
Aksa terus meyakinkan Riana bahwa mimpinya itu hanyalah bunga tidur belaka. Dia tidak ingin istrinya terus memikirkan hal itu karena akan berakibat pada tumbuh kembang janin di dalam perutnya.
"Sayang." Usapan lembut Aksa berikan di rambut sang istri yang tengah bersandar di kepala ranjang.
"Jangan melamun terus, Abang gak tega ninggalin kamu kalau begini," lanjutnya lagi.
Riana menatap ke arah Aksa dengan tatapan sendu. Tangannya melingkar di pinggang Aksa. "Tetap di sini," pintanya.
Sungguh Aksa tidak tega dengan permintaan Riana. Dia pun tidak ingin meninggalakan istrinya yang pastinya sangat membutuhkan dirinya di kehamilan muda.
"Abang akan berbicara dengan Kakek ya, Sayang. Semoga saja Kakek bisa memberi keringanan akan hal ini." Riana mengangguk mengerti.
Di kehamilan awalnya ini Riana tidak ingin berpisah jauh dengan sang suami tercinta. Dia selalu ingin dekat dengan Aksa. Jika, Aksa tidak ada di dekatnya sudah pasti dia panik.
"Mau tidur apa mau cari makanan?" tawar Aksa seraya tersenyum.
Malam ini adalah malam terakhir dia bersama sang istri. Besok malam dia sudah harus terbang kembali ke Melbourne.
"Jalan-jalan malam," jawab Riana dengan lengkungan senyum indahnya. Kecupan hangat Aksa berikan di ujung kepala Riana.
Dia segera bangkit dan mengambilkan jaket untuk istrinya gunakan. Dia juga menyuruh Riana untuk memakai celana panjang. Aksa sangat protektif sekali kepada Riana.
Sepasang suami-istri ini turun ke lantai bawah. Ternyata ada Giondra di sana yang belum tertidur.
"Mau ke mana? Udah malam," imbuh Gio.
"Ibu hamil ingin jalan-jalan malam, Dad. Sekalian jajan malam," jawab Aksa.
"Jangan pulang malam-malam ya. Gak baik ibu hamil keluar malam." Nasihat sang Daddy yang dijawab dengan anggukan oleh kedua manusia ini.
Gio terus memandangi putra pertamanya yang sudah keluar dari rumah besar itu. Tangan Aksa yang terus menggenggam tangan Riana, seakan dia tidak ingin dipisahkan dengan sang istri tercinta.
"Kamu sudah bahagia sekarang, Bang," gumam sang ayah dengan lengkungan senyumnya.
"Tugasku tinggal satu lagi, Askara." Helaan napas berat keluar dari mulutnya.
Gio menatap ke arah jam dinding. putranya itu belum juga pulang dari kafe miliknya. Namun, Gio tidak terlalu khawatir karena Aska sudah biasa pulang larut malam apalagi jika akhir pekan.
Di rumah sakit, seorang perempuan tidak bisa memejamkan matanya. Dia masih teringat akan seorang pria yang belum hilang dari ingatannya. Pria yang sangat baik dari dulu hingga sekarang.
"Di mana rumah kamu, Bang As? Aku ingin bertemu dengan kamu dan meminta maaf kepada kamu," gumamnya.
Ada segelumit penyesalan yang Jingga rasakan karena sudah menolak Aska. Pria yang masih baik dari zaman putih abu-abu hingga sekarang.
Di Kota yang kata orang kejam ini, justru Jingga merasa dilindungi di Kota ini. Dia merasa ada banyak orang di belakangnya yang menjaganya. Dia sangat merasa aman di sini. Di rumah sakit pun dia dirawat di ruang VIP bukan di ruang biasa. Dia merasa diperlakukan istimewa.
"Jomblo's kafe? Siapa pemiliknya? Kenapa baik sekali kepadaku?" gumamnya.
Jingga teringat akan ucapan dokter juga pekerja Jomblo's kafe tersebut. "Kamu jangan dulu bekerja, sampai sembuh total." Jarang sekali ada pekerja yang baru saja akan masuk bekerja diperlakukan seperti ini.
__ADS_1
Namun, Jingga merasa sangat bersyukur karena dia tahu bagaimana kondisi tubuhnya. Perlakuan Fajar meninggalakan bekas yang sangat amat menyakitkan dan hampir membunuhnya. Termasuk luka psikisnya.
Di lain tempat, seorang pria masih betah berada di lantai atas sambil memandang bintang yang bertaburan. Dia mengambil ponselnya, memandang wallpaper ponselnya yang menggunakan fotonya yang tengah mencium mesra bibir Jingga di ujung senja.
"Kalau kamu tidak mencintaiku, kenapa kamu mau aku cium? Tangan kamu saja membuktikan bahwa kamu menyerahkan yang kamu miliki untukku." Monolognya.
Aska menghembuskan napas kasar dan mematikan semua lampu yang ada di sana. Dia menuruni anak tangga, dan akan mengunci kafe miliknya. Baru saja dia hendak keluar, ponselnya berdering.
"Bian," gumamnya.
"Selamat bertambah tua, bro," ucap Bian dari balik sambungan telepon.
"Bhang Ke! Muka gua mah menolak untuk tua," balas Aska dengan lengkungan senyum di wajahnya.
Tidak dipungkiri dia sangat bahagia karena sahabat jauhnya menghubunginya hanya untuk mengucapkan selamat bertambah umur.
"Besok gua mau ke Jakarta. Jangan lupa jemput gua di Bandara," cicit Bian.
"Si Alan! Teman yang selalu nyusahin cuma lu doang," sungut Aska.
Terdengar gelak tawa dari balik sambungan telepon. Malam ini cukup spesial bagi Aska. Meskipun hatinya tengah kecewa, tetapi sahabatnya membuatnya bahagia yang tak terkira dan mampu membuat Aska lupa kepada Jingga untuk sementara.
Keesokan paginya, bujangnya Giondra sudah wangi dan rapih. Keempat orang yang sudah ada di meja makan mengerutkan dahi mereka bersamaan. Menatap bingung ke arah Aska.
"Udah mandi ... udah wangi ... mau ke mana?" sergah Riana.
Aska menatap kakak iparnya dengan tatapan jengah. Ibu hamil di depannya ini terlihat sangat menyebalkan pagi ini. Riana mencebikkan bibirnya ke arah Aska yang tidak menjawab pertanyaannya. Aksa tersenyum tipis dan menyuapi istrinya roti bakar dengan selai blueberry.
"Mau ke kafe, terus mau jemput Bian," jawabnya.
"Bian sahabat kamu yang di Jogja?" tanya Gio.
"Iya, dia udah buka restoran besar di sana. Ke sini katanya ada perlu, mau jenguk temannya yang dirawat di rumah sakit," terangnya.
Aksa tersenyum tipis mendengar ucapan dari Aska. Dia masih menikmati makanannya sambil menyuapi sang istri tercinta.
Dari arah luar terdengar suara bising dari ketiga bocah yang tengah berlari. Siapa lagi jika bukan si triplets.
"Wih, Om udah ganteng, mau ke mana?" Bukan hanya orang dewasa yang berbicara seperti itu. Aleeya si bocah cerewet pun berbicara seperti itu. Aska berdecak kesal.
"Sama siapa kalian ke sini?" tanya Gio. Tidak ada orang dewasa di belakang ketiga cucunya ini.
"Diantar Baba, tapi Babanya pergi ke rumah sakit. Ada pasien yang butuh bantuan Baba untuk Baba tanya-tanya," jelas Aleena.
Walaupun Radit sudah meninggalkan profesinya sebagai dokter serta psikolog dan memilih menjadi pengusaha, dia tetap akan membantu pihak rumah sakit manapun jika ada yang meminta bantuannya serta waktunya pun tepat.
Setelah selesai sarapan, Aska bangkit dari duduknya dan pamit untuk ke kafe, sedangkan yang lain mereka memilih bermain bersama si triplets di rumah besar Gio yang sebentar lagi akan berubah menjadi kapal pecah.
Tibanya di kafe, Aska mengecek semuanya. Dia akan absen ke kafe tersebut selama abangnya berada di Melbourne.
__ADS_1
"Kalau ada kekurangan, bilang sama Ken dan Juno." Semua karyawan mengangguk mengerti.
Aska memang pemilik kafe ini, tetapi dia juga menyerahkan sepenuhnya kafe ini kepada Ken dan Juno. Mereka berdua juga pemilik dari Jomblo's kafe. Dia bukanlah orang yang ingin mendominasi.
Tak terasa sudah dua jam Aska berada di kafe miliknya. ponselnya berdering, ternyata Bian yang menghubunginya.
"Bhang Sat! Di mana lu?" omel Bian dari balik sambungan telepon.
"Masih di kafe, kenapa? Udah sampe?" tanya Aska santai. Umpatan demi umpatan Bian layangkan untuk Aska, tetapi Aska malah tertawa terbahak-bahak.
Dia menutup ponselnya dan segera menuju Bandara dengan menggunakan motor baru pemberian dari Upin dan Ipin. Tidak ada kata gengsi bagi Aska ketika hanya menggunakan roda dua. Justru kendaraan itu adalah kendaraan yang bisa mempersingkat waktu tempuh. Bisa nyalip sana sini.
Tibanya di Bandara, Bian mengerutkan dahinya melihat Aska yang membawa motor, bukan mobil.
"Mendadak miskin," ejek Bian, menatap motor yang masih sangat baru.
"Mendadak jadi tukang ojek. Lumayan 'kan bawa owner restoran besar di Jogja. Pasti bayarannya gede," canda Aska. Mereka berdua pun tertawa.
Aska membawa motor menuju rumah sakit yang dimaksud oleh Bian. Dia ingin melihat keadaan temannya terlebih dahulu, sebelum berkumpul dan bersenang-senang dengan ketiga sahabatnya yang sangat dia rindukan.
"Kam pret! Bawa motornya pelan-pelan Napa?" teriak Bian.
"Katanya mau cepat sampai," balas Aska.
"Yang ada cepat sampai ke akhirat gua!" omelnya.
Aska tertawa terbahak-bahak mendengar Omelan dari Bian. Kehadiran Bian mampu membuat mood-nya berubah. Tibanya di parkiran rumah sakit, Bian meminta Aska untuk menemaninya.
"Lu aja deh, gua tunggu di sini aja," tolaknya.
"Temaninlah," pinta Bian.
"Dih, kayak bocah," ejek Aska.
Terpaksa Aska pun menemani Bian masuk ke rumah sakit. Mereka berdua naik ke lantai dua.
"Teman lu cewek apa cowok?"
"Cewek."
"Anyiing! Kalah gua," ejek Aska. Bian hanya tertawa.
Mereka sudah tiba di ruangan tempat teman Bian dirawat. Ketika Bian sudah menekan gagang pintu, suara seseorang membuat Aska menoleh. Dahinya pun mengkerut.
...****************...
Komen dong ...
Mau up lagi nih
__ADS_1
Maaf ya, akunya lagi sibuk di Dunia nyata. Jadi, up-nya sesempetnya dan aku usahakan up tiap hari. Mata juga udah gak bisa diajak begadang karena efek lelah siang. 🙏