Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Wedding Organizer


__ADS_3

Pesawat pribadi sudah menjemput Aksa dan Riana dan akan membawa mereka bertolak ke Jakarta. Setelah tiba di Jakarta pun Aksa harus pergi ke kantor sang ayah untuk rapat penting lainnya sebelum besoknya dia benar-benar cuti. Itu juga hanya lima hari. Setelah itu, dia harus kembali ke perusahaan.


"Kamu gak apa-apa 'kan Abang tinggal lagi?" Riana hanya mengangguk, tak mungkin juga dia melarang Aksa. Meskipun, ada gurat kekecewaan yang mata Riana pancarkan.


"Maaf." Aksa memeluk tubuh Riana. Dia tahu bagaiman hati Riana sesungguhnya.


"Ri, harus terbiasa dengan ini." Nada suara Riana sudah berbeda.


Menikah dengan seorang pengusaha ternyata tidak semenyenangkan itu. Kaya akan harta, tetapi miskin akan waktu bersama. Namun, ini adalah pilihan yang Riana ambil. Riana harus bisa menjalankannya.


Keadaan mendadak hening, apalagi Riana yang sedari tadi hanya bisa terdiam, sedangkan Aksa tengah bergelut dengan pikirannya sendiri. Disaat calon pengantin harus dipingit atau beristirahat di rumah. Dia malah masih keluyuran rumah karena tuntutan pekerjaan .


Aksa mengecup ujung kepala Riana dan memeluknya dengan sangat erat.


"Abang akan berusaha mengatur waktu agar kita terus memiliki waktu bersama. Abang tidak akan pernah membiarkan kamu kesepian."


Perlahan tangan Riana pun melingkar di pinggang Aksa, membalas pelukannya. Mulai hari ini, dia harus banyak belajar dari sang kakak karena Echa sudah sering mengalami hal seperti ini.


Tibanya di Jakarta, Aksa mengantarkan Riana ke rumahnya. Tangan mereka terus bertaut dan disambut hangat oleh Echa.


"Udah sampai?" Riana mencium tangan Echa begitu juga dengan Aksa.


"Iya, Kak. Ini juga Abang harus langsung ke kantor Daddy. Nanti malam Abang dan Riana ada pertemuan dengan pihak WO sekaligus pengecekan kesiapan di sana," terang Aksa.


Echa hanya mengangguk dan tersenyum ke arah adiknya ini. Adiknya benar-benar pekerja keras dan tak mengenal lelah. Suara ketiga keponakan Aksa dan Riana memekik gendang telinga.


"Mana oleh-oleh?"


Begitulah sergahan ketiga anak Echa yang tak terasa sudah besar.


"Uncle kerja, bukan jalan-jalan," jawan Aksa. Wajah si triplets pun merengut kesal.


"Bagaimana kalau kita jalan-jalan? Tapi, setelah Uncle dan Aunty menikah."


"Janji?" Aleesa sudah mengangkat jari kelingkingnya ke hadapan Aksa, begitu juga dengan Aleeya dan Aleena.


"Janji ."


"Kalau Uncle gak tepati janjinya, Uncle gak boleh nikah sama Aunty," cerca Aleeya. Mereka pun tergelak mendengar omelan Aleeya.


Aksa adalah paman yang sangat sibuk dibandingkan Aska. Waktu bersama Aksa sangatlah jarang dan seringnya Aksa mengingkari janji-janjinya hingga membuat si triplets kecewa dan marah.


"Iya, Uncle janji. Kalau Uncle ingkar janji Uncle rela kok tidur di luar," ujarnya.


Aleena sudah mengulurkan tangannya dengan tatapan dalam.


"Deal?" Aksa tersenyum dan menjabat tangan Aleena. "Deal," jawab Aksa.


Aksa melupakan sesuatu bahwa ketiga keponakannya ini ingatannya sangat tajam.Seperti wanita-wanita yang sangat ahli dalam sejarah.


Paraa cantik anak-anak sang kakak membuat Riana maupun Aksa sangat menyayangi mereka dan selalu gemas kepada si triplets. Jarang bertemu membuat Riana dan Aksa seakan melewatkan tumbuh kembang ketiga anak itu.


"Abang pergi dulu, ya." Kecupan hangat mendarat di kening Riana. Aksa tak mempedulikan kakaknya yang juga ada di hadapannya dan hanya bisa menggelengkan kepala.


"Hati-hati." Aksa mengangguk seraya tersenyum.


Baru saja Aksa sampai depan pintu teriakan si triplets membuat Aksa menghentikan langkahnya. Menoleh ke arah ketiga keponakannya yang tengah menghampirinya.


"Minta uang."


Ketiga anak Echa sudah menengadahkan tangan ke arah Aksa. Mereka tahu kalau sang paman memiliki banyak uang begitu juga dengan sang paman yang satunya lagi. Hanya Om kecil yang mereka bilang payah karena tidak bisa memberi mereka uang.


Aksa mengeluarkan dompetnya dan memberikan masing-masing tiga lembar uang berwarna merah.


"Makasih Uncle," ucap mereka bertiga dan kembali berlari masuk ke dalam rumah.


"Dasar! Pantas saja dibilang trio tuyul. Kerjaannya malakin orang mulu," kelakar Aksa.


Riana masih bersama sang kakak di ruang bermain yang sudah seperti kapal pecah. Banyak mainan yang berserakan begitu juga dengan camilan.


"Kak, apa semua pengusaha itu sibuk, ya? Jarang memiliki waktu untuk pasangannya."


Echa menatap heran ke arah Riana. Kenapa adiknya bertanya seperti ini. Wajah sendu pun bisa Echa lihat dari mata Riana.


"Kamu menyesal?" Riana segera menggeleng.


"Lalu?" tanya Echa lagi.


"Abang selalu sibuk dengan pekerjaannya. Hari ini pun dia masih ke kantor. Apa besok-besok juga akan seperti itu?" tutur Riana.

__ADS_1


"Tidak akan ada yang berubah dari Abang. Kamu tahu 'kan siapa dia? Kamu jangan takut, Kakak yakin Abang akan meluangkan waktunya untuk kamu. Serta memprioritaskan kamu dalam hidupnya. Abang siap menikah berarti Abang juga sudah siap dengan tanggung jawabnya. Percaya deh sama Kakak."


Helaan napas berat keluar dari mulut Riana, tangan Echa mengusap lembut pundak adiknya tersebut.


"Berumah tangga itu tidak selamanya manis. Pasti akan ada kerikil-kerikil kecil yang akan kalian lalui. Kakak harap, ketika kerikil itu datang jangan dahulukan emosi. Simpan rapat aib suami kamu begitu juga suami kamu harus menyimpan rapat aib kamu. Setiap ada masalah datang, sebisa mungkin jangan pernah cerita ke orang luar itu akan memperperkeruh keadaan. Selesaikan berdua dengan kepala dingin. Mengerti?" Riana pun mengangguk.


Inilah yang Riana suka dari Echa. Dia selalu menasihati bukan malah menghakimi. Banyak wejangan-wejangan yang dia terima beberapa hari ini dari sang kakak. Apalagi, dia akan menjadi istri pewaris pertama Wiguna Grup. Bukan pertama, tetapi kedua. Namun, bagi Echa Aksa tetaplah cucu pertama dari Genta Wiguna karena dia hanya anak sambung dari Giondra Aresta Wiguna.


Setelah Meeting selesai, Aksa sengaja datang ke ruangan sang ayah hanya untuk bertukar pikiran. Ada yang tengah mengganjal di kepalanya.


"Ada apa?" sergah Gio.


Aksa mendudukkan diri di sofa, Gio pun berpindah tempat mengahmpiri putranya.


"Kenapa?" Tepukan di bahu Aksa membuat Aksa menghela napas kasar.


"Dengan kesibukan Abang, apa Abang akan bisa membagi waktu untuk istri Abang?"


Pertanyaan yang membuat Gio tertawa. Dia mengacak-acak rambut Aksa sehingga terdengar dengusan kesal dari bibir putranya.


"Bang, istri itu nomor satu baru pekerjaan. Hati kamu akan tenang ketika istrimu baik-baik saja apalagi bahagia setiap hari. Utamakan istri kamu, jadikan dia ratu dalam rumah tangga kamu. Jika, kamu ada masalah dalam pekerjaan bicarakan dengan istrimu dan jangan pernah bawa masalah kantor ke rumah. Itu akan menjadi Boomerang untuk kamu sendiri."


Aksa mendengarkan secara seksama apa yang diucapkan oleh ayahnya ini.


"Kewajiban kamu bukan hanya menafkahinya, tetapi memberikan dia kebahagiaan juga," jelas Gio.


"Satu hal lagi, pegang prinsip jika wanita itu selalu benar," candanya.


Aksa pun tertawa dan mengangguk mengerti. Mulai sekarang dia harus mengatur semua jadwalnya karena dua hari setelah pernikahannya dia akan kembali bekerja.


Malam pun tiba, Aksa sudah rapi dengan pakaian semi formalnya karena malam ini ada pertemuan dengan WO. Dia sudah menghentikan mobilnya di depan rumah Riana.


"Malam, Yah," sapa Aksa kepada Rion.


"Malam. Sudah berapa puluh persen?" tanya Rion.


"Delapan puluh lima persen, Yah. ini juga Abang ada pertemuan dengan pihak WO sekaligus mengecek sudah sampai mana." Rion mengangguk.


"Bang."


Suara Riana membuat Aksa menoleh. Matanya tak berkedip ketika melihat penampilan Riana yang sangat cantik dibalut dengan dress selutut yang anggun.


Aksa pun tersadar ketika mendengar sergahan calon mertuanya ini. Dia mengulurkan tangan ke arah Riana yang disambut hangat oleh Riana.


"Jangan pulang malam-malam," titah Rion.


"Iya, Ayah."


Aksa membukakan pintu mobil untuk Riana. Malam ini Riana terlihat sangat cantik.


"Udah dong, jangan dilihatin terus. Sedari tadi bukannya menutup pintu malah Aksa terus memandanginya.


Riana sudah memejamkan matanya ketika Aksa hendak mengecup keningnya. Namun, tidak ada sesuatu yang menyentuh keningnya malah ocehan sang kakak ipar yang dia dengar. Dengusan kesal Riana berikan kepada Radit.


"Kalian belum sah. Coba-coba nge-DP-in dulu gua bogem lu!" hardik Radit.


"Abang gak semesoem itu!" jawab Riana.


Aksa sudah mengusap pundak Riana. Jika, meladeni kakak iparnya ini bisa dipastikan mereka akan terlambat datang ke acara makan malam.


"Nyebelin banget sih Kak Radit."


Aksa tertawa melihat calon istrinya ini terus bersungut-sungut. Aksa meminggirkan mobilnya membuat Riana menatap Aksa bingung.


Bibir Aksa mendarat di kening Riana sangat dalam. Mata Riana pun mulai terpejam merasakan kehangatan yang Aksa berikan.


"Jangan ngomel-ngomel lagi, ya," ucapnya setelah melepaskan kecupan hangat.


Mereka sudah tiba di hotel bintang lima tempat di mana akan diadakannya resepsi pernikahan mereka nanti. Sudah ada kedua orang tua Aksa di sana.


"Hai Sayang," sapa Ayanda. Dia memeluk tubuh Riana dan mengajaknya untuk duduk.


Perlakuan hangat Ayanda membuat Riana merasa nyaman. Mereka hanya mendengarkan apa yang dikatakan oleh perwakilan WO tersebut dan ada satu orang pria paruh baya yang berada di sampingnya. Tak lain adalah rekan bisnis Gio.


Semuanya sudah dijelaskan, kini saatnya Aksa dan Riana melihat dekorasi yang tengah dikerjakan. Mata Riana terus berkeliling dan bibirnya melengkung dengan sempurna.


"Suka?" tanya Aksa yang telah memeluk Riana dari belakang.


"Banget, makasih ya, Bang." Riana mengecup pipi Aksa.

__ADS_1


"Maaf saya terlambat," ucap seorang wanita.


Semua orang pun menoleh ke arah suara tersebut. Namun, Aksa terlihat syok melihat siapa yang dia lihat di depannya.


Wanita itu tersenyum hangat kepada semua orang. Seketika matanya terkunci pada sosok pria yang tengah berdiri dengan seorang wanita.


"Perkenalkan ini anak saya, Devita. Dia pemilik WO ini. Ini juga adalah konsep yang sangat baru yang Devita buat," terang pria paruh baya itu.


Riana merasa bingung ketika Aksa malah terdiam begitu juga dengan pemilik WO di depannya.


"Bang," panggil Riana.


Aksa pun tersadar dan tersenyum ke arah Riana. Tak segan dia mengecup kening Riana di depan semua orang. Tangan Aksa pun menarik tangan Riana untuk melingkar di pinggangnya.


Riana menatap manik mata Aksa dengan penuh tanya. Namun, manik mata itu tidak mengatakan apapun.


"Jadi ... pengantinnya Aksara." Devita pun membuka suara.


"Iya, 'kan Papah sudah bilang. Putra dari Pak Giondra," jawab papah Devita.


Seringai kecil terukir di wajah Gio. Ada tatapan penuh dendam yang Gio berikan kepada Devita.


"Serius kamu yang akan menikah, Aksara?" Wajah Devita terlihat tidak percaya.


Tidak ada jawaban dari Aksa. Dia hanya diam dan tidak ingin menatap ke arah Devita.


"Jawab aku, Aksara!" Devita sudah mulai meninggikan suara.


Riana pun tersentak mendengar Devita membentak Aksa. Dia semakin menatap calon suaminya yang masih bergeming. Sepertinya mereka berdua saling mengenal.


"Bang ... dia siapa?" Hati Riana sudah mulai dilanda ketakutan. Namun, sebisa mungkin dia tutupi semuanya dengan wajah yang terlihat biasa.


"Dia adalah wanita yang telah membuat calon suami kamu mengalami trauma hingga depresi di masa remajanya." Mata Riana melebar mendengar penuturan Gio.


Riana menatap ke arah Aksa. Meminta penjelasan lebih lagi. Namun, Aksa hanya membawa Riana ke dalam pelukannya.


"Kenapa kamu jahat, Aksara?" Mata Devita sudah berkaca-kaca.


"Feel-nya gak dapat!" teriak seseorang dari belakang.


Gaya tengil sudah dia tunjukkan. Senyum licik pun sudah dia sematkan. Mata Devita pun melebar ketika dia melihat Aska di sana.


"Kagak usah drama deh lu. Muak gua!" sentak Aska.


Langkah Aska mulai mendekat, dan menatap tajam ke arah Devita.


"Cukup sekali lu buat Abang gua menderita. Coba-coba ngerusak pernikahan Abang gua akan gua cari lu sampai ke lubang semut sekalipun!" Aska sudah menunjukkan taringnya. Dia masih memiliki dendam kesumat kepada Devita.


Aksa sudah tidak ingin melihat wajah Devita lagi, dia mengajak Riana pergi. Di dalam mobil keadaan sangat hening. Mereka bergelut dengan pikiran mereka masing-masing.


Riana tidak memperhatikan ke mana Aksa membawanya pergi hingga mobilnya berhenti di sebuah rumah mewah. Rumah yang masih Riana kenali. Aksa membawanya masuk ke dalam dan mengajaknya ke kamar yang sangat luas. Membuka pintu balkon dan memeluk tubuh Riana dengan sangat erat.


"Apa Abang bisa jelaskan?"


Aksa mengurai pelukannya dan menatap manik mata Riana.


"Dia masa lalu Abang. Kamu adalah masa depan Abang. Abang ingin hidup di masa sekarang dan masa depan," jelasnya.


"Jangan pernah berpikir bahwa Abang masih mencintai dia. Abang sangat membenci dia dan orang yang sangat tidak ingin Abang temui adalah dia."


Riana memeluk tubuh Aksa dengan sangat erat.


"Hilangkan dia dalam ingatan Abang. Cukuplah Ri yang selalu ada di hati dan pikiran Abang."


Kalimat yang mampu membuat Aksa tersenyum. Ketakutannya kini menguap. Respon Riana sangat tak dia duga.


"Pasti, Sayang."


Mereka menikmati malam ini dengan berpelukan dan sesekali Aksa mengecup Riana dengan sangat gemas.


"Sayang, ketika malam pertama kita nanti ... kamu gak lagi datang bulan 'kan?"


Mata Riana melebar dengan sempurna mendengar pertanyaan Aksa. Ternyata calon suaminya ini berotak kotor. Belum sah saja sudah menanyakan perihal datang bulan. Bagaimana jika sudah sah. Bisa-bisa Riana dikurung di dalam kamar seharian. Membayangkannya saja Riana sudah bergidik ngeri.


...****************...


Siapa Devita? Sudah dijelaskan di cerita Yang Terluka, ya ...


Jangan lupa komennya atuh ...

__ADS_1


__ADS_2