
"Bunda ...."
Riana merancau di tengah pingsannya. Aska sudah mulai panik karena tak ada seorang pun dari keluarganya yang mengangkat panggilan darinya. Dokter pun hanya mengatakan Riana akan baik-baik saja.
Riana tengah bermimpi dia bertemu bundanya. Masa kecilnya seolah sedang diputar kembali, tetapi semakin ke sini putaran masa lalu itu mulai menyakitkan. Dia melihat jelas kakaknya yang ditusuk oleh sang bunda, meninggalnya sang bunda yang tragis serta kisah sedihnya ketika ditinggal Aksa menikah. Semuanya diputar sangat jelas. Bulir bening pun menetes begitu saja di ujung mata Riana.
Aska sudah memanggil dokter berkali-kali dan meminta untuk memeriksa Riana kembali. Lagi-lagi dokter mengatakan bahwa Riana akan baik-baik saja.
"Dokter, tolong kakak ipar saya. Dia terus saja menangis di dalam ketidak sadarannya." Dokter hanya tersenyum. "Dia tidak apa-apa. Nanti juga sadar."
Riana dapat mendengar suara Aska, tetapi matanya enggan untuk terbuka sebelum film sedih dalam mimpinya berhenti berputar. Diakhir cerita itu ada satu anak kecil yang sangat cantik menatapnya. Wajahnya sangat mirip dengannya. Hanya lambaian tangan yang anak kecil itu berikan. Dia segera menjauh dan terus menjauh.
Mata Riana pun terbuka, dia menatap ke arah Aska yang tengah menatapnya.
"Lu buat gua khawatir aja," Dengkusan yang menjadi sambutan kesadaran Riana.
Riana hanya menatap sendu ke arah Aska. Aska yang sedari tadi berdiri kini duduk di samping kursi yang berada di samping ranjang pesakitan.
"Lu mimpi apa?" tanya Aska.
Bukannya menjawab, dia malah menangis. "Abang," lirihnya.
"Idih ... kenapa lu kayak bocah sih," sungut Aska sambil mengacak-acak rambutnya frustasi.
Pukulan di punggung Aska membuat dia mengaduh. Ternyata sang mommy-lah yang memukulnya.
"Jangan galak-galak sama menantu kesayangan Mommy," omelnya.
Ayanda segera memeluk tubuh Riana yang sudah menangis. Aska hanya menggeleng melihat adegan di depannya.
"Kenapa wanita itu diciptakan sangat cengeng?" batinnya.
Berhubung ada sang ibu, Aska memilih keluar dan memantau Jingga. Wanita yang masih dia cari tahu asal usulnya. Mendapat kiriman video Jingga tengah membawa pesanan makanan dengan langkah tertatih membuat hatinya sangat sakit.
Panggilan dari kakaknya membuat Aska segera menutup ponsel. Sampai saat ini dia masih merahasiakan semuanya perihal Jingga. Dia bukan orang banyak berbicara. Dia adalah orang yang banyak beraksi baru berbicara. Ketika semuanya sudah jelas, barulah dia mau berterus terang. Untung saja Aksa dan juga Riana bukanlah manusia tong bocor.
"Baru sadar," jawab Aska.
Echa segera masuk ke dalam kamar perawatan Riana. Dia melihat sang adik telah memeluk erat tubuh sang mamah.
"Ri."
Mendengar suara sang kakak, air mata Riana meluncur kembali. Echa berhambur memeluk tubuh Riana dengan sangat erat.
"Lu nangisin Arka?" tanya Aska yang ternyata ikut masuk bersama kakaknya.
"Arka?" tanya Ayanda.
"Ketika dokter menyatakan Arka meninggal, Riana langsung pingsan." Mata Ayanda dan juga Echa melebar dengan sempurna mendengar ucapan Aska.
Mereka berdua menatap tajam ke arah Riana. Rian menunduk dalam.
"Jangan diomelin, dia gak salah, tutur Aska.
Aska menceritakan semuanya kepada Mommy dan juga kakaknya perihal kedatangan ibunya Arka ke rumahnya tanpa terlewat sedikit pun.
"Jadi, Arka menutup mata hanya menunggu Riana?' tanya Echa. Aska mengangguk.
Ketiga orang ini berprasangkanya bahwa Rian pingsan dan menangis karna Arka. Nyatanya bukan, air matanya tak berhenti menetes ketika melihat anak kecil perempuan dalam mimpinya. Kalimat akhir yang anak itu katakan masih terngiang-ngiang di telinganya.
"Aku pergi."
Demi memulihkan kondisi Riana, Ayanda dan Echa sepakat untuk merawat Riana untuk beberapa hari ke depan.
"Mom, apa Abang akan pulang?" Riana sangat berharap suaminya itu pulang ketika dia dirawat. Namun, ibu mertuanya menggeleng.
"Tidak bisa dinego jika menyangkut pekerjaan," jawab Ayanda.
Wajah sendu Riana pun hadir kembali. Namun, itulah keputusan Genta. Padahal Gio, Aksa serta Ayanda sudah meminta bahkan memohon, tetapi tidak bisa.
"Jangan sedih, Sayang. Ketika suami kamu kembali, tepat ulang tahunnya. Kita buat pesta kejutan untuknya." Riana terdiam sejenak, dia hampir saja melupakan hari kelahiran Aksa. Wajah sendu pun berubah bahagia lagi.
Echa dan Aska diutus untuk menghadiri pemakaman Arka. Haru biru tercipta di sana. Fikri pun menangis keras ketika jenazah Arka dikebumikan. Anak yang dia jaga dan rawat harus pergi di usia muda karena penyakit mematikan
Chintya terlihat sangat memilukan, sedari tadi tubuhnya ambruk lagi dan lagi. Dia tak kuasa menahan tangisnya. Setelah acara pemakaman selesai, Echa menghampiri Chintya yang menatap pusara Arka yang masih basah.
"Tante, saya turut berduka cita," ucap Echa.
Chintya menatap ke arah Echa, matanya sudah menyipit karena terus menangis.
"Kenapa Tuhan menghukum saya seperti ini? Kenapa Tuhan mengambil Arka?" Chintya menangis kembali. Echa memeluk tubuh Chintya.
"Tuhan lebih sayang terhadap Arka. Sekarang Arka sudah tidak sakit lagi, Arka sudah sehat dan tenang bersama Tuhan."
Echa tidak pernah membenci siapapun. Ketika orang-orang dulunya jahat dan hampir mencelakainya ataupun keluarganya sudah dia maafkan. Dia bukanlah orang pendendam. Cukup dijebloskan ke penjara sudah cukup.
Mereka kembali ke rumah terlebih dahulu karena si triplets merengek ingin bertemu dengan sang aunty yang tengah dirawat di rumah sakit.
"Dek, nanti kamu ya yang jaga Riana di rumah sakit. Jangan tinggalin dia." Aska mengangguk,
"Perintah si Abang dan si Kakak sama aja," gumamnya.
Echa kembali ke rumah sakit bersama ayah, adik serta ketiga anaknya. Si triplets sangat antusias karena di kamar sang Tante mereka sudah pasti banyak makanan. Mana ada orang skait mau makan. Begitulah pikir si triplets.
Tibanya di kamar perawatan Riana, mata si triplets melebar ketika Tante mereka sedang menikmati makanan yang sangat banyak. Apalagi, makanan itu makanan yang dibelikan oleh Mimo dan juga akinya.
"Ih, mau!" seru Aleeya.
Anak itu segera berlari ke arah sang Tante dan naik ke atas ranjang pesakitan diikuti kedua saudaranya.
"Lah coba ... kenapa makan bareng begitu," ujar Rion seraya menggelengkan kepala.
"Biarin aja, malah gua senang," sahut Gio.
Apapun yang Riana inginkan pasti akan Gio turuti karena suaminya masih di Melbourne.
__ADS_1
"Aunty sakit gak sih? Kok makannya banyak?" tanya Aleeya si anak bawel .
"Enggak," jawab Riana.
"Kenapa dirawat?" tanya Aleena si jenius.
"Disuruh Mimo."
Kini semua cucu Ayanda menatap tajam ke arahnya. Ayanda hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sedangkan Gio sudah tertawa.
"Tadi, Aunty pingsan. Takut terjadi apa-apa sama Aunty makanya Mimo menyuruh dokter merawat Aunty," papar Echa.
Aleeya dan Aleena sangat bahagia menikmati makanan itu. Berbeda dengan Aleesa. Dia menatap ke arah Iyan yang juga berwajah sendu.
Iyan menggelengkan kepalanya pelan. Aleesa mengerti akan kode tersebut.
Malam ini, Riana ditemani oleh Aska dan juga Rion. Dua pria yang tengah asyik bermain catur, sedangkan Riana tengah bergelut dengan pikirannya.
"Siapa anak perempuan itu?" batinnya.
Denting ponsel terdengar, Riana segera membuka ponselnya. Hati Riana teriris ketika mendapati Aksa yang tengah lembur. Padahal di sana sudah menunjukkan pukul satu malam.
"Demi pulang lebih awal."
Itulah pesan yang dikirimkan oleh Genta Wiguna. Meskipun, fisiknya sudah tidak seperti dulu. Dia akan tetap memantau Aksa melalui orang-orang suruhannya yang tak terhingga.
Siang tadi ...
Mata Aksa melebar ketika ada pesan masuk dari Aska yang memberi kabar bahwa Riana pingsan. Hati Aksa sudah tak karuhan. Dia menyuruh Peter untuk membatalkan segala jadwalnya dan dia akan ke rumah Genta untuk meminta ijin kembali ke Indonesia sekarang juga.
"Pekerjaan kamu masih banyak. Jangan seenaknya kamu. Walaupun perusahaan itu milik kamu sendiri. Sama saja kamu akan membuat perusahaan yang baru saja berdiri menjadi ambruk lagi."
Perkataan yang sarat akan makna.
Jika, Genta sudah berkata seperti itu menandakan tidak akan ada penawaran lagi. Itu sudah keputusan yang tidak akan terbantahkan. Aksa tak pantang menyerah. Dia meminta kepada sang Daddy untuk berbicara kepada Genta. Bukan ijin yang Gio dapat. Malah makian yang dia terima. Dua G sudah gagal, dua pria itu meminta Ayanda untuk berbicara kepada sang ayah. Lagi-lagi semuanya ditolak oleh Genta. Mau tidak mau Aksa harus tetap berpisah.
Didikan Genta sangat keras. Maka dari itu, Gio dan Echa bisa menjadi orang sukses. Tidak ada kata manja karena tidak ada yang berhasil tanpa kerja keras.
Tangan Riana menari-nari di atas layar ponsel.
"Jangan bergadang dan jangan dipaksakan, Bang. Sungguh, Ri tidak apa-apa."
Sebuah pesan yang dikirim oleh Riana. Namun, masih ceklis satu.
Aksa sengaja mematikan ponselnya agar tidak ada yang mengganggunya.
Riana memilih untuk memejamkan matanya karena dua pria yang menemaninya malah asyik dengan dunia mereka
Jam tiga pagi barulah Aksa menyelesaikan pekerjaannya. Dia meregangkan ototnya yang terasa kaku. Beberapa malam ini dia memutuskan untuk tidur di kantor. Agar semua pekerjaannya cepat selesai.
Hembusan napas kasar terdengar. Dia meraih ponselnya. Ada satu pesan dari istri tercintanya. Bukannya lega, Aksa malah terlihat sedih.
"Abang tidak percaya, sebelum Abang melihatnya sendiri."
Lingerie yang dia robek yang Riana pakai selalu dia bawa. Hanya dengan itu dia bisa mengobati rasa rindunya. Semenjak mendengar Riana pingsan rasa mual itu menghilang. Seakan tubuhnya baik-baik saja.
Namun, ada satu kalimat yang membuat Aksa sangat kepikiran.
"Ri, mimpi buruk. Ri, takut."
Kalimat itulah yang membuat Aksa ingin segera pulang. Dia sangat khawatir dengan keadaan istrinya. Aksa segera mencari kontak Aska. Dia mengirimkan pesan kepada adiknya.
Di tengah-tengah permainan yang menegangkan, Aska mendengkus kesal ketika ponselnya tak berhenti berdenting. Aska sudah tahu siapa biang kerok yang mengganggunya. Tangannya mulai membuka kunci layar ponsel. Apa yang dia curigai benar.
Abang Bro.
"Kirim foto Riana."
Spam pesan Aska terima. Aksa akan mengirim pesan banyak jika Aska tak kunjung membaca pesannya. Apalagi jika menyangkut istri dari kakaknya ini.
Sambil mendengkus kesal, Aska bangkit dari duduknya. Rion melihat Aska mendekat kepada Riana.
"Mau ke mana?" tanya Rion.
"Ada tugas dari Baginda Raja."
Aska mengarahkan ponselnya ke arah Riana yang tengah terlelap sambil memeluk kaos yang Aksa pakai sebelum keberangkatannya.
"Istri Anda dalam keadaan aman, wahai paduka raja bucin." Keterangan yang Aska berikan di bawah gambar yang dia kirim.
Akhirnya, Aksa bisa tidur dengan tenang. Ternyata kebiasaan mereka sama. Selalu memeluk baju yang pasangan mereka pakai sebelum pergi atau ditinggalkan.
"Tunggu Abang, Sayang."
Ketika Riana dan juga ayahnya sudah terlelap, pikiran Aska masih berkelana ke sana ke mari. Satu nama yang ada di kepalanya, yaitu Jingga.
Ting!
Sebuah pesan dari orang suruhan Askara. Sebuah foto yang memperlihatkan Jingga tengah duduk di lantai teras kontraknya. Wajah letihnya sangat kentara. Apalagi tangannya yang sudah memijat betisnya.
Hati Aska sakit melihatnya. Dia melihat jam di tangannya, jangan dua belas malam dia baru tiba di kontrakannya.
"Aku janji, aku akan memperlakukan kamu seperti ratu," gumamnya.
Aska berbaring dengan satu tangan yang menjadi bantalan kepalanya. Dia tengah menerka-nerka bagaimana kehidupan Jingga sebelumnya. (Jawabannya akan hadir di kisah Askara Jingga)
Keadaan Aska tengah serba salah. Dia tidak akan meninggalkan kakak iparnya, tetapi dia juga khawatir dengan Jingga dan ingin segera terbang ke Jogja. Namun, dia lebih mementingkan keluarga. Hanya keluarganya yang mampu menerimanya dengan tulus.
Terkadang sering terbesit pikiran buruk di kepala Aska. Apa keluarganya akan menerima Jingga? Sedangkan dia tidak seperti Riana ataupun Raditya.
"Sekalipun orang tua ku tidak merestui. Aku akan terus berusaha meminta restunya."
Janji Aska pada dirinya sendiri. Dia juga tidak mau jAdi anak yang durhaka. Lebih indah dan bahagia jika pernikahan mereka direstui oleh keluarganya.
Pagi hari, wajah sendu Aleesa nampak jelas. Dia masih kepikiran perihal apa yang dilihatnya. Dia teringat akan perut ibunya dulu.
__ADS_1
"Kemarinnya lagi ada, tapi semalam gak ada," ucapnya dalam hati.
"Kakak Sa, ayo makan. Nanti terlambat," titah sang ibu.
Aleesa mengangguk, Iyan menggelengkan kepalanya kecil. Kedua anak ini seperti sedang menyembunyikan sesuatu dan tidak ingin semua orang tahu.
Di rumah sakit, Riana tengah termenung. Anak kecil itu hadir lagi dan meminta dipeluk. Dalam mimpinya semalam, Riana seperti berada di Padang rumput yang hijau yang sangat indah dan sejuk. Di sana banyak anak-anak kecil berpakaian putih tengah bermain-bermain dan tertawa. Bibir Riana melengkung dengan sempurna ketika melihat anak-anak yang berseri. Wajah mereka memancarkan cahaya yang sangat terang.
Seketika, pandangannya tertuju pada sosok anak perempuan yang semalam ada di mimpinya. Anak itu tengah bersama anak laki-laki yang wajahnya mirip sekali dengan kakak iparnya, Raditya. Mereka bergandengan tangan berdua dan tersenyum ke arah Riana.
Rasa penasaran yang Riana miliki membuatnya menghampiri kedua anak itu. Dia menyentuh wajah anak perempuan yang sangat mirip dengannya. Hatinya bergetar hebat serta ada rasa sesak di dada yang dia rasakan.
"Boleh peluk?"
Riana sedikit terkejut mendengar permintaan anak itu. Mata anak itu berbinar seakan sudah menunggu sangat lama.
"Bo-boleh," jawab Riana.
Ada desiran hebat yang mengalir dalam darahnya. Tanpa dia sadari bulir bening pun menetes begitu saja.
Pelukan itu tidak lama karena seruan orang dewasa kepada mereka berdua.
"Terima kasih, love you."
Anak perempuan itu tersenyum dan berbalik badan, sedangkan anak laki-laki itu tersenyum ke arah Riana.
"Salam untuk Bubu."
Riana tercengang dengan apa yang dikatakan oleh anak laki-laki tersebut. Ketika Riana hendak mengejar mereka berdua, dia malah terbangun dari mimpinya.
"Bunga tidur seperti nyata," gumam Riana.
Dering ponselnya berdering dan mampu membuyarkan lamunannya. Suami tampan dan berkharisma sudah ada di depannya melalui sambungan video.
"Pagi, Sayang."
"Kapan pulang?" Itulah menjadi balasan untuk sapaan Aksa. Suaminya pun tergelak, tetapi Riana melihat tawa itu tidak tulus. Tawa itu hanya untuk menutupi rasa cemas yang ada.
"Abang usahakan secepatnya, Sayang."
Riana tersenyum dan mengangguk pelan. Dia sudah menceritakan perihal kepergian Arka. Aksa sendiri pun sudah tahu, hanya pura-pura tidak tahu saja.
"Hari ini Ri boleh pulang," ujarnya.
"Bagus dong, tetap di rumah. Jangan telat makan dan banyak istirahat. Ketika Abang kembali, Abang akan mengajak ke manapun kamu mau."
Lengkungan senyum bahagia terukir di bibir Riana. Kalimat sederhana yang mampu membuat hatinya lega.
"Ri, ingin memeluk Abang. Gak mau ke mana-mana," balasnya.
Kini, Aksalah yang sangat bahagia mendengar ucapan dari Riana. Dia mengangguk setuju dan berniat untuk lebih bekerja keras lagi agar dia bisa cepat kembali ke Indonesia. Bukan hanya dia yang tengah memendam rindu, istrinya pun merasakan hal yang sama.
"Kalau udah sampai rumah hubungi Abang ya, Sayang. Ketika selesai meeting Abang akan menghubungi kamu lagi."
Riana merasa sangat bersyukur karena memiliki suami yang sangat perhatian seperti Aksa. Suara pintu terbuka, ibu mertuanya datang membawa sarapan untuk sang menantu tercinta.
"Siapa yang datang, Sayang?" tanya Aksa.
"Mommy,"
"Bang, udahan dulu video call-nya. Biarin Riananya sarapan dulu," ujar Ayanda.
"Ya udah, kamu sarapan, ya. Abang mau lanjut kerja lagi," tuturnya.
Sambungan video pun dia akhiri. Ayanda sudah membuka bekal sarapan untuk menantu tercintanya. Dilihatnya, apa yang Riana minta barusan. Tiba-tiba dia tidak berselera. Riana menjauhkan bekal makanannya. Dia menggeleng menandakan dia tidak mau.
Ayanda mengerutkan dahinya. Dia bingung dengan menantunya ini.
"Mau Mommy suapin?" tanya Ayanda.
Riana menggeleng, dia malah menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.
"Ri, mendadak gak ingin itu, Mom."
Ayanda tersenyum tipis. Alih-alih marah, dia malah mengusap lembut kepala Riana.
"Sekarang mau kamu apa?"
Ayanda benar-benar wanita berhati lembut. Kesabarannya sungguh luar biasa.
"Mau roti bakar selai strawberry dan juga bulberry," jawab Riana pelan.
"Oke, kita beli aja, ya." Riana pun tidak setuju. "Ingin buatan Mommy," ucapnya sangat manja.
Ayanda tergelak mendengar ucapan Riana tersebut. Dia menuruti apa yang diminta oleh menantunya dan akan kembali ke rumah setelah Aska datang. Dia tidak akan membiarkan Riana seorang diri di dalam kamar perawatannya.
Sebisa mungkin Ayanda memberikan kasih sayang yang tulus kepada Riana. Dia tahu, Riana sangat merindukan sosok ibunya. Apalagi, Ayanda mendengar dari Aska ketika Riana pingsan dan memanggil ibunya. Hati Ayanda sangat teriris mendengarnya.
Sebenarnya Aska menginap di rumah sakit. Akan tetapi jam lima subuh dia pulang dengan alasan pusing karena bau rumah sakit. Padahal, dia ingin melihat Jingga. Pada jam itu, Jingga akan berangkat kerja. Dia tidak akan melewatkannya. Dia tidak ingin orang lain menaruh kecurigaan kepadanya perihal dia yang tengah membuntuti anak orang.
Di kamar, Aska merebahkan tubuhnya dengan ponsel yang ada di depan wajahnya. Jingga baru saja keluar dari kontrakannya dan sekarang telah memakai sepatu. Seperti biasanya seperti itu. Namun, mata Aska memicing ketika melihat sebuah motor berhenti di depan kontrakan Jingga. Seorang pria datang menjemputnya dan tak segan mengecup ujung kepala Jingga. Sungguh hati Aska terbakar cemburu. Tangannya mengepal dengan sangat keras serta urat-urat kemarahan di wajahnya timbul.
Aska terus memperhatikan Jingga dan kekasihnya itu, tetapi dia melihat wajah Jingga yang sangat tidak bahagia.
"Aku tahu kamu tidak bahagia. Hanya akulah yang mampu membuat kamu bahagia." Kalimat yang berkumandang dan penuh dengan percaya diri.
Aska merasa ada sesuatu hal yang terjadi. Dia menyuruh anak buahnya untuk terus memantau Fajar, kekasih dari Jingga.
"Lama-lama bukan gua tikung ini mah. Langsung gua babat abis," geramnya.
Dia menatap kesal ke arah foto ya h ada di atas maka. Ada sang Abang yang tengah bersamanya.
"Cepat balik lu, Bang!" erangnya.
****
__ADS_1