crazy up, ya. Jam 00.30, 09.00 sama malam. Kalau kalian bilang aku ingkar janji kalian yang telat bacanya. 3x sehari udah kayak minum obat loh.