Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Titip Rindu Untuk Ayah


__ADS_3

Malam ini Radit membawa keluarga kecilnya serta ayah juga kedua adiknya ke sebuah rumah yang sudah Radit sewa selama mereka berada di Jogja. Kosan Riana terlalu sempit untuk ketiga anaknya.


"Kenapa repot, Kak?" tanya Riana.


"Gak ada kata repot. Sudah lama kita gak kumpul lengkap seperti ini." Riana tersenyum mendengar ucapan sang kakak.


Dia merindukan momen seperti ini. Riuh penuh tawa ketiga keponakannya dan juga adiknya. Serta kemesraan kakak dan abangnya yang tak lekang oleh waktu.


Namun, hatinya sedikit terusik ketika mengingat Aksa. Sudah beberapa hari ini Aksa sama sekali tidak mengabarinya. Pesan yang dikirim Riana pun tidak pernah dibalas oleh Aksa.


Hanya helaan napas kasar ketika melihat pesan yang dia kirim hanya dibaca. Tanpa dibalas oleh Aksa.


"Kak, apa Abang tidak berbicara apapun kepada Kakak?" Ragu sebenarnya, tetapi Riana juga ingin tahu.


Echa menatap ke arah Radit, kemudian Echa menggelengkan kepala. Raut wajah sendu Riana membuat Echa tersenyum di dalam hati.


"Apa besok Abang akan datang?"


"Kenapa gak kamu tanya ke si Abang?" ujar Radit.


"Semua chat dan panggilan Ri gak dibalas dan juga dijawab oleh Abang," keluhnya.


"Mungkin dia sedang sibuk," imbuh Echa. "Lebih baik kamu istirahat, besok pagi kamu akan dirias sempurna oleh MUA."


Riana mengangguk patuh. Sebenarnya dia tidak ingin berlebihan, tetapi sang kakak tetap memaksa.


Ini adalah hari spesial kamu, Ri. Kakak ingin menjadikan hari ini hari yang tidak akan terlupakan seumur hidup kamu.


Riana sangat beruntung memiliki kakak seperti Echa. Meskipun, hanya kakak tiri kasih sayangnya sangat tulus kepadanya. Menjadi sosok ibu pengganti yang selalu mengayomi dan menasihatinya. Juga kasih sayangnya yang tiada terkira.


Resah dan gelisah menyelimuti hati Riana sekarang. Matanya enggan terpejam, pikirannya masih tertuju pada Aksa.


"Bang, sudah terlalu lama Abang merajuk," gumamnya.


Riana megambil benda pipih dan membuka aplikasi pesan. Tangannya dengan lincah mengetikkan sesuatu.


"Bang, balas pesan Ri. Jangan diamkan Ri terus menerus."


Seperti biasa, pesan Riana hanya centang biru tanpa dibalas. Lagi-lagi hanya hembusan napas kesal yang keluar.


Subuh menjelang, Riana sudah dirias oleh MUA terkenal. Padahal hanya make up untuk wisuda, tetapi malah serepot ini. Begitu juga halnya dengan ketiga keponakannya yang didandani dengan cantik sekali. Kebaya modern yang membalut tubuh mereka membuat mereka terlihat semakin lucu. Maroon, itulah tema yang Echa usung.


"Wah cantik sekali," puji Echa kepada sang adik.


"Kakak juga cantik banget," ujar Riana yang menyunggingkan senyum.


"Kak, apa Abang bilang mau datang ke sini?" Echa menggeleng. "Sudah lama, Abang tidak menghubungi Kakak."


Rona sedih terlihat di wajah Riana. Sentuhan lembut tangan Echa dan senyum hangatnya membuat Riana memandang wajah sang kakak yang sangat cantik sekali hari ini.


"Fokus pada wisuda kamu," imbuh Echa.


Ketika Riana keluar kamar, para pria pun sudah mengenaka batik lengan panjang berwarna maroon. Dipadukan dengan celana bahan berwarna hitam. Sungguh mereka sangat tampan. Apalagi wajah ayahnya yang memancarkan sinar kebahagiaan.

__ADS_1


"Sudah siap semua 'kan?" tanya Echa kepada anggota keluarganya.


"Setelah acara wisuda selesai, kita langsung foto keluarga," lanjutnya lagi.


Mereka pergi dengan mobil yang sudah disewa Radit selama berada di Jogja. Tibanya di sana, Riana disambut oleh Risa dan juga Raisa. Sebenarnya dia enggan, tetapi dia tidak ingin ayahnya curiga akan kisah pertemanannya dengan kedua mahasiswi kembar itu.


Mata Raisa dan Raisa terpana dengan ketampanan Radit yang terpampang nyata.


"Baba, Kakak Sa pegal." Radit tersenyum dan mengajak ketiga anaknya untuk segera duduk. Tangannya satu lagi menggenggam erat tangan sang istri.


Potek sudah hati mereka, sedangkan Riana sudah tersenyum tipis. Sikap setia Radit tidak akan pernah bisa digoyahkan.


Para tamu undangan dan calon wisuda dan wisudawati sudah duduk di tempat mereka masing-masing dengan memakai baju toga. Mereka menikmati acara yang telah disiapkan. Hingga tiba puncak acara. Di mana pembawa acara mengumumkan mahasiswa dengan nilai IPK tertinggi di masing-masing jurusan.


Satu per satu disebutkan siapa saja mereka. Para mahasiswa yang disebutkan namanya pun sudah berdiri di depan para tamu undangan.


"Yang terakhir, wisudawan dan wisudawati terbaik di jurusan ilmu administrasi perkantoran dengan IPK 3,76 diraih oleh ... Riana Amara Juanda S.A.P. berasal dari Jakarta."


Riana hanya terdiam mendengar namanya disebut. Tidak percaya sekaligus terharu. Sedangkan Rion sudah tersenyum lebar. Riana menatap ke arah sang ayah dan juga keluarganya. Mereka mengangguk dengan senyum penuh kebahagiaan.


Satu per satu dari mereka mengucapkan satu dua patah kata. Hingga tibanya Riana berdiri di hadapan semua yang hadir di sana.


"Silahkan, apa yang mau kamu sampaikan," ujar pembawa acara.


"Ayah ... Kakak ... Ri bisa lulus dengan hasil yang memuaskan." Suara Riana terdengar bergetar dengan mata yang nanar.


"Hanya itu?" tanya pembawa acara.


"Saya dengar, suara kamu sangat bagus. Apa tidak ada yang ingin kamu persembahkan di sini?" Riana tersenyum dan beralih ke para pemain musik yang ada di belakangnya.


🎶


Selaksa peristiwa ...


Suasana pun mendadak hening, mendengar dua baris lagu yang baru saja Riana nyanyikan.


🎶


Benturan dan hempasan terpahat


Di keningmu...


Kau nampak tua dan lelah


Keringat mengucur deras


Namun kau tetap tabah


Meski napasmu kadang tersengal


Memikul beban yang makin sarat


Kau tetap bertahan

__ADS_1


Echa sudah merangkul lengan sang ayah dàn menatap manik mata Rion


yang sudah senja.


"Echa sayang, Ayah."


Tangan Rion memeluk tubuh putri sulungnya yang sudah bergetar.


🎶


Engkau telah mengerti hitam


Dan merah jalan ini


Keriput tulang pipimu


Gambaran perjuangan


Bahumu yang dulu kekar


Legam terbakar matahari


Kini kurus dan terbungkuk


Hmm ...


Namun semangat tak pernah pudar


Meski langkahmu kadang gemetar


Kau tetap setia


"Lagu ini, untuk semua ayah di seluruh dunia yang telah berjuang untuk menghidupi anak dan keluarga. Untuk Ayah dari Riana Amara Juanda silahkan berdiri."


🎶


Ayah ...


Dalam hening sepi ku rindu


Untuk menuai padi milik kita


Tapi kerinduan tinggal hanya kerinduan


Anakmu sekarang banyak menanggung beban


Rion berdiri dengan senyum penuh haru. Sebisa mungkin dia menahan air matanya untuk tidak terjatuh. Tanpa siapapun minta, Rion melangkahkan kaki menuju sang putri kedua. Merentangkan kedua tangannya hingga Riana berhambur memeluk tubuh sang Ayah.


"Terima kasih, Ayah. Terima kasih untuk semuanya."


Bukan hanya Riana yang terharu, semua tamu undangan pun ikut menyeka ujung mata mereka. Beberapa wisuda dan wisudawati berlari menuju kepada ayah mereka masing-masing. Memeluk tubuh ayah mereka dengan sangat erat dengan tangis kebahagiaan dan juga kesedihan. Bahagia karena bisa lulus kuliah, sekaligus sedih karena belum bisa membahagiakan mereka yang sudah berjuang membiayai pendidikan mereka.


Derajat seorang ibu memang lebih tinggi, tetapi tidak boleh dilupakan juga ada seorang tulang punggung keluarga yang mencari nafkah siang dan malam. Tak mengenal lelah untuk membiayai kebutuhan anak dan istrinya. Dia adalah Ayah, sosok yang pastinya memiliki cerita di balik kesuksesan semua manusia yang ada di dunia.

__ADS_1


...****************...


Jangan lupa komen ...


__ADS_2