
Kebahagiaan di Jakarta berbeda dengan orang yang berada di Jogja. Setiap malam sebelum tidur dia selalu meminta kepada Tuhan untuk tidak dibangunkan lagi. Dia sudah lelah menjalani hidup yang terasa melayang ini. Sudah lima tahun ini hidup penuh dengan derita dan air mata. Harus selalu pura-pura bahagia. Selalu sendiri dan berteman sepi. Lelaki yang dia harap akan bisa jadi tempat untuknya bersandar, malah sebaliknya. Dia hanya bisa memberikan tanda mata berupa luka lebam dan juga darah kering.
"Aku lelah, Tuhan." Keluhan yang keluar dari mulut Jingga.
Selama lima tahun ini dia menjelma menjadi anak sebatang kara. Dia sudah bisa berdamai dengan kerasnya hidup. Dia sudah bisa berdamai dengan kesakitan yang dia terima. Tujuan hidup dia saat ini adalah ingin bahagia, meskipun tanpa keluarga. Dia bisa berdiri tegak di atas kakinya sendiri. Bisa makan setiap hari saja dia sudah merasa bersyukur.
Sekarang, Jingga berada di titik di mana dia sudah tidak sanggup menjalani semuanya. Mendapati kesakitan demi kesakitan yang selalu menerpanya. Padahal, dia tidak pernah menyakiti siapapun. Akan tetapi, banyak orang yang telah menyakiti hatinya. Sayatan luka di hatinya amatlah banyak. Dari hanya goresan, tusukan hingga luka menganga pun Jingga rasakan. Namun, Jingga mencoba kuat karena dia percaya Tuhan tidak akan menguji umat-Nya melebihi batas kemampuan umat-Nya. Berbeda untuk malam ini. Rasa optimis dan semangat itu hilang begitu saja. Melebur dibawa angin malam.
"Aku menyerah, Tuhan."
Sudah tidak ada air mata, tidak ada Isak tangis. Seakan semuanya sudah kering. Jingga sungguh sudah mati rasa. Wajahnya terlihat sekali menyimpan segala rasa yang ada, terutama kesedihan dan kesakitan.
Kemarin malam, Jingga pulang kerja jam sepuluh malam tanpa dijemput dan hanya berjalan kaki. Dia melihat Fajar dengan seorang wanita berboncengan dan sangat mesra. Tidak ada cemburu, tidak ada kemarahan semuanya datar saja.
Jam dua belas malam, dia baru tiba di kontrakannya dan sudah ada Fajar di sana. Jingga sama sekali tak menyapa Fajar.
"Dek."
Fajar sudah tersenyum ke arah Jingga dan hendak mengecup ujung kepala Jingga. Namun, Hingga segera menghindar. Fajar menunkikkan alisnya sangat tajam.
"Aku lelah, aku ingin istirahat." Jingga berlalu begitu saja. Akan tetapi, Fajar berhasil meraih tangan Jingga dan mencengkeramnya sangat kuat.
"Jangan pernah menghindar!" sentaknya.
Sekuat tenaga Jiingga mengibaskan tangan yang dicekal Fajar, sehingga membuat urat-urat kemarahan di wajah Fajar muncul kembali.
Plak!
Plak!
Plak!
Tamparan keras meluncur bebas di pipi Jingga. Tubuhnya sampai terhuyung ke belakang. Tidak ada ringisan, tidak ada permohonan ampun seperti biasanya.
Jingga mencoba untuk bangkit, dia meraih sesuatu dari dalam tasnya.
"Sekalian saja kamu bunuh aku. Aku akan lebih bahagia." Pisau lipat dia sodorkan ke arah Fajar.
"Bunuh aku sekarang dan aku akan sangat berterima kasih kepada kamu."
__ADS_1
Di sinilah fase di mana Jingga sudah menyerah dengan kejamnya hidup. Sudah lebih dari dua tahun, dia hidup bagai di neraka bersama Fajar.
"Aku ikhlas dan aku sudah siap mati." Kalimat yang sangat dingin yang keluar dari mulut Jingga.
Fajar mendekat dan ingin memeluk Jingga. Dia tahu, Jingga sedang tak baik-baik saja.
"Jangan mendekat! Atau aku akan menusukkan ini kepada tubuhku," ancamnya.
Jingga sudah membuka pisau lipat itu, dan mengarahkan bagian runcing pisau ke arah perutnya. Fajar benar-benar ketakutan. Dia pun memilih untuk mundur dan pergi. Dia tidak ingin dituduh sebagai pembunuh.
Tubuh Jingga luruh ke lantai. Dia menangis karena sudah lelah menghadapi semuanya. Menumpahkan tangisnya di kegelapan malam seorang diri.
****
Bangunnya Aska pagi ini karena dia mendapatkan kabar bahwa Jingga tidak keluar dari kontrakan subuh ini. Panik, sudah pasti Aska rasakan. Semalam, Aska terlalu fokus pada tugas kuliahnya. Hingga dia melupakan laporan dari anak buahnya. Ketika pagi datang, barulah dia membuka semua pesan dari anak buahnya.
"Semalam Jingga hampir menusukkan pisau ke tubuhnya."
Sontak mata Aska melebar. Rasa khawatir dan takut jadi satu.
Satu per satu orang-orang yang tengah merasakan kebahagiaan kembali ke pekerjaan mereka masing-masing. Sekarang, hanya ada Aska, Ayanda serta sepasang suami-istri yang tengah berbahagia. Mereka bagai perangko, sangat amat lengket.
"Ri, jangan kecapek-an, ya. Nanti Mommy akan membuat janji dengan dokter kandungan terbaik," ujar Ayanda.
"Iya, Mom."
"Tumben sih pagi ini kamu gak mual dan muntah-muntah?" Ayanda sedikit heran, biasanya Riana akan mengalami morning sickness.
Mata Aksa melebar ketika mendengar ucapan sang ibu. Dia menatap lekat ke arah Riana sekarang.
"Ri, hanya tidak ingin melihat Abang khawatir. Ri, tidak ingin mengganggu pekerjaan Abang," tuturnya.
Aksa tersenyum mendengar ucapan sang istri. Dia mengecup ujung kepala Riana dengan penuh cinta.
"Mulai sekarang jangan tutupi apapun dari Abang, ya. Apalagi tentang calon anak kita."
Aska yang mendengar ucapan sang Abang merasa terenyuh. Kalimat itu sangat tulus, dia tidak menyangka sebentar lagi abangnya akan menjadi seorang ayah. Bibirnya pun ikut melengkung ketika melihat kembaran serta adik dari kakaknya berbahagia.
"Gua harus kejar kebahagiaan gua," batinnya.
__ADS_1
"Mom, hari ini Adek akan pergi ke Jogja."
Ayanda sedikit terkejut dengan ucapan sang putra bungsu. Berbeda dengan Aksa dan Riana yang menukikkan kedua alis mereka.
"Loh, ada apa? Kenapa dadakan?" tanya sang ibu. Tidak biasanya Aska memberitahu perihal kepergiannya secara mendadak.
"Ada sedikit masalah di kafe cabang, Mom. Hari ini juga Adek harus terbang ke sana." Aska sedang meyakinkan ibunya. Matanya melirik ke arah Aksa agar membantunya.
"Ijinin aja, Mom. Si Adek 'kan pergi buat ngurus kafenya bukan buat yang lain." Aksa mulai membantu meyakinkan sang ibu. Padahal, Aksa tahu bukan masalah kafe, tetapi masalah hati.
"Ya udah, kamu hati-hati." Akhirnya, sang ibu mengijinkan.
"Iya, Mom."
"Kamu akan tidur di mana? Abang kamu 'kan ada di sini," tanya Ayanda.
"Password apartment lu masih sama 'kan, Bang?" Aksa menggelengkan kepalanya, tipe adik ngelunjak. Begitulah batin Akan berbicara.
"Udah gua ganti." Decakan kesal pun keluar dari mulut Aska.
"Atuhlah, masa iya gua tidur di emperan toko," keluh Aska.
"Modal lah!"
"Gua bukan pengusaha Abang tamvan, gua cuma pelayan kafe," tukas Aska.
Ayanda akan tergelak ketika melihat kedua anaknya adu bicara. Kata pamungkas Aska itu yang akan membuat Aksa iba kepadanya.
"Lu ingat 'kan tanggal pernikahan gua?" Aska mengangguk, lalu dia membuka suara. "Pernikahan yang mana nih?" ejek Aska.
"Bhang Sat!" pekik Aksa.
"Gua bukan Bhang Sat. Gua Bang As!" balasnya.
...****************...
Komen atuh lah ...
Yang pengen tahu kisah Jingga dan Bang As tunggu kisah mereka di judul yang berbeda.
__ADS_1
Kapan terbitnya? Aku usahakan dalam waktu dekat. Namun, aku tidak bisa up setiap hari. Bisa 2-3 hari sekali baru up.
Follow IG aku @fiet82 biar tahu update terbaru dari semua cerita aku. Aku jarang balas komen kalian di sini bukan karena sombong, tapi karena aku hanya senang baca komen kalian. Kalau DM kalian insha Allah aku balas kalau gak sibuk. Yang mau interaksi dengan aku secara langsung bisa follow IG aku, ya.