
Story of Arka.
Setelah melihat Riana bergandengan mesra dengan Aksa. Hati Arka terasa sangat terluka. Kekhawatirannya seakan dibalas dengan kekecewaan yang mendalam. Apalagi, sorot mata Riana terlihat sangat nyaman berada di sisi pria yang menjadi rivalnya itu. Ditambah keponakan serta adik Riana sangat jelas menolak kehadirannya di rumah Riana. Ketika Arka sedang berjuang menjadi pelindung, dia malah seperti pecundang yang kalah start.
Pulang dengan rasa kecewa, sedih dan sakit. Dia tidak ingin menjadi pria kejam. Dia tidak ingin menyakiti hati sesama pria. Lebih baik mengalah karena Arka percaya, jodoh tidak akan ke mana.
Tibanya di Jogja ketika hampir pagi, dia disambut dengan berondongan pertanyaan oleh kedua orang tuanya. Arka tidak menjawab. Dia memilih untuk terus melangkahkan kaki yang terasa tidak menapak ke tanah.
"Arka," panggil Chintya.
"Ijinkan aku istirahat dulu, Mah," jawab Arka.
Istirahat untuk melupalan Riana yang telah bahagia bersama pria lain.
Fikri menghela napas kasar, dia tahu Arka sedang tidak baik-baik saja. Dia segera menghubungi Rion, setelah menjelaskan semuanya baru lah Fikri mengerti kenapa Arka seperti ini.
"Kenapa Pah?" Chintya benar-benar khawatir dengan anak semata wayangnya itu.
"Nanti kita bicarakan dengan Arka."
Di kamarnya, Arka sedang menatap langit-langit kamar. Perasaannya kepada Riana sangatlah berbeda. Cinta pada pandangan pertama, itulah yang Arka rasakan.
"Apa aku harus menyerah?" Gumaman itu yang selalu keluar dari mulutnya.
Lelah berpikir dan lelah menghadapi kenyataan yang ada, mata Arka mulai terpejam. Beristirahat sejenak dari segala hiruk pikuk pikiran yang bercabang. Pukul sembilan pagi, Arka terbangun. Dia mengecek ponselnya, tidak ada satu pun pesan dari Riana.
"Dia sudah benar-benar melupakanku. Aku sangat tidak bermakna di matanya," lirihnya.
Jam dua belas barulah Arka turun dari kamar. Di sana sudah ada Chintya dan juga Fikri menunggunya.
"Ada apa?" tanya Arka.
"Kami yang harusnya tanya ada apa dengan kamu?" hardik Fikri.
__ADS_1
Arka hanya menghela napas kasar, dia tahu arah tujuan papahnya berbicara seperti itu.
"Apa kamu mau menyerah?" tanya Chintya.
Arka menoleh ke arah sang mamah. Memandang wajah Mamahnya yang terlihat sendu.
"Mamah masih menginginkan kamu menikah dengan Riana." Suara yang terdengar bergetar di telinga Arka.
"Mah, kalau Riana gak cinta sama aku apa aku harus memaksa?"
"Apa kamu yakin Riana tidak mencintai kamu?" sergah Fikri.
Arka hanya terdiam, dia memilih menyandarkan tubuhnya di sofa. Tepukan pundak yang Fikri berikan membuat Arka menatap ke arahnya.
"Belum ada keputusan apapun dari Riana. Apa kamu lupa akan ucapan kakaknya waktu di rumah sakit?"
Arka masih mendengarkan ucapan Fikri tanpa menyela sedikit pun.
"Setelah Riana bekerja dan meraih cita-citanya, keputusan itu baru akan Riana berikan kepada kalian berdua. Itu artinya ... kamu juga masih bisa mendekati Riana. Papah yakin, pria itu tidak akan berbuat curang. Dia akan bersaing secara fair."
Aku bukan malaikat, kapan saja aku bisa menjelma menjadi iblis jahat.
"Berjuanglah, Nak. Mamah ingin melihat kamu dan Riana berada di atas pelaminan. Kemudian, memiliki keturunan yang cantik dan tampan seperti kalian."
Sorot mata Chintya menyiratkan permohonan yang mendalam. Apalagi, dia berucap dengan mata yang nanar membuat Arka semakin tidak tega.
"Papah mendapat kabar dari Rion, katanya Riana akan kembali ke Jogja sore ini. Kejarlah dia, jika kamu memang cinta sama dia," tukas Fikri.
Malamnya, Arka menjemput Riana ke Bandara Adisutjipto sesuai yang dikatakan oleh Rion. Namun, Arka tak kunjung melihat Riana. Setengah jam, satu jam, hingga dua jam dia tidak melihat Riana. Hanya orang-orang yang tidak dia kenal yang berlalu lalang. Pada akhirnya, Arka pun menyerah.
Setelah kepergian Arka, Riana dan Aksa keluar dari restoran cepat saji di Bandara karena Rani sudah menjemput Riana. Sebuah kebetulan atau sudah direncanakan agar Arka tidak bertemu Riana.
Aska melajukan mobilnya menuju kosan lama Riana, kamar kosan yang nampak terlihat gelap. Setengah jam menunggu, Arka memberanikan diri untuk bertanya kepada sang pemilik kosan.
__ADS_1
"Riana sudah tidak ngekos di sini lagi. Dia sudah pindah, semua barang-barangnya pun sudah diangkut," jelas si ibu pemilik kosan.
"Pindah ke mana?" Rasa penasaran mulai membuncah.
"Kurang tahu, soalnya yang datang menghadap saya bukan Riana. Seorang pria yang tidak saya kenal," tutur si pemilik kos lagi.
"Pria yang bersama Riana di berita viral kemarin?" Dengan cepat dia menggeleng. "Bukan, kalau pria itu datang bisa-bisa saya dijebloskan ke penjara," terang si ibu kos.
Arka menerka-nerka siapa yang membawa Riana pergi. Akhirnya, dia menghubungi Rion. Soal kepindahan kosan Riana Rion pun tidak tahu menahu. Setelah perbincangan lama via sambungan telepon barulah Rion tahu bahwa ini sudah diatur oleh Echa. Alasannya supaya Riana tidak merasa tertekan dengan lingkungan yang sudah memfitnahnya.
Echa memang wanita keras kepala dan teguh pendirian. Dia sama sekali tidak memberitahukan di mana Riana berada. Perdebatan-perdebatan kecil pun terjadi. Pada akhirnya, Echa memberitahukan kosan Riana. Namun, dengan satu syarat.
"Jangan mengganggu Riana. Dia sedang fokus pada kuliahnya. Tunggu sekitar dua tahun lagi."
Perkataan yang tidak bisa dibantah oleh siapapun. Perihal Riana, Echa tidak akan pernah main-main. Dia akan berlaku layaknya ibu tiri yang kejam kepada pria yang akan mendekati adik tercintanya.
Setelah mengantongi alamat kosan Riana yang baru, Arka berniat untuk langsung menuju ke sana. Namun, waktu sudah menunjukkan pukul sembilan. Dia memilih untuk pulang dan menemui Riana keesokan harinya.
Malam hari, Arka sudah tampan dan juga wangi. Wajahnya berbinar karena dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan wanita uang dicintai. Ketika sampai di sana, dia sedikit terkejut ketika mendengar ucapan Riana yang ketus. Seperti tidak nyaman berada dengannya. Tidak seperti dulu, Riana selalu tertawa lepas dan tidak menjaga jarak seperti malam ini. Sedih, sudah pasti Arka rasakan. Namun, dia juga tidak akan menyerah begitu saja. Dia sudah berjanji kepada sang mamah untuk membawa Riana ke pelaminan.
Sebuah mobil mentereng berwarna hitam masuk ke dalam kosan. Seorang pria yang terlihat galak turun dari mobil. Tanpa basa-basi dia mengusir Arka dengan cara sedikit halus. Sungguh malam yang sangat tidak menguntungkan bagi Arka.
Pantang mundur itulah Arka. Sedari pagi Arka sudah berada di kampus Riana karan dia tahu Riana akan melakukan sidang skripsi. Dia takut Riana diperlakukan kejam oleh mulut-mulut mahasiswa lainnya. Saking pedulinya, Arka terus mengikuti Riana. Namun, apa yang Arka takutkan sama sekali tidak terjadi. Bingung dan heran jadi satu. Tidak mungkin berita Riana yang viral itu tidak tembus ke kampus di mana Riana menimba ilmu. Mahasiswa lainnya masih bersikap ramah kepada Riana.
"Seperti ada yang aneh," gumam Arka.
Arka terus saja membuntuti Riana bersama kedua sahabatnya. Dia baru menampakkan diri ketika di food court. Namun, dia merasa curiga pada pria yang telah mengusirnya semalam di kosan Riana yang kini ada di food court tersebut. Arka pun melihat tatapan tajam mata Riana ke arah pria itu.
"Apa ini saingan baruku?"
#off.
...****************...
__ADS_1
Nungguin ya? Pede banget, ntar dihujat lagi 🤣
Komen ya komen ....